
Pagi yang cerah di Desa Sora, namun cerahnya hari tidak berpengaruh kepada beberapa orang penting di Desa Sora. Terlebih bagi orang-orang yang tahu tentang masalah genting yang menimpa salah satu desa terkuat itu
"Pertemuan Ketiga Negara Besar akan dilaksanakan hari ini, dalam sidang itu akan ditentukan juga bagaimana nasib antara Tsuki dan Sora. " ucap seorang pria paruh baya yang tengah berjalan di ruang bawah tanah markas Cops Merah
Tap.......
Salah seorang prajurit dengan topeng 'dewa kematian' menghadap Tanuki, lalu menunduk hormat kepada tuannya. Ia lantas melaporkan sesutu pada tuannya
"Jadi..... Apa yang terladi dengan VII-i, apa kau sudah membereskannya? " ucap Tanuki dengan tatapan tajam
" Tadi malam kami sudah mengepung rumahnya, serta membungkam mulutnya selamanya. Tubuhnya tidak akan pernah di temukan oleh Devisi Intel dan Sensor, Tuan. " ucap Pria itu sambil menunduk hormat
"Bagaimana dengan laporan Autopsinya? " tanya Tanuki lagi
" Kami sudah menangkap salah satu tim medis yang bertanggung jawab mengirimkan laporan ke kantor Kapten Aora. Laporannya sudah kami lenyapkan! "
"Bagus.... Dengan ini Tsuki tidak bisa mengelak tuduhannya, tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan perdamaian yang membosankan ini! " ucap Tanuki dengan senyum puas
Tanuki adalah dalang di balik insiden peledakan Asrama Sora, ia dengan sengaja memojokkan Hisui sebagai pelaku peledakan dengan dalih menyerang Sora secara sepihak. Dengan begitu hubungan Sora dan Tsuki akan menjadi renggang. Tujuan utama Tanuki adalah peperangan
"Aku tidak bisa membunuhnya (pelaku peledakan) dengan segel khas Cops Merah, Zen mungkin saja mengendus hal itu. Untuk itu aku menugaskan kalian untuk membunuhnya, setelah aku melepas segel kutukan di tangannya! " ucap Tanuki
Ia pun memerintahkan pasukannya berkumpul, dan segera menuju balai pertemuan Desa Sora, tempat Konferensi ketiga Negara digelar
......................
Si sebuah Aula yang luas, dengan sebuah meja bundar di tengah aula lengkap dengan lambang Awan (Sora), Bintang (Hoshi), serta Bulan (Tsuki) menghiasi setiap sisi dingding di sana
Dua orang pemuda tampan, dengan warna rambut begitu kotras duduk saling berhadapan. Seorang pria berambut biru pucat dengan setelan kimono bernuansa biru dan putih duduk di kursi dengan lambang bintang. Hotaru hanya menatap tenang pria yang duduk di depannya, sambil mengibaskan kipasnya
Sedangkan di sisi berlawanan, seorang pria berambut merah terang dengan juabah berwarna merah marun tidak kalah mempesona. Pemimpin muda Tsuki juga menampakkan sikap tenang, meski pengadilan akan dirinya segera di umumkan
Hisui hanya menatap lurus ke depan, sesekali melihat kursi kosong dengan lambang awan di sampingnya. Kursi kosong itu seharusnya diisi oleh pemimpin Sora, Aora
Kreeet taggggggg........
Seseorang membuka pintu besar aula pertemuan, membuat seluruh pandangan utusan tertuju kepada pria paruh baya dengan perban di setengah matanya yang berdiri di depan mereka
Tanuki memasuki aula pertemuan dengan 6 buah anak buah cops Merah bersenjata lengkap. Mata tanjamnya menelisik seluruh ruangan, memastikan siapa saja yang sudah hadir di ruangan itu
Matanya kini tertuju ke arah kursi kosong tempat pemimpin Sora seharusnya berada. Senyuman licik terukir jelas di wajah keriputnya, ia tampak puas karena orang-orang yang paling ia benci tidak ada di sana. Ketua Zen atau Aora
"Maafkan aku, yang datang tidak diundang dalam pertemuan ini, Tuan Hisui dan Tuan Hotaru" ucap Tanuki kepada dua orang pemimpin di depannya
Pandangannya kini berubah, tatapan tajam dan tegas terlihat jelas di wajah Tanuki terutama ditujukan kepada Hisui, selaku pemimpin Tsuki
"Pertemuan yang seharunya dilakukan untuk membahas kelangsungan hidup rakyat, di nodai oleh sebuah tindakan keji dengan meledakkan Asrama anak Yatim Piatu. Bukankah itu sebuah tindakan penghianatan kepada janji damai antar negara? " ucap Tanuki sambil berjalan mendekati meja pertemuan
Ia melihat kursi kosong di depannya, sebuah kursi yang sangat ia idamkan untuk dimiliki. Kursi seorang penguasa Sora.
