
Xio menatap langit malam yang kelam, keringat tipis menghiasi keningnya, sementara iris hitamnya menatap nanar bulan purnama yang berwarna merah pucat. Baru saja, ia mendapat mimpi buruk, seorang pria yang tidak pernah ia temui sebelumnya hadir kedalam mimpinya. Pria berwajah dingin, yang sekilas begitu mirip dengannya. Xio segera memecah lamunanya, entah kenapa perasaannya tidak tenang. Hanya satu hal yang bisa mengusik pikiran pria berwajah datar itu. Siapa lagi kalau bukan Mirai
Xio membalikkan tubuhnya, melangkah mantap hendak meninggalkan puncak tertinggi kastil Tengu. Namun belum sempat ia beranjak, sebuah gumpalan salju muncul dihadapannya. Perlahan gumpalan salju itu membentuk sesosok wanita berambut panjang. Dengan tangan memegang perut, luka ditubuh Mirai terus menyemburkan darah. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Mirai mulai berjalan tertatih menghampiri Xio
"Mirai! " Xio segera menghampiri Mirai. Gadis itu sudah terlalu lelah dan kehabisan kekuatan. Tepat setelah Xio merangkul tubuh Mirai gadis itu kehilangan kesadaran dan jatuh kepelukan sang Leader
Xio langsung mengangkat tubuh Mirai menuju ruangannya. Sesampainya disana, Xio langsung membaringkan Mirai diranjang dan menekan luka diperutnya.
"Nee! " Xio memanggil salah satu anak buahnya, demgan cepat sekelibat bayangan muncul dihadapan Xio. Sambil membungkuk hormat, Nee bersiap menerima perintah dari Leader Tengu
" Cepat bawa Yuri kesini! Mirai dalam bahaya hanya Yuri yang bisa menyembuhkannya! "
" Baik, Xio" dalam sekejap Nee berubah menjadi butiran besi dan menghilang. Zou yang baru saja datang ke ruangan itu hanya bisa memasang wajah bingung. Melihat Mirai tidak sadarkan diri, tanpa diminta Xio ia langsung mengeluarkan jarum dari dalam sakunya
"Aku akan menetralkan sihir ditubuhnya, setidaknya dengan begitu darah istimewanya tidak akan keluar separah ini! " ia mulai menekan beberapa titik fital di tangan Mirai
" Leader! " ucap Zou disela-sela perawatannya " Kau lebih dari tahu, kondisi Mirai tidak bisa disembuhkan dengan Kenkou apapun didunia ini. Kondisinya sudah sangat parah, ditambah luka diperutnya yang terus mengeluarkan darah. Aku rasa, hingga Yuri kembali aku tidak yakin Mirai bisa bertahan"
Xio hanya terdiam, ia menatap wajah pucat Mirai lekat. Xio paham apa yang menimpa wanita dihadapannya itu. Satu luka kecil saja mampu membuat Tubuh Mirai menahan sakit yang luar biasa hebat. Dengan luka dalam diperutnya, tentu saja Mirai akan sulit menahan rasa sakit itu
Xio mengulurkan tangannya, menekan luka diperut Mirai dengan sihir miliknya. Hal itu membuat Zou tersentak kaget
"Xio! Kau mentransfer kekuatan kehidupanmu? Kau bukanlah tabib atau orang berkekuatan besar seperti Mirai! Jika kau terus mentransfer energimu kau bisa tewas! "
" Hanya ini jalan yang bisa kita lakukan. Sampai Yuri kembali, aku akan memberikan energiku padanya! "
" Leader! "
" Diamlah Zou! Sekarang perketat keamanan kastil. Prajurit Sora mungkin saja akan segera tiba ditempat ini! Setelah Yuri tiba, bersiaplah! Kita akan meninggalkan markas ini dan menuju markas di pulau Hemi! " ucap Xio pelan.
Ia kembali memfokuskan kekuatannya ke luka diperut Mirai. Seperti kata Zou, tidak ada satupun kekuatan sihir yang bisa menyembuhkan Mirai. Karena pada dasarnya, Mirai lah wujud dari pengobatan itu sendiri. Sebagai reinkarnasi Dewi kehidupan, akan sangat sulit sihir biasa menyembuhkan tubuh istimewanya. Hanya ada satu cara agar Mirai mampu bertahan. Batu kedua dari 4 batu pilar. Itu adalah batu yang tertanam ditubuh Yuri
Sejalan dengan kekuatan yang Xio terus transfer ke tubuh Mirai, tubuh Xio justru semakin memucat. Rambut hitamnya sedikit demi sedikit memutih. Sementara wajah tampannya perlahan mengkerut dan kehilangan cahayanya.
Xio memberikan kekuatan kehidupannya kepada Mirai. Dengan begitu, luka di tubuh Mirai akan sedikit menutup dan menghentikan darah yang terus mengalir keluar. Sepadan dengan efek yang ditimbulkan, tubuh Xio akan semaki mengering layaknya pria tua
"Bertahanlah, Mirai! "
......................
