
Note Author : Chapter Spesial ini tidak akan mempengaruhi jalan cerita Novel. Chapter spesial ini didedikasikan sebagai peringatan Novel 'Garis Darah Terkutuk' sudah satu tahun rilis di Noveltoon. Selamat membaca Minna!
...🍃Paradise : Stand By Me 🍃...
...Bagian I : Seperti apa dunia tanpa perang dan sihir?...
Seperti apa dunia tanpa peperangan? Akann seperti apa dunia berjalan jika manusia tidak mengenal apa itu sihir? Pertanyaan itu selalu terlintas di pikiran Mirai. Jika dunia itu benar-benar ada. Apakah Dunia tanpa sihir itu akan seindah surga?
Sebuah tempat tanpa peperangan adalah surga menurutnya. Sebuah dunia dimana ia mungkin menjalani hidup bahagia dengan Ayah, serta mengetahui bagaimana hangat kasih sayang seorang ibu yang bahkan belum sempat ia rasakan sejak kehadirannya didunia ini. Mirai penasaran dengan itu. Bahkan ketika batu Tiga pilar ke 3 yang sudah ia dapatkan, bisakah kekuatan batu yang dijuluki sebagai 'Pengetahuan mutlak' tentang Dunia itu memberinya jawaban?
" Batu Pilar ke-3. Jika kau benar-benar mengetahui apapun mengenai Dunua. Bisakah kau menujukkan bagaimana dunia tanpa peperangan dan sihir untukku? Meski hanya sehari, aku ingin merasakan hidup didunia seperti itu!"
......................
Mirai merasakan situasi disekitarnya begitu gelap gulita. Di tengah kegelapan yang mengelilinginya, Mirai dapat merasakan tubuhnya berguncang hebat. Sensasi seperti sebuah kereta kuda berkecepatan tinggi seolah melarikan tubuhnya. Sebenarnya apa yang tengah terjadi?
Kreeeettttt....
Brukkkk....
Kereta itu tiba-tiba berhenti berbarengan dengan suara dencingan memekik telinga. Tubuh Mirai bahkan sempat menabrak sesuatu didepan sana. Mirai mencoba membuka matanya, samar ia melihat sesosok pria yang menatapnya dengan raut wajah khawatir. Pria itu terlihat mengenekan seragam aneh, lengkap dengan berbagai chip berwarna warni memenuhi jasnya (Pakaian panglima Tentara Angaktan Darat)
"Mirai kau tidak apa-apa? Maafkan ayah, mobil didepan kita tiba-tiba berhenti mendadak. " Kizuna tanpak menghawatirkan kondisi putrinya, dengan raut wajah cemas ia memperhatikan wajah linglung Mirai
" Ada apa Mirai? Kenapa wajahmu begitu pucat? Apa kepalamu terluka? Aduh! Bagaimana ini? Kau baru saja sembuh dari cideramu! Karena kecerobohan ayah kau mungkin merasakan sakit lagi? " Kizuna terus mengujani Mirai dengan kata-kata penuh nada khawatir.
Di mana ini? Kenapa aku berada di kereta aneh ini? Lalu, ada apa dengan pakaian yang aku kenakan ini? Ini tidak seperti kimono Militer yang biasa aku pakai! Pakaian ini sedikit aneh.
Mirai menatap bingung dirinya sendiri. Ia sempat menyentuh seragam sekolah menengah ia menurutnya aneh. Mirai kembali mengingat-ngingat kejadian yang menimpanya. Beberapa saat lalu ia hanya duduk ditepian hutan sambil menunggu Nee dan Zou. Karena bosan, ia mengeluarlan batu Pilar ke-3 yang ia dapat di dunia Yokai.
Karena penasaran dengan kekuatan batu itu, Mirai membuat sebuah permintaan acak yang begitu saja muncul di otaknya. Hanya sampai disitu ingatannya. Ia menatap sekelilingnya, sebuah kota aneh dengan bagunan tinggi menjulang serta suara bising yang keluar dari kereta besi yang ia naiki. Semua terlihat dari balik kaca transparan disampingnya. Sebenarnya dimana ia sekarang?
"Di mana ini? " gumam Mirai pelan. Kizuna membuka pintu mobilnya, dan langsung mengecek keadaan Mirai di bangku penumpang dengan raut wajah khawatir
" Di mana lagi? Kita sudah sampai disekolamu. Tapi, Mirai tidak apa-apa kan? Aduh bagaimana ini? Dokter mengatakan kau akan baik-baik saja. Apa aku harus menelpon rumah sakit lagi? " Kizuna terus saja mengoceh tidak jelas.
