
Sementara itu Rou, Juzo dan Hanna tiba di tempat Shira mengurung warga desa. Mereka memasuki rumah terbengkalai di tengah hutan, tidak jauh dari tempat pertarungan Mirai dkk.
Rou mulai memasuki pintu rumah tua itu, ia terkejut setidaknya ada 5 orang warga desa yang diikat di ranjang pasien. Mereka adalah warga desa yang diculik untuk menjadi inang selanjutnya serangga parasit
"Ketemu! "
Hanna dan Juzo langsung menghampiri Rou.
" Lihatlah keadaan mereka, tampaknya Shira belum menanamkan segel serangga ke tubuh mereka" ucap Rou sambil meneliti keadaan pasien
"Dilihat dari kondisi mereka, sudah lama mereka di sekap di sini. Mereka kelaparan dan temoat ini tidak layak ditinggali seseorang! " ucap Juzo sambil mengamati sekeliling tempat itu.
Barang-barang di sana beedebu dan sangat berantakkan, bahkan tempat itu tidak pantas ditinggali manusia. Begitu kotor dan berlumut, bahkan pondasi rumah cukup lemah dan bisa saja roboh kapanpun
"Biar aku priksa" Hanna sebagai anggita tim medis langsung memulai kewajibannya
Hanna langsung memeriksa kondisi warga desa yang tengah diikat dan terbaring lemas. Ia menempelkan jari ke pergelangan tangan korban, memastikan tanda vital korban baik-baik saja
"Bagaimana mungkin, mereka juga memanfaatkan anak-anak! " ucap Rou tidak percaya. Seorang anak kecil juga turut disekap Shira
Rou mencoba melepaskan ikatan di tubuh seorang anak laki-laki, di ruangan itu terdapat 1 orang anak dan 4 orang dewasa sebagai sandra Shira.
"Mereka sudah lama kelaparan, tubuh mereka melemas dan mulai tidak sadarkan diri akibat dehidrasi " ucap Hanna sambil terus memeriksa pasien
" Bukankah kau seorang tim Medis? Lakukanlah sesuatu" ucap Juzo
Hanna hanya tertunduk ragu, ia memandangi tubuh pasien di depannya. Hanna mungkin bekerja di rumah sakit Sora, tapi ia belum pernah menangani pasien langsung di bawah tanggung jawabnya, karena ia masih di level Junior Medis.
Rou yang mengerti perasaan sahabatnya itu mulai mendekati Hanna, ia menepuk bahu Hanna halus.
"Hanna, kami percaya dengan kemampuan medismu, beritahu apa yang harus kami lakukan dan kami dengan senang hati akan membantumu"
"T- Tapi aku hanya seorang junior Medis, aku tidak yakin dengan kemampuanku sendiri" ucap Hanna sambil merunduk. Ia takut, dengan kemamouannya yang minim, ia bisa membahayakan orang-orang ini
Rou memegang ke dua bahu Hanna. Ia menantap wajah sahabatnya itu, mencoba meyakinkannya bahwa Hanna bisa melakukannya dengan baik
"Hanna, kau satu-satunya yang dapat menolong mereka. Bukankah kau selama ini bekerja keras untuk kesembuhan pasienmu, lakukan seperti biasanya sesuai apa yang kau pelajari Hanna. Yakinlah pada dirimu sendiri" ucap Rou
__ADS_1
Rou menepuk bahu Hanna sekali lagi, ia memberikan semangat serta membangun rasa percaya diri sahabatnya. Orang seperti Rou tentu tahu apa yang ada di pikiran Hanna.
Wajah Hanna mulai bangkit, keyakinannya mulai muncul karena semangat yang Rou berikan. Ia mulai memeriksa denyut nadi Pasien, Hanna memejamkan matanya sambil tetap fokus.
Baiklah Hanna, kau selama ini sudah bekerja keras untuk menyembuhkan pasien, kau lebih dari tahu apa yang harus kau lakukan pada pasien didepanmu.
Kosnsentrasi. Saat ini, tidak ada yang bisa menolong mereka selai kau. Cukup kau percaya pada dirimu......Seperti kata Rou!
Hanna memberikan semangat pada dirinya sendiri, untuk pertama kalinya ia meyakinkan dirinya bahwa ia mampu menyelamatkan nyawa pasien.
Hanna mulai membuka matanya, dan mengintruksikan Rou dan Juzo untuk membantunya.
"Baiklah semua! Pasien ini menderita dehidrasi akut, aku minta tolong kepada Juzo untuk segara mencari larutan garam disekitar sini. Aku mohon bantuanya" ucap Hanna sambil menatap Juzo
Juzo mengangguk dan segera pergi dari sana, Rou yang melihat semangat sahabatnya kembali terlihat tersenyum.
"Nah! Apa yang bisa aku bantu Nn. Perawat? "
" Bantu aku merawat pasien di sini, Rou! " ucapnya sambil menatap pria berkaca mata di depannya dan dibalas anggukan setuju Rou
Rou dan Hanna bekerja sama menyembuhkan pasien, Hanna yang tengah sibuk mengalirkan Kenkou ke tubuh pasien, sedangkan Rou membantu menyuapi pasien yang mulai sadar dengan Air.
