Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Bintang Yang Memeluk Bulan


__ADS_3

Hozuki, pria berparas dingin menyeramkan menatap lurus ke arah Hikari. Hanya dengan tatapan tajam ayahnya, tubuh Hikari bergetar hebat. Ia merasakan aura membunuh yang kuat setiap kali Hozuki berdiri didepannya. Hikari tidak kuasa menatap langsung mata Hozuki, anak berambut biru pucat itu akhirnya menunduk sambil menautkan tangannya didepan.


Wajah pucat, serta sorot mata tanpa emosi Hozuki melirik sekilas prajurit di belakangnya. Seolah mengerti dengan kode yang dikirimkan Tuannya, prajurit itu menghampiri Hikari dan menyeretnya untuk berlutut sihadapan Hozuki. Hal serupa juga terjadi pada Harui, ia dipaksa berlutut tepat di samping Hikari.


"Hikari, kau berhutang penjelasan padaku. " ucap Hozuki sambil menautkan kedua tangan di dada. Tatapan tajam ia arahkan ke dua bocah yang masih berlutut di hadapannya


" Kenapa, kau hanya membawa satu target? Dan sengaja melepaskan yang lain. Apa kau bermaksud melawan perintahku?! "


Hikari terdiam sejenak, untuk sekedar menjawab pertanyaa ayahnya lidahnya tiba-tiba kelu. Hikari melirik ke arah Harui sekilas, ia melihat gadis itu juga tertunduk ketakutan.


" I-itu..... " Hikari kehabisan alasan. Hozuki yang sudah kehilangan kesabaran, kilapan amarah terlihat dikedua sorot matanya. Dengan seringai dingin khasnya, ia berjongkok tepat dihadapan Harui. Hozuki mengangkat dagu gadis kecil didepannya, melihat sorot mata serta wajah yang sangat mirip dengan musuhnya di Negeri Tsuki membuat ia berdecih kesal.


"Cih! Tatapan sombongmu itu benar-benar mirip dengan bocah Tsuki menyebalkan itu (Hirui)!" dengus Hozuki, kini tatapanya tertuju pada putra sulungnya


"Hikari, kau pikir kau bisa menyembunyikan sesuatu dari ayahmu ini? Aku tahu kau selama ini diam-diam bertemu dengan gadis Tsuki ini. Jangan bilang, karena perasaanmu, kau hendak membebaskan gadis ini dan mengkhianati Hoshi?! "


Mata Hikari membulat sempurna, ia tidak tahu selama ini Hozuki mengawasi pergerakannya. Ayahnya bahkan tahu pertemuan rahasia antara ia dan Harui.


" B-bagaimana A-ayah bisa mengetahui semua itu?! "


Hozuki bangkit berdiri, kali ia ia arahkan seringai dinginya ke arah putra sulungnya.


" Kau masih terlalu polos Hikari! Tidak sulit untukku membaca isi pikiranmu itu!


Hanya karena perasaan pribadi, kau membiarkan musuh mendekatimu dengan mudah! Kau pikir, ayah memberikanmu misi menangkap Anak Pemimpin musuh tanpa alasan?!


Tubuh Hikari bergetar hebat. Hikari menyadari satu hal, ia telah dijebak ke dalam sebuah konspirasi buatan Hozuki. Ayahnya sengaja memanfaatkan rasa sayang Hikari terhadap Hotaru. Hozuki memerintahkan Hikari menagkap target dengan hanya secuil informasi. Karena perasaan itu, Hikari gelap mata dan mau menjalankan misi apapun untuk melindungi keselamatan Hotaru dari cengkraman ayahnya.


Tapi, misi yang Hikari dapat justru berbalik melukai Harui. Gadis yang selama ini begitu spesial dihatinya. Hikari meberanikan diri menatap sang ayah. Ia tidak menyangka, ayahnya sendiri bahkan tega mempermainkan perasaan Hikari.


"Jangan bilang, semua ini bagian dari rencanamu. Kau tahu mengenai kedekatanku dengan Harui. Tapi kau justru menggiringku untuk membunuh Harui dengan memanfaatkan Hotaru sebagai jaminan! Ayah! Apa kau sebut dirimu manusia?! Kau-" Hikari bahkan tidak bisa melajutkan kata-katanya. Bagaimana bisa ayahnya merencanakan semua itu?


"Aku sudah mengatakan berkali-kali. Aku akan membuatmu menjadi penerus mimpi-mimpiku! Kau harus tumbuh menjadi apa yang aku harapkan!


Entah itu cinta atau rasa persaudaraan. Semua itu adalah perasaan bodoh yang harus kau hilangkan untuk menjadi orang yang kuat! Di mulai dari gadis ini, ayah akan mengajarimu sesuatu yang berarti! Hikari! "


Hosuki memgeluarkan sebuah belati, dan melemparkannya ke arah Hikari.


