
"Sekarang katakan, dimana kalian menemukan Mirai? Lalu dimana Aora? " Ten masih tidak percaya, Rou dan Hanna lah yang menemukan Mirai. Cops Awan Putih sudah ia kerahkan, bahkan sedikit jejak Mirai tidak tertinggal sedikitpun.
Mereka saat ini berada di salah satu ruang pertemuan, sorak sorai rakyat yang menyambut kedatangan Mirai begitu riuh. Ten putuskan, menarik Rou dan Hanna ke tempat yang lebih tenang untuk meminta penjelasan mereka.
"Kami tidak menemukan Mirai. Tapi, Mirailah yang datang sendiri ke Sora! " Hanna mencoba menjelasakan, tapi tetap saja itu terdengar aneh diteliga Ten. Mirai dan Yora adalah seorang buronan, bagaimana ia bisa masuk ke desa yang dijaga ketat pasukan Militer?
" Hanna benar, ketika malam kau dan ketua Zen mengghilang. Aku melakukan patroli ketat di sekitaran desa. Malam itu, sebuah cahaya aneh jatuh dari langit. Cahaya itu membuat sebuah ledakan asap pekat. Aku dan timku mencoba mengecek apa yang terjadi. Tapi kami justru melihat Mirai disana. Bukan hanya dia, saudara kembar Aora serta seorang gadis berambut merah juga ada disana.
Kau pasti tidak mempercayai apa yang aku lihat. Cahaya yang membawa Mirai memiliki kekuatan mistis yang kuat.
Sssttt? Ah iya! Bentuk cahaya itu menyerupai seekor harimau putih besar. Aku merasakan jiwa Agung atau kekuatan mistis seperti itulah yang membawa Mirai kembali ke Sora! "
Rou mencoba menjelaskan pengalaman yang dilihatnya waktu itu. Ia masih kagum dengan apa yang dilihatnya. Apa yang dilihat Rou benar adanya, Jiwa Tora tampaknya yang membawa Mirai dan Yora kembali ke Sora.
" Hal yang penting sekarang bukanlah bagaimana cara aku bisa sampai ke Sora!"
Pintu ruang tiba-tiba terbuka. Dengan langkah tegas, Mirai dan Yora masuk ke dalam ruangan. Mirai segera melepas Kimono tebal yang ia kenakan, hanya menyisakan bagian dalam yang dirasa nyaman untuknya. Kali ini, tatapannya tertuju pada Rou dan Hanna. Tanpa mereka, Mirai pasti tidak bisa hadir dan memperkenalkan siapa ia di depan rakyat Sora.
"Rou, Hanna. Terima kasih, kalian sudah mempercayaiku. Meski semua kekacauan ini terjadi. Kalian tetap mendukungku. Maafkan aku, tidak bisa jujur pada kalian. " ucap Mirai pelan sambil menundukan kepalanya.
Ia sadar, ia telah banyak berbohong kepada teman-temannya. Fakta ia masuk ke desa Sora sebagai mata-mata yang berusaha mengulik informasi desa. Membuat Mirai sedikit menyesal.
" Meski kau melakukan itu semua demi sebuah tujuan. Tapi kami yakin, kau orang yang baik Mirai. Kau selalu memperhatikan orang-orang lemah, membantu mereka dengan seluruh usahamu.
Dulu aku sempat meragukanmu, tapi itu tidak berlaku sekarang. Sebagai teman, kami mempercayaimu. " ucap Hanna sambil menepuk bahu Mirai. Rou mengangguk pelan, ia setuju dengan apa yang dikatakan Hanna tentang Mirai.
" Terima Kasih, Teman-teman! "
Mirai akhirnya bisa bernafas laga, kali ini tidak ada rahasia yang ia sembunyikan. Ten yang melihat teman-temannya berkumpul mulai memberanikan diri, rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Ia ingin segera bagi untuk teman-temannya.
" Teman-teman, aku juga ingin membuat sebuah pengakuan. Sebenarnya, Orang tuaku tidak gugur di medan perang. Aku- " Ten menghentikan ucapannya sejenak, tangannya terkepal kuat.
