Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Bermain atau Dipermainkan


__ADS_3

" Zou...... Mundurlah. Aku sendiri yang akan melawan pria ini!" ucap Yuri tengan pandangan tegasnya


Yuri pun bertukar posisis dengan Zou, namun pria berambut merah itu hanya menunjukkan wajah bingungnya, ia pun berdiri sambil berbisik


"Apa kau yakin, Yuri? Kita hanya memiliki kurang lebih 5000 keping emas, apa kau yakin bisa memenangkan permainan ini?" bisik Zou, namun Yuri hanya menatap mata hazel di depannya sambil memamerkan senyum yang tidak bisa diartikan maksudnya


Yuri pun duduk di posisis lawan berhadapan dengan Itasuke. Pria berambut kuning pucat itu hanya bisa tersenyum, lantas membuang semua kartu di mejanya lalu menggantinya dengan yang baru


"Lihatlah........ Keadaan kartu masih utuh! " ucapnya tanpa mengalihkan perhatian dari Yuri


Yuri mengangguk, suatu aturan jika hendak memulai permainan adalah sebuah keharusan untuk menunjukkan kelengkapan kartu lebih dulu, demi menghindari kecurigaan terhadap kecurangan atau apapun


"Seperti kabar yang tersiar, Tuan Itasuke. Kau begitu memegang prinsip dalam bermain judi" puji Yuri. Mata Ruby nya kini menembus mata seindah langit di depannya


"Aku anggap itu sebuah pujian" ucap Itasuke dengan senyuman


"Untuk itu, demi menghormati pendirianmu, mari kita lakukan aturan 'Murni' dalam babak ini, bagaimana? " ucap Yuri, yang sontak mendapat tatapan tidak percaya dari Zou


" Benarkah? Sungguh kau memang gadis berani. Aturan Murni, mengharuskan kau dan aku menaggalkan kimono kita bukan? Kau mengerti apa maksudnya kan? " ucap Itasuke dengan senyum paslu


" Tentu. " ucap Yuri sambil menarik pita kimono di pinggangya


Yuri mencetuskan menggunakan Aturan 'Murni' dalam judi kali ini. Yang artinya, ia hanya akan menanggalkan pakaian berlapisnya


Yuri pun membuka bajunya. Memperlihatkan tubuh berkulit putih yang ramping, serta volume dada yang cukup berisi yang hanya di balut tank top hitam serta celana pendek. Sementara tangannya ia letakkan di atas meja tanpa beranjak sedikitpun


Sementara Zou, hanya memperhatikan punggung polos Yuri dengan wajah tercenganh. Jejak batu pilar tampak terpangpang nyata di punggung Yuri, lengkap dengan sisik ular yang mengelilinginya


"Dia benar-benar gadis gila! " gumam Zou sambil memalingkan wajahnya, mencoba mengkondisikan matanya


Sementara, Itasuke menerima tangtangan Yuri dan turut serta melepas atasan Kimononya dan memperlihatkan tubuh six pack dengan kulit tan yang eksotis. Ia juga menaruh tangannya di atas meja


"Mereka terlihat sama-sama menggoda, kita lihat siapa sebenarnya yang akan terperangkap. " Gumam Zou dengan mata menyipit, ia bahkan tidak terkejut lagi dengan tindakan ektrem Yuri


Peraturan Murni, peraturan dimana pemain benar-benar menjungjung kejujuran dalam bermain. Membuat kesempatan trik kotor judi hampir tidak ada, entah itu menyelipkan kartu di baju atau di tempat lain. Sementara kedua tangan pemain di kunci di atas meja


Sebelum memulai pertarungan, Yuri melakukan pemanasan konyol dengan wajahnya. Ia menggerakkan wajahnya seakan melakukan senam wajah, membuat Zou semakin terheran


"Iiiii..... Ooooo.... Uuuu.... Eeeee.... Aaaaa..... " ucap Yuri sambil menggerakkan wajahnya, dan tentu ekpresi lucu terbentuk dari prilaku absurdnya itu.


" Psst..... Apa yang kau lakukan Yuri? " bisik Zou


Namun Yuri tidak menggubrisnya, ia pun kini memasang wajah seriusnya menatap lekat lawan di depannya


" Nah! Sekarang... Mari kita bahas taruhan kita....... " ucap Yuri dengan senyuman


" Tentu..... Berapapun nominalnya.... Akan aku beri!


Sungguh menyenangkan bisa bermain dengan gadis cantik sepertimu... Nona Yuri! " ucap Itsuke


Yuri pun melepas gulungan rambutnya. Ia membiarkan rambut merahnya terurai, dan mencoba membuat Itasuke tergoda dengan penampilannya kini


Sekelibat dan dengan cepat, pupil Yuri berubah menjadi pupil ular. Ia mencoba mengecek emosi Itasuke, apakah ia terpengaruh atau tidak?