Sementara itu, Mirai baru menyadari siapa sosok yang begitu berisik sedari tadi. Meski pakaian orang itu cukup aneh menurutnya. Mirai sadar laki-laki didepannya itu adalah ayahnya, Kizuna
" A- ayah? " ucap Mirai dengan suara bergetar. Kizuna segera memegang bahu Mirai.
" Hn. Ayah disini. Kau baik-baik saja kan Mirai? "
Mirai mengangguk, ia tidak bisa membendung air matanya lagi. Meski ia terjebak didunia ilusi sekalipun, ia merasa senang bertemu ayahnya lagi. Mirai mengulurkan tangannya, memeluk tubuh ayahnya erat. Aroma serta kehangatan ayahnya tidak perbah berubah. Benar, perasaan ini yang begitu dirindukan Mirai selama ini
"A-aku, benar-benar merindukanmu Ayah! " ucap Mirai sambil terisak
" Apa maksudmu? Kita selalu bersama. Bahkan tadi ayah sempat memasakkan sarapan kesukaanmu! Kau benar-benar aneh Mirai.
Kau biasanya akan marah jika ayah memperlakukanmu seperti anak kecil. Karena kesibukan ayah dan ibumu, kau selalu sendirian. Kau bahkan jarang berbicara dengan ayah. Tapi lihatlah sikap manjamu ini? Hahaha" ucap Kizuna sambil terkekeh pelan.
Bel sekolah berdering. Kizuna segera melepaskan pelukan putrinya dan menggapai tangannya untuk segera turun dari mobil mewahnnya. Dengan pelan, Kizuna mengelus bahu Mirai.
Sesekali ia membenarkan pita seragam yang dikenakan putri satu-satunya. Sebuah tag nama tersemat di dada kiri Mirai, tag dengan nama 'Yuki Mirai' tanpak begitu serasi dengan seragam musim semi sekolahnya.
"Seperti biasa. Putri ayah selalu cantik dengan seragam sekolah! Nah, cepatlah. Bel sekolahmu sudah berbunyi! " ucap Kizuna dengan senyum sumbringah. Meski berat, ia melepas genggaman tangan kecil putrinya yang terus memegang erat lengannya
" Ayah mau pergi kemana? Aku mohon tetaplah bersamaku! " Pinta Mirai, ia bahkan enggan melepas genggaman ayahnya. Kizuna hanya bisa terkekeh, sambil menyentil pelan dahi putrinya
" Ya ampun, ada apa dengan sikapmu? Kau manja sekali Mirai. Kau harus masuk sekolah, dan ayah harus segera pergi menjemput ibumu di bandara! Kau lupa, ibumu hari ini pulang dari perjalanan bisnisnya? "
" Ibu? Apa ibuku masih ada? " Mata Mirai membulat sempurna. Apa ia juga bisa melihat ibunya di dunia aneh ini?
" Hei! Putri nakal! Ibumu hanya pergi beberapa hari karena urusan bisnis. Kenapa ucapanmu seakan ibumu pergi jauh sih! Ckckck! " Kizuna menggelengkan kepalanya, ia begitu heran dengan sikap putrinya yang tiba-tiba aneh. Kizuna segera menggulung lengan kemejanya, melirik arloji di tangannya.
" Aish! Ayah terlambat! Sudah dulu Mirai. Nanti Ayah jemput bersama dengan ibumu! Nikmati harimu putriku! Belajarlah yang rajin, dan jangan buat masalah! Ayah pergi dulu! Ayah menyayangimu, Mirai! "
Kizuna mengecup kening putrinya, ia lantas masuk ke dalam mobil dan bersiap pergi. Mirai yang masih membeku, mulai sadar bahwa ayahnya ingin meninggalkannya.
" Ayah! Jangan pergi! " Kenangan terakhir Mirai dengan sang ayah kembali memenuhi pikiran Mirai. Sama seperti saat ini, ayahnya mengatakan akan datang menjemputnya. Tapi semua itu tidak pernah terjadi, tepat didepan matanya ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. Saat yang selalu Mirai sesali, jika bisa kembali ke saat itu, Mirai ingin menghentikan Ayahnya pergi dari sisinya.