" Aku adalah putra dari buronan tingkat tinggi Sora. Tanuki adalah ayah kandungku. Maafkan aku, telah menyembunyikan ini dari kalian. " ucap Ten dengan suara ririh. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Teman-temannya.
Semua orang diruangan itu tampak terkejut, termasuk Mirai yang baru menyadari keanehan itu. Jadi yang dimaksud 'topeng' oleh Ten waktu itu adalah identitas dirinya yang sebenarnya?
"Jadi inilah akhirnya. Kita berdua akhirnya melepas 'topeng' dan jujur kepada orang-orang. " gumam Mirai pelan.
" Semua itu tidak penting sekarang. Sesuatu mengerikan diluar sana, cepat atau lambat akan datang menerjang Sora. Hal itulah, yang harus kita persiapkan lebih dulu!" suara berat Yora tiba-tiba mengintrupsi.
Pria dengan sorot mata tajam itu, hanya berdiri sambil melihat keluar jendela. Gerbang megah Sora terlihat kecil dari sana, Yora menyadari pergerakan Kurasu sebentar lagi akan terlihat.
"Aora dan Yora. Kedua saudara itu tampak mengeluarkan hawa dingin jika serius. Tatapan tajamnya seolah bisa memecah kaca jendela.
Ouch!... Tapi aku akui, Yora sangat Tampan! Wajah tegas nan dingin, hidung mancung, tinggi dan gagah. Ditambah dia adalah leader Tengu!
Stttt... Aku bahkan bisa mencium aroma bad boy! Meskipun aku tidak tahu bagaimana wajah Aora. Aku yakin mereka beruda mirip! Bahkan tatapannya saja membuat hatiku meleleh! "
Hanna berbisik histeris ke kuping Rou. Mata berblink-blink nya tidak pernah lepas dari sosok kalem didepannya. Hanna bahkan memukul bahu Rou gemas. Pria berkaca mata itu hanya bisa berdecih sebal sambil memgelus bahunya yang nyut nyutan.
" Ck! Semua wanita sama saja. Seburuk apapun pria, asal good looking dan good rekening. Semua bisa dimaafkan! Apa kabarnya yang berjuang sepertiku? Hanna kau benar-benar jahat! " gerutu Rou
__ADS_1
" Lalu apa rencanamu Mirai? " Ten menantikan apa yang akan dilakukan Mirai.
Gadis berambut hitam itu tampak berpikir sejenak. Sora benar-benar dalam bahaya. Kuil Nue berada di salah satu sisi di desa ini. Tentu desa ini yang akan menjadi fokus serangan Kurasu.
Membebaskan Nue memerlukan empat batu pilar kunci seta segel yang mengunci Nue yang berada di kuil Nue. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk Kurasu menargetkan Sora. Tiga batu sudah berada di tangannya. Itu berarti ia hanya perlu menemukan batu Pilar ke empat. Tidak hanya itu, Mirai juga harus menemukan dimana keberadaan kuil itu. Ketua Zen, satu-satunya orang yang mungkin tahu keberadaan kuil sudah meninggal. Lalu siapakah yang akan membantu Mirai menemukan dimana Kuil itu berada?
"Mirai? Apa kau mendengarku? " suara Ten membuyarkan Mirai dari lamunanya.
" Ten, bisakah kau kumpulkan seluruh ketua devisi militer Sora? Bukan hanya mereka, kau juga harus mengirim pesan ke Negeri Hoshi dan Tsuki.
Setelah pemakaman Ketua Zen. Aku berniat mengumpulkan semua orang, dalam sebuah konferensi tingkat tinggi! Dua pemimpin Negara besar yang lain, aku harus menemui mereka! " ucap Mirai mantap.
