
Semilir angin menyapu surai panjang Mirai. Sementara manik lavendernya menatap lurus ke arah desa di bawah sana. Desa Sora sudah sepenuhnya kosong, perintah mengevakuasi masyarakat sipil sudah Mirai turunkan. Setelah kesepkatan antara dua negara tetangga, masyarakat sipil Sora diungsikan ke Negeri Hoshi dan perbatasan Tsuki, guna menghindari hal yang tidak diinginkan.
Di puncak tertinggi Desa Sora, Mirai dan Ten masih sibuk mendiskusikan beberapa hal. Sebagai komandan Militer, tentu Ten menyiapkan beberapa hal untuk pertempuran kali ini.
"Orang-orang desa Sora, sudah sepenuhnya meninggalkan Negeri ini. Beberapa devisi militer, juga sudah menyusun berbagai rencana untuk mempertahankan posisi kita. Sebnayak 20.000 pasukan sudah disebar di beberap titik. Bisa dibilang, Kita sudah sepenuhnya siap, Mirai. "
Ten melaporkan semua perkembangan. Mengenai perisiapan Sora, Ten rasa sudah sepenuhnya siap untuk mengahdapai segala kemungkinan yang terjadi.
" Aku rasa ini sudah lebih dari cukup. Ten kau bisa menjadi komandan utama di semua devisi militer itu. Aku percayakan semua padamu! " ucap Mirai
" T-tapi kenapa harus aku? Masih ada Yora dan dua pemimpin Negeri Tsuki dan Hoshi? "
" Yora tidak akan bisa fokus ke pertarungan langsung. Tugas sang pilar aadalah menjaga tiga batu yang kami miliki. Yora dan aku juga harus memastikan Kurasu tidak menyentuh pertahanan kita.
Sementara Hisui dan Hotaru, mereka tidak bisa mengenal medan pertempuran dengan baik karena mereka orang luar! "
Mirai memperhatikan penampilan Ten yang masih awut-awutan. Sudah beberapa hari terakhir sejak pemakaman ketua Zen berakhir. Tapi, pria itu masih melingkarkan syal putih pergelangan tangannya (tanda berduka). Ten masih belum sepenuhnya melupakan sosok 'ayah' nya itu. Meski ia bersikap profesional, Mirai bisa mengetahui bahwa Ten menyembunyikan luka hatinya.
"Hya! Kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat! "
" Jangan hiraukan aku. Sekarang dengar, akan aku bacakan beberapa hal mengenai persiapan kita. Ini.... "
Ten sibuk membaca tumpukan laporan ditangannya. Namun, hal yang dilakukan Mirai hanya bengong tanpa merespon apa yang dijelaskan Ten. Sadar gadis didepannya melamun dan memandang lekat ke wajahnya, Ten berusaha membangunkan Mirai
"Hey! Mirai, apa kau mendengarku? "
" Aku mendengarmu! Lanjutkan.. " ucap Mirai bohong sambil mengalihkan pandangan. Ten tampak kesal, ia nerasa rugi mengoceh tidak jelas sedangkan Mirai tidak mendengarkan perkataanya. Ia putuskan menutup dokumen, dan menanyakan sesuatu yang jauh lebih penting.
" Dan juga Mirai, sampai saat ini. Kita bahkan tidak tahu dimana letak dan keberadaan kuil Nue. Apa yang harus kita lakukan? "
Mirai hanya terdiam, sambil tetap menatap kosong pemandangan didepannya. Sora tampak begitu sunyi dari atas sana. Desa yang selalu ramai, kini hanya diisi segelintir pasukan militer sihir yang berpatroli.
" Kau ingat, Ketua Zen menitipkan sepucuk surat untukku sebelum kepergiannya. Bahkan disisa hayatnya, Ketua Zen masih mencoba melindungi desa yang sangat ia cintai. "
__ADS_1
Mirai memberikan surat yang ia terima ke Ten. Pria berambut coklat itu hanya mengerutkan alisnya-heran. Apa yang tertulis di surat itu hanyalah barisan kata yang membentuk sebuah kalimat yang memiliki sebuah makna.
" Ini seperti teka-teki. Apa sebenarnya maksud Kedua Zen menulis kata-kata rumit seperti ini? "
" Ketika Cahaya bertemu kegelapan, sebuah bayangan akan tercipta. Matahari adalah pemimpin, bulan adalah peneduh, sementara salju turun sebagai penyelamat. Ketika tiga esesi keseimbangan itu menyentuh bumi, saat itulah kegelapan dapat di tekan dan langit kembali mendapatkan cahayanya. "
Mirai membaca kalimat yang ditulis ketua Zen, sambil menunjuk pemandangan Desa Sora didepannya.
" Sang pemimpin (matahari) akan muncul di ufuk timur, semetara sang peneduh (bulan) akan tetap mengawasi di barat. Kau lihat, matahari dan bulan sejejar pada waktu ini. "
Mirai menujuk dua benda yang menghiasi langit Sora. Ten masih mengerutkan alisnya, apa maksud semua teka-teki ini?
