
Mirai berdiri disisi gadis yang telah ia selamatkan. Seulas senyum terukir diwajahnya. Tangannya mengelus pelan kepala gadis, yang kini kondisinya tengah membaik. Meski pernah meragukan kemampuan medisnya sendiri, nyatanya uasaha Mirai sudah terbayar. Pandangannya kini tertuju pada gelang pasien kecil itu.
Yuhee, nama itu tersemat digelang pasien milik anak itu. Nama yang cantik, hampir saja karena sikap egois Mirai, anak dengam nama secantik bunga itu kehilangan hidupnya. Samar siara gaduh sayup-sayup terdengar. Mirai yang tengah tenggelam dalam pikirannya itu terkejut dengan apa yang terjadi di ruang sebelah.
Plakkkk........
Suara tamparan keras terdengar nyaring, suara itu berasal dari unit utama Rumah Sakit Sora.
"Jika kau tidak percaya dengan kemampuanmu, sebaiknya kau jangan berani menyentuh tubuh seorang pasien, Hanna! " Seorang kapten tim membentak Hanna
"T-tapi, Aku hanya ingin mengurangi sakit pasien ini, kapten! " ucap Hanna sambil memegang pipinya. Ia beusaha membela dirinya sendiri, tapi apa boleh buat, wanita yang kini menatapnya tajam itu adalah atasannya sendiri
"Hah! Aku mulai berpikir, kenapa Shiyuu mempertahankan Murid bodoh sepertimu. Bagaimana kau sebut dirimu dokter?
Kau tidak tahu bahwa energi Kenkou justru dapat menyumbat pembuluh darah seseorang yang terkena racun senjata? " ucap perempuan yang di panggil kapten itu. Sorot matanya begitu memandang rendah Hanna. Semua perhatian tertuju pada keributan yang dibuat wanita itu. Hanna hanya bisa menunduk malu tanpa berani membalas kata-kata kasar wanita itu
Mirai mendatangi kerumunan orang-orang dengan tenang, sambil menyilangkan tangannya, ia mulai memecah ketegangan dan membela Hanna
" Bukankah kata 'bodoh' seharusnya ditujukan padamu, NONA? " ucap Mirai sarkas, ia sengaja menekan kata terakhir agar wanita yang menyakiti Hanna kesal
" Apa? NONA? Di mana letak sopan santunmu dasar anak kampung! Kau dipindahkan ke sini dari desa kecil Sii? Pasti kau sama saja dengan dia! Aku tidak tahu, kenapa rumah sakit Sora dipenuhi tenaga medis yang tidak becus dan udik! Cih! " dengus Wanita itu sambil berkacak pinggang
Mirai mulai menghampiri wanita itu, tepat di hadapannya ia tersenyum pelan. Mirai tidak mempedulikan gelar orang di depannya, meskipun tersenyum matanya memperlihatkan ekspresi dingin khasnya
"Sudah aku panggil Nona, masih belum hormat kau bilang? Ah! Apa aku harus memanggilmu dukun? " ucap Mirai
" B- beraninya kau bocah! Kau tidak tahu siapa aku?! " wanita itu milai geram akan tingkah Mirai. Matanya membulat seram, menatap Mirai dan Hanna seolah hendak memakan mereka
" Jika kau ingin di hormati, bertingkahlah layaknya seorang Kapten dari Tim Medis! Dan juga, jika kau tidak mau dipanggil dukun atau 'bodoh' seharusnya kau lebih memperhatikan pasienmu" ucap Mirai dengan wajah tidak kalah mengintimidasinya. Mirai pun mengambil kertas di tangan Hanna, lalu menunjukkannya ke depan wajah si kapten sombong itu.
"Lihat dulu rekam medis pasienmu!
__ADS_1
Sebelum kau sebut orang lain dengan kata bodoh. Kau seharusnya memeriksa catatan medis pasienmu dulu.
Pasien itu terkena racun bunga rubah, asal kau tahu racu itu dapat membuat pasien mengalami sakit yang luar biasa dan bahkan bisa membunuhnya!
Meskiipun begitu, tipe racun ini tak bisa menghambat penmbuluh darah, justru ia akan merusak organ vital pasien jika tidak segera ditangani!
Jadi, Kenkou sediri dapat meregenerasi tubuh akibat efek racun, sehingga pasien tidak merasakan sakit. Sekali lagi siapa di sini yang patut di Panggil 'Bodoh' heh?
Hanna? Yang dengan teliti mencatat dan mencoba prosedur yang tepat untuk racun bunga rubah?
Aku? Sebagai orang desa udik yang bahkan hanya seorang bawahanmu, tapi mengetahui aturan dasar pertolongan racun ini
Atau? KAU SEORANG DUKUN? Yang mengaku seorang kapten justru melakukan hal ceroboh yang hampir membunuh pasien" ucap Mirai sambil tersenyum. Si kapten hanya bisa diam, tubuhnya mulai bergetar akibat ucapan Mirai
Orang-orang berkerumun di antara mereka, mulai berbisik pelan. Mereka semua senang, ada orang berani yang mamou membuat kaoten killer itu menutup mulutnya rapat
"Itu bagaikan tamparan keras bagi Si kiler yang otoriter itu! " bisik salah satu orang.
......................
