Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Mimpi Aora


__ADS_3

Aora merasakan cahaya menembus kelopak matanya, mengerjap pelan sembari mengumpulkan tenaga untuk membuka mata sepenuhnya. Samar, tawa renyah anak-anak bermain menembus indra pendengarannya, ia heran sejak kapan ia dikelilingi anak-anak?


"Otou-chan buka matamu" suara seorang anak membangunkan Aora dari tidurnya. Meski pelafalannya masih terlalu buruk, Aora sadar orang yang dimaksud ayah oleh anak itu adalah dirinya


Kini netra Aora menangkap sosok gadis kecil manis yang menggoncang tubuhnya pelan. Gadis kecil itu begitu lucu, dengan iris mata merah kecoklatan serta rambut panjang hitam menjuntai, entah kenapa Aora berpikir anak itu begitu mirip perpaduan antara ia dan Mirai


"Otou-san cepat bangun! " ucap bocah laki-laki, tanpa seijin Aora, bocah itu melompat dan menginjak perutnya


" Auch! " Aora merasakan sakit diperutnya, entah siapa bocah berambut abu-abu itu, ia mendarat di tempat yang salah


" Anak-anak, hentikan! Kenapa kalian mengganggu ayah kalian. Biarkan ia tidur, ayah kalian sangat lelah karena harus menjaga Sora"


Suara wanita yang tengah membelakangi Aora begitu familiar, wanita dengan rambut panjang tengah sibuk menjemur pakaian di halaman rumah


"Mirai? " gumam Aora tidak percaya, tanpa melihat sososk yang membelakanginya itu pun, Aora tahu wanita didepannya adalah Mirai


Aora begitu bingung, seingatnya ia menghadiri rapat darurat di kantor Desa Sora, lalu kenapa sekarang ia berada dirumahnya. Terlebih, suasana rumah yang biasanya sepi, kini begitu ramai. Mainan anak-anak berserakan dilantai, sementara dua anak laki-laki dan perempuan tengah asik bermain di depannya. Alis Aora mengkenyit, bukankah tadi anak-anak itu memanggilnya 'Ayah'?


"Apa ini? Mimpi? " gumam Aora pelan


" Ayah! " teriak gadis kecil yang berlari ke arahnya, entah apa yang merasuki Aora tangannya secara reflek terbuka dan membiarkan gadis kecil itu tenggelam dalam pelukannya


Senyum tidak bisa Aora sembunyikan dari wajahnya, entah kenapa ia begitu senang saat tangan kecil gadis itu memeluk tangannya manja. Tidak hanya itu, ia juga melihat anak laki-laki dengan mata seindah lafender berlari ke arahnya.


Sekilas bocah laki-laki itu begitu Mirip dengan Mirai, terlebih dengan mata seindah lafender yang begitu pesris dengan mata gadis yang ia cintai itu. Tapi yang membuat Aora terkekeh, ciri Fisik anak laki-laki itu sangat menyerupainya. Terlebih dengan rambut abu-abu mencuat melawan grafitasi


"Aora! Sudah cukup bermalas-malasan. Cepat bantu aku menjemur tumpukan pakaian ini" ucap Mirai kesal


Aora yang melihat penampilan Mirai sedikit tersipu, jujur baru kali ini ia melihat Mirai memakai pakaian cerah dengan celemek melilit tubuh mungilnya. Biasanya Mirai sangat lekat dengan image wanita militer, namun kali ini ia begitu berbeda. Hangat dan lembut, Aora bisa merasakan wanita didepannya memancarkan pesona yang mampu membuat jantungnya berpacu cepat.


