
Hempasan badai tipis membuat surai seputih salju menari lembut. Sesosok pria berbadan tegap, menatap jauh sebuah gunung kelam yang berdiri kokoh dihadapannya. Sudut bibirnya terangkat, sementara mata merah kecoklatannya mulai menyapu keadaan sekitarnya.
"Tidak aku sangka, aku melihat salju turun di Negeri Yokai. Dewi salju, rupanya kau benar-benar telah mengunjungi tempat ini. " ucap Kurasu pelan.
Rupanya, pria berparas dingin itu tidak hanya berdiri sambil menatap hamparan pemandangan malam bersalju di Negeri para Yokai. Ia mengangkat tangannya yang penuh dengan noda darah, sambil melirik tubuh tak bernyawa para prajurit Yokai yang telah ia bunuh. Kurasu menarik nafas pelan, sambil memejamkan matanya ia seakan menikmati bau amis darah yang memenuhi tempat itu.
"Hmmm.... Tampaknya wadahku sudah mulai menunjukan kekuatan sejatinya. Bagus Aora, dengan amarah yang memenuhi dirimu. Kekuatan milikku, sudah sepenuhnya bangkit dan menguasai jiwamu! "
Kurasu Mulai melangkahkan kakinya, bercak darah Yokai membuat sepanjang jalan yang ia lewati berubah. Salju yang selama ini terlihat begitu putih, kini berubah menjadi merah. Kurasu kembali mengaktifkan kekuatan sihir kegelapan miliknya, ia bergumam pelan, seolah mampu berkomunikasi dengan Aora - wadahnya-
" Sekarang Aora! Kau cukup 'nikmati' makanan yang tersaji di depanmu. Lalu, datanglah padaku! " gumam Kurasu penuh arti.
......................
Teg!
Aora dengan pandangan kosong, menatap medan pertempuran didepannya. Jauh di ujung sana, Akuma masih tertatih dan mencoba bangkit berdiri.
Serangan telak yang dilontarkan Aora, nyatanya tidak dapat ia bendung dan berujung membuat tubuhnya mengalami cidera yang fatal. Meskipun Akuma memiliki perlindungan Armor yang ia ektrak dari Clan Matahari - Lewat obat-, nyatanya kekuatan itu tidak sebanding dengan kekuatan Aora sang pewaris langsung kekuatan Clan Matahari.
Sementara itu, Yora yang masih terkejut dengan serangan Aora, meskipun ia tahu saudaranya berusaha melindunginya, nanun Yora mulai merasakan keanehan didiri saudaranya.
"B-bagaimana mungkin, Aora mampu menandingi kekuatan sebesar itu?" ucap Yuri tidak percaya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan kekuatan besar Akuma yang menargetkan ia dan Yora di hadang Aora.
Yora terdiam sejenak. Lalu ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pelan tangan Yuri yang masih sibuk mentransfer kekuatan penyembuhan
"Sudah cukup Yuri. Kenkou milikmu sudah sedikit memulihkan tubuhku. Kau tetaplah disini, aku harus memastikan sesuatu lebih dulu! "
Tanpa menantikan jawaban Yuri, Yora mulai beranjak dan menghilang di dalam kerumunan gagak sihir miliknya. Tak berselang lama, ia kembali muncul tepat di samping Aora.
" Aora, ada apa denganmu?! " gumam Yora sambil menepuk bahu Aora.
Namun, pria bermabut abu-abu itu bahkan tidak menjawab pertanyaan Yora.
Aora masih diam mematung. Seolah jiwanya sedang dikendalikan, Aora mulai melangkah maju, tanpa menghiraukan pertanyaan Yora
" Aora! " Yora menggapai lengan Aora, berharap saudaranya mau menjelaskan apa yang terjadi.
Sreshhhhh!
" Menyingkir dari hadapanku! Sebelum aku membunuhmu! " ucap Aora dingin sambil menghempas keras tangan Yora.
" Kau- " Suara Yora tercekat. Sepertinya ketakutannya selama ini memang benar terjadi. Aora sudah dikendalikan.
Dengan sorot mata bergetar, ia melihat ke arah dada Aora. Benar saja, segel Clan Bulan yang ia pasang sudah lenyap. Mungkinkah saat ini Tubuh Aora sudah dikuasai sepenuhnya!
Aora mulai menujukan sisi kegelapan milik ya. Sihir hitam pekat mulai menghiasi tubuhnya. Sambil berjalan ke arah Akuma, Aora menghunuskan pedang Shiroi dengan petir hitam miliknya.
"Aora sadarlah! " Yora hendak menyusul langkah saudaranya, namun tubuhnya tiba-tiba tidak mau menuruti kehendaknya.