"Kau sudah mengkhianati Hoshi dan juga kepercayaanku padamu. Menurut hukum Negeri kita, kau seharusnya dihukum dengan berat! Tapi mengingat kau adalah penerus kepemimpinan Hoshi, aku akan memberikan hukuman Khusus untukmu! " ucap Hozuki lantang. Hikari hanya bisa menunduk pasrah. Apapun itu, ia siap menerima Hukuman dari sang ayah


" Bunuh gadis Tsuki itu! Sekarang! Itulah hukuman yang ayah beri untukmu! "


Hikari tersentak mendengar perintah Hozuki. Membunuh Harui? Dengan cepat ia merangkak ke kaki ayahnya dan memohon agar Hozuki menarik perintahnya


" A-ayah aku mohon. Harui bahkan tidak tahu siapa sebenarnya aku. Kami hanya kebetulan bertemu dan akhirnya berteman. Aku mohon bebaskan dia dan beri aku hukuman berat sebagai gantinya! "


Hikari mencakupkan kedua tangannya. Ia menohon dengan spenuh jiwanya agar sang ayah membebasakn Harui. Terlepas dia adalah putri musuh, Harui benar-benar gadis yang tidak tahu apa-apa.


" Cih! Kau bahkan memohon untuk hidup seorang putri dari Negeri Musuh?! Hikari kau lupa berapa ribu prajurit kita yang dibantai oleh Tsuki! Jika kau gagal memenuhi perintahku. Aku tidak akan menjamin hidup adikmu! " suara Hozuki meninggi.


Mendegar ucapan Hozuki, Hikari hanya bisa diam membisu. Kini ia melirik gadis disampingnya. Benar, ia adalah putri musuh yang membunuh banyak rakyat negerinya. Harui adalah musuh. Jika dia membunuhnya maka Hotaru akan selamat. Tapi, apa dia bisa membunuh Harui dengan tangannya sendiri?

__ADS_1


Sejatinya, apa yang dipikirkan Hikari sangat jauh bertolak belakang dengan kata hatinya.


" Hikari" ucap Harui ririh. Mata emerladnya bergetar ketika menatap kedalam manik biru Hikari. Ia juga tidak bisa menyalahkan Hikari. Bagaimanapun mereka adalah musuh yang sudah menghabisi rakyat satu sama lain.


"Seharunya, pertemuan kita berakhir ketika kita pertama kali bertemu. Jika saja aku tidak menggapai uluran tangamu waktu itu. Kau pasti selamat sekarang.


Maafkan aku, Harui. Ini semua salahku! " ucap Hikari dengan penuh penyesalan.


Jika saja Harui tidak bertemu dengannya waktu itu. Ayahnya mungkin tidak akan menargetkanannya. Tangan Hikari mengepal kuat. Melihat teman disampingnya begitu terpuruk akan dua pilihan sulit. Harui pun kembali mengulurkan tangannya. Mengusap tangan Hikari lembut sambil sedikit menyunggingkan senyuman pilu


"Kau sudah menyelamatkan Hisui. Kali ini biarkan aku menyelamatkan adikmu. Hotaru. Bukankah dia adik yang selama ini kau ceritakan? " Hikari mengangguk pelan


" Aku juga ingin kau menyelamatkan adikmu. " ucap Harui pelan. Mata Hikari membulat sempurna. Menyelamatkan Hotaru? Itu artinya Harui menyerahkan dirinya untuk di bunuh?


Meliahat dua orang didepannya saling bertukar pandang membuat Hozuki semakin geram. Kali ini ia benar-benar kecewa dengan Hikari


Hozuki segera mengaktifkan Gyokunya gumpalan debu besi tercipta dari sihirnya. Debu besi itu bergerumul disekitar tubuhnya. Hozuki menambahkan elemen api miliknya, kali ini ia sebagaja membuat butiran besi sihirnya memanas. Menciptakan bara besi yang luar biasa panas.


