Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Kenangan Buruk ll


__ADS_3

Tanuki membawa tubuh Mirai ke sebuah pusat medis. Tempat yang dipenuhi berbagai subjek penelitian itu adalah laboratorium rahasia milik Tanuki di bawah Cops Awan Merah. Ia pun meletakkan tubuh Mirai di sebuah meja operasi, lalu memanggil beberapa anak buahnya


"Jika benar kau keturunan Clan Salju, berarti kau memiliki kekuatan utama dari ke 3 Pilar pelindung! " gumam Tanuki


Tanuki melihat penampilan Mirai kecil, ia mengir Mirai adalah bocah laki-laki


"Tapi, kenapa ia seorang bocah laki-laki? Bukankah hanya perempuan saja yang bisa mewarisi kekuatan Clan salju? " Dua orang prajurit menghampiri Tanuki


" Anda memanggil kami Tuan Tanuki? " ucap salah satu orang yang mengenakan seragam Cops Merah


" Bukankah kau dokter yang bertugas di laboratorium ini? Cepat periksa keadaan bocah ini. Aku tadi menyerangnya dengan pedang miliku. Lihatlah apa dia terluka atau tidak! "


Pria itu mendekati Mirai, ia memeriksa denyut nadinya. Tidak ada luka yang berarti di tubuhnya


"Dia baik-baik saja Tuan. Tapi, di mana anda bertemu gadis kecil ini? " Alis Tanuki mengkeeut heran. Seorang gadis?


" Itu bukan urusanmu, tapi apa maksudmu bocah ini seorang gadis? "


" Meskipun ia menyamarkan penampilanya sebagai bocah laki-laki. Denyut nadi seorang gadis tidak bisa di sembunyikan Tuan"


"Begitukah? ...... Dasar Kizuna! Selama ini dia berbohong, bahwa Yukio melahirkan seorang putra, dia bahkan bersembunyi dengan baik selama 6 tahun terakhir untuk menghindariku" Tanuki melirik Mirai penuh arti.


"Tentu aku harus menguji kekuatan anak ini.... "


Trasssssss..........


Tanuki mengeluarkan pedangnya, dengan cepat ia menebas dada dokter di sampingnya. Darah segar mengalir deras dari luka sang Dokter. Anak buah Tanuki yang lain gemetar ketakutan, melihat ketua Cops mereka bahkan tega menebas rekannya sendiri.


Pria itu hanya bisa memegangi dadanya, darah mulai mengucur dari dalam seragamnya. Tanuki hanya memandangi anak buah yang ia lukai tanpa mempedulikannya


"Baringkan dia di ranjang, cepat! " Perintah Tanuki, segera anak buahnya yang lain memindahkan tubuh sang dokter.


Tanuki lalu memegang tangan Mirai. Energi sihir dialirkan ke pedang miliknya yang masih berlumuran darah. Ia menyayat tangan Mirai, membuat Mirai mengeluarkan darahnya dengan paksa. Tidak seperti darah pada umumnya, darah Mirai terkesan berkilau, dan memiliki warna yang lebih cerah dibanding darah orang normal. Bahkan beberapa orang di sekitar Tanuki bisa merasakan aura kekuatan sihir yang kuat keluar dari darah Mirai


Tanuki mengambi sebuah wadah kecil, dan menampung tetes demi tetes darah Mirai. Ia lalu membawa darah Mirai ke tubuh Dokter yang sekarat, kemudian meneteskan darah Mirai ke lukanya


Perlahan, luka di dada dokter mulai menutup. Asap putih keluar dari luka yang mulai berangsur sembuh secara total, bahkan dalam hitungan detik luka sayatan ditubuh dokter tertutup sempurna. Tanuki tersenyum puas, ia seperti mendapat keajaiban.


"Keukuatan darahnya, bahkan melebihi kekuatan darah Yukio. Clan Salju yang umumnya memerlukan segel gyoku, tampaknya dia benar-benar mewarisi kekuatan sesungguhnya Clan Yuki! "


Dokter yang sedari tadi merintih kesakitan, kini pulih seperti sedia kala. Tanuki pun memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Mirai


"Dengar kalian semua! Aku perintahkan kalian menjaga gadis kecil itu, dia adalah sumber kekuatan Militer kita. Jadi jangan sampai kalian membuatnya terbunuh atau membiarkannya lari dari sini! "


"Baik Tuan Tanuki"

__ADS_1


Tanuki menatap Dokter di depannya itu. Sang dokter dengan sigap duduk dan memberi sikap hormat bahkan kepada orang yang baru saja menebasnya


"Kau pasti sudah tahu, bagaimana memanfaatkan darah gadis itu bukan? "


" Tentu tuan! "


......................


(Cerita ini sesuai dengan mimpi Mirai di Chap. 4)


Kini tubuh Mirai tengah di rendam di sebuah bak mandi yang penuh berisi air. Lengannya yang tadi di lukai Tanuki terus mengeluarkan darah, hingga air di bak itu berubah warna menjadi merah pekat


Merasa sakit yang teramat sangat di tangannya. Mirai mulai sadar dari pingsannya, dengan wajah yang takut, ia melihat sekeliling


"Di mana ini? Ackh! Tanganku sakit sekali! "


Sambil memegangi lengannya, Mirai mulai mencoba berdiri. Karena luka sayatan itu, Mirai menahan sakit luar biasa, hingga tubuhnya tidak bisa menjaga keseimbangannya


"Ayah..... Dimana kau? " Mirai mulai menangis ketakutan


Brangggg.......