Sebaik apapun Itasuke mengontrol emosinya, ia tentu akan sedikit merespon, jika ada wanita cantik duduk di depannya dan hanya mengenakan pakaian minim.


Kembali lagi, bukankah dia juga seorang pria? Bahkan Zou pun mengalihkan pandangannya dari Yuri


Yuri berusaha keras agar Itasuke menunjukkan sedikit emosinya. Entah itu rasa takut, gugup atau yang lain. Dengan begitu ia bisa membaca kartu apa yang ada di tangan lawannya, lewat pengelihatan ularnya


Simple saja, jika Itasuke sudah tersulut emosi akan lebih mudah membuat ia gugup atau marah, jika itu terlihat oleh mata Yuri, bisa dipastikan kartu di tangannya adalah kartu jelek. Sehingga Yuri dapat menyusun rencana


Jika kartu di tangannya bernilai tinggi, Yuri bisa mencegah kekalahanya dengan beberapa trik

__ADS_1


Untuk itu, Itasuke harus menunjukan sedikit emosinya. Tapi pria itu justru seperti cangkang kosong, sangat sulit menebak isi pikirannya


"Pujian tadi, dia terlihat seperti benar-benar memujiku


Tapi....


Lagi-lagi...... Tidak ada emosi di setiap kata yang ia ucapkan"


"Kalau begitu, aku sendiri yang akan menentukan taruhan kita.....


Aku ingin kau mempertaruhkan kalung shappire yang kau kenakan. Kita tidak akan mempertaruhkan uang di sini. " ucap Yuri


Senyum Itasuke tiba-tiba hilang dari wajahnya, dengan cepat ia memegang kalung yang tergantung di lehernya


"Itu dia..... Dia menunjukkan sedikit kekesalan dalam dirinya....


Sudah aku duga... Kalung itu... Pasti memiliki arti spesial..... "


" Tidak bisakah kau meminta hal lain?


Kau bisa meminta apapun sebagai taruhan bukan, emas rumah, tanah bahkan sebuah pulau. Atau tidak informasi yang aku ketahui, bukankah hal itu yang orang-orang sepeti kalian inginkan ketika menangtangku? ...


Aku akan menyanggupinya.....


Kalung ini, begitu tidak berarti jika dibandingakn dengan tawaranku. " ucap Itsuke.


Sorot matanya berubah, menampakkan kekesalan namun ia berusaha menyembunyikannya dengan senyum terpaksa


"Kena Kau....... "


Yuri hanya tersenyum, ia tidak menyangkan pria setenang itu masuk dalam prangkapnya


" Aku juga akan mempertaruhkan apapun yang kau inginkan.


Bahkan jika kau meminta jiwaku... Akan aku beri! " ucap Yuri dengan tatapan serius, sambil menaruh belati di atas meja


"Yuri! Kau tidak harus melakukan hal itu..... " ucap Zou mulai khawatir,


Misi Tengu memang penting namun tidak harus mempertaruhkan nyawa hanya demi sebuah informasi. Toh Yuri bukanlah anggota inti


Mata Itasuke terlihat bergetar, gadis di depannya benar-benar berniat menangtangnya. Ia pun menggengam kalungnya.


Baginya kalung itu adalah sebuah benda yang berarti lebih dari semua miliknya kini


"Gadis sombong! Jika dibandingkan kemampuanmu, aku jauh di atasmu....


Kau menangtangku bermain judi dengan taruhan nyawamu..... " ucap Itasuke dengan suara sedikit bergetar, namun sesaat kemudian ekpresinya kembali seperti semula. Datar lengkap dengan ekpresi palsu khasnya


" Tapi.... Jika kau kalah.... Bersiap saja, aku akan membuatmu berada di dalam genggamanku. Kau akan memohon bahkan untuk kematianmu.......


Mungkin dengan membuatmu menanggung malu lebih dari apapun...... Kau tahu, seperti seorang budak atau bahkan seorang pelacur! " ucap Itasuke dengan tatapan tajam


Zou hanya menatap Yuri, bagaimanapun ia tidak boleh mempertaruhkan hal yang begitu berharga. Jika dia sampai kalah, dan menjadi budak, ia tidak akan memiliki hak atas hidupnya


" Yuri.... Hentikan! Kita masih bisa mendapat informasi dengan cara apapun.... Ayo kita kembali ke markas, dan menyusun strategi lagi.....


Tidak.... Tidak....


