Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Spesial Chapter : Hukuman Terberat adalah Penyesalan


__ADS_3

...Dalam hidup, manusia selalu berada di antara dua pilihan. Entah itu pilihan buruk atau baik, pilihan yang bisa membuatmu bahagia, atau pilihan yang sekedar mengisi kekosongan dalam dirimu. Terkadang kita terjebak di dalam pilihan yang salah, terjerumus dalam gelapnya lorong ambisi dan arus keserakahan. Semua memang tidak ada yang salah atau benar, karena pada dasarnya kita adalah manusia yang penuh kekuarangan. Sampai kematian menjemput, kita tidak pernah tahu, apakah jalan yang kita lewati saat ini adalah jalan baik atau buruk?...


Tanuki mulai memejamkan matanya. Tubuhnya yang tertembus pedang Shiroi, sedikit demi sedikit mulai luruh menjadi gumpalan debu. Kilasan jalan hidupnya selama ini berputar cepat di otaknya.


Kenangan-kenangan menyakitkan, dimana satu persatu kawan disisinya mulai pergi. Tanuki merasakan, hidupnya benar-benar ia jalani seorang diri. Kesepian selalu ia rasakan. Sebenarnya seberapa jauh ia tersesat. Jika saja ia tidak memilih jalan yang ia lalui saat ini, seperti apakah hidupnya?


"Jika waktu itu aku memilih jalan yang lain. Akankah kalian semua masih bersamaku hingga detik ini? Bahkan di dalam jalan kematianku, aku merasa berjalan seorang diri.... "


Bersamaan dengan tubuhnya yang hancur menjadi debu. Jiwa Tanuki terjebak di dalam sebuah ruang antah berantah, ia melihat sebuah sinar menyilaukan di ujung jalannya. Saking terangnya sinar itu, ia harus mengulurkan tangan serta menyipitkan matanya. Sebuah pintu kayu menunggunya. Dengan ragu, Tanuki mulai membuka pintu kayu itu. Samar, suara riuh anak-anak terdengar memenuhi indranya.


"Hya! Tanuki kau datang?! "


Tanuki hanya diam membeku, ia tidak percaya dengan apa yang matanya lihat kali ini.


Ia kembali ke sebuah momen di masa lalu. Tepat di depan pintu kelasnya, ia melihat teman-temannya tengah menunggu kedatangannya.


Sosok anak yang pertama menyambut Tanuki adalah Kizuna. Bocah berambut hitam, dengan mata yang bulat. Setiap senyum yang Kizuna pancarkan selalu dipenuhi kehangatan.


Tanuki masih belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah tadi ia tengah bertarung melawan Kurasu? Ia ingat dengan jelas, tubuhnya ia gunakan sebagai prisai untuk melindungi Mirai. Tanuki segera melirik banyangan dirinya di kaca jendela, ia terlihat begitu muda. Tidak ada kerutan, tidak ada tubuh pria paruh baya. Wujudnya sama persis ketika ia berusia 15 tahun. Usia dimana ia dan teman-temannya tengah menikmati bangku akademi Sihir dan barus menjadi warga Desa Sora.


Tanuki yang masih terbengong, merasakan punggungnya di tepuk seseorang. Ia pun segera berbalik, betapa terkejutnya ia melihat Zen yang tengah asyik merangkulnya dari belakang.


"Tanuki, jangan bilang kau tersesat lagi?! Sudah beberapa kali aku katakan, kau cukup mengikuti kemana aku pergi. Maka kau tidak akan pernah tersesat lagi! " Zen mulai mengoceh


Tersesat. Apa yang dikatakan Zen memang benar, Tanuki sudah terlalu jauh melenceng dari jalan yang dilalui teman-temannya.


" Kau benar. Aku sudah tersesat terlalu jauh, Zen. Seharusnya dari dulu, aku mendengarkan semua ucapanmu. Semua mungkin tidak akan berakhir seperti ini.... " Tanuki tersenyum ririh. Kini ia mulai memperhatikan wajah penuh senyuman teman-teman yang menyambut kedatangannya


Tepat didepannya, Aoryu, Yoshiro tengah duduk berdampingan sambil melambaikan tangan ke arahnya. Di sisi lain, ada Yukio. Gadis misterius berwajah dingin yang selalu menatap keluar jendela. Anak paling bandel di kelas mereka adalah Kizuna dan Zen, ide jail mereka selalu membuat kelas sihir ini menjadi gunjingan para pelatih di akademi Sihir.