Aku hanya perlu mengalirkan sedikit Kenkou pada orang-orang ini. Meski sulit, aku harus berusaha
Hanna tahu, bagi orang biasa kenkou sungguh sangat beresiko. Meski begitu, ia pernah di ajari Mirai untuk menghadapi situasi seperti ini, yang harus ia lakukan hanyalah berkonsentrasi penuh
Tidak berselang lama, Juzo datang membawa garam serta obat-obatan yang ia dapat dari sisa-sisa desa Fuu
"Baiklah teman-teman mari kita selamatkan pasien ini. Juzo buatlah larutan garam dan madu, itu akan membuat cairan di tubuh pasien kembali normal. Sedangkan Rou, bisa membantu Juzo untuk memberikannya ke pasien, aku mengandalkan kalian" Ucap Hanna
Hanna dan teman-temannya menghabiskan malam yang panjang untuk merawat pasien pasien itu. Beberapa saat kemudian, pasien sudah terlihat membaik, Hanna yang terlihat kelelahan masih setia mengawasi kondisi pasien-pasiennya
Malam semakin larut, para pasien sudah kembali normal. Secara bergilir Rou dan Hanna mengawasi keadaan mereka. Rou pun mendatangi Hanna, membawakannya semangkuk air serta memberikan jaket Militernya ke Hanna. Memastikn bahwa gadis itu tidak kedinginan
"Ini Hanna, minumlah. Jika terus seperti ini, kau lah yang akan pingsan akibat dehidrasi" ucap Rou sambil menyelimuti tubuh Hanna dengan jaketnya
__ADS_1
"Terima kasih Rou"
"Ei! Itu bukanlah sesuatu yang sulit, aku hanya membawakanmu air saja" ucap Rou sambil menggaruk pipinya, malu.
"Terima kasih, karna kau telah mempercayaiku dan juga mengembalikan semangatku! " ucap Hanna sambil tersenyum. Melihat senyuman manis Hanna, Rou hanya bisa tertegun
"I-itu bukan Apa-apa. Sudah sewajarnya kan, sahabat saling membantu" ucap Rou sambil tersenyum kaku. Bohong jika ia tidak gugup, hanya melihat senyuman Hanna detak jantungnya berpacu hebat. Rou pun berusaha memalingkan pandangannya dari Hanna.
Hanna hanya bisa tersenyum senang, dengan reflek ia memeluk Tubuh Rou, sahabatnya.
"Bagaimanapun! Terima kasih Rou, aku kira kau hanya bisa bicara blakblakan. Tapi kali ini aku salah menilaimu, kau benar-benar sudah dewasa Rou" ucap Hanna sambil terus memeluk Rou kencang.
Rou yang mulai gerogi di peluk Hanna, mulai melepas pelukan erat gadis itu, wajah Rou nampak memerah. Rou merasa detak jantungnya kini tidak beraturan lagi
"Sudahlah Hanna, apa kau memiliki kebiasaan memeluk seseorang ketika senang, heh? " ucap Rou salting
" Memang... " Ucap Hanna dengan polosnya
Rou hanya mendengus, ia tidak senang sahabat perempuan satu-satunya itu memeluk pria lain dengan mudah.
" Sebaiknya kau hentikan kebiasaanmu itu, jika itu untuk teman sesama perempuan aku masih biarkan, tapi jangan sekali-kali kau lakukan untuk pria lain, terutama Si Aora.
Ia memang terlihat dingin, tapi aku pernah memergokinya membaca buku percintaan Rate 19. Dan juga, yang kau lakukan itu bisa membuat pria salah paham tau" ucap Rou menggurui
"Kalau Aora aku memang tahu tipe bacaanya seperti apa, bergelantungan di lengannya pun dia tidak merespon! " Ucap Hanna enteng
" Sudah aku bilang jangan buat pria salah paham akan sikapmu kan! " dengus Rou kesal
"Jangan bilang kau sendiri yang salah paham Rou, kau cemburu ya? " ucap Hanna asal sambil menyipitkan matanya.
"T- Tentu saja tidak, untuk apa aku menyukai gadis sepertimu, asal kau tahu tipe idealku itu yang **** dan- "
" Cukup, aku bahkan tau isi otakmu itu. Kau hanya menganggapku teman merepotkanmu saja, aku tau itu! " ucap Hanna sambil mencubit pipi Rou keras dan meninggalkannya. Rou yang ditinggal sendirian hanya bisa mengelus pipinya lalu bergumam.
"Lebih dari itu. Kau tahu Hanna berapapun gadis yang pernah aku temui, aku tidak pernah mengalihkan pandanganku darimu. Karena itu sikapku padamu kutunjukkan dalam bentuk teman yang menyebalkan" Rou pun menyusul Hanna, sambil mengambilkan jaketnya yang tertinggal
"Gadis ceroboh itu, mungkin akan sakit jika terus mengabaikan tubuhnya.... Dasar Hanna"
__ADS_1