Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pengorbanan


__ADS_3

Deburan ombak terdengar merdu, menyapu hamparan pasir putih cantik dengan lembut. Sebuah pulau kecil, yang terletak jauh ditengah laut tampak begitu menawan.


Dengan tebing-tebing terjal, serta hamparan rerumputan hijau menghiasi hampir sebagian badan pulau. Jauh di ujung bukit, terdapat sebuah kastil cantik yang berdiri megah diantara batu karang alami. Pulau Hemi ialah tempat dimana markas kedua Tengu berada. Berbeda dengan kastil di hutan Iblis, markas Tengu dipulau ini lebih mirip disebut sebagau istana tersembunyi ditengah kilauan Shapire lautan


Yuri dan Mirai meletakkan tubuh Si Kembar kedalam bak kayu penuh air. Mata dua pria rupawan itu masih tertutup sempura. Sekujur tubuh mereka dipenuhi luka dalam, efek dari pertarungan habis-habisan. Dengan dada yang hanya terbungkus perban dengan noda darah segar. Wajah Aora dan Yora terlihat begitu pucat, hampir saja mereka tidak bisa diselamatkan jika tidak ada Mirai dan Yuri disana


"Yuri, kau boleh menyingkir sekarang. Sisanya biar aku yang kerjakan! " ucap Mirai pelan. Yuri pun melangkah menjauh. Sementara Oro-ryu sudah kembali ke bentuk kecilnya, hanya terdiam sambil melingkarkan tubuhnya tidak jauh dari Yuri


Yuri hanya melihat cemas tubuh Yora yang memucat dari kejauhan. Sementara Mirai, berdiri membeku dengan sebilah pedang ditangannya.


"Pedang itu, seharusnya tidak boleh berada dekat dengan Nona Mirai" ucap Oro-ryu sambil menatap pedang ditangan Mirai


"Apa Mirai tahu pedang Aora dapat menjadi senjata mematikan untuknya? "tanya Yuri


" Tentu saja. Dia tidak sebodoh itu, hingga tidak menyadari sesuatu yang begitu berbahaya untuk hidupnya. Hanya saja fungsi pedang itu tidak hanya untuk melukainya, tapi juga sarana untuk menyelamatkan seseorang dengan darahnya" ucap Oro-ryu


Shiroi no ken, satu-satunya pedang yang mampu mematahkan regenerasi sihir ditubuh Mirai. Ia dapat menyimpulkan, selain senjata yang dialiri sihir khusus (seperti yang dilakukan Tanuki), hanya pedang itulah yang mampu membunuhnya atau melukainya suatu saat nanti.


"Kau yakin akan menggunakan cara ini untuk menyembuhkan mereka? Kondisimu masih kurang stabil, ditambah dengan luka diperutmu yang belum sepenuhnya pulih-" ucapan Yuri terhenti, ia hanya menatap punggung Mirai dengan raut wajah cemas


"Cara ini, harus aku lakukan! " ucap Mirai mantap. Mirai menautkan tangan Yora dan Aora. Lantas, Ia mulai mengangkat pedangnya dan mengarahkan ke telapak tangannya sendiri.


Mirai pun mengiris kulit tangannya tanpa ragu. Darah istimewanya mulai menetes, darah berwarna cerah dengan aura sihir yang pekat. Darah Mirai kini bercampur dengan air yang merendam tubuh Yora dan Aora. Mirai mulai mengulurkan tangannya, memegang lembut kedua tangan Aora dan Yora. Sinar berwarna ungu memenuhi bak mandi itu, sementara air yang tadinya putih jernih kini berubah menjadi merah pekat


Mirai hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Mulutnya terkatup, mencoba menahan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Lukanya yang ia buat memang tidak seberapa, namun rasa sakitnya sengguh luar biasa. Di tengah kondisi menyiksa itu, Mirai masih saja meremas lukanya agar darah istimewanya keluar lebih banyak lagi


