Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Ketua Zen dalam Bahaya!


__ADS_3

Pagi hari di desa Sora. Aktivitas masyarakat tampak berjalan tenang, seorang gadis berambut violet berjalan memecah kerumunan orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan utama Desa Sora. Gadis berambut sebahu itu terlihat cantik dengan dres putih yang dikenakannya. Senyum tidak pernah lepas dari wajah Yume, sambil bersenandung pelan ia mengeratkan genggaman pada sebuah kotak hadiah yang berada di dekapannya.


Yume berjalan menyusuri pasar Sora, dan berakhir menuju ke arah tempat dimana Kantor pemerintahan Sora berada. Sampai dihalaman Kantor, Yume mulai mengedarkan pandangannya.


"Ah! Ketemu! " gumamnya antusias. Ia pun melangkahkan kakinya menuju taman kecil yang terletak tepat di samping gedung.


Yume tersenyum pelan, ketika mendapati Ten yang masih sibuk memberikan intruksi kepada beberapa anak buahnya. Yume memutuskan untuk menunggu sejenak, hingga akhirnya pria berambut coklat itu menyadari kedatangannya dan memerintahkan anak buahnya pergi.


"Akhir-akhir ini, sangat sulit untukku bertemu denganmu, Kapten Ten! " ucap Yume dengan penekanan di akhir katanya. Ia pun berlari kecil menghampiri Ten


" Yume? Ada apa kau pagi-pagi kesini? "


Ten yang terkejut dengan kedatangan Yume hanya bisa memasang tampang bingung. Ia segera merapikan rambut dan seragamnya. Tak lupa mengecek bau nafasnya sendiri. Lembur dan semua kesibukan menjadi kapten militer, menjadi alasan seorang pria muda sepertinya tidak sempat memperhatikan penampilan.


"Aku membawakan hadiah yang kau pesan sebelumnya. Bukankah kau ingin memberi hadiah syal rajutanku untuk ketua Zen? Aku sudah menyelesaikannya dan mengantarkan sendiri kesini. " Yume menyerahkan kotak hadiah cantik untuk Zen


" Kau sudah menyelesaikannya? Wuah! Ketua Zen pasti menyukai syal rajutanmu. Udara semakin dingin, syal ini akan menjaga Ketua agar tetap hangat. " ucap Ten antusias


" Aku membuatnya secepat yang aku bisa. Kau juga tahu, aku pun memiliki hutang budi pada Ketua. Jadi pastikan kau memberikan hadiah ini untuknya, Ten. "


" Tentu saja, Yume. Dia pasti menyukainya! " Ten terlihat begitu antusias menatap kotak hadiah yang ia terima. Ia tidak sabar, memberikan hadiah buatan gadis yang ia suka ke sosok yang sudah ia anggap ayah kandungnya sendiri


......................


Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Kantor Sora. Semenjak Tanuki menjadi buronan, orang-orang di bawah kendali Cops Awan Merah tiba-tiba lenyap begitu saja. Yume, salah satu dari mereka akhirnya bisa bebas dari jeratan Tanuki. Meski pernah menjalani kehidupan di bawah bayang-bayang kegelapan, Ia akhirnya menjadi tentara Militer aktif Sora berkat bantuan Ketua Zen.


Tidak seperti sebelumnya, Yume kini menikmati kehidupan secara normal. Tidak ada lagi perintah organisasi yang mengekangnya. Ia juga sangat leluasa menghabisakan waktu bersama Ten, kekasihnya. Sama seperti sekarang.


Yume dan Ten berjalan beriringan, sambil berpegangan tangan, mereka tampak menikmati pemandangan cantik yang disuguhkan Taman Sora. Hanya saja, tidak ada percakapan berarti yang terjalin. Ten, pria itu tampak tenggelam dengan pikirannya sendiri.


Yume sesekali melirik ke arah pria yang menggengam erat tangannya, ia sadar Ten tengah memikirkan sesuatu. Wajah Ten yang biasanya dihiasi senyuman hangat, akhir-akhir ini terlihat berubah murung.


