
Suara langkah kaki seseorang bergema di ruang bawah tanah Markas Cops Merah. Pria bertopeng hewan itu kini mendekati dua penjaga markas Cops Merah, seorang penjaga yang cukup muda dilihat dari fisiknya
"Siapa kau? " ucap penjaga yang terlihat masih kecil itu. Ia dengan sigap menghalangi pria bertopeng itu
" Tunggu! biarkan dia lewat! " ucap Seseorang yang memakai topeng berbentuk dewa kematian. Ia pun meberikan akses untuk pria bertopeng kucing lewat
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan Muda Ten? " ucap Pria bertopeng itu. Ten melepas topeng kucing yang menutupi wajahnya. Sekilas ia melirik prajurit muda didepannya
"Aku hanya ingin menemui ketua kalian! " Ucap Ten. Kali ini senyum hangatnya hilang, hanya wajah datar yang diperlihatkan Ten
"Ketua sedang ada urusan, jika ada sesuatu aku bisa menyampaikannya langsung"
"Tidak uasah, aku bisa sendiri" ucap Ten sambil berjalan melewati penjaga tadi. Di tengah perjalanan menuju ruang Tanuki, Ten tersenyum kecut mendapati prajurit muda yang baru merusia belasan tahun itu terseret kedalam lubang kegelapan yang dibuat Tanuki
"Bahkan dia masih memanfaatkan anak kecil, demi kepentingan untuk memenuhi keserakahannnya! " Ten pun berlalu dari sana
Si penjaga mulai penasaran tentang sosok Ten, lalu ia bertanya kepada seniornya itu
"Siapa dia senior? "
" Dia adalah putra satu-satunya Tuan Tanuki, dia digadang sebagai penerus Cops Merah. Meski identitasnya di rahasiakan terhadap Desa. Tapi bagi Cops Merah, dia adalah Tuan kita" ucap sang Kapten
......................
Tanuki berjalan menuju ruangannya. Ia terkejut, ketika membuka ruangannya, sosok familiar sedang menunggunya.
"Kau jadi sering berkunjung, Ten. " ucap Tanuki sambil berjalan menuju Meja kerjanya. Ten mendekati ayahnya tersebut, lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat
"Ini..... Hasil penyelidikan kasus Di Desa Fuu, aku serahkan padamu. Sisanya kau bisa urus sendiri masalah yang kau timbulkan! " Melihat amplop coklat yang diberikan putranya, Tanuki tersenyum puas
"Sudah aku duga, aku bisa mengandalkan putraku. Berada di sisi Zen, tampaknya kepercayaan terhadapmu sudah besar! " ucap Tanuki puas. Tanoa menghiraukan ucapan Tanuki, Ten mulai meninggalkan ruangan itu. Sebelum ia membuka pintu, ia berbalik menatap Ayahnya
"Kau cukup pegang janjimu, jangan sentuh Yume. Dan juga..... Bagaimana bisa, orang sepertimu memiliki sahabat sehebat ketua Zen? " ucap Ten sambil meninggalkan tempat itu
"Terkadang kau harus siap menikam sahabatmu sendiri demi tujuanmu. Mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan tujuanmu. Itulah yang aku ajarkan padamu, sebagai ayahmu" ucap Tanuki bergumam sendiri.
......................
