
Betuk bulan di langit hampir bulat sempurna, semburat kemerahan di permukaanya bahkan terlihat jelas. Langit malam terlihat gelap mencenkram. Sebuah Negeri yang sebelumnya diliputi cahaya kehidupan, kini terjebak dalam sebuah kukungan kegelapan abadi.
Kolam Teratai cantik yang sebelumnya menghiasi kediaman Pertapa Agung Tora terlihat kering, bunga-bunga Teratai pun tidak bersisa. Musnah seakan termakan jahatnya kekuatan kegelapan. Hal serupa juga terjadi pada hamparan hutan disekeliling bukit, Negeri Yokai kini berubah menjadi hamparan gurun tandus tanpa menyisakan satupun kehidupan.
Di sebuah singasana batu, terlihat siluet pria berambut abu-abu tengah duduk sambil memejamkan matanya. Gyoku mataharinya mengeluarkan semburat sinar merah samar. Pria itu hanya menyandar santai, sambil menopang kepala dengan salah satu tangannya. Ia terlihat begitu tenang, seolah sedang menunggu waktu untuk melancarkan rencana yang selama ini ia susun.
"Kau terlalu lama, Tanuki. Aku hanya memberimu tugas kecil, berani sekali kau membuatku menunggu! " gumam suara berat pria itu. Samar, seutas senyuman terlihat di balik maskernya. Aora atau bisa kita sebut Kurasu, kini mulai membuka kedua matanya.
Seekor tikus hitam berlari kehadapannya. Tikus itu langsung berubah menjadi sosok pria paruh baya dengan lengan kiri yang terpotong. Tanuki langsung menghadap Kurasu sambil membungkuk hormat.
"Maaf sudah membuatmu menunggu, Tuan. Aku harus membereskan beberapa hal sebelum kembali kesini. "
"Kau mendapatkannya? "
Tanuki mengeluarlan sebuah batu berwarna merah pekat. Sinar sihir kuat menyelimuti batu aneh tersebut. Tanuki lantas memberikan batu itu ke Kurasu.
" Sesuai petunjukmu, aku menemukan Batu pilar ke-4 yang bersembunyi di dalam patung Dewi Salju, Tuan. Energi patung yang kuat, telah menyembunyukan batu ini ribuan tahun lamanya. "
" Kerja bagus. "
Kurasu langsung menggapai batu yang menyerupai sebuah kristal ruby itu. Batu pilar ke empat, salah satu dari empat batu pilar kunci untuk membuka segel di kuil Nue. Sama seperti batu pilar yang lain, batu pilar ke empat juga memiliki kekuatan istimewa yang tidak kalah kuat. Sebuah kekuatan yang bisa membuka portal ruang dan waktu.
"Tuan Kurasu, aku pikir ketiga batu pilar kunci sudah berhasil musuh dapatkan. Jika dibiarkan, bukankah kesempatan mereka memperbaharui segel yang rusak bisa berjalan dengan mudah? "
Tanuki mulai merasa khawatir akan rencana tuannya. Bagaimanapun, tiga dari empat batu sudah berada di tangan Mirai. Bagaimana jika hanya dengan ketiga batu itu, Mirai bisa memperbaharui segel di kuil Nue
Mendegar pertanyaan Tanuki, Kurasu hanya tersenyum simpul. Ia kembali menatap pantulan wujudnya di sisa-sisa air kolam Teratai. Wajah Aora terpantul jelas. Hanya saja, tidak ada sorot mata ngatuk khas pria berambut abu-abu itu. Ataupun senyuman khas yang terpancar lewat matanya yang menyipit ketika tersenyum.
"Mirai mungkin sudah memiliki tiga batu pilar yang lain. Tapi, tanpa batu pilar ke empat, semua tidak akan ada artinya. Kau tahu, kekuatan apa saja yang harus Mirai kumpulkan untuk kembali menjeratku? "
Kurasu mulai mengangkat batu di tangannya. Kekuatan kegelapannya membuat warna batu itu berubah merah kehitaman.
