Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Keluarga Kecil


__ADS_3

Mirai berjanji akan mengajak Yuhee keluar menikmati suasana Desa Sora. Dengan Usaha keras, serta jaminan mendengarkan omelan Hanna sepanjang hari, akhirnya Mirai mendapatkan Izin mengajak Yuhee keluar.


"Kau sudah siap Yuhee? " Mirai menghampiri Yuhee, sambil tersenyum lembut ia menyambut kedatangan anak itu.


" Ya, Kak Mirai. "


Mirai mengenggam tangan Yuhee, mengajaknya keluar dari bangunan megah Rumah sakit Sora. Namun, belum mereka melangkah jauh, seseorang menyapa dari belakang.


"Yo! Mirai" sapaan suara yang tak asing, Aora rupanya sudah lama menunggu Mirai di depan gerbang Rumah sakit. Pandangan Aora tertuju kepada Yuhee, ia sesikit terkejut melihat anak itu sudah pulih dengan cepat


"Eh? Bukannya kau gadis kecil dari desa Fuu? " tanya Aora sambil menatap Yuhee


" Kak Mirai, siapa om om ini? " bisik Yuhee, tatapn curiga ia layangkan ke arah Aora. Pria berambut abu-abu itu tampak kebingungan. Ia pun menoleh ke segara arah, mencari seseorang yang dipanggil 'om' oleh gadis kecil didepannya. Tidak ada orang lain selain dirinya, itu berarti ia lah yang dipanggil om oleh Yuhee


" Om? " tanya Aora sambil menunjuk dirinya tidak percaya.


Baik Mirai dan Yuhee memiliki sifat yang sama persis. Dengan sifat dingin nan cuek mereka, orang-orang yang tidak kenal mereka pasti menganggap mereka berhati dingin. Kenyataannya mereka hanya tidak bisa bersosialisasi dengan benar akibat masa lalu mereka. Aora hanya bisa pasrah, menghadapi dua gadis di depannya itu.


"Namaku Aora gadis kecil...... Bukan om...om"


......................


Aora putuskan untuk mengikuti Mirai dan Yuhee keluar, mereka melewati sebuah taman kecil di pinggir Desa. Banyak anak-anak seusia Yuhee yang bermain. Yuhee hanya memandangi dari jauh sambil memperhatikan apa yang dilakukan anak-anak itu


"Kau tidak mau ikut bermain? " tanya Aora


Tidak ada balasan dari Yuhee, ia hanya memperlihatkan wajah dengan tatapan sedih.


Mirai mengerti apa yang Yuhee rasakan, ia lalu menepuk bahu Yuhee pelan. Merasa keadaan berubah menjadi suram, Aora mulai melakukan sesuatu.


" Oi! Kalian..... Bukankah siswa akademi Sora? " teriak Aora memanggil anak-anak itu. Anak-anak itu mengenal baik Aora, mereka pu segera berlari menghampiri pria itu


" Bukankah dia Kapten Aora? " ucap salah satu anak.


" Kapten sedang apa di sini? Apa kau mau menunjukkan kemampuan dan taktik hebatmu lagi? " ucap seorang gadis kecil antusias


" Tidak-tidak bukan itu, aku mau kalian bermain dengan Yuhee. Dia sangat pemalu, maukah kau mengajaknya bermain, kalau tidak salah namamu Suny? "ucap Aora kepada anak perempuan itu.


" Hemm.... Tentu Kapten..... Namamu Yuhee kan? Namaku suny..... Maukah kau ikut dengan kami? " Ucap Suny sambil mengulurkan tangan ke Yuhee.


Yuhee menatap Mirai, Mirai pun mengangguk dan dibalas dengan senyum lebar Yuhee.


Yuhee mulai berbaur dengan anak seusianya, ia mulai bermain, tertawa dan bersenang-senang layaknya anak seusianya. Mirai dan Aora hanya memperhatikan dari jauh, sambil duduk di kursi dipinggir Taman. Melihat keceriaan anak-anak bermain, tentu menjadi penghiburan sendiri bagi Aora dan Mirai


Mirai menunjukkan senyum di wajahnya ketika melihat Yuhee. Sementara pandanga Aora tidak mau lepas dari wajah tersenyum Mirai


"Kau tersenyum, Mirai..... " ucap Aora pelan, baginya melihat senyum Mirai jauh lebih sulit dari pada membuat gadis itu kesal. Tentu hal ini menjadi suatu yang langka bagi Aora

__ADS_1


" Benarkah? " ucap Mirai


" Kau tahu Aora, bagi Yuhee bermain dengan teman-teman seusianya mungkin menjadi hal yang paling berkesan untuknya" ucap Mirai. Aora hanya terkekeh, melihat sisi lembut Mirai.