Sihir mulai bekerja, perlahan luka ditubuh Yora dan Aora mulai memudar dan menutup rapat. Sihir penyembuh Mirai juga menembus kedalam jaringan darah mereka, sedikit demi sedikit memulihkan kondisi Yora dan Aora secara berangsur


"Oro-ryu apa kau tidak penasaran? Kenapa dua orang saudara itu bisa menghunuskan pedang satu sama lain? " pertanyaan itu spontan keluar dari bibir Yuri


Oro-ryu hanya tersenyum pelan, ia pun menatap dua wajah yang tampak begitu mirip didepannya


" Entahlah, bukankah saudara memang seperti itu? Diluar mereka terlihat saling membenci, tapi jauh di dalam hatinya.


Mereka ingin melindungi satu sama lain, meski harus mengorbankan nyawa atau kepercayaan seklipun"


Mirai yang masih terpejam terus mengkonsetrasikan sihirnya. Sejalan dengan sihir yang masuk ke dalam jiwa Aora dan Yora, kekuatan Mirai mampu melihat masa lalu mereka. Air mata tiba-tiba menetes membasahi pipinya. Mirai seolah melihat masalalu dua orang didepanya. Masa lalu yang mampu membuat seorang gadis berhati dingin meluapkan emosinya


...~ Flash Back Aora dan Yora~...


Tak.... Tak... Tak...


Benturan dua buah pedang kayu terdengar begitu nyaring. Suara tongeret seakan bernyanyi menyambut sinar sang surya yang semakin terik.


Disebuah arena latihan khusus, yang terletak ditengah hutan Sora terdapat dua bocah berusia kisaran 5 tahunan tengah sibuk mengayunkan pedang kayu masing-masing. Syal identitas yang melilit kedua lengan mereka menunjukkan dua buah simbol berbeda. Bulan dan Matahari.


"Kau yakin ingin menutupi wajahmu dengan masker bodoh itu? Selamanya? " ucap seorang bocah laki-laki imut. Rambut hitam kelamnya tampak tersepu angin lembut, sementara pipinya yang tembem mulai memerah akibat cuaca yang terik. Ia pun mengarahkan serangannya ke arah anak bermasker didepannya.


Meski usianya masih terbilang kecil untuk mengenggam sebuah pedang kayu, tapi teknik bertarung mereka sudah melebihi anak seusinya


"Hn... Tentu saja! " ucap bocah berambut abu-abu yang melawan gravitasi itu.

__ADS_1


Mata merah kecoklatannya terlihat sayu. Entah mengantuk atau memang dasarnya anak malas, beberapa kali ia tampak menguap bosan. Masker hitam di wajahnya tidak bisa menyembunyikan wajah bosannya. Ia tidak beranjak dari posisinya berdiri dan hanya memegang pedang kayu ditangannya asal.


Meski anak berambut hitam terus menyerangnya, ia hanya menghindar tanpa melakukan perlawanan


"Hei! Bersemangatlah, kenapa kau menghidar terus! " ucap anak berambut hitam


"Tuan Muda Aora! Tuan Muda Yora! Kalian disana? Ini waktunya kalian pergi kesekolah! " teriak seorang pria dari kejauhan. Di lengan pria itu tersemat syal belambang matahari, yang menunjukkan darimana identitas clan miliknya berasal


"Aih! Sensei datang!"


Aora hanya mendengus kesal sambil memalingkan wajah. Sementara Yora hanya memasang senyum paksa diwajah tembemnya


" Ayo kita pergi! " usul Aora


" Kau gila? Ayah akan marah jika kita bolos lagi. Ayo kembali kerumah, sebelum guru kita menyeret kita kembali! "


" Kau sendiri saja! Aku mengantuk! " ucap Aora, ia lantas berlari dan menghilang diantara semak


" Aora kau-" ucap Yora, ia ingin mengejar saudaranya namun sang guru sudah berdiri tepat didepanya


"Tuan muda, kau sebaiknya jangan mengikuti kenakalan Tuan Muda Aora. Aku paham kalian bosan dengan pelajaran private kalian.


