
" Arghhhhh!"
Kurasu menggerang, tubuhnya menggeliat menahan sakit yang luar biasa. Ia segera melepas pedang yang menancap di dada kirinya, dan melemparnya ke sembarang tempat. Bahkan di sisa kekuatan kegelapan yang melekat di pedang Ten (darah Kurasu), mampu membuat katakana itu lenyap menjadi abu.
Tubuh Kurasu yang dipenuhi energi sihir kegelapan. Sihir berwarna hitam pekat itu mulai terhisap ke simbol matahari yang muncul di dadanya. Luka tusukan pedang yang menembus jantung Kurasu tiba-tiba lenyap. Dinganti dengan sebuah simbol matahari yang mengeluarkan cahaya keemasan.
Mirai masih mencoba mengumpulkan kesadaranya. Energi sihirnya sudah terkuras cukup banyak. Tubuh Mirai terjerat dua buah tobak sihir Kurasu, sihir hitam yang melapisi tombak itu sedikit demi sedikit menyerap energi kehidupan Mirai, sehingga sulit baginya untuk membuat perlawanan.
Tombak yang menyerupai tongkat kayu runcing berwarna hitam itu menancap kokoh di kedua bahu rapuhnya. Sejalan dengan kekuatan Kurasu yang mulai melemah, sihir kegelapan di tombak itu mulai menghilang. Tubuh Mirai akhirnya bisa terbebas.
Mirai tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik, meskipun luka di bahunya sudah menutup - karena efek regenerasi. Namun, luka di telapak tangan Mirai yang ia dapat akibat menghalau pedang shiroi tidak bisa sembuh begitu saja.
Luka itu terus memeras darah spesialnya, menetes tampa henti serta diikuti rasa sakit yang luar biasa. Mirai akhirnya jatuh tersungkur di tanah.
Mirai meringis pelan, sambil mengigit bibir bawahnya, ia mencoba menahan rasa sakit yang menghujam. Di tengah peperangannya menahan rasa sakit, Mirai mendengar langkah kaki mulai mendekat ke arahnya.
Tubuh Mirai membeku seketika. Ia mengepalkan tangannya keras, Mirai sadar jika Kurasu menyerangnya kali ini, ia tidak akan bisa melawan dengan baik. Luka di tubuhnya sudah cukup parah, di tambah energi sihir yang terkuras habis dan belum sepenuhnya pulih.
Tanpa melihat sosok yang berjalan ke arahnya, meski harus merangkak mundur dan menyeret tubuhnya yang penuh luka, Mirai mencoba usaha terbaik untuk menghindari Kurasu.
Tanpa ia sadari, sebuah batu besar menyentuh punggungnya dan menghalangi pergerakannya. Mirai benar-benar terjabak.
Meski ragu, Mirai mencoba mengalihakn tatapannya ke arah sosok yang berdiri tepat di hadapannya. Manik Lavendernya mulai bergetar hebat. Pria berambut abu-abu, yang Mirai yakini adalah Kurasu mulai berjongkok, dan mensejajarkan tinggi di antara mereka.
"Pasti sakit sekali. Biarkan kakak membalut lukamu. " ucap suara bariton itu lembut.
Tubuh Mirai membeku, air matanya tak hentinya menetes dan membasahi pipinya. Kaliamat barusan, adalah kaliamat yang diucapkan Aora ketika pertama kali mereka bertemu dulu. Kalimat yang mengetuk hati Mirai, dan membuatnya melabuhkan perasaan ke bocah bertopeng rubah yang menyelamatkannya. Sosok kecil itu, kini sudah tumbuh menjadi pria yang gagah.
"Kau sudah tumbuh menjadi gadis tangguh dan cantik. Meski begitu, aku sempat tidak mengenali siapa dirimu. "
" A- aora? "
Mulut Mirai tiba-tiba kelu ketika menyebut nama itu. Aora langsung merobek ujung jubahnya, dengan lembut ia membalut luka memanjang akibat irisan pedang di telapak tangan Mirai.
" Maafkan aku karena datang terlambat, Mirai. " ucap Aora ririh.
Merasa sulit mempercayai seseorang yang berada tepat di depannya. Mirai mulai mengulurkan tangannya ragu, untuk memgusap wajah Aora.
Di mulai dari rambut abu-abu pria itu, turun ke mata yang salah satu sisi kelopaknya terdapat goresan bekas luka Vertikal. Mirai mengusap rindu pipi Aora, sambil menatap lekat dua manik merah kecoklatan pria itu.
__ADS_1
"Ini bukan Ilusi. Kau benar-benar Aora. "
Mirai akhirnya melabuhkan tubuhnya ke dalam dekapan Aora. Sementara pria itu, mulai melingkarkan erat tangannya ke tubuh ringkih kekasihnya. Aora seolah tidak ingin melepaskan Mirai.
Mirai tidak bisa membendung perasaan. Rasa rindu serta sedih bercampur bahagia tersirat di tangisannya yang mulai pecah.
Aora mengusap surai hitam Mirai lembut. Ia turut membenamkan wajahnya di bahu Mirai, dan merasakan aroma wangi lavender yang begitu lekat tercium ditubuh Mirai.
Setelah sekian lama melepas kerinduan, keduanya mulai melepas pelukan masing-masing. Aora menggengam tangan dingin Mirai, sementara tangan lainnya segera merogoh kantong perlengkapan miliknya. Aora pun menyerahkan sesuatu ke dalam genggaman Mirai.