" Kau bermaksud mengadakan Pertemuan Tingkat tinggi? Tapi dipihak kita belum ada kepala Militer tertinggi yang menggantikan posisi Ketua Zen. Aora juga saat ini sedang tidak berada disini. Apa yang akan kau lakukan Mirai? "
Bukan tanpa sebab, Ten menghawatirkan kekosongan kekuasaan ini. Ketua yang selama ini menyatukan kekuatan, sudah pergi. Belum ada orang yang pantas untuk menggantikan posisinya. Jika menuruti peraturan, Yoralah yang pantas. Tapi ia adalah seorang mantan buronan, delegasi negara lain pasti tidak akan mendukungnya.
"Kau akan memimpin rapat menggantikan ketua Zen. Selain kau, tidak ada orang yang bisa dan secakap dirimu, kan?
Masalah menyakinkan orang-orang negara Tsuki dan Hoshi. Serahkan semua urusan itu padaku! Bahkan jika harus membekukan mereka satu persatu! Akan aku buat sebuah kesepakatan yang belum pernah ditulis sejarah sebelumnya. " ucap Mirai dengan sorot mata berapi-api.
" Kau ingin, aku yang memimpin? " ucap Ten tidak percaya.
" Dua orang lebih baik dari satu. Ten, kau akan memimpin pergerakan militer mulai sekarang. Sementara aku dan Yora, akan menyusun rencana kita kedepannya! Seperti yang kalian tahu, pertempuran di dunia sihir mungkin akan segera pecah! "
Dak!
Mirai menggebrak meja dengan keras. Sorot matanya berubah tajam dan menyeramkan.
" Dan aku tidak akan pernah menbiarkan Kurasu memenangkan pertarungan ini! "
Yora mulai beranjak dari tempatnya, ia pun segera mengaktifkan gyoku bulannya.
" Aku setuju dengan apa yang Mirai katakan. Jadi semua sudah jelas, kalau begitu aku pamit dulu. "
" Leader! kau mau kemana? " belum sempat Mirai mencegah kepergian Yora. Pria itu sudah menghilang dan berubah menjadi gumpalan gagak dan menghilang dari sana.
......................
Yora melagkahkan kakinya menyusuri jalanan Sora. Dengan kimono hitam sederhana lengkap dengan jubah hitam hampir menutupi seluruh tubuhnya, Yora melakukan sebuah penyamaran dan pergi menuju pusat desa. Pandangannya yang menyapu kesegala arah seakan mencari keberadaan seseorang.
Desa Sora sudah banyak berubah. Di banding dulu, Sora jauh lebih ramai. Perasaan 'kembali ke rumah' yang selama ini Yora rindukan, kini benar-benar terobati.
Tapi, alasan ia kabur dari pertemuan tadi bukankah untuk menikmati keramaian kampung halamannya, melainkan mencari sosok yang sudah lama tidak terlihat semenjak mereka sampai di desa.
Tepat di depan gedung rumah sakit Sora, Yora mulai menghentikan langkahnya. Dari jauh, terlihat sosok gadis berkaca mata yang baru saja keluar dari gedung rumah sakit. Kakinya dililit perban tebal. Luka bakar akibat lonceng peledak yang ia terima pasti cukup parah. Tidak hanya itu, rambut panjang cantiknya juga harus Yuri korbankan demi kesuksesan misi penyusupan.
Meski tengah terluka, Yuri masih bisa tersenyum lebar dan memberi hormat kepada perawat yang mengantarnya hingga ke pintu keluar.
"Terima kasih bantuannya. " ucap Yuri dengan anda ceria sambil membungkukan badan.
" Pastikan kau merawat lukamu, Nona Yuri. "
__ADS_1
"Baik! " perawat itu akhirnya pergi.
Yuri cukup kesulitan berjalan. Tentu saja ini pertama kali baginya datang ke rumah sakit. Akibat ledakan lonceng waktu itu, kakinya terluka parah.
Kekuatan batu di punggungnya belum sepenuhnya pulih - waktu itu Yuri menguras kekuatannya saat melawan Maya, transfer energi dan membantu Yora melawan Kurasu- sehingga regenerasi di tubuhnya menjadi lambat. Karena itu, luka dikakinya belum bisa sepenuhnya pulih.