Malam mulai menghiasi langit di desa Hoshi. Mirai mencoba keluar dari kamarnya, ia hendak mencari udara segar sekaligus menikmati pemandangan malam Desa Hoshi yang cantik
Kebetulan Aora juga keluar dari kamarnya, sesaat pandangan mereka bertemu. Aora nampak mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Jujur, Aora tidak tahu harus memulai pembicaraan dengan Mirai dari mana. Ia tahu sikapnya tadi terlalu tergesa-gesa. Mungkin saja Mirai merasa tidak enak akan pengakuan tiba-tiba Aora. Hal itu akan membuat suasana canggung diantara mereka
"Emmm.... Soal tadi siang....... " Mirai langsung menyela perkataan Aora
" Tadi siang kau terlalu mabuk Aora, hingga pikiranmu kacau! Aku anggap, aku tidak mendengarkan apapun tadi! "
__ADS_1
Aora hanya mengiyakan Mirai, baginya terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaannya sekarang. Apalagi di tengah misi penting seperti ini. Sesaat Shiyuu memecah keheningan diantara mereka berdua
"Kalian disini rupanya, kebetulan aku lapar. Bagaimana kalau kita cari makanan dulu? " ucap Shiyu. Kedatangan Shiyuu akhirnya memecah kecanggungan antara Mirai dan Aora. Mereka pituskan keluar dari penginapan mereka
Di Loby penginapan, tampak seorang pria berambut biru pucat tengah menunggu mereka. Orang itu adalah Hotaru. Sudah sejak lama ia menunggu kedatangan Mirai dan yang lain
Dengan beberapa orang penjaga, Hotaru menyapa Mirai dan rombongannya
"Selamat datang di Negeri Hoshi. Maafkan aku tidak bisa menyambut kedatangan kalian" ucapnya Sopan. Sebagai kapten Shiyuu pun membalas sapaan Hotaru
"Hallo tuan Hotaru, senang bisa bertemu anda" balas Shiyuu sambil membungkuk
"Untuk sekarang tidak usah Formal padaku. Di sini aku hanya seorang teman yang menyambut kedatangan kalian di rumahku." Pandangan Hotaru kini tertuju apada Mirai dan Aora
"Aora dan Mirai bagaimana kabar kalian? "
" Kami dalam keadaan baik" ucap keduanya kompak. Hotaru berbalik ke belakang, ia berbicara dengan 3 orang pengawalnya
"Sekarang aku akan pergi dengan temanku, kalian bisa mengawasiku dari jauh! " ucapnya. Pengawal bertudung itu pun langsung menghilang dari tempat itu. Setelah semua pengawalnya pergi, Hotaru pun menunjukkan alasannya menghampiri utusan Sora
"Baiklah! Akan aku tunjukkan Desa Hoshi pada kalian" Ucap Hotaru
Mereka pun menyusuri kota megah yang dikenal sebagai pusat Desa Hoshi. Tidak berbeda dengan Desa Sora, Desa cantik itu nampak ramai, terlebih di malam hari. Warga desa menyapa Hotaru yang lewat, mereka dengan hangat memberi salam sambil menunjukkan rasa hormat kepada pemimpin mudanya
"Selamat malam" balas Hotaru sambil terus tersenyum ramah. Aora, Shiyu dan Mirai memperhatikan keramahan pemimpin Negeri Hoshi tersebut. Tidak mereka sangka, dibalik tamoilan Hotaru yang kaku, ia ternyata pemimpin yang ramah terhadap rakyatnya
"Kau sangat di hormati oleh wargamu, tuan" ucap Shiyuu
"Bagiku, mereka adalah Keluargaku sendiri. Sidah sepantasnya berlaku hangat oada anggota keluarga kita, bukan? " balas Hotaru sambil berjalan menuju sebuah gedung restoran megah di ujung jalan
"Aku akan membawa kalian ke salah satu restoran mewah di sini. Aku ingin menjamu kalian yang datang dari jauh"
Mirai memperhatikan sekeliling tempat itu, ada salah satu tempat yang membuatnya tertarik. Sebuah kedai Shusi kecil dengan pelanggan yang cukup banyak. Ia pun menghentikan Hotaru untuk masuk ke retoran mewah itu
"Dari pada kau mengajak kami ke restoran yang formal dan membosankan. Bagaimana kalau kau teraktir kami di sana? " ucap Mirai sambil menunjuk kedai itu. Tatapan Hotaru sedikit ragu, melihat hal itu Shiyuu langsung menyadarkan Mirai agar menerima apapun yang ditawarkan Hotaru. Terlebih ia bukan orang biasa ditempat ini. Tentu sangat tidak sopan berbuat semaunya
"Mungki tempat itu, terlalu ramai buat Tuan Hotaru Mirai. Dia munkin tidak nyaman. Sebaiknya kita turuti kemana perginya, hm? "
"Aku tamu di sini, kau seharunya menuruti keinginan tamumu kan, Hotaru? " ucap Mirai sambil menuju kedai itu.
Tatapan Shiyuu dan Aora nampak cemas. Mereka secara kompak menatap Hotaru. Hotaru hanya bisa memasang senyuman dengan tampang 'Apa boleh buat'
Kedai Sushi yang ramai, semua tatapan pengunjung kini tertuju pada sosok pemimpin desa Mereka yang tiba-tiba berkunjung.
Dengan pelayanan istimewa sang pemilik, Mereka dapat menikmati hidangan laut segar berupa Sushi dan Sasimi yang banyak dan beragam. Mirai dengan lahap memakan makanan enak di depannya, lain halnya dengan Aora dan Shiyuu yang memasang muka tidak enak ke pemimpin Muda di depannya.