" Maafkan aku, baru bisa mengembalikannya sekarang. Kau tampak cantik, jika rambut panjangmu di hiasi jepit rambut kupu-kupu ini. "
Mirai melihat jepit rambut ungu dengan ornamen kupu-kupu ditangannya. Jepit rambut itu adalah hadiah pemberian Aora. Mirai kehilangan jepit itu ketika bertarung melawan Tanuki di markas Cops Awan Merah. Mirai mengusap pelan jepitan cantik, yang masih menyimpan noda darah Aora. - karena Aora menggunakan jepit rambut Mirai ketika melukai matanya sendiri saat melawan Kurasu-
" Aku yang seharusnya mengatakan terima kasih.... "
Mirai masih menunduk lemah, pandangannya hanya tertuju pada jepit rambut di tangannya.
" Terima Kasih, kau sudah kembali Aora. " Kali ini Mirai memberanikan diri menatap kedalam manik sendu Aora. Seutas senyum terukir cantik diwajahnya.
" Wuah! Momen mengharukan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! " bahkan dalam situasi genting, Aora masih bisa mengeluarkan candaan.
Aora hanya membalas pertanyaan Mirai dengan senyuman. Ia pun mulai mendekatkan wajahnya. Sebuah ciuman lembut ia daratkan ke bibir ranum Mirai. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya dan mengikuti alur lembut yang dibuat Aora, jujur ia pun menginginkannya.
Aora melepas pangutannya sejenak " Bukan hanya kau, Mirai. Aku pun merindukanmu..." ucap Aora dan kembali memangut bibir Mirai.
......................
Batu besar yang menindih tubuh Yora mulai bergetar kuat. Sinar sihir berwarna biru tua muncul di sela-sela retakannya
Srangggg!
Batu itu hancur berkeping-keping. Di antara reruntuhan bebatuan itu, Yora mencoba bangkit berdiri dengan pedang Buraku sebagai tumpuannya. Semua orang mengira, Yora tewas tergencet batu. Namun, kemampuan pemimpin Tengu itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Yora selalu bergerak dengan perhitungan yang matang. Bahkan di saat terpojok seperti tadi, ia masih memikirkan rencana hebat untuk bisa selamat.
Saat Kurasu melepas batu besar untuk menindih tubuhnya, Yora menggunakan sisa kekuatan terakhir untuk membuat sebuah Armor sihir milip armor Aora. Faktanya, ia masih memiliki setengah darah Clan matahari yang mengalir di tubuhnya. Oleh sebab itu, meskipun tidak terlalu dominan, dengan kejeniusannya Yora mampu mengembangkan diri untuk menciptakan Armor perlindungan khas clan Matahari itu. Dan dengan bantuan pedang Bakuro, ia bisa menghancurkan batu dan terbebas dari jerat Kurasu.
"Mirai! "
Yora melompat keluar dari dalam reruntuhan. Satu-satunya fokus di otaknya adalah mencari keberadaan Mirai. Yora mulai berlari, dengan sensor sihir ia mampu mengetahui dimana keberadaan Mirai.
__ADS_1
" Mirai! " Yora melihat Mirai dari kejauhan, tanpa ragu ia pun mempercepat langkahnya
" Mirai! Apa kau baik-baik sa-" ucapan Yora tercekat.
Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat pemandangan yang, ehem cukup mengejutkan tepat di didepannya. Yora sempat ragu, siapa orang yang mencium Mirai. Apa dia Aora? Atau Kurasu?
Mengingat sifat Mirai, jika pria itu masih Kurasu tentu hal itu adalah mustahil. Jadi kesimpulan kilat yang Yora dapat, pria yang ada di sisi Mirai adalah saudaranya, Aora.
Yora menjadi salah tingkah, meski suasana tidak mendukung, ia tidak ingin mengganggu ke duanya. Ia hendak pergi dari sana, tapi memperbaharui segel Nue juga menjadi masalah mendesak.
"Ee.. Ano.. " ucap Yora gelagapan. Untuk pertama kalinya dalam sejaran, pria berwajah datar bak papan itu tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi seperti ini.
Mirai membuka matanya, Mirai langsung menjauhkan Aora dengan cara mendorong tubuh pria itu keras hingga terjungkal.
"A- ada apa M-mirai? Kenapa berhenti, jangan bilang kau tidak menyukainya? " Aora memasang wajah terkejut.
Mirai mengarahkan pandangannya ke arah Yora, setidaknya ia bermaksud memberikan kode ke Aora dengan lirikan mata. Namun Aora hanya membalasnya dengan alis terangkat.
" Apa? " Aora mengangkat dedua bahu - tanda bingung, plus tampang tidak berdosa
" Aish! " Mirai mulai kesal, sebuah pukulan 'halus' mendarat di bahu Aora. Mirai bahkan melupakan rasa sakitnya sejenak.
" Auh! Mirai sakit! "
" K- kau datang Leader? S-seperti yang kau lihat, Aora sudah kembali. " ucap Mirai gagap, dan berusaha menjelaskan situasi.
" Yora! Kau datang!" ucap Aora antusias. Yora masih diam membeku, ia masih sibuk mencerna apa yang barusan dia lihat.
"Hya! Kau mendengarku? Oi! Yora! " Aora melambaikan tangannya berusaha menyadarkan saudara kembarnya.
Yora mengelengkan kepalanya cepat. Kali ini, wajah terkejutnya sudah berganti dengan wajah serius.
" Tugas kita belum selesai. Kita harus segera meperbaharui segel Nue sebelum bulan Merah menghilang! "
Mendengar ucapan Yora, raut wajah Aora berubah serius. " Kau benar, kita harus cepat mengakhiri kekacauan ini. "
" Kalau begitu. Minna! Ayo kita menuju kuil Nue di Desa Sora! " seutas senyum bersemangat terukir di wajah Mirai.
Mereka bertiga kompak mengaktifkan Gyoku. Simbol matahari, bulan dan salju di tangan mereka mulai menapakan sinar sihir. Dalam hitungan detik, tubuh mereka pun lenyap
__ADS_1