Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Siapa Karura?


__ADS_3

Semua orang dibuat terkejut oleh tindakan Tora. Dengan cakarnya sendiri, Tora memotong ekor yang menjadi lambang wibawa seekor harimau. Mirai tidak habis pikir, kenapa Tora melakukan hal seektrem itu.


"A-apa yang kau lakukan? " Tora terjatuh lemah ke tanah, dengan nafas tersengal ia menatap ke arah ekor panjangnya yang sudah tidak lagi menyatu dengan tubuhnya. Sorot penyesalan sangat jelas tergambar dari kedua matanya. Namun dalam sekejap, Tora kembali bangkit berdiri.


Mirai masih terpaku dengan apa yang dilihatnya. Aura mistis yang selalu menyelimuti tubuh Tora semakin meredup. Perlahan, tubuh Tora berubah. Menampakan sosok pria tinggi tegap berambut seputih salju. Pria berkimono putih, dengan syal bulu bercorak bulu harimau tebal itu menggapai ekornya. Cahaya putih memenuhi potongan ekor harimau itu, merubahnya menjadi sebuah pedang pendek yang diselimuti energi kehidupan yang kuat



"Sudah lama aku tidak berada di wujud ini. " gumam Tora pelan. Ia menghampiri Mirai yang masih diam membeku.


"Aku serahkan sebagian kekuatanku padamu untuk berjaga-jaga, Putri. Aku harap, tidak akan datang waktu dimana kau harus mengeluarkan pedang ini "


Mirai menerima pedang yang diberikan Tora padanya. Ia sedikit menyentuh bilah pedang ditangannya. Alis Mirai terangkat, ia lantas memandang Tora dengan penuh tanda tanya.


" Pedang ini.... Tumpul? "


" Pedang khusus itu tidak pernah bisa melukai atau membunuh musuh. Karena energi kehidupan pedang itu begitu besar. "


"Lalu, kenapa kau menyerahkan pedang ini padaku? "


" Pedang ini memang tidak bisa membunuh. Tapi, pedang ini ada untuk melindungi orang-orang berharga bagi pemiliknya. Jika tujuan pedang ini tercapai, maka secara ajaib pedang ini akan berubah tajam dan mampu melenyapkan apapun didunia ini. Termasuk kekuatan yang paling mengerikan sekalipun. "


Mirai menatap pedang ditanggannya takjub. Jika pedang pada umumnya diciptakan sebagai alat untuk membunuh apapun, bahkan jika itu pemiliknya sendiri. Manfaat dari sebilah pedang tergantung dari penggunanya. Jika penggunanya orang baik, sebilah pedang bisa melindungi seseorang begitupun sebaliknya.


Namun pedang ditangan Mirai berbeda. Tanpa mempedulikan siapa penggunanya, pedang itu sendiri yang akan menentukan ia bisa berubah tumpul atau berubah tajam.


"Wuah! Pedang yang luar biasa, Pertapa Agung!" ucap Mirai antusias. Namun, Tora hanya memandang Mirai dengan sorot mata penyesalan


"Apa menurutmu begitu? "


Kau tidak tahu kebenaran kisah pedang itu, Mirai. Jauh sebelum jiwamu terlahir, kau adalah seorang Dewi Kehidupan. Pedang itu, adalah milikmu dikehidupan lampaumu.....


Dengan pedang itu, kau menusuk dada pria yang paling kau cintai dengan tanganmu sendiri. Keinginanmu untuk melindungi dunia dari jeratan Kurasu, membuatmu mengorbankan cintamu dan memilih menyegelnya untuk mneyelamatkan umat manusia.


Aku harap, kejadian tragis itu tidak pernah terulang dikehidupanmu ini.......


Tora menatap Mirai dengan senyuman pilu. Ia pun mengangkat tangannya pelan. Dengan sirinya, ia mengubah pedang ditangan Mirai dan menyimpannya ke dalam simbol di dahi Mirai. Gadis berambut panjang itu tampak takjub dengan sihir Tora. Sambil memegang simbol didahinya, hanya senyum cerah yang tergambar di wajah cantiknya


"Wuah! Hebat sekali! Kau mengecilkan pedang itu? Dan menyimpannya di dahiku? Wuah! "


"Pedang ini akan muncul dengan sendirinya jika tiba waktunya.


