Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Takdir Untuk Berpisah


__ADS_3

" Jika didunia ini kau masih memiliki perasaan yang sama dengan saudaraku, aku mungkin akan membunuh reinkarnasi Yorasu dan Aorasu lebih dulu


Tunggu saja....


Aku akan membalas penghinaan yang pernah mereka berikan kepadaku! "


Kurasu semakin menusuk perut Mirai, menancapakan pedang yang penuh energi sihir kegelapan ketubuh ringkih Mirai. Aliran darah spesial dengan energi kehidupan Mirai merambat pelan, mengikuti kemana bilah pedang Kurasu dan berakhir mengenai tangan pria berwajah datar itu.


Energi kehidupan bertemu dengan energi kegelapan. Menciptakan sihir berwarna hitam dam putih, cahaya di kedua sihir perlahan melebur dan membentuk simbol Yin dan Yang. Sebuah Simbol dimana keseimbangan terlahir


Trassss.....


Tangan Mirai memegang bilah tajam yang menusuk perutnya, membuat bilah pedang yang sedari tadi menusuknya perlahan terhenti. Kini Mirai menatap tajam Kurasu. Tidak ada ketakutan dari sorot mata lafendernya, melainkan tatapan tajam penuh dengan amarah dan kebencian


"Hentikan! Sudah aku katakan, aku bukanlah Dewi Salju atau apapun itu.


Selama aku masih hidup didunia ini, aku tidak akan pernah menyerah dan membiarkan orang disekelilingku terluka karena sampah sepertimu! "


Brasssss....


Mirai berhasil menyingkirkan pedang yang menusuk perutnya, ia pun menghentikan darah yang keluar dengan tangannya


" Arkh"


Kurasu yang melihat pedangnya terlempar begitu saja, hanya tersenyum tipis. Tentu kekuatan Mirai tidak akan pernah bisa menandingi sihir Kurasu. Ia sengaja mempermainkan Mirai, seolah Mirai adalah mainan baru yang sangat menarik. Sayang baginya jika merusak mainan itu sekarang


"Benarkah? Tatapanmu benar-benar tidak pernah berubah, Dewi Salju


Aku melihat cinta dari sorot matamu, tapi disaat bersamaan aku juga melihat sorot kebencian yang kuat" ucap Kurasu dengan tatapan kosong. Ada sedikit rasa kecewa yang ia tunjukkan saat ini


Namun sedetik kemudian, ia menampakkan kembali senyum jahatnya. Kurasu pun menji- lat tangan penuh darah Mirai, merasakan darah Mirai yang begitu lezat di lidahnya


"Aku hanya ingin mengambil sedikit darah istimewamu. Tidak ada alasan untuk membunuhmu, kau tahu aku sangat mencintaimu?


Tapi ingat ini,


Kecuali kau menyerahkan diri dan hidup bersamaku. Kau tidak akan pernah merasakan perdamaian atau melihat orang-orang disekelilingmu bahagia


Dari darahmu, aku bisa merasakan kau memiliki orang yang sangat kau hargai


Apa namanya Aora?


Sial! Namanya saja sudah mengingatkan adik bodohku Aorasu!"

__ADS_1


Mirai tertegun, bagaiaman Kurasu bisa mengetahui nama Aora. Sebenarnya kekuatan apa yang dimiliki pria didepannya itu?


"Apa maksudmu? "


" Kau akan melihatnya nanti. Ah aku lupa,


Bukankah kau sudah melihat kekuatanku menguasai orang itu hari ini? " ucap Kurasu dengan seringai liciknya. Ia begitu puas melihat wajah terkejut Mirai


" Kecuali kau ingin orang yang paling kau kasihi itu membunuh satu per satu orang-orang berharga disekitarnya.


Saat ini kau hanya memiliki dua pilihan, datanglah kepelukanku atau bunuh orang kau kau kasihi itu dengan tanganmu sendiri!


Keputusan berada di tanganmu, datang padaku dan bangkitkan aku sepenuhnya. Jika tidak hanya darah yang akan kau lihat, seperti


takdirmu selama ini"


Kurasu pun menghilang dari tempat itu, berubah menjadi gumpalan bola merah terang dan lenyap begitu saja


"Sayonara, Hime"


Sressssss.....


