Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pengorbanan : Jalan Kegelapan atau Jalan Cahaya (Flashback end)


__ADS_3

Bising sirine terdengar nyaring memecah malam. Ratusan prajurit militer sihir bergerak dibawah komando Zen, kompak menuju distrik tiga Clan yang terletak jauh di ujung Desa Sora. Devisi Intel dan Sensor mendeteksi kekuatan mengerikan muncul di distrik.


Zen tidak memiliki pilihan lain selain mengerahkan pasukan. Sebelumnya, Aoryu sudah berpesan bahwa apapun yang terjadi Unit Komando harus melindungi seluruh warga Sora dan membuat penghalang jika seandainya kejadian tidak mengenakkan muncul selama ritual pembaharuan segel Nue. Kecuali Distrik bangsawan, penjagaan serta pelindung sihir dipasang untuk melindungi warga Sipil.


Zen beserta ratusan pasukan unit komando Militer Sora memasuki kawasan Distrik Clan. Mereka semua tercengang, melihat tubuh-tubuh kaku berserakan di sepanjang jalan. Tangan Zen mengepal kuat, siapapun orang yang melakukan pembantaian keji ini tidak akan luput dari kejarannya!


"Kepung semua tempat! Pastikan kalian menangkap orang-orang yang mencurigakan! "


......................


Di bawah sinar bulan purnama, bulan yang sebelumnya menunjukan warna merah darahnya. Kini kembali cantik dengan sinar keemasan yang menyapu pemandangan malam.


Yora hanya diam berdiri di atas atab Mansion Matahari. Jubah hitamnya, ia biarkan terhempas angin lembut. Sementara mata sekelam malamnya, hanya menatap pilu lingkungan tempat ia tumbuh yang kini berubah menjadi tempat semua Clannya dibantai.


Sebuah pedang bergagang putih, dengan bercak darah segar sang Ayah masih menetes dibilahnya. Seakan menyambut sesuatu yang menghampirinya, Yora hanya diam sambil memperhatikan ribuan obor prajurit Komando Sora dari kejauhan


Ibu, apa jalan yang aku pilih saat ini, adalah jalan yang terbaik untuk semua orang? Pengorbanan yang aku percayai. Akankah itu bisa mengubah kenyataan pahit ini?


Yora masih bisa merasakan setiap kehangatan sang ibu selalu berada disisinya. Disaat ia mengalami hal yang sulit dan hanya menyisakan jalan buntu didepannya. Yoshiro akan selalu mendukung Yora dengan kata-kata hangat. Seperti saat ini, Yora membayangkan mendiang ibunya berdiri disampingnya. Tersenyum lembut, sambil mengelus pucuk kepalanya pelan.


"Yora, putraku kau tahu? Kita hanya hidup sekali. Jalani kehidupan yang kau pilih. Penuhi kehidupanmu dengan apapun yang kau inginkan. Namun, apapun jalan yang kau pilih nantinya, pastikan kau tidak pernah lupa untuk melindungi orang-orang yang berharga dalam hidup kita. Karena orang yang kita hargai memiliki ikatan spesial untuk kita. Ikatan itu disebut Keluarga"


Pesan Yoshiro memenuhi relung hati Yora. Sebelumnya ia tidak paham maksud pesan sang ibu untuknya. Tapi dengan semua kesulitan yang menimpanya, Yora akhirnya paham. Jalan apa yang harus ia lewati. Sekaligus siapa yang harus ia lindungi.


"Aku yakin dengan pilihan yang aku buat. Ibu.... "


Sebuah panah berkekuatan sihir api menembus langit malam dari kejauhan. Menghujam tubuh ringkih Yora dan tepat mengenai bahu kanannya. Yora sedikit berkenyit, rasa sakit yang luar biasa ia rasakan. Dengan Gyoku yang aktif di telapak tangannya, ia mematahkan batang anak panah yang menusuk bahunya.