Yah, tentu saja karena kalian sudah mempelajari hal yang seharusnya murid akademi militer pelajari (siswa pelatihan militer sihir yang berusia 12 tahunan) . Tapi pendidikan formal tetap harus anda ikuti, tuan muda! " ucap guru Yora. Pria bertubuh tambun itu terus saja nyerocos tanpa jeda sedikitpun


" Tapi, guru-"


Yora merasa pendidikan formal tidak cocok untuknya begitupun dengan Aora. Mereka tidak masuk ke akademi sebagaimana seharunya. Karena title sebagai penerus clan bangsawan Sora, baik Yora dan Aora mendapatkan perlakuan khusus, termasuk pelajaran private tentang kepemimpinan. Hal itu membuat mereka cepat bosan, belajar tanpa mengenal serunya bermain dengan teman sepantaran.


"Itu-"


Yora memandang ke arah semak tempat Aora menghilang tadi. Ia sangat ingin menyusul saudaranya dan pergi dengan bebas


" Tuan Muda, apa anda melihat Tuan Muda Aora? " tanya sang guru


Yora terdiam sejenak, jika ia mengatakan kemana Aora pergi. Anak itu mungkin saja tertangkap dan ikut diseret kembali bersamanya. Yora tahu betul bagaimana sifat Aora. Saudara pemalasnya itu jauh menyukai kebebasan lebih darinya


" Tidak, aku tidak melihatnya" ucap Yora bohong


"Tapi saya yakin tadi melihat Tuan Muda disini" ucap pria itu yakin sambil celingukan


"Aora tidak ada disini. Aku hanya berlatih seorang diri! Guru, jika ada pelajaran yang ingin disampaikan, aku akan mengerjakannya.


Nanti saat Aora datang, aku akan menyuruhnya mengerjakannya juga. Bagaimana? "


Pria itu sedikit menimbang " Masalahnya, pelajaran kali ini berkaitan dengan penerus Clan Matahari, anda tahu sendiri kalau penerus Clan Matahari akan menwarisi kepemimpinan Sora. Jadi pelajaran kali ini tidak bisa digantikan, Tuan Muda"


"Oh begitu" ucap Yora pelan. Ia tentu mengerti apa yang dimaksud gurunya itu.


Seorang penerus itulah jalan Aora dikemudian hari. Berbeda dengan dirinya, ia hanyalah seorang 'bayangan' bagi Sora. Mereka memang saudara sedarah, tapi garis keturunan clan yang mengikat mereka berbeda. Oleh sebab itu, perlakuan yang diterima Yora sedikit berbeda dengan Aora. Bisa dibilang, posisi Aora lebih tinggi dan lebih terpandang dimata seluruh Rakyat Sora. Meskipun Yora memiliki segudang kemampuan mumpuni, ia tetap tidak pernah diakui oleh para tetua desa


"Kalau begitu, aku akan mencari Aora. Guru bisa kembali ke Mansion lebih dulu" ucap Yora dengan senyuman

__ADS_1


Sang Guru mengerti, ia pun berbalik dan meninggalkan Yora sendiri.


"Kau dengar itu? Kau harus segera kembali Aora? " ucap Yora sambil menatap semak dibelakangnya. Ia sadar, Aora tidak beranjak sama sekali dari tempatnya. Aora hanya membaringkan diri di balik pohon, memejamkan matanya sambil menumpukan kedua tangannya di kepala.


" Tidak mau! Sebelum mereka memperlakukanmu sama denganku. Aku tidak mau pergi! " ucap Aora


" Tapi kau harus pergi. Pelajaran itu, harus kau selesaikan. Kau tidak lupa, kau adalah penerus-"


"Cukup! Aku mungkin tidak akan peduli jika para orang tua itu membicarakan masalah penerus atau apapun itu! Tapi jika kau yang mengungkitnya! Aku benar-benar marah padamu Yora! " ucap Aora, ia pun mulai beranjak dan benar-benar pergi dari sana


Yora dan Aora, dua bocah yang terbilang masih sangat belia dipaksa berpikir dewasa untuk kepentingan Desa. Mereka tidak pernah menikmati waktu bermain layaknya anak seusianya. Yang mereka tahu, mereka harus berani mempertaruhkan segalanya demi Negara.