"Ada apa? Apa kau masih belum menemukan keberadaan temanmu, Aora? " ucap Yume sambil menghentikan langkahnya. Ten tidak langsung menjawab, ia hanya menatap tangan Yume sambil mengelus lembut simbol Kutukan yang masih terikat di jarinya.


" Aku masih belum bisa melacak leberadaan Aora. Selain itu- "


Ten menghentikan ucapannya, sorot matanya menunjukan rasa bersalah.


Yume mulai menghibur Ten, sebuah tepukan lembut di bahu Ten ia berikan sebagai penghiburan. Ia tahu ada begitu banyak beban yang harus ditanggung pria itu. Entah itu identitas aslinya, atau fakta bahwa kini ayahnya menjadi buronan Tingkat tinggi militer Sora.


"Kemarin, ada seseorang dari Cops Merah yang menyerahkan diri. Pria itu bernama Itasuke. Sama sepertimu, ia juga memiliki simbol kontrak kutukan di tangannya. Ia secara sukarela menyerahkan diri dan mengatakan informasi penting yang ia dapat lewat teknik mata-mata sihir miliknya. " sambung Ten


Kata Cops Merah membuat Yume terpaku. Tiba-tiba saja tangannya gemetar. Bahkan dengan hanya menyebut kata kontrak kutukan, gadis itu kembali mengingat siksaan yang sempat ia jalani dalam organisasi kelam itu


" Yume! Kau tidak apa-apa? " Ten mulai khawatir dengan kondisi Yume.


" Ah itu! Aku baik-baik saja, Ten. " Meski diliputi rasa takut, Yume mencoba mengulas senyum di wajahnya


" Tapi Ten, baru saja kau mengatakan Itasuke menyerahkan diri? "


" Kau mengenal pria itu? " Yume mengangguk pelan.


" Seperti yang kau katakan, Itasuke memang memiliki Kontrak Kutukan sama sepertiku. Setahuku, Ia ditugaskan Satuan Cops Awan Merah untuk menjadi mata-mata luar untuk keperluan organisasi. Kalau aku tidak salah, identitas penyamarannya adalah menjadi seorang bos senjata yang memonopoli perdagangan senjata Sora.

__ADS_1


Sama sepertiku dan anak-anak tanpa orang tua lain, kami di latih di bawah naungan Organisasi sejak kami kecil. Hingga kami tumbuh menjadi mesin pembunuh tanpa emosi di bawah Cops Awan Merah. Tapi ada sesuatu yang aneh! "


" Apa itu? "


Yume mengangkat tangannya, lalu memperlihatkan simbol hitam yang melingkar di jari manisnya. Tanda Kutukan Tanuki.


" Kutukan ini, akan selalu mengawasi gerak-gerik kami selama kami masih mengikat kontrak dengan Tuan Tanuki. Seperti yang kau katakan, Itasuke memggunakan teknik sihir rahasia organisasi tanpa seijin Tuan Tanuki. Itu cukup aneh menurutku.


Informasi mengenai pembelotannya seharusnya sudah sampai ke Tuan Tanuki. Tapi, kenapa saat ini ia masih dibiarkan tetap hidup?


Setahuku, siapapun dari kami (orang-orang dengan kontrak kutukan) yang mencoba mengkhianati Tuan Tanuki, tepat saat ia mengeluarkan teknik rahasia milik organisasi tanpa ijin, tubuh kami akan di kekang kekuatan sihir kutukan dan musnah menjadi abu! Kematian, Itulah hukuman yang akan kami terima jika berani menentang Tuan kami. "


Setelah menerima penjelasan Yume, Ten juga menemukan sebuah kejanggalan. Kenapa Tanuki tidak langsung membunuhnya? Mengingat sifat Tanuki yang tidak pernah membiarkan kegagalan atau penghkhianatan.