Kesempatan kedua itu seolah datang saat ini. Dengan cepat, Mirai menggedor pintu mobil dan meminta ayahnya untuk tidak pergi meninggalkannya lagi. Mirai takut kejadian itu terulang lagi
"Ijinkan aku ikut denganmu, Ayah! A-aku juga ingin melihat wajah ibuku! " ucap Mirai dengan wajah memohon. Kizuna menurunkan kaca mobilnya, ia sedikit heran dengan sikap putrinya yang begitu aneh. Namun pikiran itu segera Kizuna tepis, ia lantas tersenyum ke arah Mirai sambil mengatakan kata-kata yang bisa membuat putrinya tenang
"Ayah hanya pergi sebentar. Ayah janji, akan menjemputmu setelah semua urusan ayah selesai! Okey? " ucap Kizuna pelan. Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan Mirai yang masih terpaku
Lagi, aku mendengar ayah mengatakan kata-kata itu. Waktu itu (saat Mirai kecil) aku mungkin mempercayainya. Ayah pasti menjemputku. Tapi apa sekarang aku bisa memegang kata-kata ayah? Akankah ia benar-benar kembali untuk menjemputku ditempat ini?
......................
...Bagian II : Dunia Tanpa sihir benar-benar ada!...
Setelah kepergian ayahnya, Mirai memutuskan untuk masuk ke dalam halaman luas sebuah gedung megah didepannya. Gedung itu mungkin empat kali lebih luas dari Kantor Desa Sora. Mirai memperhatikan situasi sekelilingnya, banyak anak seusianya memakai pakaian yang sama persis dan berjalan menuju gedung megah didepannya.
Dunia apa ini?
Alis Mirai sedikit berkenyit, ia merasa tidak nyaman menggunakan rok sependek ini. Bukan hanya itu, ia juga mengenakan kemeja yang sangat ketat lengkap dengan sebuah jas yang tidak kalah sempit. Pakaian itu seakan didesain mengikuti lekuk tubuhnya. Mirai akui pakaian yang ia kenakan tampak cantik dan feminim, ditambah pita cantik sebagai hiasan dilehernya. Tapi bagaimana jika musuh tiba-tiba menyerang? Ia tentu tidak leluasa bergerak dengan pakaian seperti itu. Terlebih dengan sepatu berhak yang ia kenakan saat ini
"Sebenarnya kenapa orang-orang mengenakan pakaian seperti ini. Aku sama sekali tidak membawa senjata. Bagaiman jika musuh menyerang. Apa aku masih- "
Mirai menghentikan ucapannya. Ia sadar ditelapak tangannya sama sekali tidak ada simbol Gyoku. Apa artinya, ia tidak bisa menggunakan sihir di dunia ini? Gawat!
" Simbol Gyoku ditangaku hilang! "
" Mirai! Kau sudah sembuh! " ucap Hanna tiba-tiba menepuk pundaknya. Mirai segera berbalik. Ia lega, setidaknya di dunia aneh ini ia masih bisa bertemu dengan teman-temannya.
" Hanna? Hah! Aku lega bertemu denganmu! Tunggu dulu, Rou dan Ten juga ada di Dunia ini? " ucap Mirai sambil menunjuk Rou dan Ten.
Teman-teman Mirai masih persis sama, namun yang membedakan tentu saja cara berpakaian mereka. Ten dan Rou tidak mengenakan seragam khas Militer Sora, mereka jauh terlihat berbeda.
Hanna mengenakan seragam persis sepertinya. Sedangkan Rou dan ten, mengenakan seragam senada tapi terkesan mengikuti gaya anak laki-laki. Kemeja, Jas almamater serta sepatu kest kekinian. Mereka berlihat modis dengan barang-barang bermerek yang mereka kenakan
"Tentu saja kami ada! Hei Mirai, jangan bilang jatuh dari atas kuda membuat otakmu bermasalah! Sudah kami katakan ektrakulikuler berkuda itu berbahaya!
Masih ada les balet, piano, teater, broadcaster, Golf atau Tenis! Kenapa pacuan Kuda yang kau pilih?! " ucap Rou
" Pacuan Kuda? " gumam Mirai tidak mengerti
" Diam kalian! Menurut dokter, Mirai sedikit bingung karena cedera di kepalanya! Baiklah Mirai, aku Hanna akan menjelaskan apapun yang membuatmu bingung! Kau tidak usah cemas, okey? "
__ADS_1
Hanna segera mengandeng lengan Mirai, mengajaknya berkeliling lingkungan sekolah yang luas itu. Meninggalkan Rou dan Ten yang masih membeku, heran dengan sikap Mirai
" Hanna, sebenarnya dimana kita sekarang? Ini bukan dunia sihir kan? " ucap Mirai yang merasa asing dengan lingkungan taman luas tempat ia dan Hanna berjalan-jalan
" Emm... Sepertinya cedera otakmu parah Mirai. Baiklah! Aku akan mulai menjelaskan semua mengenai teman, sekolah dan bahkan keluargamu! Tapi dengan satu syarat! Biarkan aku membaca Novel karyamu! Bagaimana? " Tawar Hanna dengan mata berbinar
" Novel? Apa maksudmu? " Hanna hanya menghela nafas pelan sambil menunjuk Note Book di tangan Mirai.
