
Mirai dan Aora cukup lama terbawa perasaan masing-masing, namun mereka tidak menyadari dampak yang terjadi akibat pertarungan dahsyat mereka
Arena latihan sektor 3 kini berubah menjadi lapangan yang dupenuhi lumpur serta genangan air dimana-mana. Tanah lapang berdebu, serta aliran sungai jernih kini berubah menjadi hancur karena ulah Mirai dan Aora yang seenaknya menggunakan elemen air
Aora yang masih memeluk Mirai erat, kini ia baru menyadari keadaan sekitarnya yang sudah hancur, jika Ketua Zen tahu bisa-bisa hari libur Aora yang didapat dengan susah payah, dipotong
"Mi.... Mirai...Aku rasa, Kita harus segera pergi dari sini" ucap Aora gagap, pandangan kosongnya hanya tertuju ke arah puing batu besar yang ia hancurkan tadi
Batu besar yang hancur itu adalah sebuah tugu peringatan pembangunan tempat latihan Sektor 3 yang baru beberapa bulan lalu diresmikan ketua Zen. Sementara, Aora lah yang menhancurkan batu itu saat menyerang Mirai, hingga tempat itu tidak berbentuk lagi
"Kenapa? " ucap Mirai dengan alis terangkat, tanpa basa basi lagi Aora pun menarik tangan Mirai dan mengajaknya pergi dari sana
......................
" Aora! Kenapa tiba-tiba kau mengajakku pergi dari sana?
Lihatlah... Aku bahkan belum merapikan keranjang piknikku dengan benar" ucap Mirai kesal, sambil menunjuk keranjang besar yang di bawa Aora
"Sudah ikut saja denganku.....
Ah.... Itu dia.......
Kau pasti lapar Mirai, setelah pertarungan melelahkan tadi...... " ucap Aora sambil menunjuk sebuah kedai makanan di depannya
Aora putuskan untuk mengajak Mirai makan di sebuah kedai Kare. Dilihat dari poster makanannya, Mirai bisa menebak betapa mengerikannya rasanya. Ia pun hanya bisa meneguk ludah, ingin rasanya kabur dari sana. Tapi, tangan Aora dengan cepat menariknya masuk ke dalam
"Karena tadi kita sibuk bermain air, lebih baik kita makan makanan yang pedas....
Wuah.... Kare yang pedas, membayangkannya saja membuatku lapar" Gumam Aora sambil mengajak Mirai duduk di salah satu sudut restoran
Sementara Mirai, hanya bisa mengerutkan alisnya. Bagaimana Aora bisa mengajaknya makan makanan sepedas Kare di hari yang terik seperti ini. Apa dia tidak kepanasan?
Bahkan Mirai tidak tahu kapan Aora sudah memasang masker bodohnya lagi dan menutupi pemandangan indah yang membuat detak jantungnya 2x lipat lebih cepat
"Kau benar-benar aneh, Aora" gumam Mirai sambil menggelengkan kepalanya
Mereka pun menikmati waktu kebersama, baik Aora dan Mirai benar-benar seperti orang dimabuk asmara pada umumnya. Saling berbagi perhatian kecil, meski terkadang Mirai menampakkan sikap barbarnya
Semenyara Aora, dengan kesabaran ektra, tetap bisa teraenyum meski Mirai melakukan hal-hal aneh, misalnya mencubit pipi Aora secara tiba-tiba tanpa permisi. Padahal tetap saja, itu sangat menyakitkan
Namun di tengah kencan tengah hari mereka, tiba-tiba saja dua sosok prajurit bertopeng menghadap Aora.
Mereka adalah Cops Putih yang ditutus ketua Zen untuk mencari keberadaan murid pemalasnya
"Tuan Aora" ucap dua orang bertopeng itu kompak, sambil memberi hormat pada atasan mereka
__ADS_1
......................
"Ada apa?" ucap Aora, ia putuskan keluar dari restoran demi kenyamanan pelanggan lain. Bagaimanapun penampilan kedua orang di depannya begitu menakutkan
"Ketua Zen memanggilmu" ucap salah satu prajurit bertopeng gagak
"Hm? Apa? "
Aora terkejut, apa mungkin ketua Zen marah dengannya kerena menghancurkan arena berlatih. Tapi semarah-marahnya kakek tua itu, ia tidak seharusnya memanggil Cops Putih bukan?
"Eish..... Aku akui, aku yang menghancurkan tempat latihan sektor 3.
Bilang padanya aku akan bertanggung jawab.... " ucap Aora langsung menangkap maksud kedatangan dua orang itu
Kedua pria bertopeng itu hanya bisa saling bertukar pandang , bingung.
" Bukan itu maksud kami memanggil anda Tuan. Ketua Zen menemukan sebuah kasus penyerangan masal di beberapa titik di negeri Sora.
Ia ingin anda segera menghadapanya, dan mengikuti rapat daruratnya" lapor pria itu.
"Apa maksudmu? " ucap Aora, pandangannya kini berubah serius
" Baiklah, aku akan segera ke Kantor Desa Sora. Kalia boleh pergi lebih dulu" ucap Aora
......................