" Untuk menyegelku kedalam segel keabadian, keturunan tiga pilar, Aorasu, Yorasu Serta Yuki harus saling terhubung. Kekuatan masing-masing batu pilar sangat diperlukan untuk menggerakan segel yang rumit.
Batu pilar pertama, memiliki kekuatan sihir yang luar bisa banyak dan hampir tidak terbatas. Dengan kekuatan sihir itu, dewi salju mampu menekan jiwaku masuk ke dalam sebuah segel abadi.
__ADS_1
Kekuatan kegelapan yang aku miliki tentu tidak bisa di jerat begitu saja. Untuk itu, kekuatan kehidupan dan penyembuh dari batu pilar ke dua diperlukan.
Dan untuk melemahkan kekuatan sepesial yang diliki Nue. Menyerap jiwa, mengendalikan pikiran serta membentengi diri dengan kekuatan mata iblisku. Dewi Salju memerlukan kekuatan murni dari batu pilar ke tiga. Kekuatan batu itu akan manpu menbutakan dan melumpuhkankanku.
Tapi apa itu semua cukup untuk mengalahkanku? "
Kurasu mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Tanuki. Ia melirik sekilas tangan Tanuki yang terpotong. Gyoku Mataharinya mulai bereaksi. Hanya dengan sebuah jentikan jari, sebuah tangan baru Tanuki dapatkan. Hal itu membuat Tanuki terperanjat, sosok didepannya itu benar-benar tidak bisa disebut manusia. Kurasu, benar-benar sosok iblis yang mampu mewujudkan apapun dengan kekuatan besarnya.
"Inilah kekuatan batu pilar ke empat. Kekuatan bisa mengontrol ruang dan waktu. Bahkan mengembalikan apapun yang hancur sebelumnya. Kecuali sebuah jiwa manusia, batu ini dapat mengembalikan apapun seperti sedia kala!
Tanpa kekuatan batu ini, pintu gerbang segel tidak akan pernah terbuka. Dan pembaruan segel Nue pasti mustahil dilakukan! "
Tanuki mulai menggerakan Tangan kirinya. Tangan yang sempurna. Senyum licik terukir di wajahnya. Tanuki juga nerasakan kekuatan aneh merasuk ke dalam jiwanya. Benar! Kekuatan yang selama ini ia impikan. Tidak menutup kemungkinan, dengan membantu Kurasu, kelak Tanuki bisa saja mewujudkan ambisinya untuk menguasai tiga Negera besar. Tanuki menjadi begitu semangat, menantikan apa yang akan dilakukan Tuannya itu.
"Lalu apa rencanamu, Tuan? Apa sekarang kau berniat menyerang Sora dan merebut batu pilar yang tersisa?! " ucap Tanuki dengan sedikit penekanan.
Kurasu menatap bulan setengah penuh di langit. Belum saatnya baginya untuk bergerak. Kekuatan kegelapan akan meningkat pesat jika bulan purnama merah memancarkan sinarnya. Sedikit lagi, ia hanya perlu menunggu sedikit lebih lama lagi.
"Masih Belum. Aku harus sedikit bersabar dan menunggu beberapa hari lagi untuk bertemu dewi Salju!
......................
Berbanding terbalik, langit malam penuh bintang tampak cantik dilihat dari atas balkon Kantor Desa Sora. Angin malam menyapu lembut, membuat surai panjang Mirai menari mengikuti angin yang membelainya. Sorot mata Mirai tampak menerawang jauh. Seolah tubuh dan pikirannya berada dua tempat yang berbeda.
"Mirai, sedang apa kau disini? "
Yora mulai melangkahkan kakinya menuju Mirai yang masih berdiri melamun. Ia memilih berdiri tepat di samping Mirai, mata sekelam malamnya juga turut menatap lurus kedepan. Hamparan rumah warga di Desa, dengan gemerlap lampu kecil tampak cantik dari atas sana.