" Biarkan aku membacanya! Karyamu sungguh luar biasa! Kisah Negeri sihir yang membuatku betah membacanya! Kau penulis hebat. " Mirai tidak mengerti ucapan Hanna. Dan juga sejak kapan benda aneh berbentuk papan itu berada ditangannya. Penulis? Ia bahkan tidak pernah mendekati kertas dan tinta
" Baiklah! Apapun maumu. Tapi kau harus menjelaskan semua padaku! "
Hanna mulai berdehem pelan. Ia pun menunjuk sebuah tugu besar yang bertuliskan 'Sora National High School' tak jauh dari tempatnya berdiri
" Saat ini kau berada di sebuah sekolah super elite di Negeri Sora. Sora National High School. Hanya 5% orang kalangan atas yang mampu sekolah disini. Fasilitas super eksklusif serta kemewahan yang ditawarkan merupakan yang paling bagus didunia. Tidak hanya itu orang-orang yang sekolah disini juga berasal dari latar belakang yang tidak main-main! “
Hanna mengajak Mirai untuk duduk di salah satu bangku taman didekat sana. Mirai tampak melihat lingkungan sekitarnya. Taman yang Cantik dan asri, berisi ari mancur super besar di tengah alun-alun. Ia paham kenapa tempat itu kemungkinan dihuni orang-orang kaya saja
"Kau harus ingat satu hal Mirai. Di sekolah ini, para siswanya di bagi menjadi 2 kelompok menurut status sosial mereka. Clan bangsawan serta Clan Muggle "
- Muggle : sitilah manusia non sihir di serial Harry pother-
" Muggle? Mahluk apa itu? " ucap Mirai benar-benar tidak paham dengan maksud Hanna.
Hanna hanya bisa menghela nafas panjang " Entah kau mau mengejek atau tidak. Baiklah aku akan menjelaskan semua demi dapat membaca karya novelmu! "
Hanna menunjuk deretan siswa yang tengah sibuk belajar di taman tengah. Di dalam kelompok itu juga terdapat Ten dan Rou. Mirai juga perhatikan bahwa wanita yang mirip dengan Tsuyu, Kazumi dan Yuri juga berada di antara anak-anak itu
" Mereka dari bagian Muggle, yang artinya mereka menjadi kaya karena sebuah jabatan yang orang tuanya dapatkan. Orang tua mereka berasal dari kalangan politisi, jaksa, dokter, anak selebriti atau bahkan anak presiden. Intinya ayah mereka mengabdi untuk masyarakat dan mendapat kekayaan dari sana.
Banyak dari mereka yang tidak kaya dari lahir. Oleh sebab itu mereka dibanggil Muggle. Setengah darah bangsawan! Karena ayah ibuku hanya seorang anggota kongres (sejenis DPR) aku juga termasuk ke dalam golongan Muggle disekolah ini! " ucap Hanna pelan
" Lalu siapa yang termasuk Clan bangsawan? " ucap Mirai penasaran. Ia heran dunia ini bahkan lebih ribet dari Dunianya
" Clan bangsawan di Sekolah ini juga dibagi menjadi dua bagian. Heirs dan Co-Heirs! “
"Istilah apa lagi itu?! "
" Heirs sebutan untuk orang-orang yang akan mewarisi bisnis keluarga langsung. Sementara Co- Heirs, mereka anak-anak kaya yang tidak perlu melakukan banyak hal, tapi tetap kaya dengan saham yang mereka akan warisi. "
Hanna menujuk ke arah gerbang sekolah. Deretan mobil sport mewah mulai memasuki lingkungan sekolah. Mobil dengan warna berbeda, satu per satu mulai terparkir di halaman sekolah yang luas. Satu per satu pemuda tampan nan modis keluar dari dalam mobil. Masing-masing mobil diisi dua orang dan mereka disambut teriakan Histeris para siswi
"Mereka dijuluki squad Sora boys! Pewaris serta Pewaris pendamping perusahan raksasa di negeri ini. Mereka yang termasuk golongan Clan bangsawan yang berasal dari latar belakang keluarga terpandang. Orang tua mereka memiliki sebuah Group perusahaan yang menguasai hampir semua ekonomi didunia. Kekayaan mereka bahkan tidak terhitung jumlahnya.
