
"Tentu...... Mari kita buka kartu kita,
Kita akan tahu, siapa pecundang di babak ini" ucap Itasuke dengan tatapan dingin
Pandangan Manik biru langit terus menelisik raut muka Yuri, gadis berambut merah di depannya.
Itasuke, mencoba menggunakan kemampuannya membaca raut muka lawan terhadap Yuri, namun itu semua sia-sia. Ekpresi Yuri sama sekali tidak bisa ia baca,tidak ada keraguan dalam sorot matanya
Hal itu membuat rasa khawatir di dalam diri Itasuke semakin meningkat, bagaimana jika benar ia bisa kalah dalam judi kali ini. Bagaimanapun, Yuri memiliki 1% kemungkinan menang jika di tangannya ia memiliki kartu surga
Bahkan dalam peluang 1% itu, ia tidak ingin mempertaruhkan kalung biru shapirenya, terlebih kalung itu sangat berarti
Mata biru Itasuke mulai bergetar, tubuhnya membeku dan fokusnya hanya tertuju pada kemungkinan yang terjadi. Di luar ia mungkin menampakkan ekpresi sedatar mungkin, tapi jauh didalam diri Itasuke, ia tengah berperang dengan kebimbangan
Melihat ekpresi lawannya, Yuri hanya menampakkan seringai penuh arti.
Dengan tingkah serta prilakunya yang tenang, apa mungkin Yuri mendapatkan kartu surga di tangannya?
"Baiklah kalau begitu, aku akan membuka kartuku lebih dulu" ucap Yuri, ia pun mengarahkan tangannya menuju kartu di depannya
Trakkkkk.....
Tiba-tiba tangan kekar Itasuke, memegang pergelangan tangan Yuri menghentikannya membuka kartu judi miliknya. Sambil menatap Yuri lekat, suara berat namun pelan pria berambut kuning pucat itu terdengar. Suara yang benar-benar diliputi nada memohon
"Aku akan menyerahkan apapun untukmu, kau tidak usah membuka kartumu
Entah itu semua hartaku, atau bahkan hidupku sendiri. Akan aku serahkan....
Tapi aku mohon Nona, kalung itu sangat berharga untukku..... " ucap Itasuke, mata seindah langit biru itu tampak menunjukkan bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar tulus
Yuri pun mengurungkan niatnya untuk membuka kartunya
" Apa sebegitu berharganya, kalung itu untukmu? Itasuke" ucap Yuri
"Hm.... Kalung itu......
Membuatku merasa masih memiliki sedikit emosi dalam diriku, setidaknya sebagai seorang manusia. Kalung itu adalah pemberian orang paling berharga di sepanjang hidupku
Bakhan jika ada kemungkinan 99% aku menang, sedangkan masih tersisa 1% lagi kekalahan. Aku benar-benar tidak bisa mempertaruhkannya" ucap Itasuke
Yuri dapat merasakan rasa bersalah sekaligus kesedihan di dalam diri Itasuke. Pria yang biasanya sering menunjukan kepalsuan, serta kekosongan dalam jiwanya itu, kini terlihat begiti emosional
"Baiklah..... Kau bisa mengganti taruhanmu, aku akan menganggapmu kalah dalam taruhan ini.
Tapi..... Akan aku sandra kalungmu dulu. Asal kau tahu, aku tidak bisa mempercayai orang begitu saja" ucap Yuri
Ia pun mengambil Kimononya, dan mulai berdiri. Sementara Itasuke hanya memandang Yuri dengan tatapan bingung
"Apa maksudmu, kau mau mengambil kalungku?
Aku sudah mengaku kalah Yuri, kita bisa menyelesaikan kesepakatan kita di sini. Apapun keinginanmu, akan aku penuhi" ucap Itasuke sambil menatap gadis yang berdiri di depannya
Yuri tidak menjawab, ia pun mengambil kalung di meja taruhan, dan mulai mengenakannya di lehernya. Kalung berwarna biru gelap, yang kontras dengan warna rambutnya itu
"Meski ruangan ini begitu cantik, tapi asap rokok dari bawah begitu menyengat. Udara di sini begitu pengap
Aku benci udara panas.... " gumam Yuri,
Ia pun berbalik memunggungi Itasuke, sambil menyibakan rambut merah panjangnya, memperlihatkan punggung kecilnya yang berisi guratan tempat batu pilar serta sisik ular putih bersemayam di dalam tubuhnya.