Perang antara Sora dan Hoshi tidak pernah berakhir, silih berganti dua negara besar itu terus bersikukuh mempertaruhkan kehormatan dalam sebuah perang berkesudahan. Bahkan untuk mendompleng ketahanan militer, tak jarang anak-anak polos diikutsertakan ke dalam medan perang


Yora berjalan pelan, mengikuti jalan setapak menuju Mansion matahari berada. Hari sudah semakin sore, langit pun sudah mulai mengitam. Seorang wanita cantik, dengan rambut hitam panjang tengah menunggunya didepan Mansion


"Aku pulang, ibu" ucap Yora dengan senyuman lesu


"Kau pulang, putraku. Bagaimana dengan Aora? " ucap wanita cantik dengan tatapan lembut. Wajahnya menapakkan kepenatan, namun demi sang putra ia memaksakan senyum di wajahnya


Ia adalah Yoshiro, istri dari pemimpin Desa Sora, Aoryu. Sekaligus pemimpin tertinggi Clan Bulan. Meski terlihat lemah dengan wajah ayu bak putri, ia adalah seorang kepala tim sabotase garda depan Sora yang ditakuti musuh.


Namun saat ini, wanita yang menyambut Yora bukan lagi seorang pimpinan militer elite Sora, melainkan sosok seorang ibu yang menghkawatirkan putranya


Yora hanya menjawab pertanyaan sang ibu dengan mengankat kedua bahunya-tanda tidak tahu. Yoshiro yang paham, hanya tersenyum pelan menanggapi kelakuan dua putranya


"Ibu sudah pulang" Yora langsung berlari kepelukan sang ibu. Sudah berbulan-bulan, ia tidak pernah berjumpa dengan ibunya. Peperangan, itulah yang merenggut waktunya untuk bersama sang ibu


"Hm... Maafkan ibu tidak bisa terus bersama kalian" ucap Yoshiro sambil mengelus pelan pucuk kepala Yora. Bocah laki-laki itu mencoba mendongakan kepalanya, ia begitu merindukan wajah sang ibu. Senyum diwajah Yora tiba-tiba memudar. Kini raut wajah khawatir yang tersemat


"Lalu, apa ibu akan kembali kemedan perang? Tidak bisakah ibu tinggal di desa bersama kami? "


" Maafkan Ibu sayang, kau pasti tahu desa membutuhkan kekuatan kita"


Yora terdiam sejenak, jawaban ibunya sudah lebih dari cukup. Ia tidak bisa menjadi orang egois yang mementingkan dirinya sendiri. Ia dan Aora mungkin membutuhkan sosok seorang ibu disampingnya. Tapi Desa dan Negara Sora jauh lebih membutuhkan kekuatan sang kepala Clan Bulan. Karen itu ia paham betul


"Baiklah. Asal ibu berjanji akan kembali dengan selamat" ucap Yora sambil mengulurkan tangannya


"Hm... Ibu Janji " ucap Yoshiro sambil menautkan jari kelingkingnya


" Kalau begitu, ayo kita main! Aora tidak akan pulang cepat, jadi sambil menunggu kedatangannya. Bagaimana kalau kita bermain petak umpet? "


Yora begitu antusias, ia tahu jika ia menunjukkan raut sedih didepan ibunya, Yoshiro pasti lebih mengkhawatirkannya. Untuk itu, ia bertekat untuk terus tersenyum didepan sang ibu


" Hm... Baiklah! "


" Ibu yang jaga, okey? "


" Eh, kok begitu? "


" Mulai! " Yora berlari meninggalkan sang ibu dan mulai bersembunyi. Mereka menikmati waktu bersama dengan tawa ceria.

__ADS_1


__ADS_2