"Aora... Kau sudah datang? " ucap Rou
Dalam perjalannya menghadap Ketua Zen, Aora bertemu dengan sahabatnya Rou. Tampaknya masalah ini begitu serius, sehingga melibatkan Devisi Intel dan Sensor Sora
" Ada apa sebenarnya ini? " ucap Aora dengan tatapan cemas
Mereka pun menuju ruang Konfrensi Desa, di dalam ruangan sudah duduk Ketua Zen serta beberapa Kapten Devisi dari departemen lain
"Kau sudah datang. Aora, Rou... Duduklah... " ucap Ketua Zen dengan raut muka serius
" Kalian semua.... Terima kasih telah berkumpul dan memenuhi perintahku....
Aku disini hendak memberitahukan, bahwa negara kita....
Di beberapa titik strategis telah diserang oleh kelompok yang menamai diri mereka Tengu" ucap ketua Zen
Ia pun menoleh ke arah salah satu prajurit Cops Putih di sampingnya. Dan memberi isyarat untuk menjelaskan rincian kejadian yang lebih detail
Mendengar nama itu, Rou, Aora dan bahkan Ten sebagai kapten Cops Putih tampak terkejut. Bukankah hanya mereka yang diberitahukan tentang kelompok misterius Tengu oleh Ketua Zen. Kenapa ia justru membuat penyelidikan terbuka untuk itu?
__ADS_1
"Apa maksudmu, ketua? Bukankah penyelidikannya masih belum menemukan titik terang?
Aku bahkan tidak menemukan apapun di kastil yang dicurigai sebagai markas mereka" ucap Aora
"Mengenai itu, Tuan Aora. Di setiap desa yang diserang, prajurit militer yang berjaga di sana melaporkan bahwa 3 orang berjubah hitam telah menyerang dan memusnahkan desa mereka
Selain itu, di setiap akhir serangan kelompok itu menggambar simbol iblis 'Tengu', mereka secara terang-terangan menulis identitas mereka dan mengejek kita sebagai prajurit militer Sora" lapor prajurit bertopeng itu, ia pun menunjukkan berkas laporan kepada Aora
"Apa sebenarnya tujuan mereka? Kenapa melakukan hal yang begitu sadis seperti ini? "gumam Rou yang juga membaca kaporan penyelidikan
" Untuk itu, aku mengumunkan bahwa penyelidikan Tengu akan dilakukan secara terbuka, siapapun prajurit Militer di negeri ini akan turut andil dalam penangkapan mereka
Oleh karena itu, aku ingin setiap kepala devisi agar memerintahkan seluruh devisinya untuk bersiap
Kita tidak akan biarkan, penjahat seperti mereka bebas berkeliaran dan membuat ulah" ucap Ketua Zen dengan nada serius
Sreggggg brakkkk
Suara hentakan pintu, tiba-tiba memecah suasana rapat. Sontak, seluruh pandangan orang yang ada di ruangan itu tertuju ke arah asal suara berasal
Tanuki meski dirinya sudah dianggap bukan lagi prajurit aktif, namun aksinya yang datang tanpa di undang membuat seluruh peserta rapat memberinya tatapan heran
Tanpa memperdulikan orang-orang, ia dengan tenang berjalan menuju arah ketua Zen. Ia pun menatap tajam sahabtnya itu, sambil tersenyum licik ia melemparkan setumpukkan kertas di meja ketua Zen
"Apa itu? " ucap Ketua Zen tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Tanuki
" Bukankah aku sidah jelas perintahkan, bahwa kau dan Cops Merah mu sudah bukan bagian Sora lagi.
Kau seharusnya tidak datang kepertemuan ini, bukankah begitu? "
Pandangan Tanuki kini tertuju pada deretan prajurit di depannya, mata liciknya menelisik semua orang yang duduk dan berakhir pada Aora. Orang yang membuatnya kesal selama ini
" Aku dulu juga bagian dari Sora. Aku sungguh khawatir karen mendengar berita buruk seperti ini
Untuk itu, aku mengirimkan sebuah hadiah, bukankah seharusnya kau berterima kasih, Zen? " ucap Tanuki dengan nada pelan, namun terdengan begitu meremehkan
" Dalam situasi seperti ini, biasanya Cops Merahlah yang paling cepat mengumpulkan Informasi
Untuk itu, aku datang kesini dengan tujuan yang baik.....
Membawa Informasi mengenai Tengu....
Bahkan hal semudah itu, tidak bisa dilakukan anak buah kesayanganmu Zen" ucap Tanuki yang masih memandang Aora, seringai licik tanpa jelas di wajah berkeriputnya
Ketua Zen pun mengambil tumpukan kertas di depannya, ia mulai membuka halaman demi halaman laporan tersebut
__ADS_1
Hingga di sebuah halaman, matanya terlihat membulat sempurna. Ia nampak tidak percaya dengan laporan yang dibawakan Tanuki tersebut
"I..... Ini? "