Coba kita lihat! Mulai dari sana. "
Hanna menujuk dua pemuda dengan berambut merah yang keluar dari mobil Sport berwarna senada. Satu pemuda berwajah tenang dan kalem terlihat mengenakan ransel di bahunya. Satu lagi pria yang mirip keluar dari mobil itu, berbeda dengan sepupunya, ia lebih terkesan imut dan pecicilan.
"Mobil sport berwarna merah, mereka adalah pewaris Group Tsuki yang bergerak dibidang transportasi, Migas serta pertambangan emas. Pewaris kekuasan mereka adalah Hisui, pria kalem yang baru saja keluar dari dalam mobil. Sementara Pewaris pendampingnya adalah Hirui, laki-laki berwajah imut dengan julukan Tomat cerewet. Mereka adah sepupu yang sangat bertolak belakang dalam hal kepribadian. "
Mirai juga mengarahkan pandangannya ke arah Hisui dan Zou. Ia tidak menyangka, dua orang yang menurutnya sama persis itu ternyata sepupuan di dunia ini (Mirai tidak tahu di dunia Sihir Zou dan Hisui ayah dan anak). Mirai hanya bisa menggelangkan kepalanya heran.
Hanna kembali menunjuk ke arah mobil berwarna biru. Dua pria yang begitu mirip, dengan rambut biru pucat serta mata biru sedalam lautan keluar dari dalam mobil.
Pesona mereka tidak bisa disembunyikan, hanya dengan senyuman tipis mereka mampu membuat siswi yang lain berteriak histeris. Laki-laki terlihat seperti Nee, tampak begitu tenang menatap sekelilingnya. Memasukan tangan ke saku celana, sambil berjalan lurus tanpa menghiraukan gadis-gadis mengelu-elukan namanya. Sementara sang adik, hanya mengikuti kemana langkah kakaknya.
"Dan selanjutnya para pria tampan yang keluar dari mobil Sport biru. Mereka adalah pewaris Group Hoshi yang menguasai sektor Pariwisata serta makanan olahan laut yang terkenal. Asal kau tahu Mirai, baru-baru ini ayah mereka baru membeli beberapa pulau pribadi hanya untuk memisahkan kedua saudara yang selalu melekat bagai lem. Hotaru sangat mengangumi Hikari. Tapi Hikari tidak berniat meneruskan usaha keluarga dan memilih hidup sederhana dengan menjalankan usaha klinik hewan.
"Lalu bagaimana dengan siswa yang keluar dari kereta hitam itu? " Pandangan Mirai seakan kosong. Ia tidak percaya, orang itu juga ada didunia ini. Hanna mengikuti kemana arah pandangan Mirai
Dua orang laki-laki keluar dari dalam mobil sport Hitam. Tatapan mereka begitu tajam dengan wajah yang tegas. Salah satu siswa berambut abu-abu yang melawan gravitasi mulai membuka masker hitam yang menutupi wajahnya. Sambil tersenyum pelan, ia melirik ke arah saudara kembarnya dan berjalan beriringan.
" Hah? Kereta? Maksudmu Mobil Sport Hitam? Mereka Aora dan Yora. Dua saudara kembar yang masing mewarisi kedua perusahan raksasa ayah dan ibunya. Sun Group serta Moon Group. Mereka yang paling terpandang di sekolah ini. Semua lini kehidupan yang diguanakan manusia diproduksi perusahaan keduannya. Real estat, infestasi, start up dan masih banyak lagi!
Satu group saja sudah berkuasa. Karena pernikahan kedua orang tuanya, group raksasa itu bergabung dan menjadikan keduanya lahir dengan sendok emas! Tidak, aku bisa katakan sendok berlian!
Namun, anehnya sikap mereka sangat bertolak belakang. Yora merupakan siswa yang menduduki peringkat satu umum disepanjang semester. Dia pria yang ramah, tapi terkesan dingin. Sementara saudaranya, Aora. Dia 100 % seorang pemalas! "
" Pemalas katamu? " ucap Mirai, sepertinya ia tahu maskud Hanna
" Kau lebih tahu sikap Aora lebih dari siapapun Mirai. Dia lebih memilih tidur selama kelas berlangsung. Menjadi priangkat ke- 301 dari 200 siswa disekolah ini. Bukankah hal itu mustahil? Aku akui, hanya Aora yang mampu! "
Mirai tersenyum pelan, setidaknya kehidupan Aora dan Yora didunia ini tidak dipenuhi tragedi. Mereka tidak bermusuhan, tidak ada darah di tangan mereka. Mirai senang mereka tumbuh bak bunga di rumah kaca.