Tanpa sengaja ia menyentuh alat medis di sampingnya, hingga terjatuh dan membuat suara bising yang menyadarkan para penjaga


Dengan ketakutan, ia menatap dua orang pria yang menuju ke arahnya. Pria dengan seragam Cops Merah lengkap dengan gambar awan merah di rompinya


Dua Pria itu sedang berdebat. Mereka bertengkar apakah ingin membunuh Mirai dan mengeluarkan seluruh darahnya


Mirai yang mendengar itu pun gemetar ketakuatan. Ia ingin lari dari tempat mengerikan itu, tapi kedua pria itu kini mulai mendekat


"Baiklah gadis baik, berilah paman darahmu yang istimewa itu lebih banyak lagi! "


"T- tdak....... Ayah..... Tolong aku....! "


Ditengah kondisi Mirai yang terpojok, tiba-tiba seseorang menendang tong sampak dan membuat keributan.


Brakkkkkk.....


Dengan cepat, orang itu mematika lampu di ruangan itu. Membuat 2 orang Cops Merah kewalahan menghadapinya


Mirai hanya melihat bayangan Hitam sedang bertarung di hadapannya, percikan api tampak jelas di tengah kegelapan itu, percikan yang berasal akibat dari gesekan pedang orang yang sedang bertarung. Pertarungan berlangsung singkat. Sulit menerka siapa pemenang diantara mereka.


Seseorang menghidupkan kembali lampu ruangan itu. Samar, Mirai melihat seorang anak menuju ke arahnya, ia memakai topeng kucing berwarna putih, dengan seragam yang mirip dengan kedua orang tadi. Yang membedakan hanya warna awan diseragam mereka


__ADS_1


"Larilah! Aku akan mengalihkan perhatian mereka! " ucap anak laki-laki itu


Dengan kaki yang masih gemetar, Mirai mulai membuka jendela. Namun, jemdela itu dilindungi oleh pembatas sihir yang kuat. Sadar akan hal itu, anak bertopeng itu pun menghancurkan dingding sihir dengan kekuatan api berwarna biru dari pedangnya


Trangggg.......


"Sekarang! Cepatlah lari! " printahnya. Mirai mendengar derangan langkah kaki mendekati ruangannya


"Bagaimana denganmu? "


" Aku bisa mengatasinya. Larilah! Selamatkan dirimu!" ucap anak itu


Mirai meraih jendela didepannya dan berusaha menjauhi tempat itu. Dengan segenap tenaganya ia berlari meski tidak mengenakan alas kaki. Mirai sedikit melirik kebelakang ia masih melihat anak bertopeng yang menolongnya sibuk bertarung. Siapapun dia, Mirai sangat berterima kasih atas bantuannya. Mirai melanjutkan pelariannya dengan berat hati.


" Ayah...... Tunggu aku! Aku akan segera pulang...... Ayah.......... "


Mirai terus berlari ke arah desanya, lebih tepatnya ke arah rumahnya. Tanpa memepedulikan langit yang mulai menggelap atau kakinya mulai mengelupas karena terus berlari tanpa alas kaki.


Langit yang mendung, kini menurunkan hujan yang cukup lebat. Meski sakit dan perih, Mirai terus berlari di tengah derasnya Hujan. Tubuhnya mengigil kedinginan. Seorang diri, memecah gelapnya hutan. Mirai merasakan, rasa sakit yang luar biasa menjalar di lengannya. Begitupun luka yang terus mengeluarkan darah segar


" Cih...... Kenapa lenganku sakit sekali? Biasanya jika aku terluka, lukanya akan segera terutup. Tapi kenapa sekarang terasa sangat sakit? Tanganku terasa terbakar! "


Mirai kini sampai di depan gerbang desa, sudah hampir 3 jam Mirai terus berlari menuju rumahnya.


Hujan pun tampak mereda. Genangan air berjampur lumpur menemani langkah lelah Mirai. Namun, alangkah terkejutnya Mirai melihat keadaan desa yang kini hanya tersisa puing bangunan saja. Ia langsung bergegas menuju rumahnya yang berada di sudut desa


Tubuhnya yang kian lemah, mambuatnya tak sanggup berlari lagi lebih jauh lagi. Ia hanya bisa berjalan pelan sambil memperhatikan keadaan desanya


Desanya itu berubah menjadi tempat yang mengerikan, mayat warga desa tergeletak di sepanjang jalan. Mereka semua tewas mengenaskan akibat di tebas oleh pedang


Akhirnya Mirai sampai ke rumah, ia ingat pesan sang ayah yang menyuruhnya untuk menunggunya. Namun, karena keadaan kacau, Mirai putuskan kembali ke rumahnya. Ia harap ia bisa bertemu ayahnya di sana


"Ayah.....? "


Mirai mulai memasuki rumahnya itu, barang-barang di dalam rumah tampak berserakan.


Ia tidak bisa melihat sosok sang ayah di dalam rumah yang gelap itu. Mirai putuskan untuk mulai memasuki kamar ayahnya


Ceklek..........


Mirai membuka pintu kamar. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke kamar yang gelap itu. Tubuh Mirai menegang. Baru selangkah ia memasuki ruangan itu, kakinya merasakan sesuatu yang kental mengalir dilantai


"Apa ini? "


Ia pun memeriksanya. Mirai mengulurkan tangannya ke lantai untuk menggapai sesuatu yang kental itu. Mirai terkejut, apa yang di pegangnya kini adalah darah

__ADS_1


Samar ia melihat tubuh seseorang tergeletak di lantai. Suasana yang gelap menyebabkan Ia tidak bisa melihat siapa pemilik tubuh dengan pasti. Dalam pikiran yang kalut, hanya satu yang ada di pikiran Mirai. Air mata menetes begitu saja di pipinya. Tubuhnya bergetar hebat memikirkan Orang yang mungkin tergeletak di lantai itu.....


"A- Ayah......? "


__ADS_2