
Suasana rapat semakin mencengkram, Aora tidak bisa mengendalikan amarahnya, hampir seluruh tubuhnya diliputi energi kegelapan yang begitu pekat dan kuat
"Semua, cepat kalian keluar dari ruangan ini! "
Ketua Zen memerintahkan semua orang keluar, dengan cepat pria tua itu menghampiri Aora, yang masih diam dengan kepala tertunduk sambil memegangi kepalanya
" Aora sadarlah! Tenangkan dirimu!
Aora! "
Ketua Zen mencoba menyadarkan Aora, namun Aora hanya bisa memegangi kepalanya sambil mencengkram rambut peraknya kasar, sembari berteriak menahan sakit
Semua orang di ruangan itu sudah pergi, hanya menyisakan Aora, Ketua Zen serta Tanuki yang masih diam berdiri menatap kedua orang di depannya
"Arrrrggghhhhhhh..... Tidak... Tidak seharusnya pria sepertimu!!!! Berani membicarakan orang tuaku!!! "
Aora semakin kehilangan kendali atas dirinya, ia pun mematahkan meja di depannya hanya dengan hentakkan tangannya
Trasssss......
Aora melompat ke hadapan Tanuki, dan mulai mencekik leher pria tua di depannya. Mata Merah menyala yang diliputi kemarahan begitu kuat terlihat memenuhi sorot matanya.
"Aora!!!!! Hentikan!!!! "
Ketua Zen mencoba menghentikan Aora yang hendak membunuh Tanuki. Ia pun segera mencengram bahu Aora, berusaha menenangkan muridnya.
Aora yang seakan tidak mengenali Gurunya, dengan sekali hentakan ia menghempas tubuh gurunya hinga membentur tembok dengan keras
Brakkkkkkkkk......
Tubuh ketua Zen terpental, hingga menyebabkan dingding di belakang tubuhnya retak akibat kekuatan Aora yang mematikan
Uhukkkk.... Brusss...
Tubuh renta Ketua Zen tidak sebanding dengan serangan Aora. Serangan Aora bahkan membuat ketua Zen memuntahkan darah sambil memegang dadanya yang sakit
"Aora.... Aku mohon.... Tenanglah" ucap Ketua Zen, sambil mencoba berdiri, meskipun masih menahan rasa sakit
Tanpa mempedulikan Gurunya, Aora yang sudah dikuasai amarah kini mencengkram leher Tanuki, hingga pria licik itu tidak lagi menginjak lantai dan merasakan sesasi kehabisan nafas akibat tercekik
"Matilah...... Keparat!!!!! "
__ADS_1
Suara Aora berubah, tidak ada lagi kesan lembut dalam ucapannya. Ia seperti bukan dirinya lagi, melainkan hewan buas yang haus membunuh
" Benar...... Kau akhirnya mengeluarkan kekuatan mostermu Aora!
Uhuk.... Uhuk.....
Kau mungkin bisa menekan kekuatannya karena bantuan Zen, tetapi Zen bukanlah bagian dari Clan Pilar pelindung.
Kekuatan sihirmu yang begitu kuat, tentu saja Zen tidak bisa menyegelnya terus menerus.
Bfffffttttt.......
Kau tidak bisa menghilangkan kekuatan kegelapan dalam dirimu
Ingatlah Aora, kau sebenarnya bukan manusia, kau itu Moster..... Hahahahahah"
Tanuki tertawa lepas meski darah keluar dari mulutnya, Tanuki seakan tidak peduli bahwa bisa saja Aora membunuhnya saat ini
Aora mengencangkan jeratannya, kukunya bahkan sudah masuk menusuk kulit leher Tanuki hingga mengeluarkan darah
"Kau...... Tidak lebih dari Moster Pembunuh. Aku hanya perlu membangkitkan dirimu yang sebenarnya saja!!!! " seringai menghiasi wajah licik Tanuki
Tanuki sudah menduga, dengan menggunakan Yora, ia bisa memancing emosi Aora dan mengadu domba kedua saudara itu
Menyadari Aora lepas kendali, ketua Zen segera bangkit berdiri dan mengumpulkan energi angin di tangannya
Gulungan angin terbentuk, dan dengan cepat ia arahkan ke Aora. Membuat Aora melepaskan cengkramanya meski sedikit melukai tubuhnya
Blassssssss
Tanuki akhirnya terbebas, sementara Aora yang merasakan sakit di kepalanya hanya bisa menggerang hebat
"Tanuki!!!!!
