
Malam di Desa Sora kian larut, jam dingding sudah menunjukkan pukul 3 pagi, semangkuk kuah ramen sudah mulai mendingin, hanya menyisakan beberapa mie yang mengembang, serta panci kosong di atas meja
Mirai, hanya menatap pria yang tengah tidur pulas di pangkuannya, dengkuran halus dari terdengar dari balik masker, yang menutupi setengah wajah pria berambut abu-abu itu
" Hari ini, Kau sudah bekerja keras, Aora" gumam Mirai, sambil tersenyum
Mirai melihat kening Aora sedikit mengkerut, dan mengigau pelan
"Apa kau bermimpi buruk? " ucap gadis itu pelan, ia pun mengelus rambut Aora mencoba menenangkan pria yang ia suka, berharap segera membebasknya dari mimpi buruk dengan sentuhan lembutnya
Sebenarnya..... Apa yang terjadi di antara orang tua kita, Aora?
Apakah mereka berteman?
Mirai tenggelam dalam lamunannya, dengan lembut ia menepuk dada Aora, memperlakukannya bagai bayi yang memerlukan ketenangan lewat tepukan lembut seorang ibu
Apa kau juga memiliki masa lalu yang sulit?
Seberapa sulitkah itu?
Apakah hal itu terlalu sulit, hingga membuat orang sebaik kau dan Leader (Yora) tenggelam jauh dalam kegelapan?
Mirai memperhatikan lekat wajah pria di pangkuannya, di lihat dari dekat Mirai baru menyadari, laki-laki bermasker itu memang mirip dengan sang Leader, terutama tatapan tajam dari sorot matanya, namun terkesan lembut ketika mereka menatap Mirai
Selain memiliki warna rambut yang berbeda, mereka juga memiliki warna mata yang berbeda, hal itu menunjukkan dari mana identitas kekuatan yang di warisi mereka berasal.
Rambut hitam, dengan mata hitam kelam adalah cirikhas Clan Bulan, yang menyandang nama 'Yo'. Garis darah yang dimiliki oleh Yoshiro dan Yora
Sedangkan mata merah darah, adalah identitas resmi dari Clan Matahari, yang menyandang nama 'Ao', di samping itu, Aora juga mewarisi penampilan sang Ayah, Aoryu
Meski begitu, baik Aora dan Yora, memiliki penampilan yang sama persis, sebab mereka adalah saudara kembar
"Aku yakin sekarang, Kalian memang benar-benar saudara,
Kalian juga.....
Sama-sama telah menyelamatkan hidupku.... " gumam Mirai
Sambil terus menepuk dada Aora, Mirai memandang keluar lewat teras di sampingnya, malam kian larut.
Namun, ia masih berkutat dengan misteri yang seakan sedikit demi sedikit mulai muncul ke permukaan, mata ungu pucatnya menunjukkan kekhawatiran dalam dirinya
Tapi.... Kenapa Xio pura-pura tidak mengetahui siapa orang-orang yang ada di foto lama itu? Bukankah di antara mereka, ada orang tuanya?
Dan lagi.... Kenapa Xio melakukan Kudeta?
Aora.......
Apa aku harus terus berbohong padamu?
Terutama.... Identitasku sebagai salah satu tim Tengu.....
__ADS_1
Tim yang di buat oleh saudara kembarmu sendiri........saudara yang membunuh semua clanmu......
Tanpa di sadari, butiran bening mulai menetes dari mata Mirai, ia benar-benar terjebak dalam situasi yang rumit. Jika Aora sampai tahu, identitas Mirai akankah dia berbalik membenci Mirai?
Sebaliknya, Jika dia mengundurkan diri dari Misi Tengu dan hidup dengan identitas palsunya, bukankah itu akan mengkhianati Xio, orang yang selama ini menyelamatkannya dan melindunginya?
Malam semakin larut, Mirai pun meletakkan Aora di lantai, dan pergi mengambil selimut dan bantal. Dengan pelan Mirai menidurkan Aora, tanpa membuat laki-laki itu terbangun dari tidurnya
Mirai sadar, Aora sibuk menyiapkan Pertemuan ketiga negara, ia bahkan tidak sempat memperhatikan makan dan tidur karena sibuk berkutat dengan dokumen
Untuk itu, Mirai pergi tanpa berpamitan dengan sang pemilik rumah
"Tidurlah...... Tidurlah yang nyenyak, Aora. Aku harap kau tidak lagi mengalami mimpi buruk.... " ucap Mirai, ia pun pergi sambil mematikan lampu ruangan itu
Srekkkkkk.....
Suara pintu geser terdengar, menandakan Mirai sudah keluar dari rumah itu
Tanpa di sadari Mirai, Aora sudah sadar dari tidurnya selama ini. Namun, ia berpura-pura tertidur karena Mirai
Aora pun bangun dari tidurnya, ia berjalan menuju teras samping. Pria tinggi berambut abu-abu itu, dalam kegelapan memandang bintang yang bersinar redup di langit Sora
"Kenapa kau menangis Mirai.....? " ucap Aora sambil terus menatap langit
Mata merah kecokaltannya kini menatap Altar Yoshiro di belakangnya
" Apa maksudnya Yora juga..... Sama-sama pernah menyelamatkan hidupnya, Ibu?" ucap Aora sambil menatap foto ibunya, ia masih belum mengeri arti ucapan Mirai
Aora pun menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan seluruh anggapan dari kepalanya
Tapi....
