
Bumi masih diliputi kegelapan. Seluruh umat manusia di Negeri sihir, terkurung dalam belenggu kegelapan, sementara tubuh mereka berubah menjadi patung batu. Matahari hampir mendapat sinarnya kembali, sihir hitam yang menutup cahayanya mulai menghilang sejalan dengan kalahnya Kurasu. Itu artinya, janji yang terjalin antara Aorasu dan Aora sudah hampir berakhir.
Sebuah portal sihir tercipta di tengah medan perang. Dari dalam portal itu, muncul sosok pria tinggi tegap dengan surai keperakan yang terhempas angin pelan. Ribuan patung batu menyambutnya.
Aora menatap nanar sekelilingnya, di antara deretan patung-patung berbentuk manusia itu, ia juga melihat sosok teman-temannya. Ten dan Rou, bahkan dari posisi mereka sebelum berubah menjadi patung batu, mereka masih berjuang melawan prajurit Yurei. Semenjak manusia berubah menjadi batu, Yurei kehilangan sihirnya dan berubah kembali menjadi prajurit mati. Oleh sebab itu, medan perang yang sebelumnya mencengkram, berubah hening seketika.
Tangan Aora mengepal kuat. Ia kembali melanjutkan langkahnya dengan berat. Melihat teman-temannya berubah menjadi patung batu, membuat dada Aora sesak.
" Teman-teman, tunggulah. Aku akan menyelamatkan kalian semua." gumam Aora
Aora menghampir Mirai, gadis itu masih berlutut di posisi sama seperti sebelumnya.
Energi kegelapan Nue masih menyelimuti tubuhnya. Mirai hampir mencapai batas, untuk mempertahankan makhluk kegelapan itu agar tetap tersegel di tubuhnya. Kekuatan Nue yang besar mulai mengalahkan kekuatan kehidupan di tubuh Mirai. Namun, ada satu hal yang berhasil membuat Alis Aora terangkat heran, samar ia melihat seulas senyum tipis terukir di wajah Mirai. Gadis itu terlihat bahagia, entah apa yang ia lihat dalam mimpi panjangnya itu.
"Aku penasaran, apa yang kau rasakan di dalam sana, sehingga kau tersenyum seperti itu, Mirai? "
Aora mulai berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Mirai. Dengan lembut, ia mengelus wajah pucat Mirai. Menyibak rambut hitam yang menhalangi wajah cantinya. Kedua sorot mata gadis itu masih kosong dengan iris merah darah menyaramkan, itu artinya Mirai masih belum kembali dari perjalanan jauhnya - Jiwa dan tubuhnya belum bersatu karena pengaruh Nue-
Gumpalan kabut putih mengulum keluar dari gyoku Aora. Dari dalam kabut, sosok Aorasu kembali muncul, ia berdiri tepat disisi Aora.
"Perjanjian kita akan segera habis, kita harus segera mengakhiri semua sebelum matahari menampakkan cahayanya. "
" Aku mengerti. " ucap Aora tanpa beralih dari wajah Mirai.
"Kau sudah berhasil mengalahkan Kurasu. Kini saatnya kau memusnahkan Nue untuk selama-lamanya. Musnahnya Nue, akan membawa kembali jiwa-jiwa manusia yang ia hisap ke tubuh mereka." Aorasu menatap sosok yang sangat mirip dewi Salju didepannya. Tatapannya kini terfokus pada simbol kristal di dahi Mirai.
"Gadis reinkarnasi Dewi Salju itu, memiliki pedang kehidupan di tangannya. Yang harus kau lakukan, hanyalah menebas tubuh Mirai bersama dengan jiwa Nue didalamnya. "
Aorasu mengangkat tangannya. Tanda kristal di dahi Mirai mulai merespon sihir Aorasu. Dari dalam simbol itu, munculah sebilah pedang tumpul. Pedang itu adalah pedang milik Dewi Salju yang diberikan kepada Mirai oleh pertapa agung Tora.
Aora menatap lakat pedang berbilah sedang didepannya. Pedang yang diciptakan bukan untuk tujuan membunuh, melainkan untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Pedang yang konon bisa memilih sendiri siapa orang yang bisa ia lukai itu mengeluarkan cahaya kehidupan yang pekat.