"Teman-teman! Memdekatlah! " Zen mulai menarik Tanuki mendekat ke arah teman-temannya. Mereka semua kompak berkumpul, dan membuat sebuah lingkaran diskusi di belakang kelas.


Senyum penuh arti tertera di wajah ingusan Zen, ia melirik ke arah Kizuna sambil menggerakan alis. Kizuna hanya menanggapi dengan sebuah ancungan jempol.


"Berhubung perang sudah berakhir dan kita dikembalikan ke akademi untuk belajar. Bagaimana kalau kita maanfaatkan waktu berharga ini untuk sesuatu yang menyenangan, hm?! " Zen memulai hasutan berkedok diskusi dengan seringai penuh arti.


" Sesuatu yang menyenangkan? " Aoryu menautkan alisnya heran. " Apa itu? "


" Ei! , masak kau tidak tahu apa yang di maksud si jail Zen, Aoryu?! " Yoshiro hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebagai Partner Zen, tentu ia dengan mudah bisa membaca pikiran bocah itu.


" Kau ingin kita bolos masuk akademi! Itukan rencanamu, Zen?! Kau mau mati! "


Yukio mulai menatap tajam Zen. Namun, Kizuna mulai menepuk bahu Yukio sambil tersenyum cerah ke arahnya. Hal itu sukses membuat Yukio salah tingkah.


" Aku harap, kau juga ikut Yukio. Kita semua akan pergi ke Kedai Ramen bibi Yu, bukankah kau menyukainya? "


" H- haruskah? B- baiklah kalau begitu, aku ikut. " ucap Yukio gagap.

__ADS_1


Gadis berambut pirang itu hanya bisa menghela nafas pelan, semburat merah nampak di pipi seputih saljunya. Akhirnya Yukio pun menurut dengan menganggukan kepala pelan. Bisa dilihat, Kizuna adalah pawang gadis segarang Yukio.


" Tapi, bagaiman kalau kita tertangkap? "


" Hya! Kita tidak tahu kapan perang pecah dan kita dikirim ke medan perang lagi. Bagaimana kalau kita tidak bisa berkumpul sama seperti sekarang? Tidak ada jaminan kita akan melewati usia 17 tahun. Entah besok atau lusa kita bisa saja tewas di medan perang. Terutama untuk prajurit lemah sepertiku.


Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan teman-temanku. Dan mati dengan senyuman besok! " ucap Zen dengan wajah memelas.


Semua orang mengangguk, bagaimanapun apa yang dikatakan Zen benar adanya. Tidak ada yang namanya batas usia dalam berperang. Meski mereka hanya anak-anak, tidak ada jaminan mereka bisa bertahan melawan kecamuk perang esok hari.


Namun, semua perhatian kini tertuju pada Tanuki. Sejak tadi, bocah dengan perban melilit satu matanya itu hanya diam memperhatikan, dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Tanuki, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak setuju dengan saranku?! " Zen mulai berkacak pinggang.


Tanuki menggeleng pelan. " Tidak. Aku setuju. Hanya saja surga mungkin mengirimku ke momen ini untuk suatu alasan. Karena disini aku bisa bertemu dengan semua teman-teman yang aku miliki. Bahkan untuk orang pendosa sepetiku, ini bagai sebuah keajaiban. "


Semua orang terlihat mengangkat alisnya heran karena ucapan aneh Tanuki. Zen berinisiatif menempelkan tangannya di dahi Tanuki. Biasanya bocah itu akan tegas menentang ide Zen, dan menganggap semua yang ia lakukan hanya membuang waktu Tanuki yang berharga


" Hya! Apa maksud ucapanmu, sih? Kenapa kau bersikap aneh seperti ini? Kau sakit? Hya! jangan bercanda. Kau membuat kami semua takut! "


" Sudah! Sudah! Kita harus bekerja sama untuk keluar dari akademi tanpa diketahui pelatih! " Kizuna langsung mengintrupsi, dan mulai meng-komandoi teman-temannya bolos sekolah.


