
Di laboratorium forensik Desa Sora. Hanna dengan teliti memeriksa tubuh Hito, salah satu rekan Shira dalam insiden Desa Fuu.
Hanna, dengan cekatan melakukan autopsi demi mendapat data untuk kepentingan penyelidikan. Sementara, seseorang menghela nafas di belakang Hanna.
"Hah! Masih lama lagi Hanna? kau tahu ini sudah lebih pukul 8 malam, sudah 4 jam lamanya aku menemanimu di tempat yang bau ini! " Rou mulai bosan, sudah cukup ia berkutat dengan dokumen. Sekarang ia harus terjebak di ruang mayat? Hanna yang melihat sahabatnya mengeluh, hanya memandang Rou acuh lewat ekor matanya
"Kau harus menemaniku sampai selesai Rou, aku takut berada di ruangan ini sendiri. Aku juga tidak mau merepotkan teman-temanku. Ini hampir selesai, berhentilah mengeluh! "
"Jika kau takut merepotkan orang lain, apa bedanya denganku? " Hanna menoleh ke arah Rou, sambil tersenyum di balik masker medisnya
"Kau kan sahabatku. Ini aku serahkan laporan hasil Autopsi, kau bisa menggabungkannya dengan laporan yang kau dapat dari para korban selamat" ucap Hanna sambil menyerahkan hasil penelitiannya
"Hn.... Baiklah! "
Seseorang mengetuk pintu dan masuk ke ruangan itu. Hanna yang melihat seseorang yang familiar langsung menyapanya
"Eh..... Ada apa kau kemari Ten? "sapanya sedikit antusias. Apapun mengenai pria berambut coklat didepannya membuat lelah Hanna seakan sirna
" Kau tidak perlu mengetuk pintu untuk ruang jenazah Ten, siapa yang akan menyapamu? " ucap Rou
"Aku ingin mengambil laporan terkait penyelidikan desa Fuu" jawab Ten dengan senyum yang hangat
"Bukannya kasus ini ada di bawah komando Aora? " tanya Hanna. Yang ia tahu kasusu yang saat ini ia bantu ditangani oleh Aora
" Kasus ini sudah dibawah Ten sekarang, kemana saja kau selama ini Hanna? " ucap Rou sambil menyerahkan dokumen ke Ten. Hanna hanya mendengus mendengar jawaban Rou
"Ini sudah malam, bagaimana kalau kita makan malam bersama, Ten? "ucap Hanna
" Em..... Maaf ya Hanna. Aku harus lembur malam ini, mungkin lain kali? "
"Baiklah" ucap Hanna dengan ekaspresi sedihnya. Melihat Hanna bersedih, Rou mulai menawarkan diri untuk menemani Hanna
"Bagaimana kalau kita berdua saja Hanna? "
" Aku tidak mau membuang uangku untuk mu Rou" ucap Hanna dengan muka datar
......................
Hanna dan Rou berjalan menuju rumah Hanna. Dengan tampang malas, Rou menemani Hanna pulang kerumahnya. Jalanan tampak sepi dan malam semakin larut.
"Kau tidak puas menyuruhku menemanimu di ruang mayat itu. Sekarang kau memintaku mengantarkanmu ke rumahmu, karena kau takut sendirian kan? "
"Diamlah Rou, sudah sewajarnya pria mengantarkan wanita ke rumah dengan aman, ini sudah larut malam"
Meski tidak diminta pun, sebenarnya Rou akan mengantar Hanna. Tapi karena ingin menyembunyikan perasaannya dari Hanna, ia pura-pura mengeluh
"Setidaknya, kau harus traktir aku kan? "
__ADS_1
"Cerewet..... Diamlah! "
Mereka akhirnya sampai di rumah keluarga Hanna, Hanna membuka pintu rumahnya,dan menyuruh Rou mengikutinya. Rou sudah biasa bertamu kerumah Hanna. Bisa dibilang ia sudah dekat dengan keluarga gadis ceria itu.