" Lalu bagaimana denganku? Kelas sosial apa yang aku dapatkan didunia ini? Muggle, bangsawan atau Yokai? Hahaha! " ucap Mirai asal. Bagaimanapun ia tidak peduli dengan tingkatan yang orang-orang beri. Baginya bertemu ayahnya sudah lebih dari cukup!
" Kau bukan bagian keduanya. " ucap Hanna pelan. Mirai menghela nafas lega, setidaknya ia tidak perlu ikut campur dalam urusan 'kasta' ini
"Kau memiliki segalanya. Kau pewaris Yuki Group serta anak dari seorang Jendral angkatan Darat Hebat! Perusaan medis ibumu bahkan menguasai segala bidang pengobatan yang mutahir! Kau juga pemilik yayasan Sora yang menaungi sekolah ini Mirai! "
" Apa?! Aku pemilik sekolah ini?! "
......................
Bagian III : Seperti apa hidup Mirai di Dunia ini?
Mirai berdiri mematung tepat di depan kelas. Jujur, ini kali pertama Mirai memasuki sebuah ruang belajar. Selama ini, ia hanya menghabiskan waktu belajar dengan bantuan ayahnya. Kehidupan berpindah mereka, menyebabkan Mirai tidak memiliki kesempatan belajar disebuah akademi Sihir. Tapi, sepertinya kehidupan Mirai didunia ini berbanding terbalik. Ia memiliki fasilitas yang luar biasa. Sekolah, pakaian bagus, keluarga hebat, semua ia miliki. Hanya saja ia heran, ketika Mirai memasuki salah satu kelas. Kenapa semua perhatian tertuju padanya?
Mirai mengarahkan pandangannya ke arah Hanna, yang sudah lebih dulu duduk di ruang kelas itu. Hanna hanya menepuk pelan kepalanya, Mirai heran. Apakah ia berbuat kesalahan?
Semua orang berbisik pelan, sambil mengarahkan tatapan heran ke arah Mirai.
"Kenapa dia masuk ke kelas ini? "
" Entahlah. Aku dengan ia terluka baru-baru ini. Mungkin itu sebabnya" bisik semua siswa dikelas itu. Salah satu siswa akhirnya membuka mulutnya
"Hei Mirai! Kenapa kau masuk ke kelas ini? Ruanganmu kan di Royal Clash room! "
Mirai mengerutkan alisnya, istilah apa lagi itu. " Ro- ro apa?! "
" Mirai kau disini rupanya! " ucap seorang pria yang langsung menarik tangan Mirai. Hotaru, entah sejak kapan pria itu masuk ke dalam kelas. Semua siswi di kelas itu dibuat riuh karena kedatangannya
" Hotaru? "
" Kelasmu bukan disini! Cepat ikut aku ke lantai atas! " ucap Hotaru sambil merangkul Mirai. Gadis berambut Hitam sebahu itu hanya bisa mengikuti kemana Hotaru membawanya.
" Hei! Kau mae membawaku kemana! Hotaru! "
Hotaru menarik Mirai dalam rangkulannya membawanya menuju Lift khusus menuju ruang paling atas gedung itu. Di dalam Lift, ternyata Hirui dan Hisui sudah menunggu. Mereka menyuruh Hotaru dan Mirai masuk dengan lirikan mata.
__ADS_1
" Kalian? Ruang apa ini! "
" Masuklah! "
Mirai sempat ragu, kenapa Hotaru menyuruhnya masuk ke dalam ruang pengap tanpa Ventilasi itu. Pintu Lift tertutup, membuat Mirai semakin parno dan berniat keluar dari sana
"Hya! Sihir aneh mejebak kita kedalam ruangan pengap ini! Kita harus segera keluar dari sini! Tunggu apa lagi! Cepat! " Teriak Mirai Histeris sambil meggedor-gedor pintu. Hotaru hanya menatap aneh ke arah Mirai
" Sihir? " gumam Hisui heran
" Ada apa denganmu? Kita hanya memasuki Lift saja. Mirai, kau masih sakit? Dan lagi, sihir? Kau terlalu banyak menonton serial Fantasi! Kau bahkan menggabungkan dunia nyata dengan dunia Harry pother!" ucap Hotaru sambil memeriksa kening Mirai dan mengusap pipi Mirai. Namun tangan besar Hisui langsung menggapai lengan Mirai. Menariknya, hingga tubuh ramping itu mendarat dipelukannya
" Mirai beriskap aneh karena berada didekat playboy sepertimu Hotaru! Sebaiknya ia harus berada disisi orang sepertiku untuk keamananya! " ucap Hisui.