Cepat Keluar, sebelum aku sendiri yang membunuhmu... Kau tidak perlu mengeluarkan omong kosongmu di hadapan Aora!!! " perintah Zen, tatapannya begitu tajam, jauh dari kesan ramahnya selama ini
" Arghhhhhhh
Tolong aku, Guru!!!! Arghhhh"
Aora semakin mencekram kepalanya, menahan sakit karena kekuatan kegelapan menguasai semakin mejerat tubuhnya
__ADS_1
"Aora sadarlah...... Kau tidak sendiri, ingatlah itu" ucap ketua Zen dengan nada melembut, ia pun mengaktifkan Gyokunya dan mencoba menyegel kekuata kegelapan yang menyelimuti tubuh Aora
Sinar biru menyelimuti tangan ketua Zen, perlahan ia arahkan kekuatan sihirnya ke kepala Aora. Sihir Ketua Zen pun menyerap energi negatif yang menyelimuti Aora. Membuat Aora jatuh tidak sadarkan diri, di pangkuan sanga Guru
Nafas Ketua Zen masih berburu, menyegel kekuatan sebesar itu menguras hampir seluruh energinya
"Hah.... Hah... Hah...
Syukurlah, kekuatanku masih mampu menandingi energi kegelapanmu
Aora, maafkan aku...... Jika sampai kau mengetahui masa lalumu dan kembali diliputi emosi dan amarah. Aku mungkin tidak bisa membantumu menyegel kekuatan mengerikan seperti ini lagi..... "
Ketua Zen hanya bisa memandang wajah muridnya, dari suara ririhnya ia seakan menanggung beban yang besar yang ia berusaha sembunyikan dari muridnya itu
" Aku mungkin tidak bisa menyelamatkan Aoryu, tapi aku berjanji demi sahabatku
Aku akan menjaga putra-putranya meski harus mengorbankan nyawaku"
......................
" Keturunan ketiga pilar memang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa....
Namun bayaran atas keistimewaan itu ada di setiap tetes darah mereka, darah kegelapan yang mengalir karena kutukan Nue
Kekuatan kegelapan Nue, yang setiap waktu mampu mengambil kendali atas tubuh sang pilar, membuat moster yang tidur di jiwa mereka bangkit dan menguasai tubuh serta pikiran. Dan akhirnya separuh kekuatan Nue bisa bangkit bahkan dalam keadaan utuh
Tidak ada yang namanya teman atau keluarga, jika kekuatan kegelapan bangkit sepenuhnya, mereka akan kehilangan jiwa dan diri mereka
Atau bahkan, membunuh orang yang mereka sayangi"
Suara berat Xio, memecah keheningan markas Suram Tengu. Pria berparas tampan namun terkesan dingin itu terus menelisik lembar demi lembar kita Putih Nue
Penjelasan mengenai keturunan Tiga Pilar Penjaga Langit dijelaskan di setiap lembar yang ia baca. Sama seperti Mirai, ia juga pernah berada di luar kendali dirinya
"Kebangkitan Nue adalah gerbang kehancuran dunia. Sudah tugas Pilar penjaga yang harus menghentikan kegelapan kembali menguasai dunia"
Dengan suara pelan, pria bermata kelam itu membaca setiap bait isi Kitab. Sadar waktu sudah berlalu, ia pun menutup buku tebal itu, dan berdiri di depan jendela yang menampakkan pemandangan hutan belantara di depannya
"Kegelapan, Kutukan" ucap Xio pelan
Ia pun menatap telapak tangan kananya, menampakkan siluet simbol bulan sabit yang di kelilingi simbol air tertera jelas tersegel di tangannya
__ADS_1
"Aku, Aora serta Mirai menerima semua kekuatan menakutkan itu, dan merenggut kedamaian hidup kami
Aku harap, aku bisa menghentikan nasib buruk ini..... "