Apa ini? Apa ini mimpi atau kenyataan, jika ini mimpi aku lebih memilih tinggal disini selamanya


"Suamiku? Ada apa? Kenapa kau melamun? Apa kau sakit? " ucap Mirai dengan wajah khawatir


" Ayah tidak apa-apa? " ucap Si kembar kompak


" Ya? A- ayah tidak apa-apa " ucap Aora ragu, meski ia masih kaku menyebut dirinya sendiri dengan panggilan 'ayah', tapi apapun itu situasinya saat ini benar-benar menunjukkan apa yang ia impikan selama ini


Sebuah keluarga kecil, Aora akan hidup sepenuhnya untuk wanita yang ia cintai serta anak-anaknya kelak. Seketika, ia lupa akan semua urusaanya, baik tentang masalah Tengu ataupun Yora


"Anak-anak cepat kesini~


Suamiku, kau juga.... Datanglah kesini“ ucap Mirai memanggil anak-anak itu, tanpa berpikir lagi Aora segera bangkit dan hendak mengikuti kemana anak-anak lucu itu pergi. Ia bahkan begitu gemas, melihat dua potret kecil mirip dirinya itu berlari dengan tawa renyah


"Aku datang, Mirai~" ucap Aora dengan senyum dibalik maskernya


Namun~


Sressssssss........

__ADS_1


Pemandangan rumah beserta Mirai dan anak-anaknya tiba-tiba lenyap. Kini tempat Aora berdiri beralih ke suatu tempat yang hancur lebur mirip arena berperang. Mata Aora membulat, melihat mayat bergelimpangan disisinya. Reruntukan bagunan berserakan, ditemani langit kelam dengan bulan berwarna merah


Apa ini?


Gemuruh kabut Hitam memenuhi langit kelam, Aora bahkan dapat merasakan kakinya menginjak kubangan kental berwarna merah pekat. Apa mungkin itu darah?


Mata Aora terfokus ke arah tangannya, tangan yang kini dilumuri oleh darah segar memegang sebuah gagang pedang yang tidak asing untuknya. Pedang itu adalah Shiroi no ken miliknya, pedang pemberian ketua Zen beberapa waktu lalu


Mata Aora mengikuti kemana arah Bilah pedang miliknya yang menusuk sesuatu. Aliran darah bahkan menglir deras, menetes dan jatuh ke arah genangan darah yang diinjaknya.


Hingga, pandangan Aora berakhir ke arah sosok gadis yang ia tebas dengan pedangnya sendiri


"Mirai? Tidak.... Apa yang aku lakukan" gumam Aora dengan mata bergetar


Ia mencoba melepas tusukan pedangnya, namun tubuhnya seakan membeku dan tidak mau bergerak secentipun. Aora merasa tubuhnya dikendalikan saat ini?


"Mirai..... Mirai... Apa kau baik-baik saja? Jawab aku.... Mirai! "


Mirai hanya memandang nanar Aora, dengan wajah sayu yang mulai memutih. Sementara mata cantiknya kini dibanjiri oleh butiran bening, yang setiap detik mengalir kepipinya


Melihat wanita yang begitu ia cintai, menahan sakit yang begitu hebat membuat hati Aora merasakan ribuan batu menindihnya. Sakit dan sesak, namun ditengah situasi itu, ia justru tidak bisa melakukan apa-apa


"Arghhhhhhbhh..... Hentikan.... " Aora mencoba mengambil kendali atas tubuhnya, namun itu semua sia-sia


" Aora...... Semua ini bukanlah salahmu. Maafkan aku tidak bisa memenuhi janji untuk terus berada di sisimu" ucap Mirai ririh


(Cerita ini sama seperti prolog di Chapter 1)


"Tidak Mirai.... Jangan pergi...... "


Namun kabut hitam memenuhi sekeliling Aora. Berputar hebat dan berubah menjadi sosok pria tegap, berambut hitam yang hampir menutupi separuh wajahnya. Ia adalah Kurasu


Kurasu dengan kimono hitam berjalan tenang ke arah Aora. Aora yang kini krmbali terlempar ke ruang anatah berantah hanya bisa mebautkan alisnya bingung. Siapa pria aneh yang berjalan ke arahnya?