Putri, mulai sekarang jalanmu akan sangat panjang dan penuh rintangan. Doaku akan selalu menyertaimu, aku harap kau mampu melewati semua tanpa harus kehilangan senyum cantik di wajahmu. "


Mirai mengangguk senang, sedikitpun ia masih tidak memahami makna yang tersemat dalam ucapan Tora


" Baiklah! Kau bisa mempercayaiku, Pertapa Agung! "


Pintu menuju Dunia manusia terbuka. Mirai dan yang lain mulai melangkah masuk ke dalam lubang pohon. Sebelum tubuhnya benar-benar menghilang, Mirai menoleh ke arah Tora serta barisan para penduduk Yokai yang mengantarkannya. Sambil melambaikan tangannya pelan, Mirai tersenyum ke arah barisan Yokai didepannya


"Selamat tinggal Putri! " ucap Tora dengan senyuman.


Semua Yokai menunduk hormat. Di antara mereka, terlihat Ame dan keluarga kecilnya juga ikut memberi penghormatan untuk Mirai. Pandangan Mirai tertuju pada anak Ame, seorang Yokai serigala kecil yang imut tengah melambaikan tangan ke arahnya


"Terima kasih telah menyelamatkan ayah saya, Putri! " Mirai mengangguk pelan


" Hn... Jaga dirimu, Yokai kecil. " ucap Mirai pelan.


......................

__ADS_1


Setelah keluar dari Dunia Yokai, Mirai dan yang lain memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian sungai. Zou yang sudah kelaparan dengan cekatan menangkap ikan dengan jarum sihirnya, sementara Nee membuat api unggun besar untuk mengangatkan tubuh mereka.


Malam kelam yang sunyi. Hanya beberapa hewan malam yang terdengar dari hutan yang mengelilingi tempat peristirahatan mereka.


Mirai hanya duduk ditepian api unggun, tatapannya tidak lepas dari dua pria didepannya. Ia begitu penasaran, apa yang sudah dilalui Zou dan Nee ketika mereka terjebak dalam sihir Tora


"Sebenarnya apa yang terjadi ketika kalian terjebak didalam dunia ciptaan Pertapa Agung? " ucap Mirai dengan tatapan penuh sidik.


Nee tidak menanggapi pertanyaan Mirai, ia menyibukkan diri memangang ikan. Mirai mendengus kesal, sifat Nee masih sama--cuek-- meski wujudnya berubah. Kali ini Mirai beranjak ke arah Zou, dan menatap pria itu dengan tatapan mengitimidasi. Setidaknya Zou lebih mudah diancam dengan cara seperti ini.


"Cepat! Ceritakan padaku! " desak Mirai. Zou hanya mendengus kesal " Ck! Tidak ada apa-apa! Kami hanya mengetahui sebuah kebenaran kecil mengenai masa lalu kami! "


Alis Mirai terangkat " Kami? Apa sebelumnya kalian pernah saling mengenal? Kenapa dari kata-kata yang kau ucapkan, seolah-olah kalian memiliki masalah yang saling berkaitan?! Hey! Ayolah, ceritakan padaku! "


Mirai memgguncang lengan Zou, sementara pria imut itu hanya bisa memutar bola matanya-kesal


" Mirai, kau berisik! "


Srekkk......


Suara benda terjatuh terdengar dari arah Hutan. Semua orang mulai bersiaga, mungkin saja itu adalah musuh yang tengah mengintai mereka. Zou mengaktifkan Gyoku ditangannya, ia hendak membidik jarum sihirnya ke arah asal suara. Namun, tangan Mirai segera menghentikannya


"Tunggu dulu, Zou! " Mirai bangkit berdiri, ia mulai berjalan ke arah asal suara. Mata Mirai menyipit, menatap kurus ke arah kegelapan semak didepannya. Hingga...