Haruskah aku menyeret pria itu, dan memberinya pelajaran dengan jarum beracunku? " ucap Zou sambil mengepalkan tangannya


Baginya segel penghalang di kasino itu terlalu lemah untuk membelenggu kekuatan Gyokunya, selama ini ia hanya menahan diri demi menjalankan misi ini tanpa keributan


Zou pun mengktifkan segelnya, dan bersiap menyerang Itasuke. Ia tahu, jika pria di depannya berada jauh di bawah levelnya jika berkaitan dengan kekuatan sihir

__ADS_1


"Dasar kau, bajingan! " geram Zou


"Tunggu Zou! Aku tidak melakukan hal ini untuk Mu atau Xio. Aku murni ingin menangtangnya, hanya itu. " ucap Yuri sambil mengangkat tangannya


Yuri merobek bajunya, dan mulai menggigit jarinya hingga berdarah. Lantas ia menulis sebuah perjanjian termasuk taruhannya dengan Itasuke


Itu adalah bukti bahwa Yuri bersungguh-sungguh, ia lalu memberikan kain bertuliskan darahnya ke Itasuke. Itasuke pun melakukan hal yang sama, karena ia yakin akan menang kali ini


"Baiklah... Ayo kita mulai! " ucap Yuri, ia pun lengsung mengambil kartu di tabung dengan tenang


Lalu Yuri mempersilahkan Itasuke mengambil kartu di depannya, tidak seperti tadi Itasuke langsung melihat Nilai kartunya


Sudut bibir Yuri terangkat, baginya pria di depannya bukan lagi pria tanpa emosi seperti tadi, dilihat dari caranya yang gegabah dan tidak setenang waktu melawan Zou


Hening.......


Itasuke kini menampakkan warna dirinya, rasa gugupnya bahkan sampai ke mata ular Yuri. Sambil terus mengeratkan tangannya yang mulai berkeringat


"Kau tahu? Alasan kau selalu menggunakan metode bersih dalam menghadapi lawanmu


Bukankah kau sengaja menuntun emosi lawanmu? memperhatikannya dan menjebaknya ke dalam permainanmu? " ucapan Yuri memecah keheningan ruangan itu


Wajah Itasuke sedikit menegang, ia pun menatap manik ruby gadis di depannya dengan tatapan kesal


" Ruang yang begitu tenang. Kau juga sengaja memperlihatkan hartamu untuk menggertak lawan, bukan?


Kau menuntun rasa gugup dan cemas di dalam diri lawanmu. Seperti....


'Wah.... Apakah dia benar-benar sekaya itu. Apa aku bisa mengalahkanya? '


Atau


' Pandangannya yang tenang, apa dia memiliki kartu surga di tanagannya? '


Kau sengaja membuat lawanmu gugup, dari ekpresi itu kau dapat menebak kartu di tangan mereka.


Dan akhirnya dari pada kalah, mereka lebih memilih menyerah, dan kau keluar sebagai pemenangnya" ucap Yuri sambil menatap kartu di tangannya


Yuri belajar dari kekalah Zou, Itasuke tidak bisa melihat panas tubuh layaknya mata ular yang dimilikinya.


Namun, pria itu sengaja menuntun rasa gugup dan takut di lawannya, dan dengan mudah mempengaruhinya agar menyerah. Sama seperti kasusu Zou, ia bahkan hanya memiliki nilai 9, sedangkan Zou 16


Pengendalian emosi Itasuke sangat tinggi, sehingga ia dapat menyembunyikan emosinya dari lawan dan bahkan dari mata Yuri. Namun, Yuri mendapatkan kelemahannya


"Aku ingin mengganti kartuku" ucap Itasuke pelan, sudah bisa di tebak ia tidak puas dengan nilai kartunya


"Silahkan. " ucap Yuri, yang justru terlihat terlalu tenang. Meski jiwanya yang dipertaruhkan


"Aku akan mempertaruhkan 1000 keping emas lebih untuk hal itu. " ucap Itasuke


"Emmmm..... Tidak perlu, lagi pula aku hanya ingin kalungmu....... Aku tidak butuh uangmu" ucap Yuri menolak dengan seutas senyum


Itasuke kembali mengeratkan tangannya, ia pun melihat kartu di tangannya. Kartu dengan Nilai tertinggi, 9-9


Itasuke sedikit tersenyum, ia yakin ia telah menang melawan gadis berambut merah di depannya


"Apakah kita buka kartunya sekarang? " ucap Yuri tanpa ragu


Itasuke hanya memandang Yuri, ia sadar gadis di depannya sengaja bertindak setenang mungkin.


Sama sepertinya, ia yakin Yuri hanya menggertak, selain kartu surga yang jarang atau bahkan mustahil Yuri dapat, Itasuke lah yang akan memenangkan babak ke dua


"Tentu...... Mari kita buka kartu kita,

__ADS_1


Kita akan tahu, siapa pecundang di babak ini. " ucap Itasuke dengan tatapan dingin


__ADS_2