" Jadi maksudmu, Itasuke sengaja dibiarkan hidup oleh ayahku. Tapi apa tujuan ayahku membiarkannya tetap hidup? "


Yume terdiam sejenak, ia tampak memikirkan apa sebenarnya maksud dari keanehan yang ia temui. Hal serupa juga dilakukan Ten, ia mencoba menebak apa sebenarnya yang direncanakan sang ayah


" Jika aku menjadi ayahku, kenapa aku harus membiarkan seorang pembelot hidup sampai saat ini. Kehidupan anak buahnya bagi ayahku hanyalan alat untuk mencapai keserakahannya selama ini, lalu apa alasannya membiarkan Itasuke hidup? "


" Apa mungkin, ini sebuah pesan untuk seseorang. Kau tahu, hanya segelintir orang selain angota Cops Awan Merah yang paham mengenai sistem kontrak kutukan.


Berhasilnya Itasuke lolos hingga menyerahkan diri ke pasukan militer Sora, mungkin semua ini sudah diketahui Tuan Tanuki Sebelumnya. Ia membiarkan Itasuke hidup, sebagai perantara untuk menyampaiakan sebuah pesan rahasia Tuan Tanuki ke orang yang ia tuju! Tapi siapa orang itu? "


Ten langsung melirik kotak hadiah yang kini berada di genggamanya. Sepertinya, ia tahu siapa penerima pesan tersirat yang dikirimkan Tanuki lewat Itasuke.


" Mungkinkah orang itu, Ketua Zen? " ucap Ten tidak percaya


" Mungkin saja Ten. Di Sora, hanya ketua Zen lah satu-satunya orang yang dekat dan mengenal baik Tuan Tanuki! "


" Yume! Aku rasa aku perlu mengecek sesuatu. Jika kecurigaan kita benar, Ayahku mungkin saja menargetkan Ketua Zen! "


" Pergilah Ten! " ucap Yume.


Ten segera bergegas pergi, meninggalkan Yume sendiri. Dengan tangan tertaup, Yume menatap punggung Ten yang mulai menghilang di ujung jalan.


" Aku harap, sesuatu yang buruk tidak pernah terjadi. " gumam Yume penuh harap.


Yume pun mulai beranjak pergi. Namun, ketika ia mulai melangkahkan kakinya, dua orang prajurit bertopeng dewa kematian tiba-tiba menghadangya.


" K-kalian? " ucap Yume dengan suara tercekat.


" Kau harus segera ikut dengan kami. Tuan Tanuki ingin kau melakukan sebuah tugas untuknya! " Yume dan dua pria itu pun menghilang di tenagh asap pekat.


......................


Brakkk!


Ten mendobrak pintu ruang Intrograsi. Semua orang di ruangan itu tampak terkejut, termasuk Itasuke yang masih duduk dengan tangan terikat.


" Ada apa Ten? Kenapa kau tiba-tiba datang kesini? " ucap Rou dengan raut wajah heran.


Baru pertama kali ini, ia melihat Ten datang dengan cara yang kasar. Pria yang selalu memperlihatkan senyum ramah itu, selalu menjungjung tinggi sopan santun. Tapi berbeda dengan biasanya, Ten datang dengan raut muka kesal serta penampilan yang acak-acakan.

__ADS_1


Ten tidak menghiraukan pertanyaan Rou. Dengan nafas yang tergesa-gesa, ia berjalan cepat menghampiri Itasuke dan mencekram kerah jubahnya kuat.


"Cepat katakan! Apa yang pria licik itu sampaikan untuk ketua Zen! Apa dia mencoba membunuhnya?! " ucap Ten dengan amarah yang memuncah.


" Ten tenanglah! Apa yang terjadi sebenarnya! " Rou mencoba menghentikan amarah Ten.


" Keu juga menyadari keanehan itu?! Aku sudah berpikir semalaman, kenapa sampai saat ini aku masih baik-baik saja! Sesuatu pasti telah terjadi. " ucap Itasuke dengan raut wajah kebingungan.