Tanpa mengatakan sepatah kata. Aora mengaktifkan Gyokunya, lalu ia tempelkan telapak tangannya ke kening Mirai. Hal itu membuat Aorasu terkejut. Ia heran, alih-alih menebas tubuh Mirai, Aora memilih memindahkan jiwa Nue dari tubuh Mirai, untuk disegel ke dalam tubuhnya sendiri.
"Jadi inilah keputusan yang kau pilih, Aora. " Aorasu mengerti akan keputusan sulit yang diambil Aora.
"Kau yakin, akan memgorbankan dirimu sendiri? " ucap Aorasu meyakinkan Aora kembali. Meski ia tahu, keputusan yang diambil Aora sudah bulat.
" Sejak awal aku tidak pernah menimbang keputusan apapun. Perjanjian kehidupan antara kau dan aku, bagaikan sebuah keajaiban di tengah rasa putus asaku.
__ADS_1
Aku juga sudah berjanji, akan menyelamatkan semua teman-temanku. Dan melindungi wanita yang aku cintai. " ucap Aora mantap sambil memandang wajah Mirai. Seulas senyum terukir di wajahnya.
" Aku tidak akan pernah menyesali keputusan yang aku ambil saat ini. "
Aora memutuskan mengorbankan dirinya, untuk membebaskan umat manusia dan juga wanita yang ia cintai. Sihir kegelapan di tubuh Mirai, mulai menjalar ke tubuh Aora. Dengan begitu, Tubuh Aora menjadi wadah baru dimana Nue tersegel.
" Ini adalah bantuan terakhirku, Aora. Aku mengirimkan sedikit kekuatanku, agar kau tetap mendapat kesadaranmu, meski Nue tersegel di dalam tubuhmu. " Aorasu mengirimkan sedikit kekuatannya ke Aora.
" Terima kasih, atas bantuanmu. "
......................
Sementara itu, Yukio menyadari apa yang tengah terjadi di luar sana (dunia nyata) . Alasan ia menemui jiwa Mirai, adalah untuk memperlambat Nue mengambil alih tubuh Mirai. Ia tahu, Mirai juga memiliki batas untuk menanggung siksaan dari kekuatan kegelapan Nue. Untuk itu, Yukio menggunakan kekuatan terakhirnya untuk memperlambat proses itu.
"Ibu, kenapa kau diam saja? " Mirai menyadari, pikiran Yukio teralihkan. Mirai hanya menatap bingung ke arah sang ibu.
Yukio segera menggapai tangan Mirai, dan mengenggammnya erat.
" Mirai, waktu kita tinggal sedikit lagi. Meski ini berat, kau harus kembali pada tubuhmu. "
" Apa maksud ibu kembali? Aku pikir, kita akan terus bersama di tempat ini. Meski itu berarti, kematian sudah menghampiriku. "
Mirai pikir ia sudah mati. Karena itu, ia bisa bertemu dengan jiwa ibunya di alam keabadian. Menjawab hal itu, Yukio hanya menggeleng pelan.
Mirai memegang erat tangan ibunya, sambil menggelengkan kepalanya cepat. Jujur, ia tidak ingin berpisah dengan ibunya.
" Tidak, ibu. Jangan pergi, tetaplah disini bersamaku! " Air mata kembali membasahi pipi Mirai.
Hal itu membuat hati Yukio semakin pedih. Ia sadar, meninggalkan Mirai dengan cara seperti ini juga akan membuat perasaan putrinya terluka. Tapi tetap saja, dunia orang hidup dan dunia orang mati jauh berbeda. Surga hanya diberikan waktu sekejap untuk menolong putrinya, dan Yukio bersyukur atas anugrah itu.
Dengan lembut, Yukio berusaha memberi Mirai pengertian.
"Mirai, dengarkan ibu. Ibu tahu kau adalah anak yang kuat. Meski kau tidak menyadarinya selama ini, jiwa ibu selalu berada disisimu dan menjagamu. Ibu selalu hadir sebagai kupu-kupu kecil di sisimu. Melihatmu tumbuh besar, meski ibu tidak bisa menyentuh dan bertemu denganmu.