"Kepung semua tempat! Pastikan kita menangkap pelaku pembantaian Tiga Clan Penjaga! " para penjaga menganggap Yora sebagai target mencurigakan


Ribuan prajurit mengepungnya. Gelapnya malam membuat orang menyipitkan mata untuk mengenali siapa pria berjubah hitam mencurigakan didepan mereka. Beberapa dari mereka tampak mengenali Yora


" Bukankah dia putra Ketua Aoryu?! " ucap salah satu prajurit tidak percaya. Mereka menyaksikan sendiri, di tangan Yora terdapat pedang Shiroi dengan darah segar yang masih menetes.


" Pemimpin Aoryu! Dan semua Clan dibantai dengan cara yang sama! Mereka tewas akibat luka tebasan ditubuhnya! "


Salah seorang prajurit datang, ia mengatakan bahwa pemimpin Desa mereka telah dibunuh dengan cara ditusuk pedang. Semua kecurigaan tertuju pada Yora


Zen yang mengetahui hal itu, langsung bertanya kepada Yora. Bisa saja mereka salah paham. Bagaimana mungkin seorang putra sekligus seseorang yang merupakan bagian dari Clan tega membantai semua orang.


" Katakan semua itu tidak benar! Kau disini untuk mengejar pelaku pembantaian yang seberanya kan, Yora? Kau tahu siapa yang membunuh ayah dan semua Anggota Clan itu kan? "


Yora tidak bergeming dari tempatnya. Dengan darah yang mulai membanjiri lengannya. Ia hanya tertawa lepas sambil menatap semua prajurit dibawahnya dengan pandangan tajam


" Haha! .... Haha! Kalian sudah melihatku seperti ini?! Tapi masih menayakan pertanyaan bodoh itu padaku?! Apa aku harus mengakuinya sendiri?


Bahwa akulah yang membunuh semua Clan bahkan menebas tubuh ayahku dengan pedang ini! " Yora tertawa dingin, dengan manik hitam kelam nan tajam menatap semua prajurit yang masih tercengang. Yora pun melemparkan pedang sang ayah ke hadapan Zen


Prangggg.....


Zen menatap bilah pedang penuh darah didepannya. Tubuhnya bergetar hebat, sosok anak ceria dan cerdas seperti Yora bisa melakukan hal seperti itu? Tapi apa alasannya melakukan hal mengerikan seperti ini?


"Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini?! " ucap Zen sambil menatap Yora tidak percaya

__ADS_1


Seringai dingin terukir di wajah Yora. " Alasan?! Baiklah akan aku beri kalian alasan! " Yora mengaktikan Gyoku bulannya. Perlahan ia mengangkat tangannya, sebuah cahaya hitam keluar dari Gyokunya. Hanya dengan jentikan jari, rambatan kekuatan sihir memenuhi tempat itu. Sebuah bunyi mencekik genderang telinga tiba-tiba terdengar. Membuat semua orang ditempat itu merintih sambil menutup telinga mereka. Kecuali Zen, semua orang menggerang kesakitan hingga tersungkur ke tanah


" Apa kalian pernah mendengar hal yang begitu menyakitkan dari pada apa yang kalian rasakan saat ini? Sakit itulah yang aku rasakan selama ini!


Tidak pernah dianggap, dan selalu menjadi nomor dua. Hanya karena aku terlahir digaris Cabang. Semua menganggpku sebagai bayangan sang Matahari (Aora). Tidak ada tempat untukku diakui atau menganggap keberadaanku sama dengan saudaraku! Lalu apakah aku harus menerima semua penghinaan itu?! "


Yora sengaja mengungkit perlakuan orang-orang kepadanya semata-mata untuk meyakinkan Zen. Yora perlu membangun alasan yang kuat agar diakui sebagai dalang pembantaian. Seperti semua orang ketahui berbeda dengan Aora, ia merupakan penerus Clan Matahari yang diakui. Sementata Yora, harus hidup dibawah bayangan Aora.


