
Keringat tipis mulai turun di dahi Yuri. Puluhan percobaan sudah ia lakukan, tapi tetap saja gagal. Yuri sedikit melirik sample darah spesial yang ia miliki, sayangnya sample itu sudah mulai menipis.
"Sample yang tersisa, hanya bisa digunakan satu kali lagi. Ck! Jika kali ini gagal, aku tidak bisa membuat penawar obat aneh ciptaan Cope Merah lagi! " gumam Yuri dengan raut wajah kesalnya.
Yuri terdiam sejenak, dalam percobaan terakhir ini, ia harus mencari metode yang tepat. Untuk membuat sebuah penawar, ia harus lebih dulu mengetahui kandungan di dalam obat yang disuntikan dr. Dojii ke tubuh korban. Inilah yang menjadi masalahnya. Yuri sudah menggunakan berbagai macam metode yang ia ketahui, tapi tidak ada satupun yang berhasil.
Yuri kembali menetesakan darah yang di ekstrak dari tubuh para tawanan, sementara di wadah satunya, Yuri meneteskan darah spesial yang masih tersisa untuk satu kali percobaan.
Di masing-masing wadah itu, Yuri juga menambahkan ramuan 100 Tahun keabadian miliknya. Ramuan itu berfungsi sebagai media tanam pengganti sel makhluk hidup, dalam hal ini sebuah tubuh manusia. Sejauh ini, hal yang sama pernah ia coba, tapi darah para tawanan selalu menguap tanpa sebab. Tapi kali ini Yuri akan melakukan dengan cara yang berbeda.
"Sekarang aku akan mencoba menambahkan darahku sendiri. Kekuatan kehidupan batu pilar di punggungku mungkin akan bereaksi dengan obat aneh milik Cops Merah ini. "
Yuri sedikit mengiris tangannya dengan menggunakan pisau medis. Darah segar mulai menetes dari lukanya, bersamaan dengan itu Yuri mengaktifkan kekuatan batu pilar di punggungnya.
Kekuatan sihir berwarna hijau pucat mulai menjalar bersamaan dengan tetes darahnya. Menambahkan darah serta kekuatan kehidupan batu pilar di tubuhnya merupakan metode terakhir yang harus Yuri coba.
Darah Yuri akhirnya tercampur dengan darah spesial dan darah para tawanan. Mata semerah ruby Yuri mulai memperhatikan reaksi yang terjadi antara darah miliknya dengan dua sample darah yang ia uji coba.
"I- ini? "
Yuri mulai terperanjat ketika mendapati apa yang terjadi. Tampaknya uji coba kali ini berhasil. Ketika darah miliknya tercampur dengan darah para tawanan, sesuatu yang mengerikan terjadi. Perlahan darah berwarna hitam pekat itu mulai mendidih dan menelan tetesan darah Yuri dengan ganas. Tidak hanya itu kekuatan sihir kegelapan yang pekat juga bisa Yuri rasakan keluar dari darah itu.
"Jadi inilah efek mengerikan yang terjadi. Obat yang disuntikkan di tubuh para tawanan bisa mengontrol dan memakan sedikit demi sedikit energi positif di tubuh korban. Seperti parasit, obat itu mulai mengambil alih tubuh inang, menghilangkan akal sehat mereka, tidak hanya itu kekuatan yang terkandung didalamnya juga mulai memutasi kekuatan sihir di tubuh mereka, hingga menjadi monster kegelapan! "
Yuri segera mengalihkan pandangannya ke sample darah spesial yang digabungkan dengan darah miliknya. Hal yang berbeda terjadi. Darah spesial yang Yuri yakini sebagai sample darah Mirai mulai memurni. Kilauan cahaya bening tercipta ketika dua darah itu disatukan.
Darah yang sebelumnya mengeluarkan enegi yang terkesan gelap, kini berangsur berganti. Yuri bisa merasakan, aura sihir kehidupan semurni batu pilar miliknya tercipta. Sebuah ide terlintas dikepalanya. Yuri penasaran, jika ia menggabungkan kedua sample itu, akankah ia berhasil membuat penawar obat aneh ciptaan Cops Merah?