Dengan asal Hanna melepas sepatunya, membuat ibu Hanna marah-marah ke putrinya itu. Ibu Hanna pun menyambut kedatangan Rou. Dengan kebiasaan Rou yang rapi, ia membenarkan letak sepatu Hanna.
"Rou masuklah, makan malamlah dengan kami! " ucap ibu Hanna
"B- baik Bibi, apa kabar paman dan bibi? "ucap Rou sopan sambil membungkuk. Kedua orang tua Hanna menyambut Rou didepan pintu
" Kami sekeluarga baik, Rou. Sudah lama kau tidak berkunjung ke sini. Kau pasti sibuk" ucap Ayah Hanna
"Tentu dia sibuk ayah, dia kan kepala Devisi Intel Dan Sensor Sora" ucap Sang Ibu smabil tersenyum bangga melihat Rou
"Kau memang hebat dan mandiri sejak kecil Rou. Tidak seperti Putri paman yang manja itu" ucap Ayah Hanna sambil melirik Hanna yang sedang Minum Air langsung dari Teko air.
"Masuklah Rou" ucap Ibu Hanna. Rou masuk kedalam rumah, pandangannya tertuju pada Hanna yang seenaknya menenggak air didepannya. Hanna biasanya menjaga sikap didepan orang lain, tapi itu tidak berlaku untuk Rou
"Hey Hanna seharusnya kau minum pakai gelas, apa kau tidak malu ada Rou di sini? " Ayah Hanna mengingatkan Hanna untuk berlaku sopan
"Aku tidak peduli! " ucap Hanna smabil berlalu
Keluarga Hanna sangat ramah dan hangat dengan Rou. Hanna yang sibuk menyiapkan makanan dengan sang ibu, sedangkan Rou mengobrol dengan ayah Hanna di ruang keluarga
Hanna memiliki adik kembar laki-laki berumur 8 tahun, mereka membantu ibunya menyiapkan meja makan malam, dengan bercanda tentunya. Membuat Hanna marah dan meneriaki adik lucunya itu. Rou yang melihat kelakuan 3 bersaudara itu terkekeh.
"Bukankah Hanna lucu? "ucap Sang Ayah. Rou yang ketahuan menatap foto Hanna, langsung gugup
" I- Iya paman, dia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan hebat" Rou menatap fogur didepannya sambil tersenyum pelan
"Meski Hanna terlahir dari keluarga Militer biasa yang tidak memiliki kemampuan spesial. Kami ingin membuat Hanna tumbuh dengan cinta kami. Mungkin karena itu sifatnya kini sedikit manja" ucap Sang Ayah sambil terkekeh
"Tapi, dengan cinta Paman dan Bibi, Hanna tumbuh menjadi sosok pekerja keras dan pantang Menyerah" ucap Rou yang masih setia menatap Foto Hanna. Baginya sebuah keluarga sangatlah penting. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah dimiliki Rou sebelumnya. Ia tidak oernah merasakan hangatnya cinta ayah dan ibunya. Sejak kecil, Rou tinggal di panti asuhan. Ia bahkan tidak ingat dengan sosok orang tua yang membawanya kedunia ini
Melihat tatapan Rou, ayah Hanna tersenyum. Ia tahu, Roi sangat menghargai sebuah ikatan keluarga. Hal itulah yang membuat Rou begitu spesial dimata Ayah Hanna
"Putri kami memang tumbuh sebagai gadis ceria dan tentunya manja. Hal itu membuatku berharap, kelak ia menemukan laki-laki yang mandiri dan mengerti dia seperti kami, serta bisa menerima sikapnya yang masih kekanak-kanakan itu" ucap Sang Ayah sambil memandang Rou
"Tentu saja. Hanna harus menemukan pria yang tahan dengan sikap cerewet, ceroboh, dan manjanya. Tapi, di balik itu semua Hanna memiliki pesona kuat yang tidak dimiliki orang lain" jawab Rou
Rou tidak menakap maksud dari Ayah Hanna sebenarnya, memang dia adalah Ketua Devisi penting Di Sora, tapi untuk urusan gadis dan kode-kodean dia sangat naif.