Hal itu membuat Itasuke membulatkan matanya, di balik kesan cantik yang dipancarkan Yuri terdapat hal yang mengerikan di tubuhnya
"Kenapa? Apa kau baru sadar, kau berhadapan dengan sesosok moster" ucap Yuri sambil mengenakan pakaiannya kembali
"Aku sangat iri dengan kalung ini, bahkan pemiliknya mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya. Sebuah kalung yang bahkan tidak memiliki nyawa sama sekali
Hn.... Aneh memang....... Maksudku... Perasaan manusia..... " Ucap Yuri, ia pun mengenakan kembali Kimono hitamnya, menutup hal mengerikan yang bersemayam di punggungnya
" Sedangkan aku, yang jelas-jelas memiliki nyawa dan juga manusia sama seperti yang lain tidak ada yang mengharapkanku atau mencintaiku
Aku dianggap sebagai benda pembawa sial, bahkan di sisa hidupku hanya ada prasangka buruk yang terus mengelilingi hidupku.
__ADS_1
Dan terakhir, seseorang yang menyelamatkanku dari prasangka itu (Xio) , ternyata hanya mementingkan benda mengerikan yang tertanam di dalam tunbuhku, dan lucunya aku bahkan berharap dia bisa menjadi teman pertamaku
Aku sangat iri...... Bukankah hidupku begitu lucu" ucap Yuri sambil menunduk, sambil teesenyum heran
Ia teringat kata-kata Xio, orang yang membantunya keluar dari bayang-bayang sang ibu.
Yuri pun berbalik, menatap pria yang masih mematung di hadapannya
"Jadi... Itasuke... Datanglah ke tepi danau di bawah
Setelah kita membahas kesepakatan kita, aku akan mengembalikan kalungmu. Aku janji" ucap Yuri
Yuri pun meninggalkan tempat itu, sementara Zou yang masih membeku mendengar curhatan Yuri segera menyusul gadis berambut merah
"Heh... Yuri Tunggu aku..... " ucap Zou sambil mengambil kartu judi Yuri.
Ia hendak memastikan sebenarnya kartu apa yang membuatnya begitu tenang, bahkan ketika hidupnya dipertaruhkan
......................
Di Tepi danau, tepat di bawah bukit tempat Kasino mewah Zuryu berada, sebuah danau yang begitu tenang memantuklan warna biru langit di atasnya
Seorang gadis berambut merah, dengan kimono hitam robek di bagian bawahnya, hanya memandang pemandangan cantik di depannya dengan iris seindah batu ruby.
Aingin berhembus pelan, membuat surai merahnya terhempas mengikuti kemana angin pergi. Yuri dengan santai duduk di atas batu besar, sambil mengayun-ngayunkan kakinya menikmati cuaca siang hari yang terik di bawah pohon rindang
"Ini... Makanlah...
Di hari yang terik seperti ini, ular sepertimu pasti merasakan panas" ucap Zou, sambil memberikan sebatang ice cream ke Yuri.
Meski dengan nada yang memicu pertengkaran, nyatanya Zou adalah tipe partner yang perhatian
"Apa tidak ada rasa strawberry? Padahal aku sukanya yang itu.
Kenapa kau malah memberiku rasa Mint, hah!!!!!
Aduh... Lidahku seakan mati rasa" rengek Yuri
"Diam dan makanlah! Sudah untung aku membelikannya" ucap Zou sambil menyipitkan matanya
Ia lantas duduk sambil menyandarkan tubuhnya di batang pohon itu, membiarkan tubuhnya rileks sambil menikmati pemandangan cantik di depannya
Wuuuussss.....
Angin berhembus pelan, cuaca di tepi danau seperti ini begitu tenang. Ditambah kicauan dan derengan serangga musim panas
"Kenapa kau melakukan hal itu?
Maksudku mempertaruhkan hidupmu di meja judi, kau bahkan buakan tim Tengu" tanya Zou memecah keheningan, pandanganya kini tertuju pada wanita yang duduk di atas batu disampingnya
Yuri hanya menjilat es cream di tangannya, sambil terus mengayunkan kakinya
"Apa hidupku seberharga itu? Bagiku hidupku sendiri tidak berarti. Entah mati karena batu pilarku dirampas, atau aku taruhkan di meja judi....
Itu semua tidak ada artinya...... " ucap Yuri dengan tenang
" Aku tidak memiliki orang tua yang mengkhawatirkan serta memcintaiku. Aku juga tidak memiliki teman....
Bahkan seseorang yang menganggap seorang Yuri hidup..... Aku tidak memilikinya......
Benda mengerikan yang tertanam di tubuhku, membuatku kehilangan hidupku sebagai manusia.....
Tidak....
Bisa dibilang nasibku memang sial.. " ucap Yuri sambil menatap Zou, ia hanya memperlihatkan senyuman meski dengan mata yang sayu
" Bukankah kau masih memiliki Oro-ryu? " ucap Zou
Yuri mengangguk, baginya Oro-ryu adalah satu-satunya keluarganya
" Tapi..... Ia menyerahkan setengah kekuatannya untukku.