Tanpa ragu, Yuri segera menggambungkan kedua sample. Senyum merekah tergambar jelas di wajahnya. Sesuai dugaanya, darah yang memiliki energi murni bisa mengalahkan darah yang mengeluarkan enegi pekat kegelapan.
"Aku mendapatkan penawarnya! Aku harus segera memberitahukan hal ini pada Aora dan Yora! "
Yuri segera mengemas penawar ciptaanya ke sebuah botol kaca. Dengan langkah panjang, ia segera berlari keluar dan hendak menemui Aora dan Yora. Tanpa Yuri sadari, sebuah tikus sihir hitam mengawasinya sedari tadi. Setelah Yuri pergi, tikus itu tiba-tiba lenyap.
" Tunggu aku! Aku pastikan akan mencegah Cops Merah untuk mengembangkan obat mengerikan ini! Obat sihir buatan seperti itu, seharunya tidak pernah diciptakan sama sekali! "
Sambil menggengam botol kecil berisi obat penawar di tangannya, Yuri berjalan menyusuri lorong panjang nan gelap didepannya.
" Jadi, kau berhasil menemukan penawar obat kami. Akai sode! " ucap suara seorang pria. Sontak, Yuri segera menghentikan langkahnya.
Jauh didepannya, Mitsusuke dan dr. Dojii sudah berdiri di ujung lorong. Mereka seolah sudah menunggu kedatangan Yuri. Gadis berambut merah itu sontak memundurkan langkahnya, semetara tangannya menggengam erat botol kecil yang berisi obat penawar.
"S-sejak kapan kalian mengetahui identitasku? "
Senyum licik terukir di wajah Dr. Dojii " Sesama peneliti obat yang hebat, sudah seharusnya aku mengenalmu. Obat-obatan ciptaanmu selalu memiliki tempat khusus untuku. Sejak pertama aku melihatmu, aku sudah sadar bahwa kau adalah Akai Sode yang selama ini aku cari-cari!
Aku tidak menyangka, kau sendiri yang akan masuk ke dalam laboratorium milikku! Tapi sayang kau datang justru sebagai musuhku! "
__ADS_1
" Serahkan obat penawar itu pada kami! Meski kami tidak menjamin akan membiarkan Itauske serta rekan-rekan penyusupmu yang lain hidup. Tapi dengan keahlian hebat milikmu, aku akan mempertimbangkan hidupmu! Bergabunglah dengan Cops Awan Merah makan kau akan tetap hidup! "
Mistusuke mulai mengulurkan tangannya. Ia meminta Yuri menyerahkan penawar itu dan mulai bergabung dengannya. Tangan Yuri mengepal kuat.
" Aku tidak akan mengkhianati teman-temanku! " Yuri langsung melangkah pergi.
Jalan didepannya bukan satu-satunya jalan yang bisa ia lewati untuk keluar dari sana.
" Kau yakin? " ucap Mitsusuke tenang, meski ia tahu Yuri mencoba kabur darinya.
Kring! Kring! Kring!
Baru beberapa langkah Yuri ambil, suara lonceng di kaki Yuri mulai terdengar nyaring. Mata Yuri mulai membulat sempurna. Tepat di depan matanya, ia melihat lonceng di kakinya mulai bersinar terang dan bersiap untuk meledak
"Kau menolak tawaran kami! Jadi, lebih baik kau lenyap beserta obat penawar itu! Ledak! " teriak Mitsusuke sambil mengaktifkan gyoku di tangannya. Dengan sihir miliknya, Mitsusuke memacu lonceng di kaki Yuri untuk meledak
Booommm!
Sebuah ledakan kuat tercipta. Kabut asap tebal menyelimuti di sepanjang lorong. Dengan sekali hentakan tangannya, Mitsusuke mulai menghempas kabut asap itu dengan kekuatan sihir miliknya. Samar, ia melihat ke dalam sisa puing reruntuhan tempat tubuh Yuri meledak. Mitsusuke penasaran, apakah Yuri sudah berhasil ia bunuh?
"Sial! Masih belum! " Mitsusuke berdecak kesal.