Mirai kembali memdapat kesadarannya, pandangannya masih sedikit buram. Tapi Mirai sadar, ia kini berada di dalam Cops Awan Merah, ia bahkan bisa melihat Tanuki yang tergeletak tidak sadarkan diri di depannya


" Tidak.... Ini bukanlah mimpi" ucap Mirai tidak percaya, darah segar ditangannya menjadi bukti bahwa kejadian tadi bukanlah sekedar ilusi atau pun mimpi


"Arkh"


Mirai merasakan sakit yang teramat sangat, darah yang mengalir dari perutnya bahkan tidak pernah berhenti. Karena rasa sakit itu, kakinya yang sudah lemas tidak bisa lagi menopang tubuhnya lagi


Brakkk..... Mirai terjatuh kelantai,


"Siapa itu? Jangan Bergerak! "


Tanpa Mirai sadari, ratusan pria bertopeng hewan sudah mengepungnya. Tidak salah lagi, meraka adalah satuan Cops Putih. Karena pertarungan Mirai dan Tanuki tadi, mungkin tim sensor Sora berhasil mendeteksi kekuatan sihir dasyat keduanya


" Sial! "


Mirai tidak dapat bergerak sesikitpun, jika ia tertangkap sekarang, ia tidak akan bisa melaporkan apapun pada Xio


Ratusan pasukan sudah mulai mendekat, dalam keadaan terpojok seperti itu, Mirai tidak punya pilihan selain menggunakan sisa tenaganya untuk menggunakan sihir teleport miliknya


"Siapa disana? " ucap pria bertopeng, suasana ruangan begitu gelap jadi sulit bagi mereka untuk melihat wajah Mirai

__ADS_1


Dengan rasa sakit menghujam perutnya, sementara tenaganya melemah karena darah terus saja keluar dari lukanya. Mirai mencoba mengaktikan kekuatannya, Gyoku Mirai pun kembali mengeluarkan sinar biru. Membungkus tubuh lemahnya, dan lenyap menjadi kepingan salju dan menghilang


Brasssss......


Prajurit Cops Putih yang melihat kumpulan sinar biru itu segera mendekat. Namun seperti apa yang mereka lihat saat ini, hanya genangan darah serta Tanuki yang tidak sadarkan diri yang ada di tempat itu


"Kemana perginya orang itu? "


......................


Sresssss......


Gerumulan salju berputar cepat , membentuk siluet gadis bertubuh mungil yang berdiri tertatih


Brakkkkk....


Tubuh Mirai terjatuh ke lantai, karena tubuh lemahnya ia tidak bisa mengontrol dengan baik sihir teleportasinya. Darah masih menetes dari perutnya, sementara tangan yang mencengkram perutnya kini basah dan dipenuhi darahnya sendiri.


Sambil tertatih, Mirai berjalan menuju ranjang pasien didepannya. Wajah yang biasanya cerah bagaikan bunga dimusim semi kini memucat, dengan bibir Mirai yang kian membiru


Mirai bisa saja menggunakan kekuatannya untuk segera keluar dari Desa Sora dan melarikan diri, tapi ia lebih memilih mengunjungi Aora untuk terakhir kalinya


Sambil menatap pria yang masih tertidur pulas didepannya, Mirai hanya bisa tersenyum ririh dengan air mata yang terus membanjiri pipinya


"Maafkan aku, aku tidak bisa lagi berada disisimu, Aora..... "


Meski tangannya dipenuhi darah, Mirai mencoba mengelus pelan wajah Aora, ia tidak ingin membangunkan pria yang masih terlelap didepannya.


Dengan jemarinya yang masih berlumuran darah istimewanya, ia menyembuhkan beberapa luka di tubuh Aora. Meski kondisinya lebih parah, setidaknya Mirai ingin meredakan rasa sakit Aora.


" Jangan pernah terluka, tidurlah yang cukup dan nikmati waktumu seperti yang sering kau lakukan.


Apapun yang pria aneh tadi katakan, aku sendiri yang akan menghentikannya. Aku berjanji, meski dengan nyawaku aku akan melindungimu dan semua orang"


Untuk terakhir kalinya, Mirai tersenyum ke arah Aora meski pria itu masih terlelap dan tidak mengetahui kedatangannya sama sekali


"Jaga dirimu, Aora. Aku harap, akan ada hari dimana aku bisa memegang tanganmu lagi sebagai Mirai.... "


Sresssssss.....


Mirai pun kembali lenyap dengan cahaya biru yang menyelimutinya, tubuh Mirai kembali berubah menjadi gumpalan salju dan hilang begitu saja.


Serpihan salju Mirai, melayang pelan dan mengenai pipi Aora. Aora sedikit menautkan alisnya, apakah ia sadar Mirai mengunjunginya untuk kali terakhir?

__ADS_1


"Mirai, jangan pergi" gumam Aora ririh dengan mata yang masih terpejam


__ADS_2