__ADS_1
Karena itu, aku ingin mengembalikan kekuatan ini. Entah Oro-ryu mau menyerahkannya ke Xio. Aku tidak peduli, setidaknya aku ingin menjadi beban yang harus Oro-ryu lindungi" ucap Yuri
"Apa kau sangat mendambakan kasih sayang orang tuamu, terlebih ibumu? " ucap Zou pelan, ia mulai bersimpati dengan Yuri, gadis yang selalu ia ejek selama ini
" Hah..... Aku sudah menyerah! Penantianku selama 20 tahun lebih.... Sudah cukup untukku....
Aku tidak mau berharap lagi.... Aku sudah muak menunggu perasaanku di balas oleh orang yang aku kagumi" ucap Yuri, ia pun menunduk sambil mengecilkan suaranya
"Baik untuk Ibuku..... Ataupun Yora" gumamnya
Zou melihat raut muka Yuri, gadis yang selalu bertingkah absurd dan barbar itu, kini benar-benar terlihat sedih
"Apa perlu aku peluk? Anggap saja aku ayahmu" ucap Zou sambil merentangkan tangannya
"Kau bercanda? Kau bahkan lebih muda untuk jadi pacarku tau!!!!! " ucap Yuri, siku-siku terlihat jelas di keningnya
" Ya sudah..... " ucap Zou enteng
" Tapi... Apa pria itu akan datang? Sudah lebih 30 menit kau menunggu di sini" sambung Zou
"Dia pasti datang, kau lupa aku dapat melihat emosi di dalam diri seseorang
Tadi.....
Aku merasakan kesedihan memenuhi jiwanya. Kesedihan dan juga sedikit amarah yang tercampur......
Aku bisa merasakannya" ucap Yuri
Zou hanya menatap Yuri dengan tatapan curiga, ia msih was-was dengan kemampuan Yuri, bisa-bisa ia juga membaca emosinya juga
"Dan juga... Zou..... " ucapan Yuri terhenti, ia pun turun dari batu besar itu, dan berjalan ke arah Zou
" Kau menikmatinya kan? Maksudku.... Ketika aku melepas kimonoku heh?
Aku bahkan merasakan panas tubuhmu meningkat, meski aku tidak menatapmu" ucap Yuri sambil berkacak pinggang
"A.... Apa... M... Aksudmu.... Aku....tidak" ucap Zou gagap, sambil menggelengkan kepalanya keras
"Cih... Dasar bocah mesum! "
" Sipa suruh kau membuka bajumu di hadapan pria hah!!!!!!! Aku juga seorang pria normal.... Jadi wajar saja!!!!! " Zou mulai meninggikan suaranya sambil menunjuk Yuri
" Tapi aku melakukannya untuk membuka kotak pandora (emosi) di jiwa Itasuke. Kalian para lelaki pasti jelalatan jika di beri pemandangan bening sedikit!!!!!
Kau jangan munafik...... " balas Yuri tidak kalah garang
Zou kalah, ia hanya bisa membuang muka dengan rona wajah yang terlihat jelas
" Kau benar-benar wanita licik Yuri. Pantas saja kau dijuluki ular.
Lihatlah..... " ucap Zou masih memalingkan wajah, tapi tangannya meberikan Yuri kartu Judi tadi
Kartu di tangan Zou menunjukkan nilai Surga-4, yang artinya jika Itasuke tidak menyerah, dan membiarkan Yuri membuka kartunya, Yuri pasti kalah.
Karena Nilai kartu judi, jika angka dipasangkan dengan salah satu kartu Surga nilainya adalah nol
"Bagaimana kau bisa setenang itu, mempertaruhkan hidupmu dengan kartu bernilai nol? " ucap Zou
" Kadang apa yang tidak berharga sama sekali, bisa mengalahkan hal terhebat sekalipun di dunia ini
Jangan pernah meremehkan angka nol, jika kau memperlakukannya dengan baik. Nol bisa mengalahkan angka 9 sekalipun
Kau harus belajar hal itu, bocah tomat" ucap Yuri sambil mencubit pipi Zou gemas
"Aw..... Hentikan Yuri, berhentilah menperlakukanku layaknya bocah!!!!! Aku ini sudah dewasa!!!!!! " ucap Zou tidak terima
" Nona Yuri" panggil suara dari belakang, siluet pria berambut kuning terlihat mendekati Yuri dan Zou
Itasuke datang dengan tampilan yang berbeda, tidak ada senyum palsu yang menghiasi wajah tampannya. Kini hanya senyum penuh ketulusan yang tergambar, sambil melambaikan tangan ke arah Yuri
__ADS_1
"Aku baru sadar... Itasuke... Dia pria yang sungguh tampan.... " ucap Yuri dengan mata berbinar
" Dia mulai lagi........ " ucap Zou