Mitsusuke melihat gumpalan ular kecil di sekitar area ledakan. Ratusan ular kecil itu mulai berkumpul dan membentuk siluet tubuh wanita yang sedang bersimpuh dilantai. Dari tumpukan ukar kecil itu, wujud Yuri mulai menampakan diri.
Yuri terbatuk pelan. Ia berhasil selamat berkat sihir perubah bentuk ular miliknya. Sesaat sebelum ledakan, Yuri mengubah diri menjadi gumpalan ular kecil untuk menghindari efek ledakan yang dasyat. Namun tetap saja, sebuah luka yang cukup parah ia dapat pada bekas ikatan lonceng di pergelangan kaki kanannya.
"Hah! Hah! Hah! Bahkan jika kau membunuhku, aku tidak akan pernah menyerahkan obat penawar ini! " ucap Yuri sambil tertatih.
Mitsusuke tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakang Yuri. Mata Yuri membulat sempurna.
" Kau yakin? Bahkan ketika aku menghancurkan wajah cantikmu itu? "
Mitsusuke menjambak kasar rambut panjang Yuri. Pria itu tidak peduli, apakah lawannya kesakitan atau tidak. Ia juga menondongkan sebuah pedang tajam tepat di samping wajah pucat gadis berambut merah itu.
" Serahkan obat itu, atau aku rusak wajah berhargamu! "
Dengan tangan gemetar, Yuri masih menggengam erat botol kaca di tangannya. Yuri sangat paham, kekuatan terbatasnya mungkin tidak sebanding dengan Mitsusuke. Seorang Kapten sebuah pausukan elite Cops Awan Merah. Tentu kekuatannya tidak bisa diremehkan.
"Gadis lemah sepertimu, tidak seharusnya berani menyusup masuk ke markas kami. Membunuhmu akan sangat mudah untukku, tapi menyiksamu dengan cara Cops Awan Merah tentu akan sangat menyenangkan! " ucap Mitsusuke mantap.
Ia mengarahkan pedangnga ke arah rambut merah panjang milik Yuri. Seolah bermain dengan rasa takut pada diri Yuri, Mitsusuke mulai memotong sesikit demi sedikit surai cantik gadis didepannya. Potongan rambut Yuri mulai ia jatuhkan tepat didepan wajahnya. Mitsusuke seolah ingin menunjukkan, bahwa di dalam genggamanya Yuri tidak bisa berbuat apa-apa
" Mari kita mulai dengan rambut merah panjangmu! Seorang wanita bukanlah wanita tanpa rambut panjangnya! Dasar! Lemah! "
Helai demi helai rambut miliknya, Yuri dapati jatuh di lantai. Tubuh Yuri bergetar menahan penghinaan yang ia terima, tangannya yang mencengkram tanah mulai mengepal kesal.
Sudah cukup! Yuri juga ingin berguna bagi orang-orang disekelilingnya. Selama ini, Ia selalu saja dilindungi. Oleh Hito adiknya, Oro-ryu dan bahkan Yora. Semua orang selalu melindunginya. Yuri tidak ingin menjadi beban yang selalu bersembunyi di belakang orang-orang di sekitarnya. Meski kemampuannya sedikit, tapi ia masih ingin berguna.
__ADS_1
" Aku sudah katakan! Aku bukan wanita lemah! " geram Yuri.
Tanpa Mitsusuke sadar, Yuri mulai melakukan perlawan. Ia segera mendorong tubuhnya kedepan dan berusaha melepaskan diri dari jeratan Mitsusuke. Rambut merahnya tertarik keras.
Tanpa mengkhawatirkan rambut panjangnya yang mulai terpotong penuh. Yuri terus mendorong tubuhnya kedepan. Akhirnya, dengan mengorbankan rambut miliknya, Yuri akhirnya lepas dari jeratan Mitsusuke
Sreshhhhh!
