
"Bagaimana pertemuannya? Apakah Hoshi dan Tsuki menerima permintaan kita?"
Langkah kaki menggema di sepanjang koridor kantor pemerintahan Desa Sora. Kimono dengan motif hitam keemasan tampak elegan memeluk tubuh ramping Mirai, menjuntai hingga menyapu lantai dibawahnya.
"Sepertinya, kesepakatan akan sulit didapatkan, Nn. Mirai. "
Sorot mata lavender gadis berambut panjang itu menatap lurus kedepan. Tidak ada keraguan dalam langkahnya. Mirai bersama dewan Militer Sora sedang menuju ruang konfrensi Sora. Disana, Pertemuan Tiga Negera Besar dilaksanakan tepat hari ini.
Sekilas, Mirai menghentikan langkahnya dan melirik bulan dari jendrla besar disampingnya. Langit pagi Sora terlihat cerah hari ini. Sementara, di sisi barat Purnama merah hampir mencapai puncakanya, itu artinya waktu yang dimilikinya tidak lama lagi.
"Baik pihak Tsuki atau pihak Hoshi, belum sepenuhnya menerima tawaran kita. Mereka menganggap, masalah ini bukanlah urusan mereka.
Dan juga, mereka keberatan Sora mengangkat mantan buronan kriminal sekelas pemimpin Tengu masuk dalam pertemuan itu. " ucap Ten sambil melirik Yora yang berdiri di sampingnya. Pria berparas dingin itu tidak bergeming sedikitpun.
Ten menjelaskan isi pertemuan ketiga negara, tidak seperti yang Sora harapkan, tampaknya dewan militer Tsuki dan Hoshi menganggap remeh permintaan Sora. Mirai terdiam sejenak, mencoba memikirkan langkah apa yang seharusnya mereka ambil dalam situasi sepertu ini.
" Mirai haruskan aku melakukan sesuatu pada mereka? Maksudku, dengan cara Tengu? " ucap Yora penuh arti.
" Tidak, kali ini kau tidak perlu turun tangan, Leader. Serahkan semua urusan ini padaku. "
" Cara Tengu? "
Ten merasakan sesuatu yang janggal dari pembicaraan Mirai dan Yora. Bagaimanapun dengan tempramen Mirai ditambah hal tidak terduga yang ada di pikiran sosok pria sedingin Yora. Bisa saja pertemuan ini memicu perang lain. Hal ini tidak bisa ia biarkan begitu saja
" T- tunggu dulu. Kalian tidak akan melakukan hal-hal aneh, kan? Mereka mungkin orang-orang menyebalkan dan kolot.
Tapi kalian harus ingat, mereka utusan khusus sekaligus orang-orang terhormat di negara mereka! Kalian tidak bisa menyelesaikan masalah negara hanya dengan kejuatan saja! "
Mirai menoleh ke arah Ten. Pria itu tampak kusut dengan wajah kelelahan yang kentara. Ten mungkin mengalami kesulitan selama menyiapkan pertemuan ini. Bagaimanapun, ia adalah komandan utama devisi militer Sora saat ini. Hal itu membuat Mirai menghela nafas panjang, sambil sesekali menepuk bahu pria berambut coklat itu.
" Hah! Kau tidak perlu khawatir, Ten. Jika mereka terus berbicara tidak jelas, palingan akan aku bekukan tubuh mereka. Aku jamin, mereka tidak akan mati! " ucap Mirai sambil berlalu dengan santainya.
" A-apa katamu? Membekukan apa? " ucap Ten tidak percaya. Ia melirik barisan kepala devisi militer yang berbaris di belakangnya, dan hanya mendapat respon sebuah anggukan kepala pasrah
" Aku hanya berharap, Mirai tidak memperkeruh susana ini! Ya ampun.... Mirai... "
Tubuh Ten membeku seketika, sambil memijit pelipisnya yang pening. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Mirai lakukan di tengah pertemuan. Salahnya menyerahlan perundingan sepenting ini pada wanita barbar sekelas Mirai.
......................
" Sora meminta kita menyelesaikan masalah negeri mereka? Segel Nue sudah rusak? Apa mereka masih mempercayai makhluk legenda seperti itu ada?! " suara salah satu petinggi militer Tsuki lantang terdengar. Dia adalah jendral militer tertinggi Tsuki, Nakada
" Nue dan Dewi Salju itu hanya legenda! Bahkan keturunan mereka sudah lama lenyap! Bagaimana bisa kita mempercayai permintan Sora! Tsuki harus menolak! "
" Kita mungkin dalam keadaan damai saat ini. Tapi, mengingat riwayat permusuhan dua negera di masa lalu. Bukankah Sora terlihat tidak tau malu! Meminta bantuan Militer Hoshi! Cih! Benar-benar omong kosong! " ucap Yamatsu. Jendral militer Hoshi juga menyuarakan pendapatnya. Baginya permintaan penggabungan pasukan adalah hal konyol.
