Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Selamat Tinggal


__ADS_3

Tubuh Zou kembali ditarik ke suatu tempat. Setelah sempat menyaksikan hari paling membahagiakan dalam hidupnya, sudah waktunya ia kembali menyaksikan hari yang pantas disebut sebagai pintu masuk menuju 'Neraka' dalam hidupnya.


Sinar menyilaukan kembali menelan tubuhnya. Kali ini, ia coba untuk membuka matanya pelan. Meski tidak bisa melihat atau menyentuh apapun, kenangan yang melekat didalam otaknya tentu masih mengingat jelas suatu aroma. Hal itulah yang ia rasakan saat ini.


"Bau apa ini? Aroma sesuatu yang terbakar tercampur beberapa bubuk mesiu. I-ini... Jangan bilang medan perang waktu itu! " Zou berusaha melihat area sekitarnya. Ketakutannya ternyata beralasan.


Ratusan. Tidak, ribuan mayat prajurit ketiga Negara besar berjatuhan dimedan perang. Daratan yang hancur akibat tergerus bombardir sihir prajurit militer menghiasi tempat itu. Tepat di titik temu ketiga Negara, ada sebuah jurang memanjang yang membelah daratan menjadi tiga bagian. Jurang yang dijadikan sebagai batas pemisah yang jelas antara 3 Negara Besar di Dunia Sihir.


"Pristiwa ini adalah gencatan senjata 29 tahun yang lalu! " masih segar diingatkan Zou mengenai gencatan senjata pertama yang ia hadiri sebagai pemimpin Tsuki.


Zou melirik ke arah dirinya, yang kala itu maju di garda terdepan untuk mempertahankan kedaulatan Negerinya


Hirui, sosok laki-laki yang baru genap berusia 19 tahun kala itu. Meski ragu, ia memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju pinggir Jurang yang menjadi tempat pertemuan antara 3 Pemimpin Negara yang lain. Tangannya yang basah akibat rasa gugup, sementara keringat tipis membanjiri keningnya ketika berhadapan dengan dua orang pemimpin Negara yang lain


Aoryu yang berdiri tegap di sisi Sora. Sedangkan di sisi Hoshi senyum licik menghiasi wajah pemimpinya, Hozuki. Dibanding dua orang veteran didepannya, Hirui jauh dari kata berpengalaman. Bahkan tatapan mengintimidasi kedua orang yang sama-sama menatap kearahnya membuat nyalinya sedikit menciut.


"Semua Negara sudah mulai merasakan dampak dari perang tanpa akhir ini. Jadi mari kita rundingkan mengenai masalah gencatan senjata! Kami pihak Sora memutuskan akan sangat medukung penghentian perang untuk sementara ini! " suara berat nan tenang Aoryu mulai terdengar. Bukan tanpa sebab, jika perang terus dilakukan maka semua pihak hanya akan mendapat kerugian


" Cih! Sora memang pengecut! Hanya karena beberapa prajurit yang mati, kalian ingin menghentikan perang ini?! " kali ini suara Hozuki yang mendominasi. Ia adalah sebab perang mulai pecah. Ambisinya menyatukan ketiga negara membawa medan perang pecah dimana-mana.


" Beberapa orang katamu?! Lihatlah sekelilingmu! Jika saja kau tidak melanggar dan memasuki batas wilayah negara lain dengan menggunakan komando militermu! Dunia tidak akan pernah seperti ini!


Jika Tsuki dan Sora mau! Kami bisa bergabung dan melawanmu, Tuan Hozuki! "


" Benarkah? Aku tidak yakin bocah yang diam sedari tadi dan terus menerus mengelap keringat ditangannya berani melawanku! " ucap Hozuki melirik Hirui.


Medengar penghinaan itu, tangan Hirui mengepal kuat. Memang benar ia paling muda disana, tapi tidak ada alasan untuk merendahkann seorang pemimpin Negara


"Siapa bilang Tsuki hanya akan diam saja. Kami memang memilih Netral meski Hoshi kerap kali mengusik kami. Tapi jika kau melakukan tidakan lebih jauh untuk menginfansi Negeri kami.


Tsuki tidak punya pilihan lain selain menggandenga tangan Sora untuk balik menyerangmu! " ucap Hirui penuh penekanan


Hozuki tersenyum simpul " Apa kalian mengutarakan perjanjian persekutuan untuk melawanku?! "


Seperti biasa, tidak akan pernah ada kata sepakat jika semua pihak masih membawa ego masing-masing. Begitupun dengan perjanjian gencatan senjata antara ketiga Negara. Perundingan yang alot yang kerap kali berakhir memecahkan sebuah pertempuran dengan bayaran nyawa para prajurit.