" Semua kekacauan ini membuatku sedikit sesak. Sebelumnya aku bahkan tidak tahu dari mana aku berasal. Tapi fakta mengenai identitasku yang terkuak membuatku sedikit terkejut. Sora ternyata adalah rumahku, rumah ayah dan juga ibuku. Aku merasa ini begitu tiba-tiba. Hal itu sedikit sulit aku terima.
Untuk itu aku keluar. Aku hanya ingin menghirup sedikit udara segar, bagaimana denganmu Leader? "
Mirai menoleh ke pria tinggi di sampingnya. Tidak ada yang berubah dari Yora, pria itu masih saja memasang wajah datar khasnya.
" Aku, juga merasakan hal yang sama. Sudah sejak lama semenjak aku meninggalkan desa ini. Banyak yang sudah berubah. Tapi untuk beberapa hal, Sora masih seperti Sora yang aku kenal dulu.
__ADS_1
Aku seakan bisa merasakan, ayah dan ibuku menungguku di tempat ini. " gumam Yora pelan.
Sorot mata dingin khasnya mulai berubah melembut. Desa Sora, mengingatkan kenangan masa kecilnya. Masa dimana ayah dan ibunya masih hidup. Masa dimana Yora begitu menikmati tinggal bersama seluruh anggota keluarga, clan dan bahkan saudaranya, Aora. Momen bahagia yang mungkin tidak dapat ia rasakan untuk kedua kalinya lagi.
Hening.....
Setelah percakapan singkat itu, baik Yora atau Mirai ternggelam dalam pikirannya masing. Hingga, suara Mirai membuyarkan lamunan Yora.
"Leader, apa kau merindukan Aora? "
Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Mirai. Yora melirik wanita yang berdiri tertunduk di sampingnya.
Bahkan jika Mirai tidak mengatakannya, Yora tahu bahwa gadis itu begitu merindukan sosok adiknya itu.
" Bagaimana dengamu, Mirai? " Yora tidak langsung menjawab pertanyaan Mirai. Sebaliknya, ia justru melemparkan pertanyaan itu kembali ke Mirai.
" Aku.... Benar-benar merindukan Aora, Leader. Karena hal itu, aku benar-benar merasakan sesuatu mengganjal di hatiku. Aku harap, Aora bisa kembali ke sisi kita.... "
Yora sedikit terperanjat, tapi ia sudah lebih dulu bersiap dengan jawaban yang di ucapkan Mirai. Yora memang memendam perasaan khusus untuk Mirai. Entah itu cinta antara pria dan wanita atau perasaan ingin melindungi. Perasaan yang selama lebih 10 tahun ia pendam. Perasaan yang mungkin hanya ia seorang yang paham.
Namun, gadis yang selama ini ia kagumi justru menyukai saudaranya. Meski berat, Yora sudah mulai melepas Mirai sepenuhnya. Yora mulai menggapai pundak Mirai. Sedikit menepuk pundak rapuh itu, untuk sekedar memeberi penghiburan.
"Kita, pasti bisa membawa Aora kembali Mirai. Dan aku, akan mewujudkan hal itu. Percayalah padaku..... "
Mendengar hal itu, senyum di wajah Mirai sedikit terangkat. Dalam keadaan ini, ia tidak boleh menyerah begitu saja. Aora pasti bisa diselamatkan. Dan apapun yang terjadi, Mirai harus bisa menyegel Kurasu kembali.
" Kau benar Leader, kita tidak bisa menyerah begitu saja! Aora, pasti menunggu kita. "
Yora mulai mengeluarkan sebuah surat dari sakunya. Sebelum menuju ke balkon, Ten menitipkan sepucuk surat yang ditulis Zen untuk Mirai.
" Mirai, tadi Ten menitipkan sepucuk surat untukmu. Aku rasa, surat ini ditulis ketua Zen sebelum ia meninggal. "
Mirai menerima surat itu, lantas mulai membacanya. Manik lavender Mirai membulat sempurna. Sesuatu yang mengejutkan pasti tertulis di sana.
" Ada apa Mirai? "
__ADS_1
" I- ini... "