" Kuil Nue dan Nue! Kita bahkan tidak tau dimana letak kuil yang konon menjadi tempat Nue tersengal! Dan sekarang, makhluk legenda itu ingin menguasai dunia kembali? Itu semua hanyalah hayalan yang tidak masuk akal! Hoshi tidak bisa menpercayai Sora begitu saja! "
Dua jendral Militer Hoshi dan Tsuki, Nakada dan Yamatsu saling beradu pendapat di ruang pertemuan ketiga Negara. Mereka tampak keberatan mengenai permintaan Sora yang ingin Tsuki dan Hoshi bergabung untuk bersiap melawan pasukan Kurasu.
Di ruangan konfrensi Sora yang megah. Sebuah meja bundar, merangkum sebuah pertemuan besar tiga Negara kuat di negeri Sihir. Lambang Awan, Bintang sera Bulan tertera di masing-masing sisi utusan. Tidak hanya itu, dua orang pemimpin kedua negara itu juga turut hadir dalam pertemuan.
Hisui dan Hotaru hanya bisa menghela nafas panjang, sambil menunggu pemimpin Sora yang tak kunjung hadir. Meskipun kelakukan anak buah mereka sudah keterlaluan, mereka tidak bisa berbuat banyak. Keputusan seorang pemimpin, tentu akan diakui jika semua pihak setuju bukan?
"Kenapa Aora belum juga hadir? " gumam Hotaru pelan
Kreettttt....
Pintu utama terbuka. Semua orang diruangan tiba-tiba terdiam, kali ini mereka kompak melempar pandangan ke sosok wanita yang berdiri di tengah barisan kepala devisi militer Sora.
Mirai mengenakan kimono formal bernuansa hitam, lengkap dengan sebuah syal biru berlambang awan terlilit di lengan kanannya. Mata seindah bunga lavender menyapu ke sekeliling ruangan dan berakhir di meja khusus pemimpin Sora yang berada di antara Hotaru dan Hisui.
__ADS_1
"Pemimpin Sora, telah hadir! " ucap salah satu prajurit yang memberitahukan kedatangan Mirai.
Gadis itu mulai berjalan ketengah pertemuan. Mirai tidak sendiri, Ten dan Yora dengan setia mengawal Mirai di sisi kanan dan kiri gadis itu. Semua mata tertuju pada Mirai. Mereka heran, sejak kapan Sora dipimpin oleh seorang gadis?
"K- kenapa Mirai yang memimpin pertemuan ini? Dimana Aora? Apa yang sebenarnya terjadi?! " Hotaru tampak kebingungan.
" Apa mungkin telah terjadi sesuatu di Sora? Aku telah mendengar berita kematian Ketua Zen yang mendadak, tapi aku tidak menyangka, Mirai akan memimpin pertemuan kali ini." ucap Hisui heran.
Mirai akhirnya duduk di kursi pemimpin Sora. Melihat hal itu, ruangan pertemuan kembali riuh.
"Kenapa, ada wanita di pertemuan penting seperti ini? Apa Sora sengaja mengejek kita?! " ucap Yamatsu tidak terima
Mirai hanya tersenyum simpul. Sorot mata tajamnya kini ia arahkan ke laki-laki paruh baya itu.
" Jadi, kau mengatakan wanita tidak berhak hadir dalam pertemuan ini? " gumam Mirai pelan. Hal itu sontak membuat jendral Hoshi membeku seketika. Tatapan tajam gadis bermata levender itu, benar-benar menciutkan nyalinya.
" Mirai, tenanglah. Kendalikan emosimu! " bisik Ten menperingatkan Mirai.
" Akan aku coba. Huh! "
Mirai mencoba mengendalikan emosinya. Kali ini, ia meminta Ten memberikan laporan tertulis mengenai hasil perundingan alot itu. Ten memberikan segempok kertas laporan, yang dibaca Mirai sekilas dan diletakkan kembali.
Tok! Tok! Tok!