Yora yang terkenal jenius dan cerdas membuat orang-orang disekilingnya, beranggapan bahwa ia hendak merebut kepemimpinan Sora suatu saat nanti dari Aora. Pemikiran itulah yang Yora manfaatkan saat ini


"Jadi kau membantai semua orang untuk membalas perbuatan mereka padamu. Bahkan untuk Ayahmu?! " ucap ketua Zen


" Clan Matahari yang begitu memandang rendah diriku, Ayahku juga bagian dari mereka. Jadi, apa salahnya membunuhnya (Aoryu) juga?"


Tangan Zen mengepal kuat. Dengan sihir angin miliknya ia menghempas gelombang bunyi yang diciptakam Yora dan membebaskan orang-orang dari jeratannya. Zen percaya, bocah didepannya bukan lagi seorang manusia. Melainkan sosok yang lebih mengerikan dibandingkan Nue


"Kau lebih seperti iblis melebihi Nue! Aku menyesal telah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga Sora yang harus aku lindungi!


Aoryu pasti menyesal telah menjadi ayah dari seorang iblis sepertimu! " ucap Zen sambil menahan amarah


Cahaya bulan malam itu, tidak hanya menerangi kebohongan Yora. Melainkan menyembunyikan kepedihan yang ia rasakan. Orang-orang yang menatapnya tajam dibawah sana, dan hanya percaya dengan satu baris pernyataan yang keluar dari mulutnya begitu saja. Tidak pernah ada yang tahu, apa yang dirasakan bocah 13 tahun itu. Meski seringai menghiasi wajahnya.


Air mata tak hentinya mengalir di pipinya. Sesuatu yang tidak bisa dilihat di dalam gepanya malam. Juga sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan hati yang dipenuhi amarah


Zen mulai mengaktifkan Gyoku ditangannya. Membuat sekumpulan badai sihir dengan kekuatannya. Badai angin memenuhi tempat itu, putaran angin yang cepat menciptakan jarum-jarum tipis yang dapat menembus benteng baja sekalipun. Dengan hentakan tangannya, Zen mengarahkan badai sihirnya ke arah Yora


Tubuh terluka Yora tidak bisa menandingi kekuatan Zen. Terlebih kekuatan Yora sudah terkuras habis ketika melintasi puluhan kilometer jarak menuju desa Sora serta melawan Aora yang dirasuki Nue.


Sambil tertatih, Yora mulai bangkit berdiri. Darah menetes hampir disekujur tubuhnya, meski sulit ia kembali tersenyum kehadapan Zen


"Ayahku, mengorbankan nyawanya untuk Aora. Hal itu membuatku muak! Jadi Ketua Zen! Kau harus menjaga Aora apapun yang terjadi! Pastikan dia memiliki kekuatan yang setara denganku! Dan datang menemuiku nanti!


Ingat ucapanku! Jaga Aora dengan baik, atau aku benar-benar mendatanginya untuk membunuhnya! Sama seperti yang aku lakukan terhadap ayahku! " ucap Yora. Ia pun mengaktikan gyoku dengan kekuatan yang terakhir yang Yora miliki. Tubuhnya berubah menjadi kerumunan gagak dan menghilang dari sana. Inilah kali terakhir Zen bertemu Yora


......................


Dua Jalan : Cahaya dan Kegelapan!


Mulai saat itu, Yora di tetapkan sebagai buronan Tingkat Tinggi Sora. Label penjahat yang membantai habis Clan serta Ayah kandungnya tersemat disetiap brosur yang memamerkan wajahnya. Bahkan untuk harga kepalanya, Sora menetapkan harga yang fantastis.


