
"Aku, hanya ingin melewati hari-hari biasa sambil memegang tangan mungil wanita yang aku cintai. Memiliki pekerjaan biasa, membangun keluarga biasa dan hidup di lingkungan biasa.
Namun, takdir berkehendak lain. Aku hidup sebagai Aora. Seorang pewaris terakhir dari garis darah Clan Matahari di sebuah dunia yang dipenuhi kekuatan sihir. Bahkan namaku, sudah menyiratkan takdir menyedihkan yang harus aku lalui.
Aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanku untuk Mirai. Kebahagian pertama yang aku rasakan dalam hidupku, karena garis darah terkutuk di dalam diriku, haruskah aku melepaskan tangannya dan merelakannya pergi?
Mirai, meksi kita tidak berakhir bahagia di kehidupan ini. Jika kita diberi kesempatan hidup di dunia lain. Maukah kau tetap mencintaiku dan menjadi milikku seutuhnya? "
......................
Mirai masih mempertahankan belenggu sihir di tubuh Aora. Kekuatan kehidupan yang ia transfer melalui sihirnya sudah hampir mencapai batas. Mirai kembali melirik ke arah ribuan jiwa Yurei yang masih terbang bebas di atasnya. Makhluk tanpa tubuh kasar dan hanya berbentuk gumpalan kabut hitam dengan dua pasang mata merah menyala terbang ke segala arah. Bak hantu yang bergentayangan, jiwa-jiwa iblis itu masih belum bisa masuk ke dalam dimensi gunung Girei karena sihir es Mirai.
"Sepertinya, aku tidak bisa mempertahankan penghalang gunung Girei! Kekuatanku sudah terkuras habis untuk menjerat tubuh Aora.
Sial! Dalam situasi ini, apa yang harus aku lalukan? " gumam Mirai pelan.
Keringat tipis mengucur di keningnya. Mirai tampak bimbang, sejauh ini ia sudah membagi dua kekuatan sihir miliknya untuk menahan tubuh Aora sekaligus mencegah jiwa Yurei masuk ke dalam dimensi Gunung Girei. Tenaga Mirai terkuras cepat akibat menggunakan sihir pengendali elemen es dalam sekala besar sekaligus.
"Mirai, kau harus mencegah Yurei menemukan tubuhnya. Jika prajurit Iblis bangkit, dunia akan dalam bahaya! " ucap kupu-kupu biru yang masih setia terbang di sekeliling Mirai
" Lalu, bagaimana dengan Aora?! Jika aku melepaskannya, Kurasu akan mengambil alih tubuhnya! Aora yang aku kenal akan mati bersama jiwanya! " ucap Mirai dengan suara bergetar.
" Arghhhhh! " Mirai meringis menahan sakit. Karena menggunakan kekuatan yang besar, tubuhnya mulai merasakan efek samping penggunakan sihir. Darah mulai menetes dari sudut bibir Mirai, rasa sakit yang teramat sangat menghujam tubuh mungil gadis bermata lavender itu.
" Mirai! Jika kau terus memaksakan diri, kau sendiri akan tewas karena kehabisan tenaga! Kau harus memilih salah satunya! Aku mohon, Mirai! " ucap kupu-kupu biru dengan nada putus asa
" Aku! Tidak akan mati disini! " ucap Mirai ririh. Sementara, Air matanya masih saja menetes deras.
Mirai tidak mudah menyerah, dengan sisa kekuatannya, ia mulai mentransfer lebih banyak energi kehidupan ke tubuh Aora. Energi yang dikirim Mirai akan mampu menekan energi kegelapan Kuarsu di tubuh Aora. Oleh sebab itu, Mirai tidak bisa menyerah begitu saja. Bagaimanapun, ia harus menyelamatkan laki-laki yang menempati ruang khusus di hatinya itu.
Di sisi lain, Kuarsu tentu tidak mau tinggal diam. Beberapa jiwa Yurei yang ia kirim masuk ke tubuh Aora yantanya belum bisa mengambil alih tubuh pria itu sepenuhnya. Sekali lagi, Kurasu memerintahkan Yurei mengirimkan serpihan jiwanya untuk masuk ke tubuh Aora. Kali ini bukan satu atau dua jiwa, melainkan ratusan Jiwa Yurei sekaligus.
"Mirai! Kau harus belajar apa arti kata menyerah! Aku sudah peringatan! Datanglah ke pelukanku, maka aku akan menjamin kau tidak akan menagisi hal-hal bodoh seperti ini! " geram Kurasu.
Pria berparas dingin itu tidak bisa berbuat apapun selain memerintah para Yurei. Sisa waktu hidupnya terus menipis, ditambah hamlir sebagian tubuhnya sudah luruh menjadi gumpalan abu dan menghilang.