"Sampai kau bersedia membunuh gadis itu dengan tanganmu sendiri. Akan aku buat gadis itu merasakan sakit yang bahkan tidak bisa ia bayangkan sebelumnya! "


Hosuki megarahkan debu besi panas ke arah Harui. Dengan cepat gumpalan besi panas itu melesat ke arah Harui. Gadis itu ingin menghindar sebisanya dengan merangkak ke belakang, tapi sayang besi panas itu akhirnya menjerat pergelangan kaki Harui dan membakarnya


" Arghhhhh! " Jerit Harui menahan rasa sakit yang teramat besar. Kakinya mengeluarkan asap, siapapun yang melihat penyiksaan itu akan bergidik. Rasa sakit yang teramat akhirnya membuat Harui kehilangan kesadarannya


" Tidak! Harui! " Hikari menjerit sejadinya, ia segera mengeluarkan sihir gyokunya dan melapisi kaki terbakar Harui dengan elemen besi bercampur elemen angin dingin. Setidaknya itu akan sedikit meredakan luka bakar yang diterima Harui


" Kau masih ingin bermain-main dengan ayah?" Hozuki mengarahkan debu besi panas ke arah wajah Harui. Setelah kakinya, Hozuki bahkan ingin merusak wajah cantik gadis itu.


Dua elemen besi beradu. Kekuatan panas dan dingin melebur dan menciptakan kabut asap yang pekat. Pandangan semua orang terhalang beberapa saat.


"Ayah! Hentikan! " teriakan Hikari menggema di tengah asap yang pekat. Hozuki segera menghempas asap itu dengan kekuatan sihir miliknya. Pemandangan kembali jernih, Hozuki tersenyum puas ketika mendapati Hikari menatapnya tajam


"Benar, tatapan dingin itu yang segarusnya kau miliki! Ambisi untuk melindungi apa yang menjadi milikmu. Menggertak lawan hanya dengan tatapanmu! Kau memang putraku Hikari!


Ha.. Ha... Ha! ... " tawa Hozuki mengema memecah malam.


Melihat Hikari menatap tajam kearahnya. Bahkan anak penakut itu dengan berani menghalau elemen besi Hozuki dengan eleman besi yang sama kuat, membuat Hozuki begitu puas. Hikari udah berkembang sangat pesat. Tidak ada ketakutan atau keraguan dari sorot mata Hikari. Tidak seperti dirinya yang dulu, yang bahkan gemetar ketika berhadapan dengannya


"Sekarang! Cepat kau bunuh gadis itu! " ucap sang ayah. " Jika kau mampu melakukannya, ayah akan mengabulkan apapun yang kau mau. Bukankah selama ini kau ingin aku memberikan sedikit perhatian pada adik kecilmu?


Baiklah! Aku berjanji akan memperlakukan Hotaru dengan baik mulai saat ini! "


Brassss....


Tanpa menunggu, Hikari segera menebas tubuh Harui dengan berlati pemberian Hozuki. Darah segar muncrat dan mengenai paras tampan Hikari. Masih dengan tampang datar tanpa emosi, Hikari menatap tajam ke arah Ayahnya


" Kau harus memegang janjimu. Ayah! " ucap Hikari mantap.


Hikari mengeratkan tangan yang masih berlumuran darah. Pisau ditangannya bahkan masih menacap di tubuh Harui


" Ha.. Ha... Ha.... Tentu saja!" ucap Hozuki sambil tertawa puas. Ia melihat gadis didepannya sudah tewas ditangan Hikari. Hozuki pun membalikan tubuhnya dan bergabung dengan prajurit Hoshi yang laim

__ADS_1


" Setelah ini, datanglah menghadapku. Meski rencana menginfasi Tsuki sudah gagal sejak awal. Setidaknya aku bisa melihat putraku membunuh Putri Hirui dari Tsuki! Kerja bagus, Putraku! " ucap Hozuki. Ia beserta puluhan prajurit Hoshi pun menghilang.


......................


Malam yang semakin larut. Menapakan bulan dan bintang yang menghiasi selimut hitam langit yang kelam. Hikari hanya bisa berlutut dengan noda darah menghiasi sekujur tubuh dan wajahnga. Ia pun melirik ke arah Fuma, yang sedari tadi diam berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sebuah luka yang cukup parah terlihat menghiasi pergelangan kaki Fuma


"Apa kakimu baik-baik saja? " ucap Hikari.


Ia pun menggerakan tangannya ke atas. Sebuah sihir tercipta, sihir berwarna biru tua itu mulai menyelimuti tubuh Fuma. Perlahan kulit Fuma meleleh, berubah menjadi butiran besi tipis dan menghilang. Sosok gadis berusia 12 tahun muncul, surai seindah bunga sakuranya terhempas angin pelan.


Harui yang sengaja disembunyikan Hikari dan merubahnya menjadi soaok Fuma akhirnya menapakam wujud aslinya.


Kakinya yang mengeluarkan darah karena luka bakar yang parah, tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Dengan sisa kesadaranya, Harui akhirnya ambruk. Namun Hikari dengan cepat menopang tubuhnya


"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu? " ucap Harui ririh.


Hikari melirik ke arah tubuh yang baru saja ia bunuh. Pemilik tubuh itu adalah Fuma yang asli, Hikari sengaja menukar wujud Fuma dengan Harui menggunakan elemen besinya.