Aora yang dipenuhi ingatan mengenai perbuatan Yora di malam naas itu, akhirnya memutuskan untuk membalas perbuatan saudaranya dan hendak membunuhnya dengan tangannya sendiri


Tahun berganti dengan cepat. Mereka akhirnya tumbuh dewasa dan melewati jalan yang berbeda.


Di Jalan penuh cahaya. Aora tumbuh dengan berbagai pujian serta sanjungan orang-orang, mengenai kehebatan dan kecakapannya menjadi Kapten Anggota Cops Awan Putih Sora. Namun, cahaya mengelilinginya tidak bisa menyinari hatinya yang dipenuhi dendam dan kebencian


Aora tumbuh menjadi sosok dingin yang hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuannya. Menjadi kapten Cops Elite Sora, hampir membuatnya hadir disetiap misi berbahaya yang mengharuskannya berhasil dalam misi apapun yang terjadi. Aora tidak pernah memperhatikan teman-teman diseklilingnya. Baginya Tujuan dan misi yang diberikan adalah mutlak. Menutup dirinya dari orang-orang membantunya menyembunyikan kesedihan dan rasa sepi.


Tidak ada seseorang yang bisa ia percayai. Bahkan dibeberapa Misi yang mengharuskan ia memilih antara rekan atau tugas. Aora lebih mementingkan tugas dan bahkan tega membunuh rekannya sendiri. Membunuh tanpa ampun bagai monster berdarah dingin


Pernah didalam suatu misi rahasia memata-matai sebuah Negara kecil. Aora beserta timnya sudah mandapat dokumen rahasia. Namun salah satu anak buahnya terluka akibat melindungi gulungan itu


"Kapten! Ruda terluka! Kita harus istirahat disini! Jika terus seperti ini, kondisinya akna semakin parah! "pinta salah satu anak buah Aora. Namun sang kapten terus saja bergerak. Memecah gelapnya hutan tanpa menghiraukan permintaan anak buahnya.

__ADS_1


" Kapten! "


Mata semerah darah Aora berkilat marah. Ditengah pelarian mereka, ia berbalik arah dan menghadang anak buahnya yang sedang memapah Ruda yang terluka


Trassssss....


Dengan elemen petir merahnya, Aora membunuh Ruda tepat dihadapan anggota Tim yang lain. Semua orang membeku, tanpa berkutik


"Sebaiknya, kita bergegas! " ucap Aora dingin tanpa merasa bersalah sedikitpun


Sikap Aora yang tertutup dan dingin membuat semua orang takut dengan Aora. Hal itu juga dirasakan oleh Zen. Akhirnya Ketua Zen dengan kehangatan hatinya mulai membujuk Aora agar mau menjadi muridnya. Meski berapa kali di tolak, Ketua Zen akhirnya diterima Aora sebagai guru. Perlahan Aora mulai berubah. Sedikit demi sedikit ia mulai membuka diri dengan bantuan teman-teman yang setia disisinya. Ten, Hanna dan Rou


......................


Sementara di jalan Kegelapan. Yora, meskipun dikelilingi bayangan hitam disepanjang jalan yang ia lalui, masih ada secerca cahaya yang tertinggal di hatinya. Selepas kabur dari kejaran Militer Sora. Yora hidup di dunia gelap (Kejahatan). Ia mengikuti kontes pertarungan Judi yang disebut Ring Kematian


Meskipun memiliki kemampuan hebat dalam dirinya, tidak sekali pun Yora mau menggunakannya. Beberapa kali bahkan sering, Yora hampir mati ditengah pertarungan. Namun, ia selalu meyakinkan dirinya bahwa ia mampu melewati semua. Karena ia percaya bahwa jalan yang ia lewati saat ini adalah jalan untuk melindungi keluarga yang dicintainya


Lambat laun, kemampuan Yora di akui semua orang. Ia dikenal sebagai Iblis Tengu, yang akan menumbangkan segala hal didepannya.


