
(Time skip 3 bulan)
Cuaca di Negeri Hoshi tampak bersahabat. Laitan terlihat tenang dengan awan biru menghiasi cakrawala. Dengan pemandangan pantai yang indah, Mirai dan Shiyuu bersiap-siap naik ke kapal untuk kembali ke Negeri Sora
3 bulan berlalu dengan cepat semenjak operasi Tuan Muda Hoshi berlangsung. Demi menjaga perdamaian antar kedua Negara, Mirai bertugas merawat Hotaru hingga benar-benar pulih
Sebelum Mirai naik ke kapal, Hotaru mengajak Mirai untuk berbicara 4 mata dengannya. Merka akhirnya pergi ke salah satu pinggiran pantai di dekat sana. Angin laut menghemoas rambut panjang Mirai. Untuk terakhir kalianya ia mencoba mengingat suasana menenangkan ini didalam benaknya. Lama, hanya keheningan yang menghiasi atara ia dan Hotaru
"Ada apa kau mengajakku ke sini Hotaru?"
Ucap Mirai memecahkan keheningan. Mirai hanya mengikuti kemana perginya orang nomer satu di Hoshi itu. Ia tidak tahu apa yang hendak pria iti sampaikan
Hotaru yang sedari tadi berdiri membeku di depan Mirai kini mennatap gadis yang berdiri di belakangnya. Posisi mereka saling berhadapan.
"Mirai, Maukah kau tinggal di sini? Aku tidak mau kau pulang dan aku kembali sendirian ditempat ini. Jika kau tinggal di sini, aku bisa mendengar omelanmu setiap hari. Kau juga bisa memukulku dan bercanda seperti biasa.
Begini saja, jadilah istriku saja, bagaimana? " ucap Hotaru sambil tersenyum seolaj tanpa dosa. Kata menikah sepertinya sangat enteng keluar dari mulutnya.
" Menikahlah denganku, hm? "
Ia memandang wajah Mirai penuh harap. Meski harus sedikit membungkuk karena tinggi Mirai, senyuman tampak menghiasi wajahnya
Mirai hanya memandang wajah tampan di depannya datar, ia lantas menempelkan tangannya ke kening Hotaru dan turun ke dadanya (Mirai Mode santuy)
"Kau tidak demam. Luka operasimu juga baik-baik saja. Trus apa masalahnya? " Mirai memiringkan kepalanya, sambil memegang dagu. Ia sangat yakin tidak ada efek pasca operasi
" Masalah? "tanya Hotaru tidak kalah penasaran
" ITU ARTINYA, TIDAK ADA MASALAH! KENAPA KAU MENGATAKAN HAL YANG GILA, HOTARU! "
Mirai adalah satu-satunya gadis di dunia ini yang berani berteriak tepat di depan wajah penguasa 1/3 benua itu. Hotaru hanya memasang tampang bisa saja setelah penolakan keras itu, sambil menggaruk belakang kepalanya
" Jadi kau tidak mau. Kau juga menolak tinggal di kastil Hoshi itu? Semua kebutuhanmu akan aku tanggung. Bahkan aku akan membuatkan rumah sakit besar di sini, jika kau menjadi istriku, kan? "
Mirai hanya menepuk kepalanya pelan, bagaimana mungkin seorang pemimpin sebuah Negeri, sangat naif dengan perasaannya. Mirai pun memegang tangan Hotaru, ia mengarahkannya untuk merasakan detak jantungnya sendiri
" Dengar Hotaru, meskipun aku tidak begitu pandai dalam urusan asmara. Setidaknya kau bisa membedakan hal ini
Rasakan detak jantungmu sendiri, jika benar kau ingin aku menjadi istrimu, tentu kau harus mencintaiku. Minimal kau menyukaiku kan? Sekarang, Apakah jantungmu berdetak kencang?