" Yora! " Yuri dan Nee akhirnya tiba di markas Tengu. Gadis berambut merah itu pun langsung berlari ke arah Xio. Mata semerah rubinya sempat membulat melihat kondisi Xio saat ini
" Ada apa denganmu? " ucap Yuri sambil menatap nanar pria didepannya, ia bahkan sempat tidak mengenali siapa pria tua itu. Tubuh bugar Xio kini terlihat ringkih layaknya kakek-kakek berusia lanjut. Sementara tangan yang sudah kering keriput masih saja mentransfer kekuatannya ke Mirai
__ADS_1
"Yuri! Cepat bantu Mirai! "
" Bagaimana denganmu? Kau hampir saja kehabisan energi kehidupanmu! Sedikit saja aku terlambat, kau akan mati Xio! " ucap Yuri terisak melihat Xio. Ia tidak bisa memendam air matanya, melihat pria yang dia sukai mempertaruhkan nyawanya dengan ceroboh seperti itu
" Jangan pedulikan aku! Cepat kau obati Mirai! Kau bilang kau akan selalu berhutang budi padaku! Sekarang kau bisa membayarku! "
Yuri tidak mempunyai pilihan lain, ia pun mencoba mendekat ke arah Mirai. Sambil mencakupkan tangannya, Yuri mulai mengaktifkan kekuatannya. Sebuah sinar terang muncul di punggunya. Sisik ular putih memenuhi leher dan wajah Yuri. Manik mata merahnya kini berubah, menampakkan pupil vertikal dengan iris berwarna kuning terang.
Sebuah bola kekuatan kecil keluar dari telapak tangan Yuri. Kekuatan sihir yang sangat dasyat hingga mampu membuat Yuri memuntahkan sedikit darah dari mulutnya. Kekuatan sebenarnya dari batu pilar yang bersemayam ditubuhnya. Meskipun hal itu dapat membahayakan nyawanya sendiri, ia tetap harus menyelamatkan Mirai
"Yora! Kau bisa menyingkirkan tanganmu! Mulai sekarang aku akan mulai mengobati luka di tubuh Mirai! "
Xio menuruti perkataan Yuri, ia pun segera menyingkir dari sana dan mperhatikan dari jauh. Sekelibat cahaya terang di tangan Yuri mulai membesar, begitu silau hingga membuat semua orang di ruangan itu menyipitkan mata. Angin kencang datang dari segala penjuru, bersamaan dengan itu, Yuri mulai menekankan kekuatan dasyat itu ke tubuh Mirai
Brushhhhhhhh.....
Hantaman kekuatan yang besar, seluruh isi ruangan itu porak poranda dibuatnya. Hingga selang beberapa waktu, cahaya menyilaukan itu pun hilang
Xio dapat melihat luka di perut Mirai mulai memudar. Tidak sepenuhnya sembuh, setidaknya luka itu sudah tidak mengeluarkan darah atau terbuka. Akhirnya Xio bisa bernafas lega melihat keadaan Mirai
Sementara Yuri yang baru saja mengeluarkan kekuatan sedayat itu, hanya bisa terbatuk sambil memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Zou yang mencemaskan Yuri, langsung mebopang tubuh Yuri yang hampir jatuh kelantai
"Kau baik-baik saja? " ucap Zou
" Baiklah! Bagaimana dengan Mirai? Apa dia baik-baik saja? " tanya Zou
Yuri menatap Xio lekat " Mirai baik-baik saja, kau tidak perlu cemas! " ucap Yuri seolah menjawab pertanyaan yang tersirat di wajah Xio. Ia pun segera beranjak, mencengkram lengan Xio dan menuntunya mengikutinya
" Aku sudah mengikuti semua perintahmu! Sekarang giliranmu, ikutlah denganku! " ucap Yuri pelan
......................
Di ruang terpisah, Yuri membawa Xio dan memaksa pria itu untuk mengikuti kemana langkahnya pergi. Tangan Yuri masih bergetar, bahkan untuk berjalanpun ia harus memaksakan kakinya untuk melangkah.