"Makanan sudah siap Ayah, Rou!
Dan untukmu Rou..... Ini bayaranku untukmu! " ucap Hanna meninggalkan ruang keluarga menuju meja makan
Di Meja makan, Rou menikmati masakan rumah Ibu Hanna. Sedangkan Hanna masih sibuk bertengkar dengan kedua adik kembarnya yang terus mengoloknya, hingga membuat sang Ibu menggebrak meja karena kesal
__ADS_1
Brakkkkk......
"Kalian bertiga. Jika kalian masih bertengkar, akan aku buang makanan ini! " Seketika Hanna dan adiknya terdiam, pemandangan itu membuat Rou terkekeh
Rou yang selama ini tumbuh di panti asuhan, tidak pernah merasakan kehangatan keluarga yang kental seperti ini. Terlebih sekarang ia tinggal seorang diri. Hal itu membuatnya jauh merasa kesepian
......................
Selesai menikmati makanan, Rou meminta ijin untuk pamit pulang. Meski ayah Hanna meminta Rou menginap, dan menemaninya minum hingga subuh, tapi Rou menolak karena besok ia ada urusan. Ibu Hanna meberikan sekotak besar lauk pauk untuk Rou
"Ibu, Rou kan tinggal sendiri. Bagaimana kau menyiapkan lauk sebanyak ini, bisa-bisa dia malah jadi babi" kata Hanna
"Ibu hanya ingin Rou makan teratur, Sora sangat membutuhkannya" Rou hanya bisa tersenyum canggung atas perlakuan ibu Hanna, dan tentu memberi tatapan 'aku tidak akan menjadi babi' untu Hanna
" Baik Bibi, jika bibi tidak keberatan aku akan simpan lauk ini dan memberikannya pada adik-adikku di panti"
"Tentu saja, itu ide yang bagus..... Tunggu.... Ini masih sedikit, biar aku tambah lagi! "
"Tidak bibi, ini sudah cukup."
"Jadi besok kau mengunjungi Rumah kecilmu?" tanya Ayah Hanna
"Iya paman. Kebetulan besok aku libur, jadi aku ingin habiskan waktu dengan adik-adikku"
"Kebetulan.... Bukankah besok kau libur juga Hanna? Dari pada kau mageran di rumah tidak jelas, Kau ikutlah temani Rou! " saran sang Ayah. Hanna tampak berpikir sejenak
"Em.... Baiklah, aku akan ikut denganmu Rou, kebetulan tidak ada hal yang aku lakukan besok"
"Baiklah Hanna, aku akan menjemputmu beosk. Kalau begitu aku pamit Paman, Bibi. Terimakasih untuk Hari ini " ucap Rou sambil membungkuk
" Hati-hati di jalan ya! "
Hanna pun mengantar Rou hingga depan pintu gerbang rumahnya.
"Sampai jumpa Besok Rou"
"Hn... tentu" Hening. Suasana anatara Rou dan Hanna tampak canggung. Hanna ingin berbalik dan menutup pintu. Tapi tiba-tiba Rou memanggilnya
"Hanna...... "
" Hn? "
" Terimakasih Hanna, hari ini aku begitu senang. Ini adalah bayaran yang sangat berhargga untukku" ucap Rou sambil tersenyum
Hanna tertegun, selama ini dia tidak pernah melihat Rou berkata seperti itu. Matanya menunjukkan ketulusan sekaligus kebahagiaan, entah kenapa wajahnya terasa hangat.
"Tentu Rou. Kapanpun kau mau, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu"
__ADS_1