" Kau masih belum paham? Aish! Ten kau kan komandan militer kita! "
" M- maafkan aku Mirai, jujur aku belum mengerti maksud ucapanmu! "
Mirai hanya menghela nafas pelan, ia kembali menunjuk langit biru di atas sana.
Lalu di dalam kata yang ditulis ketua Zen, menyebutkan 'ketika tiga esensi itu bertemu, mereka akan mampu menekan kegelapan itu' lalu dimanakah tiga esensi Itu akan bertemu dalam satu wadah?
Sederhananya, dimana Matahari, Salju serta Bula dapat bertemu? "
Ten terdiam sejenak, tanpa sengaja ia melihat bangunan-bangunan kecil didepannya.
" Sora (langit) " gumam Ten pelan. Mirai tersenyum tipis.
" Kau benar, kita tidak memerlukan peta apapun untuk menemukan keberadaan kuil. Kuil itu, berada tepat didesa ini. Sesuatu yang para pendahulu kita lindungi, sesuatu yang ketua Zen jaga sampai akhir hayatnya. Itu adalah Sora! "
Mirai menunjuk sebuah bukit kecil ditengah Desa Sora. Bukit yang dikelilingi rumah-rumah warga serta berada satu garis lurus dengan kantor pemerintahan Sora. Bukit yang sepintas hanya hutan dengan beberapa bangunan kuil kecil untuk menghormati Bumi. Siapapun tidak akan menduga, sesuatu yang penting tersembunyi di dalam sana.
"Jadi letak kuil suci itu tepat di sisi kita? Bagaimana mungkin kita tidak menyadarinya?! "
Mirai dan Ten kompak memandang bukit kecil di depan sana. Di lihat dari balkon kantor Sora, bukit itu tampak seperti mangkuk kecil yang menyimpan sesuatu yang besar didalamnya. Mirai tidak akan pernah menyadari hal itu sampai hari ini.
__ADS_1
"Tanpa kita sadari, kita dan seluruh penduduk desa sudah menjaga kuil Nue sejak dulu.
Pantas saja tidak ada peta atau cetak koordinat pasti yang menujukan keberadaan kuil itu selama ini. Karena pada dasarnya, Desa Soralah yang menjaga kuil Nue agar tidak tersentuh tangan-tangan jahat! "
Mirai mulai mengaktifkan gyoku saljunya. Butiran salju tipis mulai menyelinuti tubuhnya
" Kau tahu, Ten? Kenapa aku memberitahumu menganai hal ini? Fakta bahwa ketua Zen menitipkan sesuatu sepenting ini padamu, menunjukan bahwa ia sangat mempercayaimu.
Terlepas kau adalah putra Tanuki, itu bukanlah sebuah alasan kau tidak cocok berada di Sora. Kau, aku dan semua pasukan Sora ditugaskan untuk menjaga Negeri ini. Ketua Zen menpercayakan itu pada Kita.
Kau harus mengiklaskan kepergian Ketua. Sesuatu yang buruk sudah menanti kita didepan sana. Dan salah satunya, adalah fakta bahwa kau mungkin saja akan melawan ayah kandungmu sendiri. Tanyakan pada dirimu, apa kau siap nenghadapi semua itu? "
Mirai memang terkenal dingin, tapi ia tahu apa yang tengah terjadi pada orang-orang sekitarnya. Ia tahu meskipun Ten sudah bekerja keras, pria itu masih diliputi rasa bersalah akan kematian Zen. Fakta bahwa Tanuki membunuh Zen, membuat senyum cerah di wajah pria berambut coklat itu hilang. Ten selalu menyalahlan dirinya.
"I- itu... " Ten tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Mirai.
" Jawaban yang kau pilih, akan menentukan bahwa kau berbeda dengan Tanuki. Bukan karena dendam atau sebuah ambisi. Kau masih memiliki harapan untuk menjaga Sora.
Dan juga Ten, selain bersiap melawan Tanuki. Kau juga harus menyiapkan dirimu untuk bertarung dengan seseorang yang tak seharusnya kau hadapi. Termasuk teman terdekatmu! "
Jujur pernyataan itu bukan hanya untuk Ten seorang tapi untuk Mirai sendiri. Pertanyaan yang selalu Mirai tanyakan pada dirinya. Dalam situasi ini, bisakah ia melawan pria yang ia cintai?
" Teman Terdekatku? Apa maksudmu? "
" Kau akan tahu jika saatnya tiba. Aku harap kau juga menyiapkan dirimu! "
Belum sempat Ten bertanya siapa orang yang dimaksud Mirai. Gadis itu tiba-tiba menghilang, tubuhnya pecah menjadi kepingan-kepingan salju kecil dan hanyut di bawa angin.
...----------------...
Maafkan author untuk cahpter kali ini. Jujur gambaran besar cerita udah ada, tapi menulisnya itu yang jadi halangan. Bagaimana merangkai sebuah cerita itu sulitnya minta ampun... Yah alhasil agak gaje chapter kali ini...
Maaf jika chapter kali ini tidak bagus atau tidak sesuai....... 🙏🙏🙏
__ADS_1