Ten mulai menurunkan kerah jubah Itasuke. Sepertinya pria itu juga tidak tahu apa-apa.


" Saat aku bangun, segel laba-laba yang aku tanam sudah lenyap. Begitupun kontrak kutukan ditubuhku! " Itasuke memperlihatkan tangannya yang sudah tidak memiliki segel kutukan


" B-bagaimana mungkin? "


" Entahlah! Tapi seseorang mungkin sudah membuat kesepakatan dan meminta Tuan Tanuki menghapus kontrak kutukan dari dalam diriku! Jika bukan begitu, bagaimana mungkin kontrak itu hilang dalam semalam? "


Ten terdiam sejenak. Sadar mengenai situasi itu, Rou mulai membuka suaranya


" Apa perlu, aku menyelidiki apa yang terjadi semalam? Mungkin itu bisa membantu menjelaskan apa yang kalian ributkan saat ini. "


......................


Rou akhirnya menggunakan sihir pembaca pikirannya. Dengan mengaktifkan gyoku, ia mulai menempelakan telapak tangannya di kening Itasuke.


" Sebelum aku memulai membaca pikiranmu. Terlebih dulu kau harus membuka 'kotak pandora' emosi di dalam dirimu. Itu satu-satunya jalan agar aku mampun menembus ke dalam alam bawah sadarmu! "


Itasuke mulai memejamkan matanya, ia pun mengkonsentrasikan pikirannya. Pengendalian emosi yang biasa membentengi dirinya mulai ia lepas perlahan.


" Aku sudah siap! " gumamnya pelan


" Baiklah! Aku akan memulainya! " sinar ungu mulai memenuhi telapak tangannya. Rou mulai memejamkan mata dan bersiap menyelidiki apa yang terjadi kemarin malam


Disisi lain Ten tampak memperhatikan dati sudut ruangan. Beberapa saat berlalu, Rou mulai membuka matanya. Membaca pikiran Itasuke, sepertinya sudah ia selesaikan.


"I-ini? " Rou segera mengalihkan perhatian ke arah dua anak buahnya yang berjaga di ruangan itu.


" Kalian! Apa kemarin malam, Ketua Zen sempat mengunjungi Itasuke secara rahasia?! "


Dua pengawal itu tampak terkejut, mereka menatap ke arah satu sama lain.


" Cepat katakan! "


" B- benar Kapten Rou. Kemarin malam, ketua Zen sempat mengunjungi Itasuke tanpa sepengetahuanmu. Ia memerintahkan pada kami agar hal itu dirahasiakan pada siapapun! " ungkap salah satu pengawal jujur.


" Lalu! Jika Ketua bertemu dengan Itasuke, kenapa kau tidak ingat sedikitpun! "


Ten kembali dipenuhi amarah. Berbeda dengan Ten, Itasuke terlihat memikirkan sesuatu. Ia kembali menatap jari tangan tempat segel kutukan miliknya biasanya tersemat


" Dari yang aku baca. Pikiran Itasuke tampak dikendalikan oleh seseorang. Tanpa sepengetahuannya, ia menyampaikan sesuatu untuk Ketua Zen ketika beliau mengunjunginya kemarin malam! " jelas Rou


" Itu bisa saja terjadi. Tuan Tanuki bisa mengendalikan pikiran orang-orang yang terikat kontrak dengannya bahkan dati jarak jauh sekalipun. Menyampaikan sebuah pesan, bukanlah hal yang sulit untuknya! " gumam Itasuke dengan raut wajah kesal.


" Apa pesan yang pria licik itu sampaikan! Cepat katakan Rou! "

__ADS_1


" 'Ayo kita bertemu di lembah kehidupan, Zen!' begitulah yang bisa aku dengar. " ucapan Rou seolah mengikuti apa yang ia lihat lewat pikiran Itasuke


__ADS_2