" Kenapa? Tubuhku kaku seperti ini? "
Yora tidak bisa berbuat apapun, dalam situasi ini tubuhnya sekaan mebatu. Yora merasakan kekuatan kegelapan yang dikeluarkan tubuh saudaranya, membuatnya tidak bisa berkutik. Yora seolah terjerat oleh sihir aneh yang membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya
__ADS_1
Akuma mulai bangkit berdiri. Ia merasakan aura membunuh yang kuat keluar dari dalam diri Aora. Pria itu masih belum menyerah, dengan sisa kekuatannya ia mencoba menciptakan bola api raksasa dengan sihirnya
"Aku tidak akan mati semudah itu! " geramnya
Ratusan bola api berputar mengelilinginya. Hanya dengan hentakan tangan, Akuma memerintahkan agar bola-bola api sihir miliknya menyerang Aora. Bola-bola api itu melesat cepat, bergelumul dan menargetkan Aora yang masih berjalan tenang di depan sana.
Namun, belum sempat bola api itu menyentuh Aora. Pria berambut abu-abu dengan tatapan kosong itu kembali dilapisi Armor pelindung ciptaanya, yang membuatnya tidak tersentuh serangan Akuma sedikitpun. Aora melontarkan bola api cipta Akuma ke sembarang tempat. Serangan Akuma tidak berguna sama sekali dihadapan Aora
Akuma hendak mengaktifkan gyoku di tangannya, namun sayang kekuatannya sudah terkuras habis. Meski menggunakan Jigoku sebagai tumbal, nyatanya kekuatan yang ia miliki belum cukup untuk menandingi Aora.
"Sial! Kekuatanku sudah mencapai batas akhir! " Di tengah rasa frustrasi Akuma, tanpa ia sadari Aora sudah berada tepat di depannya.
Sreshhhhh!
Dak!
Aora mencengkram leher Akuma, membuat kaki pria itu hampir tidak menyentuh tanah. Dengan tatapan kosong yang terkesan menyeramkan, mata merah kehitaman Aora menatap Akuma tajam. Pria berambut putih itu hanya bisa menggeliat menahan cengkraman di lehernya. Tangannya mulai berontak, sambil berusaha memukul cengkraman Aora dengan sisa tanaganya.
Dari balik masker, Aora tersenyum sinis. Ia seakan menikmati rasa sakit yang dirasakan Akuma.
Sementara itu, Yora kembali mendapatkan dirinya lagi. Aura kekuatan yang keluar dari tubub Aora membuat Yora terjebak sejenak. Ia sadar, sihir kegelapan Aora yang membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya. Setelah mengatasi itu semua, Yora akhirnya mampu meloloskan diri dan mulai menyusul Aora
"Aora hentikan! Kegelapan mengusai tubuhmu. Jika kau membunuh Akuma dan mengikuti amarahmu! Kau akan berakhir dikuasai Kurasu!
Aora! Kau mendengarku! Aku yakin kau masih di dalam sana! " teriak Yora. Ia segera bergegas untuk menghentikan Aora untuk membunuh Akuma. Namun, belum sempat Yora mendekat, Aora menghempas tubuh Yora dengan kekuatan sihirnya.
Tubub Yora terhempas keras, dan berakhir menabrak reruntuhan bangunan. Aora kembali melirik ke arah Yora tajam, sambil bergumam pelan
"Aku sudah memperingatimu! Jangan menghalangiku, atau aku akan membunuhmu! "
Aora tidak membunuh Akuma sekaligus. Tepat setelah pria itu sekarat kehabisan energi, Aora menghembaskan tubuhnya ke tanah. Nafas Akuma mulai memendek, namun ia masih memiliki kesadarannya. Dengan mata yang mulai mengabur, Akuma melihat sendiri, tepat dihadapannya Aora mengankat pedang Shiroi dan hendak membidik jantungnya.
"Aora! Hentikan! Aku mohon! "
Tepat ketika Aora hendak menebas dada Akuma, teriakan Yora kembali terdengar.
De javu.
Mungkin itulah istilah yang menggambarkan situasi antara Yora dan Aora. Kejadian ini sama persis yang terjadi ketika insiden pembantaian Clan 15 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, jiwa Aora sepenuhnya di kendalikan, sementara Yora berusaha menghentikannya.
"Jangan Aora! Jangan membunuhnya! Begitu kau mengotori tangamu dengan darahnya! Jiwamu akan sepernuhnya terkunci, dan tubuhmu akan dikendalikan! Aku mohon! Kau pasti mendengarku dari dalam sana! " ucap Yora ririh
Aora terdiam sejenak, ia seolah mendengar ucapan Yora. Aora sempat menghentikan aksinya dan mulai menurunkan pedangnya. Hal itu membuat Yora sedikit lega.
" Bagus! Aora! Kendalikan dirimu! " ucap Yora sambil mencoba mendekat. Meski tertatih, ia mencoba sebaik mungkin untuk menenangkan Aora.