Malam itu, seolah surga perpihak padanya. Hoshi dengan kearoganan pemimpinnya akhirnya menyetujui sebuah gencatan senjata. Dengan syarat masing-masing Negara bisa menaruh komando prajurit di perbatasan guna memegang perjanjian itu. Hirui bisa bernafas lega. Ia bisa memberikan pengobatan bagi prajuritnya yang terluka dan mengistirahatkan fisik mereka yang kelelahan. Berbulan-bulan berkubang dimedan perang membuat Hirui rindu dengan keluarga kecinya. Ia bertanya dalam dirinya apa yang sedang istri dan putrinya lakukan?


Hingga sebuah pesan dari Desa Tsuki muncul.


"Tuan Hirui! Nyonya Haruko dikabarkan sudah memasuki ruang bersalinnya! Kami diminta untuk segera mengabari anda! "


" Apa maksudmu? Ini baru bulan ke-6 nya! "


" Nyonya mengalami pendarahan hebat, Tuan! " Tanpa berpikir lagi, Hirui segera melesat kembali menuju Desa.


......................


Di sebuah ruangan bersalin, sesosok bayi merah prematur telah terlahir kedunia. Tubuhnya yang masih sangat kecil di aliri Kenkou sihir untuk mempertahankan hidup sang bayi. Semenata itu, tim medis yang lain tengah berusaha menyelamatkan nyawa sang ibu. Haruko, sesaat setelah melahirkan putranya ia langsung tidak sadarkan diri.


Tanpa Hirui tahu, diam-diam Haruko merahasiakan kondisi kesehatannya. Dokter mengatakan tubuhnya terlalu lemah untuk mempertahankan anak keduanya. Namun, karena cintanya pada Hirui, ia ingin mempertahankan bayi diperutnya. Ia harap ia dapat memberikan seorang putra untuk suaminya dan Tsuki. Harapannya terkabul, meski ia harus mempertaruhkan nyawanya untuk itu.

__ADS_1


Di tengah kesibukan tim medis berusaha menyelamatkannya. Haruko akhirnya tersadar sesaat, dengan tangan yang terangkat lemah ia menyuruh perawat agar membawakan putra yang baru saja dilahirkan.


"T- tolong bawa putraku kesini.. " ucapny sambil tertatih


Wajah yang memutih pucat tersenyum ke arah sang anak. Rambut merah menyala sang putra mengingatkannya pada Hirui. Anak itu juga mewarisi mata seindah batu Jade miliknya. Sambil mengelus pelan bayi kecil didekapannya, Haruko berbisik kecil ke telinga putranya


"Terima kasih sudah datang ke dunia ini, Putraku. Ayahmu, masih sibuk menjaga Negeri ini dan juga kita. Tapi, ia telah menyiapkan nama yang cocok untukmu. Hisui.


Selamat datang, Hisui......


Ibu menyayangimu..... " setelah menyambut kelahiran putranya, mata Haruko tiba-tiba terpejam. Seolah tahu apa yang dirasakan sang ibu, Hisui kecil mulai menangis untuk pertama kalinya


" Denyut jantungnya semakin melemah! " Tim medis mulai bergerak cepat menyelamatkan nyawa Haruko. Tapi sayang, wanita yang baru saja menyambut kedatangan buah cintanya harus pergi dihari yang sama.


Brakkkkk.....


Hirui mendobrak pintu ruangan tempat Haruko dirawat. Dengan nafas yang terengah-engah ia mamanfaatkan semua kemampuan sihirnya untuk segera tiba ditempat itu. Mata Hazel Hirui menyapu ke segala ruang, deretan tim medis tampak berbaris diam sambil menundukan kepala menyambut kedatangannya. Dengan langkah berat, Hirui mulai masuk ke ruangan itu


"Bagaimana dengan anakku?! " satu ucapan berjuta makna. Hirui harap jika anaknya selamat, istrinya juga demikian. Setidaknya itulah yang ia percayai


Seorang perawat menunjukkan sebuah box bayi dengan energi Kenkou yang menyelimuti. Meski terlahir prematur, anaknya tampak baik-baik saja.


"Lalu, dimana istriku? " semua orang diruangan itu terdiam membisu. Hirui menangkap sosok tertutup kain putih di atas ranjang pasien. Meski otaknya sudah tahu apa artinya, namun hatinya tetap menolak untuk percaya


" Cepat, katakan! Dimana Haruko sekarang! " teriaknya.


Tanpa ia sadari, langkah kakinya membawanya mendekat ke arah ranjang. Sebuah tangan terulur dari balik kain itu, tangan yang masih mengenakan cicin sederhana sebagai pengikat janji suci diantara mereka


Mata Hirui tidak bisa membendung air matanya lagi. Sambil bersimpuh di lantai, ia coba membuka kain yang menutupi tubuh wanita yang sangat ia cintai itu.