Seseorang yang benar-benar kau sukai, jika kau berada di depannya saja, jantungmu akan terus berdetak dengan cepat" ucap Mirai
Hotaru pun mengikuti saran Mirai, ia menatap Mirai lekat serta mulai merasakan detak jantungnya sendiri
"Aku.... Rasa...... Jantungku berdetak dengan normal sekarang. Apa mungkin ada kelainan? " Mirai hanya bisa menghela nafas panjang
" Tidak ada kelainan, jantungmu 100% Sudah kembali normal. Jika jantungmu tidak berdetak kencang untukku. Itu berarti, kau tidak benar-benar menyukaiku. Jika kau menyukaiku kau akan merasakan darah mengalir ke wajahmu, dengan kata lain wajahmu akan memerah padam! " Hotaru mengangguk paham
" Oh.... Begitu..... Tapi, kenapa setiap kali aku bersamamu, aku merasa senang. Jika itu bukan perasaan suka.... Lalu apa? "
" Entahlah. Mungkin kau menganggapku temanmu, selama 3 bulan aku di sini, kau benar-benar tidak memiliki teman dekat satu pun....
__ADS_1
Mungkim saja kau nyaman, karena aku teman pertama untukmu. Aku juga merasakan perasaan yang sama, ketika pertama kali aku memiliki teman. Jadi.... Kau terlalu polos Hotaru, untuk membedakan perasaan teman atau perasaan khusus....... " Hotaru pun memandang laut biru di depannya
" Teman ya ? Tapi jika kau bilang jantungku berdetak kencang. Jika aku bertemu gadis yang aku suka? " ucap Hotaru dengan pandangan menerawang, seolah tengah memikirkan seseorang
" Hm..... Tentu saja. Tunggu. Apa ada seseorang yang membuatmu berdegub kencang, heh? Cobalah pikirkan seseorang! " Mirai mulai meledek Hotaru
Hotaru hanya sedikit mematung, ia pun memikirkan 'seseorang' itu. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya
" Tidak mungkin! " Kini jantungnya berdetak keras, bahkan hanya dengan memikirkannya saja
" Jadi selama ini, jantungku berdetak tidak karuan, bukan karena penyakitku, itu karena aku......... " batin Hotaru
" T-tidak mungkin! " Hoyaru berteriak frustrasi, lantas ia meninggalkan Mirai begitu saja sambil memegang kepalanya. Mirai
" Hei! Kenapa kau pergi..... Hotaru! Hey! "
......................
Mirai bersiap masuk ke kapal dan kembali pulang. Ia dan Shiyuu terlebih dulu membungkuk di hadapan Hotaru dan para Tetua
" Sampaikan kepada ketua Zen, terima kasihku atas bantuan Negeri Sora.
Mulai hari ini, Pihak Hoshi berjanji akan terus menjalin hubungan kerjasama dan menjaga perdamaian. Kami juga akan melupakan kejadian Desa Fuu" ucap Hotaru
Selama ini, Mirai menemuka keunikan di dalam diri Hotaru. Lucunya Hotaru dalam setiap tugas resmi atau di depan bawahannya ia tampak sangat bijaksana dan berwibawa. Namun ketika di depan Mirai ia tidak menjaga sikapnya, dan malah menampakkan sikapnya yang naif layaknya bocah
Mungkin itu yang membuat Hotaru salah paham, ia menganggap Mirai sebagai teman dekatnya justru sebagai sebuah perasaan khusus. Dengan sikao Mirai yang blakblakan tentu saja ia akan salah mengartikan perasaannya
"Terima kasih kak Tsuyu. " Mirai pun menerima bingkisan itu
Mirai melihat wajah Hotaru yang kini mulai kikuk, berdiri disamping Tsuyu. Hotaru yang sedari tadi menoleh gadis yang berdiri di sampingnya pun mengalihkan seketika pandangannya - canggung.
Mirai hanya menghela nafas, melihat kedua orang teman Hoshinya itu
Hah...... Yang satu tidak percaya diri mengakui perasaannya......
Yang satu...... Terlalu naif, untuk merasakan orang yang selama ini ada untuknya lah, yang membuat jantungnya berdetak.