" Ayo! " semua orang mulai megendap-endap menuju pintu keluar. Di mulai dari Kizuna dan Zen, perwakilan biang kerok pencetus ide membolos yang bertugas membuka jalur pelarian. Dan diikuti Aoryu, Yukio dan Yoshiro, tiga pewaris Clan salah pergaulan.


Tanuki hanya diam mematung. Tanpa ia sadari, sebuah tangan kecil menggapai lengannya dari belakang.


"Tunggu apa lagi, Tanuki? Ayo! "


" Mito? "


Mito menggaet tangan Tanuki, menariknya pelan dan mengajaknya keluar lewat pintu yang ia masuki tadi. Sebuah berkas cahaya putih kembali menelan jiwa Tanuki.


......................


Jiwa Tanuki kembali tersedot, kali ini bukan kembali ke momen di masa lalu. Melainkan sebuah kilas masa depan yang akan terjadi jika saja ia tidak memilih untuk membunuh Teman-temannya.


Tanuki merasakan kelopak matanya silau akibat cahaya matahari. Ia mulai menbuka pelan matanya, hal pertama yang ia lihat adalah kelopak bunga sakura yang berguguran terhempas angin. Hangatnya udara mengingatkannya akan musim semi. Sementara bangunan megah didepannya cukup terlihat familiar, tidak salah lagi ia berada di depan gedung pemerintahan Sora.


Tanuki merasakan seseorang membenahi kerah Kimononya, pandangannya kini tertuju pada wanita paruh baya yang tengah sibuk merapikan pakaiannya. Wanita yang masih tampak cantik, meski usia sudah mulai memakan rambut coklat cantiknya. Tanuki penasaran, jika Mito hidup sampai saat ini akankah ia terlihat seperti ini? Bahkan ketika ia berubah menjadi wanita paruh baya, ia masih tampak menawan di mata Tanuki.


"Ayo Tanuki, kita harus bergegas. Ten pasti menungggu kita. "


Mito menarik tangan Tanuki mesra. Mito terlihat cantik mengenakan kimono hijau daun, tatapannya tak lepas dari Tanuki. Dengan senyum hangatnya, ia menarik tubuh Tanuki untuk masuk ke dalam kerumunan para orang tua.


Di ujung taman, Yoshiro melambaikan tangan ke arah Mito dan Tanuki.


" Mito! Tanuki! Disini! "

__ADS_1


" Teman-Teman kita disana, Ayo suamiku! "


Semua teman-teman Tanuki sudah berkumpul. Mereka tak lagi terlihat muda dan segar seperti sebelumnya. Sama sepertinya, mereka semua sudah berubah menjadi sosok baruh baya yang kian menua setiap harinya. Wajah yang mulai berkeriput, sera tenaga yang tak lagi muda. Namun, masih sarat dengan senyuman.


Yohiro dan Aoryu, mereka menggunakan kimono berwarna biru gelap senada dan berdiri sambil menautkan tangan mesra. Sementara Kizuna, masih tampak gagah bersanding dengan pewaris Clan Salju, Yukio. Mereka tampak bahagia bersama. Sementara Zen (?) dia datang seorang diri dengan pedenya.


"Hya! Lihatlah anak-anak kita! "


Yoshiro menujuk ke arah barisan prajurit Sora di ujung sana. Tanuki tampak terpaku. Di ujung sana, anak-anak mereka terlihat berdiri berdampingan. Aora dan Yora, mereka tampak gagah dengan balutan seragam kebesaran prajurit Sora. Bukan hanya mereka, Mirai, Ten dan semua teman-teman angkatannya juga hadir dalam upacara penghargaan dan kenaikan tingkat itu. Mereka semua, telah dipromosikan menjadi Kapten Militer Sora


Aora, Mirai, Yora dan Ten menyadari ke hadiran para orang tua, mereka dengan senyuman sumbringah terukir jelas di wajah cantik dan tampan mereka. Mereka pun melambaikan tangan sambil memamerkan lencana kapten yang mereka terima.


"Tanuki, kau pasti bangg pada Ten. Aku dengar, ia diangkat menjadi kepala militer Cops Awan Putih? " ucap Aoryu sambil menyikut pelan Tanuki.