"Semua ini adalah salahku! " Sebuah cahaya kembali menelannya. Perpindahan tubuhnya seakan datang diwaktu yang tepat.


......................


Zou kembali terlempar ke momen masa lalunya. Kali ini, ia terlampar 10 tahun setelah kematian sang istri. Zou baru menyadari ada sesuatu yang aneh mengenai tubuhnya. Seberapa lama waktu berjalan serta umurnya yang semakin bertambah ia tidak pernah merasakan penuaan sama sekali.


Bahkan di usianya yang menginjak 29 tahun, pertumbuhan tubuhnya seolah menetap di usia 19 tahun. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, yang pasti tubuhnya tidak pernah berubah sejak saat itu. Wajah tampan yang terkesan imut. Bahkan kerap kali ketika ia berjalan bersama kedua anaknya, orang-orang yang tidak mengenalinya akan menganggap anak-anak yang diajaknya adalah adiknya. Ia juga tidak pernah sakit dan memiliki antibody yang kebal dengan racun apapun


Namun keanehan tubuhnya tidak pernah Hirui perhatikan dengan sungguh-sungguh. Baginya membesarkam kedua anaknya jauh lebih penting. Mereka akhirnya tumbuh sehat dan menjadi Putra-Putri kebanggan Tsuki.


Waktu bahagia tidak pernah berselang lama. Hoshi kembali melancarkan serangannya dan menargetkan infansi ke Negeri Tsuki. Semua komandan Militer berkumpul disuatu tempat, kali ini mereka membahas cara untuk mempertahankan wilayah dari serangan Hoshi


"Kita harus mempertahankan wilayah di dua sisi yang berbeda! " ucap salah satu Kapten Komando Tsuki


Hirui mengangguk paham, ia pun meletakkan batu penanda di peta wilayah didepannya.


" Aku akan memimpin pasukan untuk garda satu mempertahankan Wilayah selatan, sementara pasukan yang lain akan mempertahankan Wilayah Barat! " ucapnya.


Pengalaman perang yang lama, membuat Hirui tidak lagi menjadi seorang pengecut. Tidak selama ia masih memiliki tujuan yang pasti. Melindungi rakyat Tsuki dengan anak-anaknya didalamnya.


" Baik Tuan! Dan juga aku sebagai Kapten pleton kedua ingin merekomendasikan beberapa anak yang sudah cukup layak ikut berperang! " Kapten itu menyerahkan sebuah profil prajurit

__ADS_1


"Siapa mereka? " Mata Harui membulat, didalam kedua dokumen itu terdapat foto Hisui dan Harui.


" Kemampuan mereka bahkan mengalahkan orang dewasa. Meskipun mereka anak-anak anda yang berharga. Tapi, mereka tetap pondasi Tsuki dimasa depan. Aku harap, mereka bisa turut andil dalam peperangan kali ini, Tuan! "


Lagi-lagi apa yang ditakutkan Hirui terjadi. Sebagai seorang ayah, ia tidak akan pernah tega mengirim putra-putrinya kemedan perang dengan tangannya sendiri. Tapi tidak untuk seorang Pemimpin Tertinggi sebuah Negara. Mau tidak mau, ia harus menempatkan kepentingan negara di atas perasaan pribadinya


"Ijinkan kami bertarung dimedan perang, Ayah! " Pinta Hisui dan Harui kompak. Ratusan prajurit menyaksikan keputsuan pemimpin mereka.


Satu hal yang tidak bisa Hirui hindaru. Fakta di antara ratusan prajurit itu, mereka juga putra atau putri berharga dari seorang orang tua. Sementara sebagian lagi, meeeka mungki orang tua yang rela meninggalkan anak-anak mereka sendiri. Keluarga tercinta mereka mengantarkan sendiri anak atau orang tua mereka demi sebuah panggilan untuk membela tanah kelarihan meski berat. Untuk itu, Hirui tidak boleh egois. Rakyat mempertaruhkan segalanya untuk membela Tsuki. Jadi, meski berat ia juga harus mempercayai Hisui serta Harui mampu untuk melewati ini semua


"Baiklah! Kalian akan ayah kirim menuju medan pertempuran ke-2!" dengan tangannya sendiri, akhirnya Hirui mengirim putra-putri yang dititipkan Haruko ke medan peperangan. Ia tahu, mulai saat ini mereka akan melalui masa-masa yang sulit.