Mirai sempat mengetuk meja didepan dengan jari jarinya. Seluruh ruangan sunyi seketika. Entah kenapa, aura yang keluar dari tubuh Mirai begitu kuat. Saking kuatnya bahkan mampu membungkam mulut orang-orang terpandang didepannya
" Jadi kalian semua menolak mengirimkan pasukan kalian karena kami mengatakan hal yang tidak maduk akal? Meskipun itu berarti, dunia ini dalam bahaya karena segel Nue yang melemah. Dan lucunya, kalian pikir Nue hanya sebuah legenda belaka? "
Mirai melirik ke arah Nakada. Pria itu hanya berdehem sambil mengangguk pelan.
" Sedangkan Hoshi, menganggap sosok Dewi Salju dan semua yang berkaitan dengan Nue adalah mitos. Karena permusuhan di masa lalu, Hoshi menolak menerima permohonan Sora?" Kali ini, Mirai melirik Yamatsu
"T- tentu saja! Bahkan keturunan Clan Salju yang dipercaya sebagai penjaga segel Nue sudah punah. Bagaimana kami bisa mempercayai mantan musuh kami hanya dengan cerita seperti itu! "
Hotaru mulai mengambil alih, ia pun bangkit berdiri dan mengutarakan maksud anak buahnya.
" Kami tentu harus mempertimbangkan alasan yang pasti mengenai permintaan Sora. Sebagai pemimpin Sora, Nn. Mirai harus menjelaskan kenapa permitaan bantuan militer ini harus kami setujui! "
Hotaru tidak lagi berdiri sebagai teman Mirai. Ia adalah pemimpin Hoshi. Bagaimanapun nasib prajurit dan rakyatnya sedang dipertaruhkan. Ia tentu harus menimbang segala kemungkinan sebagai pemimpin sebuah Negeri. Permintaan penggabungan Militer tiga Negara besar, hal itu mustahil dilakukan dan bahkan tidak pernah terjadi atau tercatat dalam sejarah manapun.
"Begitu juga dengan Tsuki. Kami adalah Negara Netral, tentu kami tidak bisa menggerakan prajurit dengan gegabah. Permitaan Sora kali ini, cukup berat untuk kami terima. " Hisui sebagai pemimpin Tsuki juga mengutarakan pendapatnya.
" Semua orang menolak, Mirai apa yang akan kau lakukan sekarang? " gumam Yora pelan
Yora memperhatikan Mirai dari belakang. Keputusan meminta bantuan negera tetangga tentu sangatlah mustahil. Riwayat permusuhan di antara ketiganya bagaikan luka mengaga yang tidak kunjung sembuh. Masing-masing negara masih saling mencurigai dan tidak bisa percaya satu sama lain. Dalam situasi ini, apa yang akan Mirai lakukan?
Mirai mulai bangkit berdiri
" Kalian pikir, aku meminta batuan ini tanpa tahu keadaan tiga besar. Benar, di masa lalu, kita pernah saling mengubuskan pedang sebagai musuh. Kenyataan itu akan selamanya menjadi luka di antara ketiga negara besar.
Namun.... "
Mirai mulai berjalan ketengah-tengah pertemuan. Ia berdiri tepat di tengah-tengah para utusan. Semua pandangan tertuju pada dirinya, mereka penasaran apa yang akan dilakukan Mirai untuk meyakinkan Tsuki dan Hoshi.
" Karena masa lalu yang buruk itu, akankah kalian mengorbankan masa depan yang ada didepan mata kalian? Anak-anak kalian, keturunan kalian. Hidup mereka benar-benar dipertaruhkan! Saat ini, sosok monster kegelapan tengah menunggu untuk melahap semua kehidupan di dunia ini. Dunia akan kembali diliputi penderitaan.
Hanya karena ego, kalian melupakan hal yang penting! "
Mirai mengaktifkan gyokunya. Sihir biru tepokus di telunjuk tangannya. Mirai mulai berjongkok, dan menyetuh lantai dengan jari telunjuknya. Sebuah retakan es kecil tercipta.
" Mungkin kalian berpikir, ini hanyalah masalah Sora saja. Meskipun negeri Sora hancur, itu tidak akan berdampak pada negeri kalian.
__ADS_1
Sama seperti retakan es ini, hanya sebagian kecil lantai yang membeku. Sementara sisi yang lain, tidak terpengaruh sama sekali. Tapi, apa benar ini tidak akan mempengaruhi kalian? "
Mirai bangkit berdiri. Kali ini, sebuah angin dingin memenuhi ruangan itu. Semua orang tampak terpukau, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Keturunan clan salju yang mereka anggap telah musnah, justru muncul tepat di hadapan mereka.
" Jika satu sisi sudah hancur. Tidak akan memerlukan waktu lama untuk menghancurkan sisi yang lainnya. "
Brassss...