Yuri segera melompat menjauh. Ia menatap nanar potongan rambut panjang miliknya, yang bahkan masih bertengger di genggaman Mitsusuke. Namun, Yuri tidak pernah menyesal sedikitpun. Tatapan tajam ia arahkan ke Mitsusuke
"Cih! Kau tidak pernah mengenal rasa takut! Gadis lemah! " ucap Mitsusuke sambil menghempas sisa potongan rambut Yuri ke lantai. Menginjaknya, seolah itu adalah sampah yang tidak berharga. Dengan sinyal dari Mitsusuke, beberapa prajurit mulai mengepung Yuri dan mengarahkan senjata ke arahnya
" Bodoh! Kau meremehkan kemampuan seseorang dengan mudah! Kau tahu, bahkan jika ular tanpa bisa terpojok sekalipun. Ia akan tetap menyerang untuk mempertahankan hidupnya! " gumam Yuri. Ia mulai mengaktifkan segel Gyoku ditangannya. Dengan manipulasi sihir sederhana.
Yuri mengubah potongan rambut merahnya menjadi ratusan ular dengan bisa yang menyembur. Tumpukan Ular itu mulai melilit prajurit dan mematukan bisa mematikan dengan cepat, mereka bahkan tidak bisa menghindar. Sementara Mitsusuke, mencoba membunuh kumpulan Ular yang mencoba mendekatinya.
"Tidak akan aku biarkan! " pria bertopeng itu mulai mengaktifkan sihirnya. Sebuah genagan lumpur hitam tercipta di lantai. Menjerat tubuh ular sihir Yuri, dan menenggelamkannya.
Srenggg!
Mitsusuke mulai menghunuskan pedang miliknya. Dengan sihir petir miliknya, ia melapisi gagang pedang miliknya dan bersiap menyerang Yuri
"Kemana perginya gadis merepotkan itu! "
Mistusuke mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dengan teliti, ia mencari keberadaan Yuri yang menghilang begitu saja. Sebuah kilauan pisau terlihat di atas Mitsusuke. Yuri ternyata menggunakan kemamouan kamuflase miliknya untuk bersembunyi. Yuri bersiap menyergap Mitsusuke dari atas.
Tap!
Trang!
Gesekan dua buah besi terdengar nyaring. Mitsusuke lebih dulu menemukan keberadaan Yuri dan menyerangnya. Sebisanya, Yuri mencoba bertahan. Namun sayangnya, lantai yang ia injak sudah berubah menjadi lumpur sihir. Yuri tidak bisa berdiri, perlahan kakinya mulai terjerat lumpur buatan Mitsusuke.
"Kau tidak bisa lari dari jeratanku. Lumpur milikku akan mengisap habis tenagamu. Sebentar lagi kau akan mati lemas! "
Yuri tidak menyerah begitu saja. Yuri mulai mengulurkan tangannya. Dengan keras, ia mencengkram tangan Mitsusuke dengan kuku jarinya. Saking kerasnya, bahkan membuat kuku jarinya patah.
" Sudah aku bilang, jangan pernah meremehkanku! " bisik Yuri pelan lengkap dengan seringai liciknya.
Deg!
Tubuh Mitsusuke membeku. Ia merasakan detak jantungnya mulai tidak karuan. Dari dalam topeng dewa kematian milinya, Mitsusuke seolah menatap Yuri tidak percaya
" Jangan bilang kau-" ucapan Mitsusuke terhenti. Tubuhnya tiba-tiba kaku dan lumpuh seketika. Sambil memegang dadanya tang terasa sesak, Mitsusuke mulai jatuh berlutut di hadapan Yuri
"T-tapi, Sejak kapan? "
Yuri hanya memamerkan senyum penuh arti. Yuri mengusap rambut pendek miliknya yang terpotong asal. Seolah memberi jawaban Mitsusuke, ia mulai memamerkan kuku jari miliknya yang menghitan akibat di penuhi racun ciptaanya. Mitsusuke akhirnya tewas berkat racun yang Yuri tanam.
__ADS_1
Iris Ular Yuri berkilap terang. Kini giliran Yuri yang bersiap menghabisi satu buruan yang tersisa. Dr. Dojii yang sadar nyawanya terancam mulai melangkah mundur dan hendak kabur dari kejaran Yuri.
"Sekarang! Giliranmu! "