Bulan demi bulan berlalu. Berbagai pertempuran memisahkan jarak antara ayah dan anak-anaknya. Hingga sebuah kabar buruk kembali terdengar ditelinga Hirui


"Tuan Hirui! Kita telah berhasil mengepung mundur musuh di medan Perang sektor ke-2! Tapi-"


"Tapi apa-" firasat Hirui sudah sangat jelek. Apa mungkin sesuatu terjadi pada Harui atau Hisui? Tidak mungkin! Dalam situasi ini, ia harus berfikir positif


"Tuan dan Nona muda sempat disekap oleh pihak Hoshi. Mereka berhasil melarikan diri, tapi kondisi mereka sangat parah! Tuan Hisui menderita cidera berat di tangan Kirinya sementara Nona Harui dia-" prajurit itu tidak dapat melanjukan kata-katanya lagi


"Kenapa dengan putriku! Cepat katakan! " Hirui tidak bisa membendung emosinya. Dengan amarah ia mencengkram kerah baju prajurit itu


" Nona Harui mendapatkan luka yang parah di salah satu kakinya. Salah satu urat syaraf di kakinya terputus karena efek ledakan. Menurut Informasi yang saya terima, kemungkinan luka itu akan membuat ia sulit berjalan! " ucap Prajurit itu takut-takut.


Tubuh Hirui seketika lemas. Nafasnya memburu tanpa beraturan. Ia terlalu syok mendengar kabar kedua putranya. Mereka bahkan baru berusia 10 tahun, tapi harus menanggung kecacatan fisik itu? Hirui mencoba menenangkan dirinya.


" Jadi apa nyawa mereka terancam? " ucap Hirui dengan pandangan kosong


" Mereka bisa segera diselamatkan tim Medis Tuan! Nyawa mereka selamat! "


" Syukurlah. Jendral! " panggil Hirui tegas. Seorang pria tegap berbaju zirah lengkap segera menghampirinya


" Berapa musuh yang masih tersisa? "


" Akibat kekalahan disektor 2, musuh yang tersisah di sektor kita tidak lebih dari 1000 orang! " ucap sang Jendral.


"Baguslah. Sekarang tarik semua pasukan kita mudur! " alis Sang jendral bertaut heran. Kenapa Pemimpinnya menyuruh mereka mundur?


" Tapi Tuan! Kita hampir saja menang! " Hirui bangkit berdiri, dengan tatapan berapi-api ia mulai memasukan ratusan jarum beracun ke dalam sakunya


" Ikuti perintahku! Mengenai 1000 orang Hoshi itu. Biar aku sendiri yang akan mengakhirinya! " ucap Hirui sambil meninggalkan ruang itu.


Zou yang menyaksikan amarah dirinya di masa itu hanya bisa diam sambil melihat dirinya di masa lalu menghilang di balik malam.


Kenangan tentang ia melawam 1000 pasukan Hoshi sendirian. Amarah memenuhi dirinya waktu itu. Dengan jarum sihir beracun serta teknik rahasia 'boneka kutukan' ia akhirnya berhasil mengalahkan ribuan prajurit itu seorang diri. Tapi, tetap saja, luka fisik ia dapatkan. Di hari itu, ia hampir saja tewas terbunuh.


Hirui yang terluka parah bercampur dengan mayat-mayat prajurit Hoshi. Dengan terlatih, ia mencoba berdiri. Ia arahkan pandangannya menuju ke arah Negeri tercintanya. Bukannya kembali kesana, Hirui memilih berjalan ke arah sebaliknya


Pengecut. Hanya itu kata-kata yang menggambarkan dirinya kala itu. Ia memilih tidak kembali ke Negerinya dan seakan mati di tempat itu. Jujur Hirui tidak berani pulang karena takut melihat anak-anaknya. Setidaknya, Hoshi tidak akan pernah menyerang Negerinya lagi. Cita-citanya menjadikan Tsuki negeri Netral sudah terwujud. Untuk itu, demi kelangsungan hidup putra-putrinya ia lebih memilih mengalah.


Salah satu hukum di Negerinya tidak pernah menerima seorang pemimpin yang memiliki kekuarangan fisik. Jika ia kembali, posisi Hisui akan sangat rentan. Tapi, jika ia tidak kembali. Hidup Hisui dan Harui akan dijamin Negara, sebab selain mereka tidak ada keturunan lagi yang akan menjadi pemimpin mereka

__ADS_1


...----------------...


Note Author : intinya jika Hirui kembali, dewan akan medesaknya menikah lagi dan memiliki keturunan. Jika itu terjadi, Hidup Hirui dan Harui akan terancam. Untuk itu ia lebih memilih 'membunuh' dirinya dan menyembunyikan identitas sebagai Zou


__ADS_2