Kabut es merayap ke sekujur lantai, hanya dengan satu hentakan kaki Mirai. Lantai yang sebelumnya rata kini berubah menjadi lautan es runcing dan membeku.
" Kalian melupakan satu hal, manusia diciptakan untuk satu sama lain. Jika sebuah ancaman muncul, kita seharusnya bergabung dan mempertahankan apa yang kita sayangi!
Kebangkitan Nue, bukan hanya masalah Sora. Jika kegelapan mengusai dunia ini, tidak akan ada Sora, Hoshi atau Tsuki.
Untuk itu, aku mohon. Lupakan masa lalu, dan lindungi masa depan. Dunia saat ini benar-benar dalam bahaya.
Aku harap, Kalian bersedia menggabungkan kekuatan demi melindungai orang-orang yang kita cintai dari ancaman sihir terkutuk Nue! "
Mirai membungkukan badan sedalam-dalamnya. Ia dengan tulus memohon, agar semua di ruangan ini mau membantunya.
" Aku memohon bantuan kalian semua! "
Semua orang tampak terperanjat. Sosok yang memiliki kekuatan memgerikan seperti itu bahkan rela memohon bantuan mereka. Orang-orang mulai terketuk dengan perkataan Mirai. Mereka sadar, kekuatan semata tidak ada apa-apanya, jika tidak ada orang-orang yang membantu.
Kali ini, giliran Yora yang meyakinkan orang-orang. Ia pun mulai mengeluarkan sebuah lonceng kecil dan mengaktifkan gyoku bulannya.
Kringggg!
Rambatan sihir berwarna hitam mulai menyebar. Sihir manipulasi pikiran Yora mulai bekerja. Ia sengaja membawa setiap orang di ruangan itu untuk merasakan bagaimana sosok Kurasu lewat pengalamannya.
Yora membagikan kenangan, bagaimana pertarungan di negeri Yokai berlangsung. Bagaiman kekejaman Kurasu dan seberapa bahayanya sosok itu.
Dalam kenangan itu, Yora membagikan perjuangan yang selama ini Mirai lalui. Bagaimana ia harus menerima sebuah kutukan yang mengalir di darahnya. Bagaimana ia kehilangan kedua orang tuanya. Dan bagaimana gelapnya sihir Kurasu yang melahap hidup dan kebahagiannya.
"Jika kalian bertanya, bagaimana sosok Kurasu itu. Dengan senang hati, aku akan menunjukkan nya! "
Hanya memerlukan waktu 10 detik, orang-orang mulai kembali tersadar dari lamunanya. Semua orang tampak menghela nafas keras. Sorot ketakutan begitu kental di wajah mereka.
" Hah!.. Hah!... Hah!.. Sosok itu! Benar-benar menyeramkan! Dia bahkan mampu menyerap jiwa manusia dengan mudah! Kekuatan mengerikan yang dimilikinya, benar-benar bisa menghancurkan dunia ini! " ucap Nakana
Semua orang diruangan itu kembali tertuju pada Mirai. Mereka tahu, Mirailah kunci dalam pertarungan ini. Dimulai Yamatsu dan Nakana. Dua jendral itu mulai membuat sumpah setia dan berlutut di hadapan Mirai.
" Maafkan keraguan kami selama ini, Putri. Apa yang kau katakan benar adanya.
Mulai saat ini, Kami! Akan membantu dalam pertarungan ini! " ucap mereka lantang.
Semua orang dirungan itu mengikuti, mereka dengan kompak berlutut dihadapan Mirai dan mengikralkan janji.
" Kami berjanji membantu, anda! "
Hotaru dan Hisui tampak terpukau. Mirai, gadis itu berhasil menggabungkan kekuatan kedua negeri untuk mengikralkan sumpah setia.
" Sudah aku duga, sejak pertama kali aku bertemu Mirai. Aku merasakan takdir kuat selalu menemaninya! Tebakanku ternyata benar. " gumam Hisui
" Dalam sejarah, tidak ada yang mampu menggabungkan kekuatan Tiga Negera. Mereka selalu berada di jalan yang berbeda.
Tapi Mirai berbeda. Gadis itu, aku percaya ia bisa membawa perdamaian suatu saat nanti! "
Hotaru dan Hisui mulai berjalan menuju Mirai, kali ini mereka kompak memeberikan sebuah penghormatan Militer di depan Mirai.
"Kami Hoshi dan Tsuki. Akan bergabung bersama Sora demi melindungi semua umat manusia.
__ADS_1
Dan anda, Nn. Mirai. Kami ingin kau memimpin kami untuk mewujudkan hal itu... "