Justru kalianlah, wanita yang bisa menenangkan jiwaku
Serta menghiburku"
......................
Sementara itu, di markas Tengu. Hal serupa juga di lakukan oleh seorang pria tinggi berjubah hitam, Xio tengah berdiri mentatap malam kelam dari balkon di puncak tertinggi kastil Tengu
Malam di markas Tengu begitu cerah, karena gelapnya hutan Iblis, bintang tampak bercahaya terang dilihat dari puncak tertinggi kastil
Yuri datang dengan sedikit berdehem, sengaja membuat Xio agar memgetahui kedatangan gadis berambut merah itu
"Ehem.... Ehem...... Sedang apa kau di sini, Yora? " ucap Yuri sambil berjalan mendekat, sesekali ia memainkan kakinya, sambil menunduk malu
Kedatangan Yuri, sama sekali tidak direspon Xio, bahkan pertanyaan bernada khawatir dari gadis yang kini berdiri di sampingnya itu, ia abaikan tanpa jawaban
Yuri penasaran, apa yang membuat pandangan Xio begitu lekat ke arah langit, ia pun menatap lagit malam di depannya, sambil memikirkan pertanyaan tepat, di situasi sunyi ini
" Hari ini kau sudah bekerja keras, Yora..... Aku yakin.... Ibumu pasti menghargai kerja keras putranya" ucap Yuri sambil tersenyum ke arah pria tinggi di sampingnya
__ADS_1
Lagi-lagi, Xio tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk Yuri. Bibirnya seakan terkunci rapat. Ia hanya memandang langit malam di depannya, tanpa seutas ekpresi apa pun
Yuri mengerti, pria di sampingnya itu menyembunyikan kesedihannya, di balik ekpresi es Xio. Untuk itu, ia membawa sepotong kue manis, untuk Xio
"Kau pasti belum makan apa-pun dari tadi. Bukankah kau suka kue yang manis, makanlah...... " ucap Yuri
Namun, Xio hanya menatap tajam ke arah Yuri. Ia seakan menunjukan bahwa apa yang di lakukan Yuri itu sangat mengganggunya
" Hentikan! , aku tidak butuh penghiburanmu" ucap Xio pelan, tapi menusuk
Mata Yuri bergetar, melihat tatapan tajam Xio yang di arahkan ke arahnya. Meski begitu, ia berusaha menahan perasaannya. Yuri memejamkan matanya sejenak. Ia pun mengankat tangannya, dan meletakkannya di bahu Xio
"Bukan itu yang seharusnya kau katakan, kau seharusnya mengatakan 'Ini terlalu berat buatku, bolehkah aku bersandar padamu, teman?' " ucap Yuri
Yuri menepuk pelan bahu Xio, mencoba menenangkan dan menghibur pria di sampingnya itu, meski hanya sebatas tepukan halus
" Karena itulah, teman ada di saat kau lelah atau melalui hal yang berat, kau tidak harus melaluinya sendirian, Yora" ucap Yuri pelan.
Mata ruby nya menembus mata dingin Xio, Yuri mencoba menyampaikan perasaannya, lewat tatapannya ke Xio
Xio pun mengalihkan pandangannya, dengan cepat ia menggenggam tangan Yuri yang sedang menepuk bahunya.
"Hentikan"
ucap Xio sambil melangkah pergi, meni ggalkan Yuri sendiri. Raut wajah sedih tergambar jelas di wajah cantik Yuri
"Kenapa?
Ucapan Yuri menghentikan langkah Xio
"Apa aku bahkan tidak bisa menjadi teman yang menghibur kesedihanmu? "
Suara Yuri bergetar, air mata mulai memenuhi mata cantiknya, sedikit lagi mungkin akan terjatuh deras
" Aku mungkin orang asing yang baru datang ke hidupmu, apa aku bahkan tidak bisa menjadi temanmu, Yora? "
Xio hanya berdiri mematung, ia sadar gadis di belakangnya itu mungkin sudah menangis. Bagaimanapu, ia sudah bersikap kasar, kepada orang yang berusaha menghiburnya. Tapi Xio sama sekali tidak peduli
" Jangan pernah, kau membawa perasaanmu ke markas Tengu. Itu sama sekali tidak membantuku. Satu-satunya hal yang membantuku, adalah apa yang tertanam dalam tubuhmu" ucap Xio datar
Xio pun meninggalkan Yuri sendiri, tanpa lagi menghiraukan apa gadis itu terluka, akibat kata-kata kasarnya
......................
~Semakin besarnya cinta atau semakin kuat rasa kebencian yang ada di dalam jiwa sang Pilar, semakin kuat kekuatan yang tumbuh di dalam diri mereka, kekuatan hebat yang di wariskan langsung oleh Nue sebagai Kutukan
Baik Bulan dan Matahari, mereka tidak pernah berada di langit yang sama. Sedangkan Salju, bisa turun, meski langit malam berbulan, atau langit terang oleh matahari~
Di dalam ruangan gelap, Tanuki membaca sebuah halaman dari Kitab Merah Nue, dengan senyum liciknya
"Takdir tiga orang ini, apapun yang terjadi mereka akan bertemu dalam sebuah ikatan benag merah..... Tentu kutukan Nue mengalir di setiap tetaes darah mereka (Tiga Pilar Penjaga Langit)
__ADS_1
Aku hanya perlu menunggu dengan sabar.....
Takdirlah yang menuntun mereka, mewujudkan impianku" gumam Tanuki sambil terus menatap kitab di tangannya