"Kau tampak seperti ibu-ibu yang bahagia melihat anaknya tumbuh dengan senyuman" canda Aora


"Benarkah? Kalau begitu..... Baguslah, aku sangat senang mendengarnya"


Untuk pertama kalinya Mirai menerima candaan Aora, membuat Aora ikut merasakan kebahagian di wajah Mirai


Waktu terus berjalan, hari sudah mulai petang. Para orang tua mulai menjemput anak-anak mereka yang bermain di taman. Satu per satu anak meninggalkan taman, hanya tersisa Yuhee dan Suny saja


"Oh! Itu ibuku! Yuhee senang bermain denganmu, kapan-kapan ayo kita bermain lagi, oke! Aku pergi dulu! " Suny pamit dengan Yuhee, ia pin langsung melenggang pergi dan berlari menuju sang ibu.


Yuhee yang sedari tadi memasang muka ceria penuh senyuman, kini mulai sedih. Senyumannya hilang seiring perginya teman barunya itu. Tanpa ia sadari, Mirai memanggil namanya sambil melambaikan tangan ke arah Yuhee


"Yuhee! Ayo kita Pulang" Ucap Mirai dari Jauh


Yuhee pun berbalik menghadap Mirai, muka sedihnya kini kembali di hiasi senyumannya. Akhirnya, ada seseorang yang melambaikan tangan ke arahnya, Yuhee seakan merasakan bagaimana hidup dengan seseorang yang bersedia menjemputnya untuk pertama kalinya. Sesuatu yang sederhana, tapi begitu Yuhee harapkan


"Aku datang, kak Mirai! " ucap Yuhee sambil berlari kecil


" Hm, cepatlah"


Mirai mengerti, sebagai anak yang tumbuh tanpa orang tua. Membuatnya turut merasa iri dengan anak lain yang memiliki orang tua dan mendapat kasih sayang mereka. Hal yang dirasakan Mirai ataupun Yuhee selama ini.


Mirai pun merangkul Yuhee, dengan senyum bahagia mereka berjalan beriringan. Mirai, Aora dan Yuhee, terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


......................


Di sebuah restaurant Tonkatsu di tengah Pusat desa Sora. Mirai, Aora dan Yuhee tengah menunggu pesanan makanan mereka di antar. Aora yang sibuk menyiapkan peralatan makan serta menuang air di setiap gelas di meja. Semenyara Yuhee dan Mirai sibuk bercengkrama satu sama lain. Kini tatapan gadis kecil itu tertuju pada pria yang dianggapnya aneh.


"Paman sebenarnya pekerjaanmu apa? " tanya Yuhee.


" Berhentilah memanggilku paman, aku tidak setua itu! Aku kapten Militer Desa Sora"


"Benarkah? Dilihat dari penampilanmu, cukup meragukan! Dan kenapa kau memakai masker? Apakah wajahmu jelek? " ucap Yuhee to the poin demgan wajah polosnya


" Yuhee, Kau tidak perlu membuang usahamu menanyakan hal itu pada Aora, entah apa yang di sembunyikan, aku pikir juga muka Aora jelek" Ucap Mirai sambil terkekeh. Tatapan curiga ia layangkan ke arah Aora


Aora hanya bisa menghela nafas, sudah cukup ia menghadapi sikap Mirai, sekarang justru bertambah dengan sikap Yuhee yang 11 12.


"Sudah aku bilang menjadi Misterius adalah daya tarikku. Dan untuk kalian berdua, jika aku memperlihatkan wajahku, kau akan menerima konsekuensinya, terutama kau Mirai! " ucap Aora dengan tatapan Horor.


"Siapa juga yang penasaran" Ucap Mirai sambil berdehem


"Si paman berambut uban mulai marah," ledek Yuhee, mendengar itu Aora pun tidak terima dan mulailah berdebatan kecil antara Yuhee dan Aora

__ADS_1


"Apa Katamu?! Rambutku ini adalah hadiah dari surga sejak aku lahir, tau! "Aora mulai kesal


"Kalian!! Hentikan! " Mirai menggebrak meja, ia sudah dalam batas sabar untuk mendengar pertengkaran tidak penting dua orang di depannya


Hening. Bahkan semua perhatian pelanggan tertuju pada tiga orang yang sangat berisik itu. Yuhee mulai merunduk, ia tidak dapat lagi membendung air matanya


" K- Kenapa Yuhee? Aku tau kauterkejut akan keganasan Mirai. Tapi kau tidak perlu khawatir, dia orang baik kok" Ucap Aora Mulai panik melihat raut wajah Yuhee yang tiba-tiba berubah sedih


"Yuhee kau kenapa? " ucap Mirai. Yuhee menggelengkan kepala dan mulai mengutarakan perasaannya saat ini.


