
"Mirai! Ayo lari!" ucap Nee sambil minarik Mirai bersamanya. Mirai menatap Zou yang sudah dikepung banyak prajurit termasuk sang Jendral Kitsune
"Kita tidak bisa membiarkan Zou tertangkap! " teriak Mirai.
Namun, tubuhnya terus saja ditarik Nee menjauh. Setelah melewati beberapa penjaga gerbang yang lemah, Mirai dan Nee akhirnya masuk ke Negeri Yokai. Mereka melarikan diri menuju hutan rimba didepannya, ribuan anak panah melesat ke arah mereka. Namun berkat kecakapan Nee, satupun anak panah tidak ada yang mampu menyentuh tubuh mereka
Grrrrrhhhhhrrr....
Para prajurit anjing menggerang marah. Mereka putuskan berlari menggunakan keempat kakinya dan mengikuti kemana bau Mirai dan Nee berada
"Cepat! Ikuti bau manusia itu! Pastikan mereka tidak masuk ke desa Yokai! Auuuuuunggggg! " prajurit srigala memberikan sinyal kepada rekannya. Lolongan keras terdengar nyaring, hingga memecah kesunyian hutan yang semakin gelap
Semua prajurit anjing bergerak cepat. Dengan indra penciuman mereka yang begitu akurat. Tidak memerlukan waktu banyak untuk menyusul Nee dan Mirai
Di tengah pelariannya, Mirai mencoba mengaktifkan Gyoku saljunya. Tapi mustahil, akibat efek pil yang masih ditelannya dan juga sihir aneh yang memenuhi tempat itu. Sihir di tubuhnya seakan melemah atau bahkan musnah
"Sihir kita tidak bekerja disini! Bagaimana ini, Nee! " ucap Mirai sambil terus berlari membelah gelapnya hutan belantara.
Susunan hutan begitu terjal, dengan jalan tanjakan yang curam. Mirai dan Nee masih berusaha berlari, meski nafas mereka sudah mulai habis akibat kecapaian
" Kita bahkan tidak bisa menggunakan sihir teleportasi atau peringan tubuh. Mustahil kita megghindar dari kejaran prajurit Yokai! Tapi-" belum sempat Nee melanjutkan ucapannya, sebuah anak panah melesat ke arahnya
Trasssss
Tembakan meleset. Nee menatap samar barisan prajurit anjing yang sudah bisa mengimbangi pelarian mereka. Jumlah prajurit Yokai sangat banyak, bahkan diantara mereka memiliki sistem pelacakan lebih baik dibanding komando militer apapun didunia manusia
Trassss...
Lagi-lagi anak panah melesat ke arah mereka. Mirai tahu ia dan Nee tidak bisa bergerak lebih cepat atau menjauh dalam situasi ini. Mereka terkepung. Salah sedikit saja, mereka akan segera tertangkap. Di tengah kondisi itu, Mirai menatap situasi disekelilingnya. Dataran yang lembab serta curam. Sementara hari semakin gelap menjelang senja. Tanpa membuang waktu, Mirai menarik Nee untuk mengikutinya.
Sressh....
Para Yokai yang mengejar mendengar ranting pohon yang tidak sengaja diinjak Mirai. Mereka pun memfokuskan indra penciuman, dan benar saja jejak bau itu adalah jejak buruan mereka
"Sebelah sana! Di dekat jurang! " mereka pun segera bergerak. Mereka menyisir setiap sisi jurang dengan teliti, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Mirai
" Cari dengan teliti! Aku yakin, para manusia itu tidak bisa pergi jauh dari kejaran kita! Aunggggg! " ucap Prajurit srigala
" Baik! Kapten! " semua prajurit menjawab printah sang kapten dengan nyalakan khas anjing keras
......................
Tanpa prajurit sadari, Mirai dan Nee bersembunyi didingding Jurang. Batu terjal yang dipijak Nee mulai berjatuhan. Mirai sempat menatap jurang dibawahnya, begitu dalam tanpa dasar, lengkap dengan kabut yang menghiasi. Nafas Mirai berhenti sejenak, memikirkan seberapa dalam jurang didepannya membuat ia sedikit bergidik!
Posisi mereka sangat terpojok. Berbekal sebuah cekungan kecil di sisi jurang, Mirai dan Nee mulai bersembunyi disana. Mereka juga sempat terperanjat ketika mengetahui prajurit yang mengejar mereka berada tepat di atas. Pijakan prajurit anjing yang banyak, membuat dingding cekungan tempat mereka bersembunyi mulai longsor sedikit demi sedikit. Jika dibiarkan seperti ini, entah tertimpa reruntuhan tanah atau terpeleset ke bawah juranglah yang menunggu mereka.
"Kita tidak memiliki waktu yang cukup! Tanah disekitar begitu labil, sementara batuan yang kita pijaki begitu licin. Jika dibiarkan, kita akan-" Nee menggerang pelan. Tangannya yang menggapai akar pohon berduri mulai merasakan sakit. Semetara Mirai yang bertumpu padanya juga memberikan berat tersendiri. Akibat ruang yang sempit, Nee terpaksan merangkul Mirai dalam pelukannya
(Ini keadaan darurat ya guys, jangan berperasangka!)
"Sebaiknya kita hapus jejak bau kita lebih dulu! " Mirai menggapai tanah berlumut disekelilingnya. Lantas melumuri tubuhnya dan Nee dengan lumut yang mengeluarkan bau menyengat.