" Kau! Sedang apa kau disini? " ucap Mirai. Zou dan Nee hanya bisa bertukar pandang. Sebenarnya siapa yang ditemui Mirai?


" Siapa itu, Mirai? "


Mirai segera berlari ke arah semak belukar didepannya. Sedetik kemudian, ia membawa sosok yang sangat familiar bersamanya. Mata Zou sontak membulat sempurna, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya


" Hey! Kitsune! Kenapa kau membututi kami hingga ke dunia manusia hah! Apa kau masih ingin membunuh kami?! " ucap Zou geram


Yah! Meski Kitsune sempat berencana membunuhnya dan teman temannya. Tapi Mirai yakin, dibalik itu semua sang jendral hanya ingin penduduk negeri Yokai aman dari jeratan manusia.


Jendral Kitsune hanya bisa menundukkan kepalanya. Dengan ragu, ia mengikuti kemana Mirai membawanya. Zou adalah satu-satunya orang yang menatap penuh curiga ke arah jendral bertopeng didepannya. Sambil membuang muka kesal, tampaknya Zou masih menyimpan dendam kesumat untuk Kitsune itu


"Jadi, katakanlah. Kenapa jendral mengikuti kami sampai kemari? " ucap Mirai. Namun belum sempat Karura menjawab, Zou lebih dulu julid ke arahnya


" Apa lagi! Dia pasti menunggu kesempatan untuk membunuh kita! " ucap Zou sakras


" B-bukan begitu. Hanya saja, Pertapa agung mengirimku untuk turut melindungi Nona Mirai. Itu adalah misi yang diperintahkan untukku. " ucap Karura ragu


" Dan juga, aku memiliki alasan lain mengikuti kalian. " ucap Karura pelan.


" Tuh kan! Aku sudah menebak rubah licik ini memiliki alasan lain mengikuti kita! " Zou menunjuk ke arah kakura kesal


" Aku bukan rubah licik! Aku juga memiliki nama seperti kalian! Karura! Panggil aku Karura, kepala Tomat! " Karura pun tampak kesal dengan ucapan Zou


" A-apa? Kepala Tomat?! "


Nee dan Mirai hanya bisa pasrah melihat pertengkaran 'tidak penting' didepannya. Terlebih Nee, sudah cukup dengan Yuri atau Mirai. Sekarang Tengu memiliki squad wanita menyeramkan yang baru? Lagi?


" Ya.. Ya.. Ya... Jika pertapa Agung mengirimmu. Apa boleh buat, kau boleh ikut dengan kami. " Mirai menyetujui Karura bergabung dengan mereka. Lagian lebih banyak orang lebih seru!


" Apa! Mirai kenapa kau membuat keputusan sendiri? Kau seharusnya meminta persetujuan kami lebih dulu! Aku tidak setuju rubah ini ikut dengan kita! " Zou masih kekeh dengan pendapatnya


Namun, tanpa disadari. Tubuh Karura ambruk begitu saja. Mirai segera memeriksa kondisinya, bahu Karura terus mengeluarkan darah. Efek gigitan Ame tampaknya membuat tubuhnya melemah


" Karura! Sadarlah! "

__ADS_1


Mirai mencoba mengguncang tubuh Karura. Ia pun segera melepas topeng yang menyembunyikan wajah sang jendral, untuk mengetahui kondisinya. Mereka semua terkejut, ternyata dibalik topeng rubah tersembunyi wajah cantik seorang gadis. Tidak ada kesan siluman rubah, melainkan manusia normal sama seperti mereka.


" Aku pikir, wujudnya akan sama dengan Yokai yang lain. Ternyata, Karura begitu mirip dengan kita! " Mirai terpaku sejenak melihat wajah Karura.


" Hn, aku setuju. Dia wanita yang cantik. " ucap Nee seakan tersihir dengan paras di depannya. Membuat Mirai menautkan alisnya heran. Tumben?


" D-dia? Kenapa wajahnya begitu mirip Haruko? " ucap Zou pelan.