Yora merasa bersalah, ia sadar cukup banyak yang dikorbankan Yuri untuk membantunya. Ia mencoba menekan ego dan sikap dinginnya, dan berniat membantu Yuri.
"Kau seharusnya meminta orang lain membantumu, Yuri. " ucap Yora datar namun sarat dengan rasa khawatir. Ia hendak membantu memapah Yuri, tapi gadis itu nyatanya masih bisa bergerak lincah meski perban melilit kakinya.
" Yora? Bukankah kau pergi ke kantor desa Sora? Sedang apa kau disini? " ucap Yuri penasaran. Yuri sadar, tidak mungkin juga Yora pergi menemuinya kan?
" Itu- " Mulut Yora tiba-tiba kelu. 28 tahun hidupnya sebagai genius taktik, baru kali ini ia kebingungan mencari sebuah alasan.
" Pergilah. Mirai dan yang lain pasti memerlukanmu! " ucap Yuri sambil berlalu.
" Yuri!! " teriakan Itasuke kembali terdengar.
Dari kejauhan, pria dengan seragam militer Sora itu melambaikan tangannya ke arah Yuri. Itasuke langsung menghampiri Yuri, tanpa basa basi ia langsung memeluk tubuh mungil Yuri. TEPAT DI DEPAN YORA! - sengaja dibesarin-
" Yuri? Kau tidak apa-apa? Kau terluka! Kau sudah memastikan kondisimu baik-baik saja? Dimana dokternya! " Itasuke menghujani Yuri dengan beribu pertanyaan. Pria tampan berambut kuning pucat itu bahkan hendak menyeret Yuri kenbali ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya.
" A- aku baik-baik saja. Begitu kekuatanku pulih, luka ini akan segera sembuh. Kau tidak perlu khawatir Itasuke! " ucap Yuri sambil menenenagkan Itasuke.
" Benarkah? Syukurlah! "
" Tapi, bukankah kau bagian Cops Merah?kenapa kau mengenakan seragam prajurit militer Sora? "
Itasuke tersenyum cerah. Ia dengan bangga menujukan penampilan barunya ke Yuri
" Aku sudah diampuni. Mulai sekarang, aku rakyat Sora sekaligus prajurit militer Sora. Keren kan? " Itasuke pun mendekat dan mulai berbisik
" Aku juga pemasok senjata Sora sekarang. Kau tidak perlu khawatir soal uang! Aku masih pria yang sangat kaya! "
Yuri dan Itasuke sibuk bercakap-cakap. Tanpa mereka sadari, aura membunuh pekat keluar dari tubuh Yora.
" Ikutlah denganku, Yuri. Di rumahku, kau bisa memulihkan kembali kondisimu! " Itasuke mulai mengandeng tangan Yuri, ia berniat membawa Yuri yang tidak memiliki tempat tinggal untuk tinggal dirumahnya.
Sreshhhhh!
Tiba-tiba, tangan Yora menghentikan pergerakan Yuri. Gadis bermata semerah ruby itu hanya bisa menaikan alisnya - heran.
"Dia akan ikut denganku. " ucap Yora datar, dengan sorot mata menyerankan.
" Tuan Yora, untuk kesembuhan Yuri, tinggal dirumah adalah jalan terbaik. Aku sudah menyiapkan segalanya, kau tidak perlu membawa Yuri dengannu! " Itasuke juga kekeh mengajak Yuri.
Yuri mulai geram. Ia lantas menghempas tangan kedua pria didepannya.
" Cukup! Itu urusanku mau tinggal dengan siapa!
Dengar kalian berdua, berhenti bertengkar dan pergilah! Aku akan tinggal di apartemen Mirai, puas! " Yuri pun beranjak dari sana. Sementara, Yora dan Itasuke hanya diam mematung.
__ADS_1
" Hua! Yuri benar-benar tipeku. Yuri tunggu aku! Aku akan mengantarmu! " Itasuke langsung beranjak menyusul Yuri. Kini, tinggal Yora sendiri.
" Jika Nue sampai muncul, orang yang pertama aku korbankan adalah pria licik itu. Tunggu saja Itasuke! "