Ia pun mengubah posisi berdiri Mirai dan mulai menjauhkannya dari Hotaru. Mirai kini sedikit merasa aman berdiri tepat di samping pria jangkung berambut merah itu. Setidaknya Hisui dedikit normal. Namun matanya masih menyipit, ada apa sebanarnya dengan semua orang-orang ini?
"Sial! Kau selalu merebut Mirai dariku Hisui! Kau belum puas, harga saham perusaahanmu turun karena ayahku mencabut investasinya? " ucap Hotaru sedikit kesal. Ia pun memencet tombol lift didepannya asal.
" Kami tidak butuh investasi dari Group Hoshi. " ucap Hisui santai. Mereka terlihat seperti musuh, bahkan cara memandang satu sama lain terkesan dingin.
" Cih! Ada apa dengan dua orang ini! Dipertemuan Ketiga Negara mereka terlihat akur! Tunggu! Ruangannya bergerak! Wuaa! "
Mirai merasakan ruangan yang dipijaknya mulai bergerak aneh. Tubuhnya tidak lagi seimbang, tanpa bisa menggapai apapun sebagai tumpuan. Tubuh Mirai akhirnya terjungkal ke belakang
Sebuah tangan dengan sigap menangkap tubuh Mirai. Ia langsung melirik orang yang menolongnya. Hirui, dengan senyuman lebar menopang tubuh Mirai yang hendak terjengkang kebelakang.
"Hei Mirai, perhatikan langkahmu. Jika saja aku tidak menangkap tubuhmu, kau pasti akan terluka lagi. "
" K-kau Zou! "
" Zou? Siapa itu? Oh! Satu lagi. Ada sesuatu di bahumu! " ucap Hirui sambil mengambil potongan benang kecil di bahu Mirai. Iris ungu pucat sempat bertukar pandang dengan iris Hazel Hirui
" Hei! Apa yang kau lakukan, Zou! "
Mirai segera bangkit berdiri. Sambil memperbaiki pakaiannya, ia menyamarkan rasa canggung dengan melihat ke arah lain. Ia tahu pria dibelakangnya adalah Zou. Tapi entah kenapa, sikap pria itu begitu berbeda.
" Kalian Bertiga! " teriak Mirai keras. Suaranya bahkan sempat menghentikan perang tatapan antara Hotaru dan Hisui
" Jika kalian berani melakukan hal aneh oadaku lagi! Akan aku pastikan membekukan tubuh kalian dengan sihir es milikku. Dan kau Hotaru! Jika kau berani menggodaku lagi! Jiwamu akan aku hisap hingga tidak bersisa! MENGERTI! " Mirai menatap ketiga pria yang mematung didepannya dengan tatapan membunuh.
" B-baiklah M-mirai. Maafkan kami" ucap Ketiganya kompak sambil membungkuk
"Cih! Kalian semua benar-benar aneh! "
Pintu Lift akhirnya terbuka lebar. Dengan cepat, Mirai segera meninggalkan ketiga laki-laki itu dan menuju ruangan satu-satunya di lantai itu.
" Tunggu? Siapa yang aneh! Mirai yang selali diam dan tenang. Kenapa berubah garang dan bar-bar seperti itu?! " ucap Hotaru heran dengan perubahan sikap Mirai
" Mungkin tanggal merahnya datang? " ucap Hirui asal. Mereka bertiga hanya bertukar pandang, sambil menaikan bahu tanda tidak mengerti.
Tanpa berpikir panjang, Mirai membuka pintu besar didepannya dan mendapati ruangan luas dengan berbagai fasilitas asing menurutnya
Ruangan besar dan mewah. Berbagai macam permainan virtual maupun manual terdapat disana. Tidak hanya itu, ruangan belajar khusus yang terdiri dari 6 meja menjadi pusat ruangan.
Di setiap sisi ruangan, terdapat bilik berbeda dengan dengan ciri khas masing-masing pemilik bilik. Perpustakaan pribadi, arena bermain, ruang santai serta sebuah set bar kecil yang dipenuhi makanan dan minuman.