Yurei kembali masuk ke tubuh Aora. Kali ini kekuatan kegelapan mulai melahap tubuh Aora sedikit demi sedikit. Mirai menyadari hal itu, dengan jumlah Yurei yang di keluar kendali, ia tidak bisa mencegah makhluk itu masuk ke tubuh Aora. Satu-satunya hal yang bisa Mirai lakukan hanyalah mengirim energi kehidupan ke tubuh Aora.
Sama seperti yang terjadi dengan Yora dulu, siapapun yang mentransfer kekuatan kehidupan di dalam dirinya akan mengalami pengurangan umur dengan cepat. Efek kekuatan itu sudah terlihat didiri Mirai. Sedikit demi sedikit, rambut hitam panjangnya mulai berubah memutih.
Mirai merasakan efek di tubuhnya, namun ia tidak berhenti begitu saja. Fokusnya hanya tertuju pada Aora, pria berambut perak yang masih setia mematung dengan pandangan kosongnya.
"Aku Mohon Aora, bertahanlah! " gumam Mirai pelan.
Sesuatu membuat Mirai tercekat. Mata Kiri Aora tiba-tiba mengeluarkan sinar berwarna emas dan mulai membentuk sebuah garis vertikal yang menyerupai sebuah luka sayatan. Mirai kembali memastikan, dan benar saja sebuah luka misterius muncul di wajah Aora
__ADS_1
"Sebuah Luka? Dari mana asalnya luka ini?! " ucap Mirai heran
" Sepertinya, bukan hanya kau saja yang berjuang Mirai. Jauh di dalam sana, Aora juga berjuang untuk merebut kembali tubuhnya.
Yurei sudah hampir bisa menguasai mata sepesial yang dimiliki Aora. Tapi Aora justru mengorbankan sebelah matanya untuk keluar dari jeratan sihir hitam ini! " ucap Kupu-kupu biru
" Syukurlah! Aku tahu, Aora masih ada di dalam sana! " gumam Mirai pelan
Kekuatan Mirai sudah mencapai batas. Ia merasakan kedua kelopak matanya amat berat. Hal terakhir yang Mirai bisa lihat hanyalah kegepalan, sebelum alhirnya tubuh lelahnya benar-benar jatuh ke tanah.
......................
" Mirai! Mirai! Sadarlah! " suara lembut seorang pria mengulun menembus indra pendengaran Mirai.
Mirai mulai mengerjapkan matanya pelan, samar cahaya terang menyilaukan mulai menembus kelopak matanya. Iris ungu pucat seindah bunga lavender Mirai mulai terbuka pelan. Hal pertama yang ia lihat adalah siluet rambut abu-abu yang terhempas agin pelan.
Senyum hangat lengkap dengan dua lesung pipit di pipinya, serta mata merah kecoklatan yang hampir tertutup karena tersenyum ke arah Mirai. Tidak hanya itu, pria itu pun mengusap lembut pucuk kepala Mirai yang masih diam membeku. Mirai tanpak begitu nyaman tidur di pangkuan Aora
"Aora! "
Mirai segera bagun ketika sadar siapa pria di hadapannya. Mirai mengarahkan pandangan ke wajah Aora, memastikan bahwa apa yang ada di hadapannya adalah nyata.
Dengan ragu, Mirai mulai mengulurkan tangannya. Mengusap wajah tampan di depannya dengan penuh kerinduan. Air mata Mirai tak hentinya mengalir. Dalam kodisi dimana ia tidak tahu pasti apakah ini kenyataan atau sihir ilusi. Haruskah Mirai mempercayai begitu saja apa yang ia lihat saat ini?
"Benar! Kau Aora. " ucap Mirai ririh.
"Mirai... " ucap Aora lembut. Kali ini pria itu juga turut mengulurkan tangannya. Ia usap pelan rambut panjang Mirai, rambut yang biasanya hitam kini tercampur dengan beberapa helai rambut berwarna putih.
" Maafkan aku, Aora. Maaf karena telah membohongimu selama ini. "
Hal pertama yang ingin diucapkan Mirai adalah permohonan maafnya. Ia sadar, Aora mungkin kecewa dengannya. Bagaimanapun, Mirai sempat menipu Aora karena misi memata-matai desa Sora.
Aora menggeleng pelan, sambil tersenyum lembut ke arah Mirai
" Kau tidak usah memikirkan hal itu, aku tahu kau memiliki alasan yang kuat. Aku juga tahu, perasaanmu tulus untukku.
Tapi Mirai, kita tidak memiliki banyak waktu. "
Aora kembali melirik ke arah lain, Mirai yang penasaran juga turut melemparkan pandangannya. Mirai baru sadar, mereka berada di tempat antah berantah. Tempat yang menyerupai sebuah dimensi sihir khusus, dan hanya mereka yang ada disana.