" Aorasu.... Entah di kehidupanmu di masa lalu ataupun sekarang. Kau tetap menjadi duri dalam hidupku! "


" Siapa kau? " ucap Aora dengan tatapan tajam


" Benar, mata merah menyebalkan itu. Aku masih ingat dengan jelas, kau menatapku dengan tatapan memyakkan itu


Tapi..... Kali ini kau tidak pernah bisa mengalahkanku


Akan aku rebut kembali apa yang kau ambil dariku 10.000 tahun lalu. Baik itu dunia ini atau Dewi Salju!! "


" Apa maksudmu? Dewi Salju? " ucap Aora yang tidak mengerti apa yang dibicarakan Kurasu


" A... Iya... Di kehidupannya saat ini, bukankah dia dipanggil Mirai? "


Rahang Aora mengeras, mendengar laki-laki aneh didepannya menyinggung nama Mirai membuat kemarahannya kian memuncak. Sementara Kurasu, hanya memamerkan seringai jahatanya sambil sesekali menertawai Aora

__ADS_1


" Hahahaha..... Benar... Rasa benci dan amarahmu akan membuatku lebih mudah menguasai tubuhmu


Ingatlah ini.......


Setengah dari kekuatanmu, adalah kekuatan kegelapan milikku. Jadi, kau tidak bisa berkutik, sedikit demi sediki aku akan menguasai tubuhmu...


Membunuh satu per satu orang-orang berharga di sampingmu. Kau hanya bisa menumpuk kebencian dalam dirimu, tanpa bisa melakukan apapun


Hahahah.... Dan jika semua kebencian itu memakan jiwamu, saat itulah aku akan bangkit kembali ke dunia ini" ucap Kurasu, ia seakan mempermainkan Aora dengan kekuatan yang dimilikinya


Jiwa Aora saat ini terperangkap di dunia ilusi milik Kurasu. Setelah kebangkitannya ia mengambil sedikit darah Mirai untuk meningkatkan sihirnya. Salah satu korban pertamanya adalah Aora, ia sengaja membawa Aora ke alam mimpi indah sebelum menghempaskannya ke dalam jurang mimpi buruk yang Aora takuti


"Cih.. Kau tidak akan pernah bisa mengusai tubuhku! Bahkan jika aku harus membunuh diriku sendiri, aku akan menghentikan niat jahatmu! "


" Bunuh Diri? Kau lupa, setengah jiwaku besemayam dalam dirimu


Meski tidak sebanyak saudaramu Yora, tapi kebencian dalam dirimu yang membuat jiwaku semaki kuat dalam dirimu


Kau tidak akan mampu membunuh dirimu sendiri, begitu pula orang lain. Sekuat apapun mereka, tidak akan bisa menandingi kekuatan terkutuk milikmu"


"Kau! "


" Aaa.... Hanya satu irang yang bisa membunuhmu. Akan aku beritahu, karena ini akan sangat menyenangkan


Jika kau sangat ingin mati, kau hanya bisa dibuhuh oleh wanita yang paling kau cintai. Kau sudah mengerti maksudku kan? "


Kurasu tiba-tiba saja lenyap dari pandangan Aora, kini hanya ada ia dan Mirai di tempat antah berantah itu. Masih dengan posisi yang sama, pedang ditangannya masih setia mebghujam lerut Mirai


" Apa maksudnya, orang yang bisa membunuhku hanya Mirai? " tiba-tiba saja Aora merasakan tubuhnya tertarik kelubang yang begitu gelap dan sunyi


Sleshhhhhhhhhh...........


......................


" Aora! Apa kau mendengarku? " ucap Suara samar-samar


Aora kembali membuka matanya, hal yang ia lihat pertama kali adalah ruang perawatan, meski masih sedikit buram ia dapat menerka gadis yang memandang dengan kahawatir didepannya


" Apa ini? Hanya mimpi? " ucap Aora sambil memengang kepalanya yang berdenyut hebat


" Aora kau sudah sadar? " ucap Hanna, Aora tidak langsung menjawab pertanyaan sahabatnya. Yang ia lihat, Rou dan Ten juga berada di dalam ruangan itu, namun Aora tahu ada yang aneg dengan ketiga sahabatnya itu. Ia juga tidak bis amenenukan keberadaan Mirai disana


" Hanna dimana Mirai? " hanya itu kata yang keluar dari mulutnya


" Mirai? " tanya Hanna, ia pun mengalihkan tatapannya ke arah Rou dan Ten


" Aora....... ada sesuatu yang hendak kami sampaikan kepadamu


Ini tentang Mirai...... " ucap Rou dengan pandangan serius

__ADS_1


" Mirai? "


__ADS_2