Mirai menatap takjub ruangan itu, sambil berjalan pelan ia mulai memasuki ruangan itu.
"Kau datang, Mirai. Kemarilah, batu aku mencicipi kreasi makananku. "
Di salah satu bilik, Hikari dengan apron melilit tubuh berseragamnya mulai menghampiri Mirai. Ia membawa sepiring coklat strawberry dan menawarkan Mirai untuk mecicipinya
Mirai sedikit melirik ragu ke arah Hikari. Ia mulai menggapai coklat yang tertata cantik disebuah piring. Untuk pertama kalinya, Mirai mencoba makanan asing yang terlihat seperti lumpur yang dikeringkan itu
"Hmmm.... Enak sekali. Aku menyukainya! " ucap Mirai dengan senyuman lembut.
" Benarkah? Kau tidak salah? Di dalam coklat itu ada strawberry nya! "
Hikari terlihat membeku, sambil menatap Mirai dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, sedetik kemudian senyum hangat terukir di wajahnya
" Syukurlah kau menyukainya. Kau tunggulah disana, aku akan membungkusnya untuk kau bawa pulang" ucap Hikari sambil beranjak pergi.
"Hm... Baiklah! "
Mirai putuskan untuk berkeliling didalam ruangan itu. Ia menghampiri deretan kursi eksekutif yang berisi nama masing-masing anggota Sora Boys. Mata Mirai menemukan sesuatu yang lain, ternyata namanya juga terdaftar dalam keanggotaan mereka. Mungkin ia lah satu-satunya wanita pemilik kursi di ruangan ini.
"Bagaimana kondisi tubuhmu, Mirai? " ucap seorang pria yang keluar dari bilik perpustakaan pribadi miliknya. Mata sekelam malamnya di bingkau kaca mata tipis. Membuat paras dingin Yora semakin mempesona dengan penampilan ala kutu buku yang cool
Mata sekelam malamnya menatap lekat wajah Mirai. Gadis itu tampak terdiam sejenak, ia tidak menyangka bahwa Xio juga berada di dunia ini
" Kau juga disini Leader? Tidak, maksudku Xio. Tidak... Tidak.. Maksudku, Yora " Mirai sempat kikuk memanggil nama Yora.
Pria bermata kelam itu mulai mendekat dan memilih duduk bersandar di meja Mirai. Ia segera melepas jas miliknya dan melampirkan ke punggung Mirai.
" Musim semia baru saja tiba. Udara diluar masih sangat dingin. Kau harus menjaga kondisi tubuhmu. "
Tidak hanya itu, Yora juga memasang Hearphone miliknya, dan membuat Mirai mendegarkan alunan musik klasik yang begitu indah. Yora menarik Mirai lembut, mengarahkan gadis itu untuk duduk bersandar disebuah kursi miliknya yang super nyaman
" Aku sudah meminta guru membatalkan kelas untuk hari ini. Kau bisa istirahat sebentar disini. Oh ya! Aku juga memberimu hadiah atas kesembuhanmu! Bukalah. " ucap Yora sambil memberikan Mirai sebuah buku tebal berhurup asing.
Mirai membuka isi buku itu, tidak satupun tulisan aneh dibuku itu dapat ia baca. Untuk menghilangkan kecurigaan, Mirai mengelak dengan alasan akan membacanya ketika sampai dirumah
" Aku akan membacanya nanti. Terima kasih, Yora. " ucap Mirai ragu.
Yora hanya mengernyitkan alisnya, ia terlihat heran. Mirai mulai gugup, apa ia melakukan sebuah kesalahan?
" Apa ada yang salah? "
“Tidak ada. Kau bisa menghabiskan waktu untuk bersantai sejenak. Musik ini akan membantumu menenangkan pikiranmu, Mirai." ucap Yora lembut.
Mirai menganguk mengerti. Tidak bisa dipungkiri, musik yang ia dengar begitu indah hingga membuat perasaanya begitu nyaman.
"Semua orang sudah aku temui. Tapi dimana dia sekarang? "
Namun, ada seseorang yang belum ia temui di dunia ini. Mirai mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia tidak bisa menemukan sosok pemilik rambut abu-abu dimana pun. Mirai sudah bertemu semua orang, Lantas kemana Aora pergi?
......................
...Bab IV : Di Negeri tanpa Perang, ternyata kejahatan tetap ada....
__ADS_1
- bersambung ke bagian dua-