" Tempat apa ini, Aora? "
" Tempat ini adalah dimensi sihir ciptaanku. Aku membuat tempat ini dengan seluruh kekuatan sihir yang aku miliki, tapi Mirai waktu kita hanya tinggal sedikit lagi. "
Aora menepuk lembut kedua bahu Mirai, ia tatap lekat dua manik lavender yang masih bergetar hebat dan menahan bulir-bulir air mata di pelupuknya. Aora sadar, tubuh Mirai bergetar hebat.
__ADS_1
" Dengarkan Mirai. Di luar sana, tubuhku hampir sepenuhnya di kuasai Yurei dan Kurasu. Untuk mencapai tempat ini, aku rela mengorbankan salah satu mataku hanya untuk bertemu denganmu. Dengan begitu, aku bisa menjadi diriku sendiri dan bertemu denganmu di dimensi sihir ini. "
" Apa kita tidak bisa melakukan apa-apa?! Aku akan mencari cara untuk membebaskanmu Aora! "
" Kau tidak bisa membebaskan jiwaku Mirai, aku rasa itu semua sudah terlambat. Kurasu sengaja menggunakan tubuh Ayahku untuk mempererat ikatan antara kami.
18 tahun lalu. Setengah jiwa Kuarsu tersegel di tubuhku. Setengahnya lagi tersegel di tubuh Ayahku. Untuk menyelamatkanku, Ayahku mengorbankan nyawanya untuk menyegel kekuatan terkutuk ini.
Semua ini berawal karena kesalahanku. Untuk itu aku berniat mengakhirinya. Berbeda denganku. Kau masih bisa menyelamatkan dunia sihir ini, Mirai.... "
Mirai menggelangkan kepalanya cepat, sambil terisak ia menatap Aora lekat
" Tidak! Aku tidak mau! Apa yang dunia lakukan untukku? Dunia sudah merenggut Ayah dan Ibuku! Dunia juga akan merenggutmu dariku! Jika dunia merenggut semua kebahagianku, untuk apa aku menyelamatkannya?! "
Aora kembali menggenggam tangan Mirai erat, dengan lembut ia mencoba menenangakan Mirai. Aora sadar, semua rasa pahit yang Mirai alami telah membawa wanita itu berpikir demikian
" Mirai.... Karena kau Mirai. Masa depan yang cerah adalah arti dari namamu. Kau harus melindungi masa depan itu. Hanya kau yang bisa melindungi teman-teman kita dan seluruh umat manusia dari ancaman kegelapan Kurasu. Aku harap kau mengabulkan permintaanku ini.
Aku percaya padamu, Mirai.... "
Sinar keemasan mulai memenuhi tubuh Aora. Mirai sadar, seperti kata Aora sebelumnya, waktu mereka telah habis.
" Tidak Aora! Jangan pergi! "
Aora masih tersenyum tulus ke arah Mirai, sambil membelai rambut Mirai lembut.
" Gara-gara aku, rambut cantikmu berubah memutih. Aku harap, kau tidak melakukan hal ceroboh (mengorbankan diri) seperti ini lagi hanya karenaku. "
Aora mulai mendekatkan bibirnya ke kening Mirai. Sebuah kecupan lebut ia arahkan di kening Mirai. Mirai hanya diam membeku dengan mata membulat sempurna.
" Ini bayaran untuk permintaanku padamu, Mirai. "
Perlahan, warna rambut Mirai mulai berubah menghitam. Tampaknya Aora telah mengembalikan kekuatan Mirai yang hilang.
Aora kembali membuat jarak, kali ini ia usap pelan pipi pucat Mirai. Tatapan Aora seolah tidak ingin melepas Mirai, tapi ia tahu itu hanyalah sesuatu yang mustahil.
" Dan ini adalah bukti bahwa aku tulus mencintaimu..... " gumam Aora pelan. Ia pun kembali mendekatkan wajahnya dan memperpendek jarak di atara mereka.
Sebuah kecupan yang mungkin berarti ucapan selamat tinggal Aora. Pria berambut abu-abu itu memberi ciuman singkat di bibir ranum Mirai. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya, meski air matanya tak hentinya mengalir, Mirai menikmati setiap inci kecupan yang mungkin akan ia rindukan.
Aora perlahan mulai menghilang, meninggalkan Mirai sendiri di tempat antah berantah itu.
Sambil mengepalkan tangannya, Mirai mulai mengumpulkan tekatnya. Sejalan dengan itu, Gyoku Saljunya mulai memancarkan cahaya sihir berwarna ungu pucat.
"Kau benar. Kita harus mengakhiri ini!"
__ADS_1
...----------------...
Ayo tebak ya! Akankah Mirai dan Aora berakhir Happy atau Sad Ending? Komen untuk lanjutkan cerita......