" Terima kasih kak Aora dan Kak Mirai, hari ini untuk pertama kalinya aku merasakan bermain bersama temanku.


Untuk pertama kalinya juga, seseorang yang dapat menghiburku dan mengkhawatirkan kondisiku. Serta pertama kalinya seseorang mau makan bersamaku, aku sangat bersyukur bertemu kalian berdua" ucap Yuhee sambil terisak, ia tidak bosa lagi menyembunyikan perasaan bahagianya


"Sudahlah Yuhee, kau tak perlu berterimakasih lagi. Sudah aku katakan, aku akan menjadi orang dewasa untukmu" ucap Mirai sambil menepuk bahu Yuhee lembut "Kau tidak akan pernah sendirian lagi"


Mirai lalu memegang tangan Yuhee, Mirai nampak melihat telapak tangan Yuhee. Ia terlihat terkejut, gadis didepannya ternyata seorang keturunan Militer pengendali sihir


"Oh! Kau juga orang militer Yuhee? Kau memiliki Segel Gyoku di tanganmu " ucap Mirai kaget. Yuhee mulai berhenti menangis, ia lalu melihat telapak tangannya sendiri


" Oh Ini! segel ini kadang muncul di tanganku, yang aku tahu, dulu ibuku adalah orang Militer dari Negeri Hoshi. Karena suatu peperangan, ia terluka dan ditemukan oleh ayahku yang orang biasa.


Mereka akhirnya menikah dan memilikiku. Namun warga desa tidak menerima ibuku, karna ia berasal dari negeri Musuh. Ibuku lalu dikembalikan ke Hoshi sedangkan ayahku menderita suatu penyakit dan meninggal sesudah ditinggal ibuku" Yuhee menceritakan kisahnya, sambil memegang telapak tangannya. Ia sadar hanya inilah warisan sang ibu yang ada padanya


"Oleh sebab itu aku hanya hidup dengan neneku, dan orang-orang desa sangat membenciku dan mengucilkan kami. Mungkin karena aku mewarisi darah musuh yang menghancurkan desa kami. " ucap Yuhee ririh


Aora yang mendengar cerita Yuhee, merasa sesikit iba pada anak itu "Maafkan kami, itu pasti mengingatkanmu pada orang tuamu"


"Tidak apa-apa. Aku merasa lega menceritakan kisahku pada orang-orang baik seperti kalian, seditaknya kini aku tidak merasa sendiri di dunia ini" Yuhee akhirnya tersenyum kembali. Mirai mengelus kepala Yuhee, Aora pun mengajukan sebuah pertanyaan.


"Apakah kau bisa menggunakan Gyokumu? "


" Tidak. Aku tidak pernah menggunakan sihir sebelumnya"


"Nampaknya segel gyokunya mulai aktif akibat kenkou milikmu dalam operasi terakhir kalinya" ucap Aora ke Mirai. Memang ada kasus sebuah segel gyoku tidak bisa aktif begitu saja pada seseorang. Mungkin karena kekuatan sihir mereka terhalang atau juga mereka berasal dari keturunan campuran. Sama seperti kasus Yuhee, dengan sihir Mirai sebagai pemicu ia bisa membangkitkan sihir di tubuhnya. Hal itu ditandai dengan munculnya simbol berbentuk berlian hitam di tangannya. Hal itu, tentu sebuah kabar yang baik untuk Mirai


"Kau benar, mungkin dia bisa menjadi muridku suatu hari nanti" ucap Mirai tersenyum


"Aku mungkin tidak bisa memberikan kasih sayang orang tua kepadanya, karena akupun tidak pernah merasakanya.


Tapi, aku bisa menjadi teman dan guru Yuhee, karena aku belajar apa arti teman darimu Aora" ucap Mirai sambil menatap Aora


Pesanan mereka akhirnya datang, dengan sigap Aora langsung menyiapkan hidangan untuk Yuhee dan Mirai. Bahkan pelayan di sana menyebut Aora sebagai papa muda yang manis untuk keluarga kecilnya.


Aora dan Mirai : apakah kami terlihat tua untuk memiliki anak berusia 10 tahun?


Aora, Mirai dan Yuhee nampak menikmati perjalann hari ini.

__ADS_1


Malam semakin larut, Aora berjalan beriringan dengan Mirai sedangkan Yuhee yang tertidur di gendongan Aora. Mereka terlihat bahagia satu sama lain. Sungguh terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang hangat.


__ADS_2