Hingga, suatu ketika ia harus bertarung dengan petarung Ring kematian yang lain. Namanya Zuryu. Ia adalah monster yang mustahil untuk orang-orang kalahkan. Tapi tidak untuk Yora. Ia mampu mengalhkan Zuryu bahkan dengan sekali serangan telak


"Cepat Bunuh aku! Jika kau membunuhku, semua uang yang dipertaruhkan untukku akan menjadi milikmu! " ucap Zuryu menyerahkan dirinya. Wajahnya sudah terluka parah dengan tubuh terlentang pasrah dihadapan Yora. Ia tampak kecewa, harapanya menang untuk terakhir kalinya dihancurkan Yora


Yora yang menggunakan topeng untuk menyembunyikan wajahnya mulai mengulurkan tangannya


"Semua belum berakhir. Kau tidak boleh menyerah akan apapun semudah itu. Bahkan ketika pedang tergantung dilehermu" ucap Yora datar. Zuryu mencoba menatap lurus kearah Yora. Ia bertanya dalam hatinya, kenapa? Kenapa pria ini tidak membunuhnya saja daripada mengatakan omong kosong seperti ini


"Kenapa? Kau mengasihaniku? " ucap Zuryu memandang remeh Yora " Apa karena kau tahu bagaimana kehidupan kerasku untuk menghidupi keluargaku! Aku berjanji ini yang terakhir kalinya, tapi-" Pria berambut hitam kelam itu akhirnya membuka topeng Tengunya. Menapakkan paras tampan dengan sorot mata yang dingin.


" Tidak. Aku hanya ingin mempercayakan sebuah pilihan untukmu. Pilihan untuk membuat orang sepertimu atau sepertiku tidak lagi berada di dunia ini. Dunia tanpa kegelapan dan tanpa perang, itulah tujuanku"


Zuryu menatap menembus manik kelam didepannya. Cahaya. Meskipun pria didepannya hampir dipenuhi kegelapan dalam dirinya. Ia melihat sedikit cahaya dari sorot matanya. Zuryu pun mengulurkan tangannya. Menggapai tangan Yora dan menjabatnya erat


"Siapa namamu? Setidaknya kau harus memperkenalkan dirimu! "


" Xio. Kau bisa memanggilku dengan sebutan itu! "


Tengu akhirnya terbentuk. Yora yang menamai diri Xio mulai mengumpulakn orang-orang yang dianggapnya masih memiliki secerca cahaya meski terjebak didalan dunia kelam penuh kebencian. Ia akhirnya bertemu dengan dua orang anggota Tengu yang lain. Ia menyebut mereka dengan sebutan Nee dan Zou


Waktu berjalan, Tengu menjadi organisasi yang disegani di dunia bawah. Hingga Xio mengutarakan maksud dibentuknya Tengu, yaitu membenahi kembali segel Nue dan memastikan kekuatan mengerikan itu tidak pernah bangkit lagi kedunia ini. Jalan yang ia pilih untuk melindungi Aora dan seluruh umat manusia di dunia ini dari balik bayangan


Hingga langkah pertama tujuan Tengu, dimulai ketika Yora mencari Keturunan Pilar Yang Hilang. Mirai. Gadis yang membawa benang takdir Yora.


"Ikutlah denganku. Mulai sekarang, aku Akan pastikan akan melindungimu apapun yang terjadi. Tidak ada satupun yang akan menyakitimu karena darah spesialmu, Mirai! "


" Lalu siapa namamu? "


" Xio. Kau bisa memangilku Xio"


Gadis yang ia selamatkan sewaktu kecil, serta Gadis yang memiliki penderitaan yang melebihi dirinya. Selain Aora, untuk pertama kalinya Yora ingin melindungi seseorang. Mirai, gadis yang telah memecah dingding kegelapan hati Yora seklaigus gadis yang mengingatkannya akan sosok dirinya dimasa lalu


......Flash Back End......

__ADS_1


__ADS_2