Namun,
Brassss!
Tepat didepan Yora, Aora menebas dada Akuma tanpa ampun. Darah segar muncrat memenuhi wajah Aora. Begitupun tubuh Yora.
" Aora! Kau- " ucap Yora tidak percaya.
__ADS_1
Aora tidak bergeming sedikit pun, sambil mengaktifkan Gyokunya, kabut hitam pekat tercipta. Ia pun menghilang di tengah kabut hitam ciptaanya dan meninggalkan Yora yang masih diam mematung.
...----------------...
Epilogue : Sehari sebelum penyusupan ke markas Cops Awan Merah
Angin berhembus pelan. Obak di pasir putih pulau Hemi tampak berkilau terkena cahaya keemasan sang mentari yang akan jatuh keperaduannya.
"Yora! Sedang apa kau disini? Jangan bilang kau khawatir mengenai misi penyusupan itu?! " Aora berjalan menghampiri Yora yang duduk di tepi pantai. Aora memilih duduk di samping Yora. Sudah lama rasanya ia tidak menikmati waktu dengan saudara kembarnya itu.
" Bukan begitu. " ucap Yora pelan. Mata sekelam malam milinya masih sibuk menatap pemandangan cantik didepannya.
" Lalu, apa yang kau pikirkan? "
Mata merah kecoklatan Aora turut menerawang hamparan laut didepannya
" Kau! Aku memikirkan satu-satunya saudara yang aku miliki di dunia ini! "
Aora tersenyum pelan. Ia menyadari, Yora tidak berubah sama sekali.
" Aku pikir, kau sudah berubah banyak setalah meninggalkan desa dan mengorbankan dirimu untuk di cap sebagai penjahat. Tapi Yora! Kau tidak berubah sesikit pun. Kau masih saja menghkawatirkan orang lain dibanding dirimu sendiri. " suara Aora mulai melembut. Sambil menundukan kepala, ia seakan menyesal telah membuat Yora menjalani hidup di tengah bayangan karena dirinya.
" Maafkan aku. " ucap Aora ririh
" Apa maksudmu? Kenapa kau meminta maaf?kau tidak salah sama sekali! Sudah tugasku sebagai seorang kakak untuk melakukan itu semua. "
"Apa maksudmu kakak! Selisih kelahiran kita hanya dua menit!" kekeh Aora.
Namun, seketika itu raut wajah Aora kembali diliputi penyesalan.
" Tapi tetap saja, kau mengorbankan hidupmu untukku! Kau harus menjalani hidupmu dalam perasangka buruk orang-orang. Sebagai buronan yang menghabisi Clannya sendiri.
Tapi dengan bodohnya, aku membencimu dan bahkan berniat membunuhmu! Aku bahkan tidak tahu, akulah penyebab kejadian mengerikan itu! " suara Aora mulai bergetar.
" Aora. " Yora tidak tahu harus mengatakan apa.
Alasan Yora ingin menangung semua sendirian, kini tercermin di wajah Aora saat ini. Yang paling ia takuti adalah Aora menyalahkan dirinya sendiri. Sama seperti sekarang ini.
" Tapi! " Aora kembali mengakat kepalanya. Kali ini, ia menatap lurus manik hitam Yora.
" Meski ini terdengar keterlaluan dan terkesan tidak tahu malu. Tapi, Aku akan tetap mengatakannya. Aku ingin meminta bantuanmu untuk pertama dan terakhir kalinya.
Yora! Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku! " ucap Aora mantap
" Apa maksudmu? Bantuan? Tentu saja, apapun itu selagi aku mampu melakukannya! "
" Kau berjanji? " Aora mengulurkan kelingkingnya.
" Berhenti melakukan hal kekanakan seperti itu. Baiklah aku berjanji! Apapun permintaanmu akan aku kabulkan! "
" Cih! Kau bahkan tidak mau membuat janji kelingking denganku. Baiklah! Kau sudah setuju akan mengabulkan permohonanku! "
Aora tersenyum pelan. Ia menatap matahari yang hampir tertelan cakrawala di ujung sana. Angin berhembus pelan, menyapu dua surai yang memiliki warna kontras itu. Suara deburan ombak pelan, membuat keheningan antara Yora dan Aora tampak begitu jelas. Yora menantikan ucapan Aora, sebenarnya apa yang ingin diminta saudaranya itu darinya
__ADS_1
"Aku harap kau lah yang akan menghentikanku. Kapanpun aku kehilangan diriku, aku ingin saudaraku yang menghentikanku menyakiti orang-orang disekelilingku. Meski harus menbunuhku, aku ingin kau menghentikanku jika waktunya tiba.
Berjanjilah padaku, Kau akan melakukannya Yora! "