Kau sudah melewati berbagai macam penderitaan. Ibu tahu semua itu. Meski kau terlihat kuat di luar, ibu tahu kau selalu menangis dalam diam.
Tapi ibu percaya padamu, putri ibu bisa melewati semua rintangan itu. Kau adalah Mirai. Masa depan cerah ibu... "
Seperti kata Yukio, ia selalu ada disisi Mirai tanpa putrinya sadari. Melihat Mirai tumbuh sebagai cahaya. Bermain bersama Mirai kecil sebagai kupu-kupu cantik di tengah hamparan bunga.
__ADS_1
Di kala Mirai sedih, ia akan muncul menghibur Mirai dengan pesonanya. Oleh sebab itu, Mirai sangat menyukai kupu-kupu sejak kecil.
Meski tubuhnya mati, Jiwa seorang ibu akan selalu berada disisi anaknya. Mengawasinya dalam diam dan memastikan buah hatinya baik-baik saja. Itulah kasih ibu yang tidak pernah lekang oleh ruang dan waktu, bahkan ketika maut memisahkannya dari buah hati tercintanya.
Yukio memeluk tubuh Mirai erat. Cahaya putih mulai mengaburkan tubuhnya. Batas kekuatannya untuk menekan kekuatan Nue sudah berakhir. Ini artinya, waktunya bersama Mirai sudah habis.
"Kau belum mati Mirai, belum saatnya kau pergi ketempat ibu berada. Ayah dan ibu, akan selalu mengawasimu dari atas sana. Kau tidak pernah sendirian, Mirai.
Sama seperti kami. Seseorang yang kau hargai diluar sana, berusaha menyelamatkanmu dengan segala upayanya. Ibu harap, kau bisa berjuang hingga titik terakhir.
Pastikan kau menyelamatkan orang-orang, dan memberikan masa depan yang cerah untuk mereka. Seperti arti namamu.... "
Mirai menguatkan dirinya, dan mencoba melakukan semua yang ibunya minta. Seperti kata ibunya, ia telah melewati banyak rintangan berat. Ia sudah tumbuh menjadi sosok yang kuat dan tegar.
" Baiklah... Ibu... "
Untuk terakhir kalinya, Yukio mengelus pucuk kepala Mirai. Tubuhnya perlahan menghilang. Meski sekejap ia begitu menikmati bercakap ria dengan sang putri. Melihat Mirai tersenyum dan memeluk tubuhnya erat.
Hal yang seharusnya sering dilakukan oleh ibu-ibu di luar sana, tapi bagi Yukio ini adalah pengalaman pertama serta terakhir kalinya.
"Maafkan ibu dan ayahmu, tidak bisa menjadi sosok yang selalu ada disisimu, Mirai. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan pada putri ibu....
Ibu harap kau hidup dengan bahagia. Bertemu orang-orang baik yang selalu ada untukmu. Meski kami tidak berada di sampingmu, kau sudah tumbuh menjadi wanita yang hebat melebihi Ibu.
Ibu menyayangimu, Putriku.... "
Mirai merasakan, tubuh di pelukannya mulai memudar. Meski air mata terus mengalir membasahi pipinya, Mirai berusaha tersenyum. Setidaknya, hal itu yang bisa tujukan pada sang ibu untuk terakhir kalinya.
" Aku berjanji, akan hidup dengan baik. Aku bersyukur terlahir sebagai putri ayah dan ibu. Aku juga menyayagimu, Ibu... "
Yukio melepaskan pelukannya, sebelum benar-benar mengilang. Ia ingin melihat wajah tersenyum putrinya untuk terakhir kalinya.
" Mulai saat ini, jalan yang kau tempuh akan sangat berat. Seberat apapun itu, ibu mohon bertahanlah...... Mirai... "
Yukio akhirnya benar-benar lenyap. Samar, Mirai mendengar seseorang memanggil namanya.
" Mirai.... "
" Mirai.. "
__ADS_1
Mirai mulai mengerjapkan matanya, ia merasakan jiwanya sudah kembali ke tubuhnya. Nafas Mirai beradu, hal yang pertama ia lihat ketika membuka kedua matanya adalah wajah tampan Aora yang satlrat akan raut khawatir.
" A-aora? "