Tubuhnya seakan membeku melihat wujud Karura yang begitu mirip dengan mendiang istrinya. Wajah, rambut dan penampilannya begitu persis dengan Haruko. Zou kembali teringat kejadian ketika ia tidak sengaja menindih Karura. Mata berwarna aquamarine istrinya juga dimiliki Karura.


"Tidak Mungkin! " gumam Zou pelan.


Mirai segera mengalirkan Kenkou ke tubuh Karura. Ia melihat luka dibahu Karura tampak serius. Mirai hendak membuka Kimono Karura tapi ia ingat masih ada dua laki-laki didepannya


" Kalian berdua! Cepat palingkan tubuh kalian! " perintah Mirai " Tunggu apa lagi! Cepat! "


Nee segera meraih tubuh Zou yang masih membeku, menariknya agar segera berbalik. Mirai segera menyibak sedikit Kimono Karura, sebuah berkas hitam terlihat memenuhi sekujur bahunya


" Tampaknya racun yang berasal dari air liur Yokai Serigala sudah menyebar ditubuhnya! "


" Lalu bagaiman sekarang? Apa kau bisa menyelamatkannya Mirai? " ucap Nee.


Tentu ia tidak bisa melihat kondisi Karura. Tapi mendengar ucapan Mirai saja, mereka sudah tahu bahwa Karura dalam bahaya.


" Bikankah seorang Kitsune biasanya memiliki kristal Rubah yang menbuat mereka terhindar dari luka fisik apapun? Kristal yang sangat sakti yang bahkan mampu membuat mereka berumur panjang dan awet muda! " ucap Zou


" Sepertinya ia tidak lagi memiliki kristal rubah itu. Dilihat dari kondisinya, fisiknya tak lebih seperti fisik manusia pada umumnya! Meskipun dia seorang Yokai, dia bisa terbunuh dalam kondisi seperti ini! "


" Arkh! " Karura mulai mendapat kesadarannya. Wajahnya memucat akibat rasa sakit.


" Karura! Kau mendengarkanku?! " teriak Mirai. Ia segara mengalirkan Kenkou, tapi sayang bahkan dengan kemampuannya pun racun ditubuh Karura masih menyebar dengan cepat


" Racun ini benar-benar ganas. Kenkou milikku bahkan tidak bisa menetralisir racunnya. Kita harus segera mencari obat penawarnya! "


Tangan Zou mengepal kuat. Ia pun segera membalikkan tubuhnya untuk melihat kondisi Karura secara langsung


" Hya! Apa kau lakukan! Kau memang membencinya, tapi kau tidak boleh melihat tubuh seorang wanita begitu saja! " Mirai segera menyingkap kimono Karura yang sedikit mengekspos dadanya.


" Itu tidak penting sekarang! Kita harus menyelamatkannya lebih dulu! " ucap Zou dengan pandangan serius.


Ia pun mengeluarkan beberapa jarum dari kantong peralatannya. Menekan beberapa titik untuk menghentikan laju penyebaran racun. Mirai mengerti. Di banding dengannya, Zou lebih ahli dalam urusan racun ataupun membuat penawarnya


"Racun Yokai sangat jarang ditemui didunia manusia. Bagaimana cara kita membuat penawarnya? " tanya Mirai


" Semua racun didunia tercipta beserta penawarnya!"


Zou masih terfokus dengan perawatan akupunturnya. Ia tampak berpikir sejenak.


" Mirai! Ada beberapa jenis tanaman yang mampu menekan racun ini. Tanaman bunga laba-laba, kayu Hugi dan Tanah Hitam. Kau dan Nee harus segera mendapatkannya!"


"Baik! Tapi, itu hanya obat menawar racun biasa. Apa obat itu mempan pada racun sehebat itu? "


Zou terdiam sejenak. Kali ini ia menatap rekan-rekannya dengan tatapan serius.


" Percayalah padaku. Wanita ini, harus hidup apapun yang terjadi! "


...----------------...


Apa kalian pernah dengar kata Doppelganger (seseorang dengan wajah sama persis yang berada di dimensi lain) ? Haruko dan Karura, kenapa mereka bisa berwajah sama?

__ADS_1


Yosha! Like dan dukung Author ya~~


__ADS_2