Semua itu berawal ketika kabut yang tercipta ketika Hikari menghalau serangan ayahnya. Di dalam waktu yang singkat itu, Hikari menukar posisi Fuma dengan Harui. Ia melumpuhkan Fuma dengan elemen besinya dan membuat pria itu jatuh pingsan. Menukar wujud keduanya dengan cepat tanpa seorang pun yang sadar. Dengan begitu, Hikari bisa menyelamatkan Harui tanpa diketahui ayahnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Harui. Hikari menggendong Harui dan menjauh menjauh dari sana. Harui hanya bisa menatap wajah Hikari dengan berbagai pertanyaan mengisi kepalanya. Harui sadar, tatapan Hikari telah berubah. Kali ini sorot tajam serta dingin menghiasi manik sebiru lautan miliknya. Tidak ada kehangatan yang terpancar.


Hikari menggendong tubuh Harui melewati dahan pohon dengan sihir peringan tubuh. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Hikari. Bocah laki-laki itu, hanya memeluk tubuhnya erat dan membawa Harui melompati pepohonan di bawah cahaya bulan


Tap!


Hikari mendaratkan kakinya ke tanah. Ia melirik hutan sekelilingnya, tidak salah lagi mereka sudah berada di wilayah kekuasaan Tsuki. Hikari, menurunkan tubuh Harui pelan. Pandaggannya tak luput dari luka bakar di pergelangan kaki Harui. Luka yang seharusnya tidak dimiliki seorang gadis. Hikari mengutuk dirinya sendiri karena memberikan luka itu ke Harui


"Hikari ada apa denganmu? Kenapa wajah-" belum sempat Harui melanjutkan ucapannya. Suara parau Hikari terdengar


"Mari.....Mari Kita akhiri semuanya disini! "


" Apa maksudmu? "


" Kita seharusnya tidak boleh mengenal satu sama lain. Baik kau dan aku, kita sama-sama pernah membunuh rakyat yang seharusnya kita lindungi. Takdir kita, tidak mengijinkan kita untuk tetap berteman! Ataupun memiliki sebuah ikatan apapun. Jadi mari kita akhiri disini! " Hikari mulai bangkit berdiri. Ia membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi Harui


" Mulai sekarang! Jangan pernah muncul dihadapanku atau dihadapan prajurit Hoshi. Kau sudah aku anggap mati hari ini. Kau juga bisa menganggap Hikari sudah mati. Mulai sekarang kita bukan teman lagi, melainkan musuh!


Jika sampai aku bertemu denganmu lagi, aku tidak segan akan membunuhmu dengan tanganku sendiri! Sebagai musuhku! "


Hikari mengeratkan tangannya. Ia harap, dengan perkataan tajamnya ini, Harui tidak lagi memikirkan atau berkeinginan bertemu dengannya dikemudian hari. Fakta bahwa ayahnya sendiri yang membuat gadis yang begitu ia sukai harus terluka, membuat Hikari bertekat untuk mengubur perasaanya.


Hikari meninggalkan Harui begitu saja. Nee yang menyaksikan kenangan itu hanya bisa menatap pilu sosok kecilnya. Cahaya putih mulai menelan tubuhnya. Penyesalan. Hanya iti kata yang bisa menggambarkan perasaanya saat ini


"Jika saja kau tidak bertemu denganku waktu itu. Kau akan menjalani kehidupan dengan bahagian. Melangkah ketempat yang kau suka tanpa harus bergantung dengan tongkat seumur hidupmu. Maafkan aku Harui..... Aku sangat menyesal........ " ucap Nee ririh.


Nee menatap potret kecil gadis yang ia sukai. Harui tidak peenag berubah. Bahkan ketika ia dewasa, ia tumbuh menjadi gadis dengan senyuman yang hangat. Sebelum sihir Tora menelan tubuhnya, Nee sempat mendengar harui kecil mengatakan sesuatu padanya. Mungkin saat itu Hikari sudah berjalan terlalu jauh sehingga ia tidak tahu apa yang gadis itu katakan. Tapi berbeda dengan sekarang, Nee berdiri tepat di samping Harui kecil.


"Hikari~~Terima kasih..... Terima kasih kau sudah menjadi temanku! " ucap Harui ririh. Mata Nee membulat. Ia tidak menyangka Harui akan mengatakan itu setelah semua yang terjadi


" Harui.. " Nee ingin menggapai Harui dengan kedua tangannya. Tapi sayang, sihir Tora mulai memudar. Menelan tubuhnya, Nee pun benar-benar menghilang

__ADS_1


__ADS_2