"Apa masih sakit Hanna? Mau aku membalas menampar wajah wanita itu? " ucap Mirai mencoba menghibur Hanna. Meskipun setengah ucapannya benar-benar ingin ia lakukan. Menapar wanita kasar itu bukan perkara sulit bagi Mirai
" T- tidak Mirai, bantuanmu tadi sudah cukup untukku. Aku hanya kecewa saja, bahkan rekan-rekanku yang lain tidak ada yang berani membelaku tadi di depan Si Kiler. " Mirai hanya mendengarkan Hanna
" Aku sudah lama saling kenal, bahkan kau saja yang baru beberapa hari di sini berani memasang badan membelaku" ucap Hanna
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kita ini teman? "
" Sebenarnya. Aku tidak seceria kelihatannya..... Aku terlahir di keluarga militer biasa, tidak ada hal hebat yang aku warisi. Aku tidak pandai bertarung, atau pun menggunakan sihir hebat.
Satu-satunya yang aku bisa hanyalah belajar kenkou, aku berusaha keras agar orang-orang mengakui kemampuanku. Untuk itu, aku menyembunyikan perasaanku dan terlihat begitu ceria di luar.
__ADS_1
Teman-temanku kadang menyemangatiku tapi aku tahu, bahwa mereka bahkan tidak peduli padaku, mereka hanya ingin terlihat baik di depan orang sepertiku, berusaha memberi simpati mereka. Bahkan, mereka tidak tahu sejauh mana aku sudah bekerja keras, buktinya tadi.
Ketika aku ditampar, tidak ada yang berani melawan. Mereka seakan percaya, bahwa kemampuanku dapat membunuh pasien, seperti kata si kapten killer" Hanna menagis, air matanya tidak bisa dibendung, ia menumpahkan kekecewaannya selama ini.
Untuk pertama kalinya, Mirai mencoba menenangkan teman pertamanya itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan hanya menepuk punggung Hanna pelan
"Aku iri denganmu Mirai, kau memiliki Kenkou hebat dan dapat menyelamatkan semua pasienmu dengan percaya diri! Sedangkan aku... "
Kau tidak tahu Hanna. Jika di balik kemampuan kenkou milikku, ada banyak darah yang harus aku tumpahkan. Aku justru iri denganmu. Kau gadis ceria dan hangat, tidak sepertiku....
Mirai menepuk halus Punggung Hanna. "Kau tahu Hanna? Jika bintang terlihat cantik jika dilihat dari kejauhan?
Namun, orang-orang tidak tahu, jika bintang cantik itu adalah gumpalan api yang dapat menghancurkan bumi jika mendekat. Itu artinya apa yang kau anggap hebat, belum tentu seperti kelihatannya.
Cukup kau percayai hasil kerja kerasmu sendiri, kau tidak perlu menjadi orang lain untuk menerima pengakuan. Sebaliknya, jika kau menjadi diri sendiri, barulah kau bisa di akui orang lain.
Dan juga, tanpa data yang kau kumpulkan, aku bahkan tidak bisa menyelamatkan Yuhee. Jadi karena kerja kerasmu lah aku dapat menyelamatkan gadis kecil itu. Kau harus bangga pada dirimu sendiri" ucap Mirai sambil tersenyum
"Seseorang pernah berkata, jika ada yang di sebut efek sayap kupu-kupu. Kepakan halus dapat membuat sebuah badai. Begitu pula kau, kerja kerasmu itu akan membuat banyak perubahan Hanna!" ucap Mirai lembut, entah apa yang membuatnya berkata seperti itu. Tapi jauh didalam hatinya, itulah yang ia rasakan
Hanna terharu akan ucapan Mirai, ia lantas memeluk Mirai erat
"Terima kasih Mirai, hanya kau yang bisa ku sebut teman sejatiku. Kau orang pertama yang yang mengakui hasi kerja kerasku" ucap Hanna sambil tersenyum
"Tapi. Kau hebat sekali berani melawan si killer itu" pungkas Hanna sambil melepas pelukannya
" Wanita itu? Menyeramkan? Ayolah! Ia jauh lebih imut dari orang-orang kenalanku" pungkas Mirai sambil terkekeh
Bagaimana mungkin wanita sebanding dengan wajah sangar Nee dan Zou? Mendengar perkataan Mirai, Hanna hanya bisa memiringkan kepalanya, bingung
"Baiklah cukup bersedihnya! Lebih baik kita makan siang.... Kebetulan Aora memberikanku bekal makan yang banyak" pungkas Mirai sambil mengeluarkan bekal makan. Ada berbagai macam lauk yang Aora siapkan untuknya, dan yang pasti jangan ditanya kelezatannya
__ADS_1
"Aora? Aora memasakanmu bekal? Aku tidak pernah mengerti pikiran orang itu. Pokoknya Mirai kau memang keren.......... "
Bagi Hanna sahabatnya hanyalah Ten, Aora, Rou, karena mereka tidak pernah pura-pura di hadapannya. Kini ia menemukan sahabat baru lagi, di matanya Mirai sama sekali tidak menyembunyikan sikapnya. Mirai kadang menunjukkan sifat dingin, kadang juga hangat. Itulah yang Hanna sukai dari Mirai. Tidak ada kepura-puraan