__ADS_1
" Aku sangat ingin Zen lah yang mengatasi masalah rumit ini, tapi bagaimana ini?
Dia justru memberikan tugas penting ini kepada bocah tidak becus, yang kabur di saat penting seperti ini! " ucap Tanuki dengan seringai, ia pun menarik kursi di depannya dan hendak memimpin pertemuan penting itu
Namun, belum sempat ia duduk di kursi berlambang Awan itu, seseorang menggebrak pintu dengan Keras
"Mohon Maafkan keterlambatanku, beberapa serangga ingin mengacaukan negeriku. Jadi, Aku harus membereskannya dulu! " ucap seorang pria dengan berambut abu-abu
Sambil memamerkan senyum di balik maskernya, Aora yang kini berseragam bernuansa Hitam, lengkap dengan pangkat Awan biru terlilit di lengan kananya menandakan bahwa ialah pemimpin yang mewakili Sora
Tanuki hanya menatap kesal Aora, tangannya mulai mengepal akibat menahan amarah
"Hari ini, aku sendiri yang akan mengungkap siapa sebenarnya pelaku peledakan Asrama Sora
Seorang sampah yang berani membunuh 9 nyawa orang yang tidak berdosa, serta membuat dua orang anak terbaring di rumah sakit! " ucap Aora menatap tajam Tanuki, mata merah kecoklatan seakan menembus pria tua di depannya tanpa keraguan
"Apa sekarang kita bisa memulai pertemuan ini? Aku paling membenci jika di suruh menunggu, bukan begitu Tuan Hisui? " ucap Hotaru sambil menoleh Hisui
" Sora, benar-benar dipenuhi orang-orang yang menarik.... " ucap Hisui sambil tersenyum simpul
~ 8 jam sebelum pertemuan ~
Flash back on :
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Mirai yang masih berkutat menulis laporan tentang hasil penyelidikan akhirnya menyelesaikan tugasnya
" Rou! Awas saja kau, berani sekali kau meninggalkanku untuk menyelesaikan tumpukan laporan membosankan seperti ini! " gerutu Mirai kesal. Setelah berkutat dengan tumpukan dokumen yang harus ia susun, akhirnya Mirai menyelesaikan tugasnya
Sesuatu yang aneh sempat ia rasakan. Untuk itu ia mengaktifkan Gyokunya, menciptakan angin dingin dari tangannya lalu melepaskannya ke udara
Mirai memejamkan matanya sejenak, ia merasaka sesuatu mengawasinya dari kegelapan. Seutas senyuman terukir di wajah cantiknya
"Menarik..... " Gumamnya, ia pun berjalan keluar dari ruangan Autopsi itu. Tenang, seolah tidak ada apapun yang akan mengusiknya
Di tengah perjalannan keluar dari Gedung Rumah Sakit Sora. Jauh di belakangnya Mirai merasakan ada yang membuntutinya. Akhirnya, di sebuah lorong yang sepi ia melihat siluet wanita yang cukup familiar
" Hanna! " teriak Mirai menggema di penjuru lorong rumah sakit itu
"Mirai? " ucap Hanna berbalik, Mirai pun menghampiri Hanna sambil nyeloteh tidak jelas.