__ADS_1
Semenyara Hotaru, hanya bisa memandangi makanan di depannya tanpa menyentuhnya. Mirai mengambil sepotong Sushi Tuna, ia celupkan ke saus Suyu dan memberikannya ke Hotaru
"Maaf Mirai. Aku tidak suka sama masakan Laut, terutama Ikan mentah! " Hotaru berusaha menolak tawaran Mirai
"Makanlah! Dan habiskan! " ucap Mirai sambil menyodorkan sushi itu, bahkan ia menyuapi Hotaru. Melihat perlakuan Mirai. Aora, dia hanya memasang muka masam. Hotaru terus menggelengkan kepalanya, ia menolak Suapan dari Mirai
"Cepat makan Hotaru! atau aku sendiri yang akan memasukkan ikan hidup ke mulutmu! " ucap Mirai dengan tatapan Horor. Mau tidak mau, Hotaru membuka mulutnya. Menerima suapan dari Mirai dan menelannya paksa
"Setidaknya, makanan ini baik untuk Jantungmu. Makanlah cepat, tanganku mulai pegal karena kau menolak suapanku. Sama sepertimu aku pun tidak suka makanan mentah seperti ini. Tapi ini makanan bergizi, terutama untukmu! "
Hotaru tertegun, Mirai bahkan memakan makanan yang tidak ia sukai, demi membuat Hotaru memakannya
Hotaru mulai membuka mulutnya, ia menerima suapan kedua yang Mirai tawarkan padanya. Tentu pemandangan itu mejadi perhatian panas bagi warga di sana.
Aora kini di tahap cemburu yang luar biasa, ingin rasanya ia menarik keluar Mirai dari sana. Bahkan Ia iri dengan Hotaru.
"Bagus..... Makanlah yang banyak! " Mirai mulai menaruh lebih banyak lagi Sushi di Piring Hotaru. Meski dengan berat, Hotaru kembali memakan Sushi itu.
Mereka pun menghabiskan waktu dengan menikmati suasana malam di Desa Hoshi
"Sampai jumpa lagi, besok kalian akan di jemput oleh salah seorang utusanku menuju rumahku. Di sanalah pertemuan akan berlangsung" ucap Hotaru yang hendak berpisah dnegan rombongan Mirai
"Baiklah Tuan Hotaru, Terima kasih atas semua untuk hari ini" ucap Shiyuu sambil membungkuk
"Tidak. Akulah yang seharunya berterima kasih. Terutama padamu Mirai! " ucap Hotaru sambil tersenyum lembut. Mirai memberikan sebuah bingkisan kecil berisi obat
"Minumlah ini, obat ini akan membantumu mencerna semua makanan. Jika kau curiga, kau bisa meminta orang untuk memeriksa kandungan didalamnya. Biasanya untuk makanan yang jarang kau makan, bisa membuatmu terserang gangguan pencernaan.
Aku tidak mau ditangkap karena memaksa pemimpin mereka makan makanan dan membuat pemimpin mereka terserang diare! " ucap Mirai bercanda dengan tampang datarnya. Hotaru hanya tersenyum, ia menerima hadiah kecil itu
"Baiklah Mirai, aku percaya padamu. Terimakasih obatnya! Sampai bertemu besok! "
Aora yang sedari tadi memasang tampang masam, menarik tangan Mirai "Kalau begitu sampai jumpa besok! " Lantas ia pergi bersama Mirai. Di tengah perjalanan mereka, Aora melirik Mirai dengan tampang masamnya. Perlakuan Mirai ke Hotaru, membuat Aora iri dan menginginkan perhatian Mirai juga
"Mirai kau tidak memberiku obat juga? "
" Untukmu, kurasa perutmu terlalu tebal sehingga bisa mencerna dengan baik walau makan dengan cepat. Tentu saja demi menyembunyikan wajahmu! " ucap Mirai ketus. Aora mengentikan langkahnya, kali ini ia menatap lurus ke arah Mirai
"Kalau begitu, kau boleh memeriksa perutku, apa itu benar-benar tebal dan berlemak! " Mirai melepas tangannya dari genggaman Aora, lalu meninggalkan Aora
"Terserah kau Aora! " ucap Mirai malas sambil Melambaikan tangan. Aora tidak mau menyerah, sampai ia mendapat perhatian Mirai
"Apa kau begitu penasaran dengan wajahku? , akan aku berikan kau melihatnya. Tinggal bilang saja! " teriak Aora
"Tidak! " ucap Mirai yang mulai menjauh
"Tapi. Jika kau melihatnya, siap-siap juga kau harus membayarnya! " ucap Aora Ambigu
__ADS_1