" Tentu saja! Semua anak-anak didikku tidak pernah gagal. Yora dipromosikan menjadi Kapten di unit keamanan Sora. Mirai di unit Medis dan Aora di Unit Pertahanan. Dan yang lebih membanggakan, Ten di promosikan menjadi Kapten Unit elite Cops Awan Putih! Bukankah itu luar biasa?! " Zen mulai menyombongkan murid-muridnya. Jujur saja, ia hampir menenteskan air mata saking bangganya.


" Jaman sudah berubah. Aku tidak ingin Sora memiliki pemimpin hanya dengan latar garis keturunan. Siapa yang pantas, ia lah yang berhak memimpin Sora.


Dari sudut pandangku. Ten menjadi kandidat kuat sebagai Ketua Militer Sora di masa depan. Kau sudah membesarkan putramu dengan baik, Tanuki. " tegas Aoryu.


Semua orang menujukan senyuman bahagia, kecuali Tanuki. Ia hanya bisa berdiri, sambil menatap Ten dengan penuh penyesalan. Kata-kata Ten di medan perang, terngiang begitu saja.


"Jika saja kau menjalani hidupmu dengan sesikit lebih terhormat. Aku bisa saja mengenakan syal ini dengan bangga. Kau tidak perlu menjadi sosok kuat yang ditakuti semua orang. Bagiku, Meskipun kau akan hanya menjadi pria yang lemah dan banyak dicemooh orang, aku sendiri dengan bangga akan meindungi ayahku.


Tapi, kenyataan bahwa ayahku seorang penjahat dan bahkan membantu sosok iblis . Membuatku takut menerima tanggung jawab ini, meski orang-orang disekelilingku mengatakan semua baik-baik saja. Sekuat tenaga aku bekerja keras demi Sora, Aku tetap tidak bisa menerima posisi apapun karena aku anak seorang iblis yang berniat menghancurkan Sora! "


Tanuki melihat Ten berlari menghampirinya. Tidak ada wajah pucat penuh tekanan yang selama ini sering ia lihat menghiasi wajah putranya. Wajah Ten tampak tampan, dengan senyuman cerah menghiasi. Ten langsung memeuk tubuh Tanuki, dan membisikan suatu kata yang mampu menyejukan hati seorang ayah.


Bukan kata 'aku membencimu' atau 'Kau bukan seorang ayah, tapi seorang iblis!' yang biasa keluar dari mulut putranya.


"Terima kasih, kau telah menjadi ayahku. Aku menyayangimu, ayah.... " bisik Ten


Tanuki sadar, apa yang ia lihat saat ini bukanlah anugrah dari Surga. Melainkan sebuah Hukuman atas perbuatannya selama ini.


Surga seakan berkehendak mempertotonkan kilasan kehidupan, jika saja Tanuki memilih jalan kebaikan. Tanpa ambisi dan tanpa keserakahan. Mungkin Tanuki bisa merasakan semua kebahagiaan ini. Menua bersama Mito dan sahabatnya, serta melihat Ten tumbuh gagah dengan senyuman.....


"Bahkan hukuman ini jauh lebih menakutkan, dari siksaan neraka bagi pendosa sepertiku. "


...----------------...


Note : kita selalu di hadapkan dengan sebuah pilihan yang sulit. Ada yang istan atau penuh perjuangan. Tapi semua hal pasti memiliki sebab dan akibat. Jika kita curang dalam hidup dan memilih jalan menjadi jahat. Hidup kita pasti dibalas dengan tidak adanya setitik kebahagiaan.


Ingat, sesulitnya hidup kita, diluar sana masih ada yang lebih sulit. Cukup dengan bersyukur.


Jadi Guys, tetaplah di jalan yang berselimut cahaya di jalan NYA. Meski sulit, kebahagiaan pasti akan datang pada waktunya. Keep semangat, meski hari ini kita merasa tidak berguna, siapa tau yang akan terjadi besok kan?


Inilah Healing Chapter versi Author.......

__ADS_1


Ehem.... Ketua Zen, maaf ya gak Author cariin jodoh untuk bisa di gandeng ke kondangan...


Bye! Bye!


__ADS_2