" Lepaskan aku! Kemana kau ingin membawaku? Aku harus merawat Mirai dan memastikan dia baik-baik saja" ucap Xio
"Duduklah! Setidaknya jika kau ingin menghawatirkan orang lain! Kau harus lebih dulu menghawatirkan kondisimu Yora! " bentak Yuri. Dengan nafas tersengal ia menaikan suaranya dan mencoba mengeluarkan kekesalan dalam dirinya
Xio hanya terdiam, ia pun menuruti perintah Yuri. Xio tanpa sengaja melihat bayangan dirinya di cermin. Meski tidak menunjukan ekpresi yang berarti, Xio tentu terkejut melihat kondisinya saat ini. Wajah yang selalu memancarkan ketampanan, kini berubah menjadi keriput. Sementara rambut hitam kelamnya hampir seluruhnya berubah memutih. Ia benar-benar seperti pria berusia 80 tahun
"Kenapa? Kau menyesal melihat wujudmu yang berubah tua? "
" Tidak. Jika itu untuk menyelamatkan seseorang yang berharga. Aku rela melakukannya! "
__ADS_1
" Bagaimana jika aku berada diposisi Mirai? Apa kau akan melakukan hal yang sama? "
Xio menatap tajam Yuri, bahkan hanya dengan tatapannya saja, Yuri sudah bisa mebebak apa jawaban Xio untuk pertanyaanya
" Cih, tentu saja kau tidak akan melakukannya. Mirai adalah wanita yang kau cintai. Bagaimana mungkin aku yang hanya kau anggap benda mampu menggantikan posisinya! " ucap Yuri dengan nada kecewa sambil menundukan kepala
" Aku akan melakukan hal yang sama. Siapapun anggota Tengu yang berada dalam bahaya, aku akan melakukan hal yang sama sebagai Leader! Apa itu menjawab pertanyaan bodohmu itu! " Xio mulai beranjak dari tempat duduknya. Namun tangan Yuri kembali menghentikan langkahnya
" Jadi apa arti keberadanku untukmu? "
" Aku tidak pernah menganggapmu sebagai benda yang menguntungkan Tengu. Seperti Oro-ryu yang menganggapmu keluarga, Tengu pun akan menganggapmu bagian dari kami. Jadi jangan pernah berpikir aneh-aneh dan merengek seperti anak kecil lagi, Yuri" ucap Xio dengan nada datar. Mendengar jawaban Xio seulas senyum akhirnya terukir di wajah pucat Yuri
"Syukurlah. Sekarang kemarilah, biarkan aku mengobatimu Yora. Kau sudah kehilangan hampir seluruh kekuatanmu. Aku akan mentransfer kekuatan batu pilar untuk mengganti kekuatanmu yang hilang" ucap Yuri sambil membuka kancing kemejanya
Karena kehilangan kekuatan yang begitu besar, Yuri tidak bisa lagi memusatkan sihir penyembuh di telapak tangannya. Oleh sebeb itu, mengisap kekuatan dari tubuhnya secara langsung adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Xio
Yuri menyibakkan rambutnya, memperlihatkan bahu semulus porselen dihadapan Xio
"Sekarang cobalah hisap kekuatan ditubuhku. Aku tidak bermaksud mengunakan cara ini pada siapapun. Tapi apa boleh buat tubuhku begitu lemah karena mengobati Mirai"
"Apa yang kau lakukan? "
" Hisap kekuatanku. Kau tidak pernah melakukan hal ini dengan wanita manapun? Jangan bilang Leader Tengu sepolos itu" ucap Yuri sambil menaikkan alisnya
"Kau gila? Hentikan! " untuk pertama kalinya Xio memperlihatkan ekpresi gugupnya
" Wuah! Aku tidak menyangka, tampang lempengmu bisa gugup juga. Ayolah! Aku tidak menyuruhmu untuk tidur denganku! Yang harus kau lakukan adalah mengigit kulit dileherku dan mengambil sedikit energi untuk memulihkan kondisimu! "
" Aku akan melakukannya ditanganmu! "
" Cerewet! Pusat energiku ada di punggungku! Karena sisik ular kau tidak akan bisa melakukannya di punggungku! Atau ditanganku! "
Xio tidak menjawab Yuri. Ia memilih pergi dan meninggalkan Yuri sendiri. Merasa diabaikan, Yuri mulai menunjukkan wajah kesalnya. Ia pun segera menghampiri Xio dan menarik tangan pria itu. Dengan sekali hentakkan, Yuri menangkap wajah pria itu dan mulai mendaratkan bibirnya di bibir Xio
Xio tidak menolak, energi kegidupan Yuri begitu menyegarkan. Mengalir ke sela-sela pembuluh darahnya seolah itu adalah minuman menyegarkan ditengah musim panas. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Xio mulai menyerap energi Yuri dengam brutal. Kondisi Xio mulai pulih, kulitnya kembali segar layaknya pria berusia dua puluh tahun lagi. Sementara rambutnya yang memutih, kembali berubah menjadi gelap. Tubuhnya yang hampir tinggal kerangka, kini kembali berisi menampakan sosok tegap nan gagah khas Leader Tangu
Namun pulihnya kondisinya, tidak menyurutkan Xio untuk melepas pangutannya. Ia masih saja bergulat dengan bibir ranum Yuri hingga gadis itu menepuk dada bidang miliknya sebagai tanda agar Xio menghentikan aktifitas brutalnya
"Hentikan! Kau mau mengisap habis energiku! "ucap Yuri dengan nafas tersengal. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan wajah merah padamnya
Xio yang mulai mendapatkan kembali kewarasannya hanya menatap Yuri dengan wajah bingung. Apa sebenarnya yang merasukinya? Kenapa ia melakukan hal itu? Tanpa mengucapkan separah kata, Xio segera pergi meninggalkan Yuri sendirian
Yuri yang melihat pria berwajah datar itu pergi hanya bisa menghela nafasnya kesal
__ADS_1
"Wuah! Dia bahkan tidak berterima kasih padaku? Dasar pria brengsek! " ucapnya sambil mengusap kasar bibirnya