Seklibat ide gila terlindas di otak Mirai. Dengan senyum penuh arti ia menjabat tangan Tsuyu erat
"Tentu kak Shiyuu! Kapan-kapan, berkunjunglah ke Sora. Aku akan mengenalakan beberapa pria tampan gagah berseragam Militer di sana, bagaimana? " Mirai mulai memanasi Hotaru. Tsuyu tidak mengerti apa maksud Mirai, ia pun hanya mengikuti arus begitu saja
" Hehe..... Benarkah Mirai? Mungkinkah Mereka akan tertarik padaku? " ucap Tsuyu malu-malu
" Tentu saja! ...... Mereka bukan 'pria naif yang tidak tahu perasaanya sendiri'. Mungkin melihat penampilanmu ini, mereka akan langsung mengajakmu berkencan kak Tsuyu! "
Mirai pun tersenyum licik, sambil melihat wajah Hotaru yang mulai menegang
"Mirai! Ayo kita Naik! " ucap Shiyuu sambil berjalan ke arahnya, sedari tadi dia sibuk membahas sesuatu dengan para tetua Hoshi
__ADS_1
"Baik senpai! " Mirai mulai berjalan ke arah Shiyuu. Namun langkahnya terhenti ketika Tsuyu memanggilnya
" Oh ya Mirai! Sebagai tanda terima kasihku, aku akan mencari orang yang kau katakan kemarin. Percayalah kepadaku! " ucap Tsuyu sambil melambaikan tangan ke arah Mirai
"Hm....... Baik kak Tsuyu........ Sampai jumpa! "
Mirai melambaikan tangan, lantas di balas Tsuyu dan Hotaru. Kapal mereka pun mulai meninggalkan pelabuhan. Tsuyu hendak pergi dari sana, namun tiba-tiba saja Hotaru bertanya ke Tsuyu.
"Nn. Tsuyu. Apa kau benar-benar akan mengunjungi Sora? " ucap Hotaru dengan nada formal seperti biasanya
" Hm... Tentu Tuan Hotaru. Aku menjanjikan sesuatu pada Mirai! "
"Apa itu? " Hotaru penasaran. Tsuyu tersenyum lembut. Tentu saja ia tidak mau berbagi rahasia dengan Hotaru
" Ini rahasia kami sebagai perempuan" ucap Tsuyu sambil meninggalkan Hotaru. Membuat pria itu termanung cemas
"Apa Mirai serius akan mengenalkan pria ke Tsuyu? " gumam Hotaru. Ia pun segera menyusul langkah Tsuyu
" Tunggu Nn. Tsuyu..... Bagaimana kau meninggalkan atasanmu? "
......................
Tap..... Tap.... Tap
Dengan cepat Aora melompat di antara pepohonan. Di sebuah Hutan yang cukup menakutkan, Aora melakukan misi seorang diri atas printah langsung ketua Zen.
Hutan itu adalah Hutan iblis, tempat dimana kastil Tengu berada. Sudah tiga bulan, Aora menyelidiki kasus terkait dua orang Misterius yang menyerang bos bandit.
Akibat kasus yang sudah cukup lama, Aora kesulitan mencari informasi. Saksi-saksi seperti bos bandit pergi meninggalkan kastilnya karena trauma membuat Aora harus bekerja ektra melacak keberadaan mereka
Cops Merah juga turut andil menyembunyikan informasi yang mereka dapat. Mereka sengaja menghancurkan berbagai bukti di dalam kastil agar Ketua Zen kesulitan
Aora pun mendarat di sebuah tanah lapang kosong, di tengah Hutan Iblis.
"Aku merasakan sesuatu disini. Tapi sejauh ini, tidak ada apa-apa di depanku" gumam Aora
Sadar ada yang aneh di tanah lapang itu, Aora mengaktifkan sihir Gyokunya. Ia pun menciptakan aliran petir merah, yang membentuk pedang besar di tangannya. Matanya berubah menjadi merah menyala. Bayangan kastil besar terlihat jelas teelihat dari mata spesialnya. Musuh tampaknya menyembunyikan markas mereka dengan sangat baik
"Sudah aku duga, ternyata tempat itu dilindungi sebuah pelindung bersegel! "
Trrrrrrrrsssssss...........
Suara listrik nyaring terdengar dari pedang listrik Aora. Ia pun mengayunkan pedang itu, dan menghancurkan pelindung yang menyembunyikan markas Tengu selama ini.....
Trassssssss.........
Aora membelah pelindung itu, seketika kekuatan sihir itu pecah dan menampakkan sebuah kastil megah di depan matanya. Tanpa rasa takut sedikitpun, Aora memasuki kastil yang menyeramkan itu
"Siapa sebenarnya orang yang tinggal di tempat menyeramkan seperti ini? " gumam Aora
...----------------...
__ADS_1
(Bantu jawab Aora: cewek yang kau buncini.... Pernah tinggal di sana tau😒)
Dan kenapa semua pria di dunia Mirai itu polosnya kelewatan...... Rou, Hotaru, Aora, Yora dan bahkan Ten