" Hanna Kau tahu aku melakukan kencan buta kemarin...... " ucap Mirai menatap lekat Hanna, Mirai sengaja menekankan kata pertama di setiap ucapannya
Hanna hanya memandang Mirai bingung, Ia tahu Mirai membahas suatu yang aneh di luar kebiasaanya. Hanna putuskan untuk mendengar ucapan Mirai, sambil terus mencoba menangkap maksud Mirai sebenarnya
"Seorang Pria, tampan aku temui kemari dan suka padaku......
Dia Mengikutiku dari belakang, dan mencoba mengajakku kencan buta kemarin.....
Aku pikir dia berbahaya dan ingin tahu sebuah rahasia yang aku pegang ..... Tapi ternyata dia hanya penasaran padaku...... "
__ADS_1
Mirai sebenarnya memberi kode ke Hanna, ia tahu Hanna gadis yang peka. Hanna pun mengangguk sambil melihat ke arah dokumen yang Mirai pegang
Mata Hanna membulat, ia menangkap maksud tersembunyi Mirai. Ia pun langsung mengubah ekpresi terkejutnya dengan senyuman manis
" Benarkah? ..... Hua! .... Kau beruntung seklali Mirai, kapan-kapan kau harus mengajakku! " ucap Hanna. Dengan cepat ia menukar dokumen di tangan Mirai dengan miliknya, ia pun menyembunyikan dokumen itu ke dalam jubah dokternya
"Aku ingin sekali menceritakan detailnya denganmu, tapi sayang aku harus menyerahkan dokumen ini ke Kantor Kapten Aora! " ucap Mirai sambil mengangguk
"Baiklah Mirai, sampai ketemu lagi....... Jja... "
Mirai pun berjalan keluar gedung, sambil terus mengawasi arah belakang dengan ekor matanya. Ia pun berjalan cepat sambil memegang erat dokumen di tangannya
Jalan menuju kantor Aora begitu sepi, Mirai masih dapat merasakan beberapa orang mengikuti kemana ia pergi. Ia pun mempercepat langkahnya dan mulai memasuki jalan di tengah area taman yang rindang
Tap.... Tap... Tap....
3 orang bertopeng 'Dewa Kematian' mencegat Mirai, meski ia tahu selama ini ia telah di buntuti. Tetap saja Mirai harus pura-pura terkejut
"S- Siapa kalian? "Mirai melangkah mundur pelan sambil berteriak
" Seseorang tolong aku! " ucap Mirai dramatis
Dalam dirinya, ia mengutuk sikap lebaynya yang seakan akan dia gadis lemah yang di cegat om preman gang
"Cepat Serahkan dokumen Itu, Nona! " ucap Salah satu pria bertopeng. Mereka bertiga kompak berjalan ke arah Mirai
"Tidak mau! Dokumen ini sangat penting! " ucap Mirai sambil mundur ketakutan. Ia bahkan berusaha gemetar, tapi justru berakhir kaku karena aktingnya yang payah
Dak....
Seseorang pria memukul tengkuk Mirai, meski sebenarnya serangan seperti itu tidak mempan bagi Mirai. Namun untuk mengecoh lawan ia pun pura-pura pingsan
Bukkk....
Mirai pura-pura kalah, salah seorang pria bertopeng mengambil dokumen di tangan Mirai lalu menghilang
"Apa perlu kita membunuhnya? " ucap salah seorang pria
" Tentu saja! " ucap pria bertopeng lain, ia pun menebas perut Mirai dengan pedang miliknya
Trasssss.....
Sadar mereka sudah menghabisi Mirai, merekapun pergi dari sana.
Merasa keadaan sudah sepi, Mirai pun bangkit sambil memegang lehernya. Ia pun mencabut pedang di perutnya. Tidak ada darah yang menetes, asap putih keluar dari luka di perut Mirai, kemudian menutup dan sembuh dengan cepat
"Berani sekali mereka bersikap kasar pada perempuan! Apakah kalian tidak memiliki ibu? Setidaknya hormatilah berempuan!
Sial! Perutku sakit sekali! " ucap Mirai sambil berteriak kesal. Jika saja dia tidak harus berpura-pura lemah, sudah pasti ketiga kroco itu tewas ditangannta
__ADS_1
" Berekting lemah bukan keahlianku. Sekarang kemana aku harus pergi? Apakah aku harus kesana?" ucap Mirai