Tujuan Mirai hanya satu, menghapus bau mereka. Di tengah perjuangan hidup dan mati. Seekor burung hantu tiba-tiba hinggap di akar pohon tempat Nee berpegangan. Burung hantu itu tampak seperti burung hantu biasa dan tidak seperti Yokai atau siluman. Burung hantu itu tampak menatap Mirai jinak. Ia datang seolah ingin membantu pelarian Mirai
__ADS_1
"Kenapa? Burung itu menatapku? " ucap Mirai heran. Nee yang melihat burung itu hinggap pun seakan mendapat ide
" Mirai! Beri mantel luarmu pada burung itu!"
Sementara itu, para prajurit Yokai mulai mengendus daerah sekitar mereka. Jejak-jejak bau Mirai dan Nee masih samar tercium. Hingga sebuah bayangan hitam berkelebat masuk ke dalam hutan
"Itu mereka! Cepat kejar! " semua prajurit kompak memakan jebakan yang Nee beri. Mirai sengaja melepas mantel luarnya dan mengenakannya ke burung hantu itu. Burung itu pun terbang kehutan dan memberikan pengalihan agar Nee dan Mirai bisa kabur dari sana
......................
Ratusan Prajurit Yokai mengikuti kemana sang Jendra melangkah. Sementara ditengah barisan, Zou yang sudah diikat serta diseret hanya berjalan pelan mengikuti kemana sang Jendral pergi. Tidak ada ketakutan didalam sorot mata Zou. Ia tidak bisa melawan dengan sihir terbatas miliknya, karena sihir ditubuhnya dilemahkan oleh sang Jendral.
Zou menghentikan langkahnya sejenak, sambil tersenyum pelan ia menatap ke arah Hutan tempat rekan-rekannya pergi
"Aku harap kalian bisa menyelesaikan misi ini! " gumam Zou.
" Cepat jalan! "
Prajurit yang mengawalnya menarik ikatan dileher Zou. Ia tidak bisa mengelak, tangannya diborgol kuat sementara gyokunya disegel. Pria berambut merah itu diperlakukan bak hewan oleh para Yokai. Diseret, dipukul serta dipaksa berjalan ditengah alun-alun desa Yokai
Semua penduduk Negeri Yokai keluar untuk menyaksikan Manusia yang menyusup ke dalam negeri mereka. Tatapan para binatang setengah manusia itu beragam. Ada yang takut melihat Zou seolah ia adalah monster mimpi buruk. Ada juga tatapan marah, kesal serta jijik. Tatapan yang mungkin para siluman temui jika mereka ditangkap manusia diluar sana. Dunia serasa terbalik disini!
"Berhenti disini! " ucap Jendral Kitsune.
Ia pun memberikan kode kepada para prajurit utuk membawa Zou ke tengah alun-alun desa. Zou diseret paksa. Mata hazelnya membulat sempurna ketika melihat tengorak kepala manusia tergantung di sebuah pilar bertulis hukuman. Nekonin benar, Jendral Kitsune sangat membenci manusia hingga rela memenggal siapapun yang memasuki wilayahnya tanpa terkecuali
Zou di bawa ketengah alun-alun eksekusi. Ia dipaksa berlutut dan menghadap para Yokai yang ingin menyaksikan kematian seorang manusia
Jendral Kitsune berjalan pelan ke arah Zou. Di tangannya sebuah pedang tajam masih tersarung rapi. Sosok gadis yang bahkan belum pernah Zou lihat wajahnya, menatapnya tajam dari balik topeng rubah
Pedang tajam mulai di arahkan ke leher Zou, kilapan cahaya yang terpantul lewat bilah peraknya bahkan membuat mata Zou silau
"Seperti biasa! Manusia bahkan rela menghianati rekannya untuk sebuah tujuan! " gumam sang Jendral ke arah Zou. Mungkin didalam topengnya ia tersenyum sinis. Mengetahui sikap manusia yang selalu ia temui sama saja
" Jika hal itu disebut pengkhianatan di duniamu. Maka di dunia kami, hal itu disebut 'berkorban untuk satu tujuan atau kesetiaan'. Aku lihat kau begitu membenci Manusia, Kitsune! “ Zou tersenyum tipis.
Sinar bulan mulai menapakan kecantikannya, perlahan menyapu semua yang berada dibawahnya. Sinar itu juga, menyapu tubuh sang jendral, sinar murni sang bulan mampu menampakkan satu ekor rubah yang menari tertiup angin
"Seekor Kitsune (Siluman Rubah) biasanya memiliki 3-9 ekor ditubuhnya. Tapi aku lihat, itu tidak berlaku untukmu. Jadi bisa aku tarik kesimpulan, apakah para manusia yang membuatmu seperti itu?! " ucap Zou sambil melirik ekor sang Jendral
Ekor bagi seorang Kitsune adalah nyawa. Mereka hidup abadi seiring bertambahnya ekor di tubuh mereka. Sesuai kodrat Yokai, mereka tidak memiliki sihir yang berarti, tetapi memiliki kehidupan yang panjang umur. Namun, kekuatan itu justru diincar oleh sebagian manusia untuk memperoleh kehidupan abadi dan awet muda. Di dunia sihir, hidup abadi serta memiliki kemampuan sihir yang hebat adalah simbol kekuatan. Mereka akan dengan mudah mendapat posisi yang akan disegani orang-orang. Untuk itu, pemburuan kitsune yang masih berada di dunia manusia akhirnya terjadi
" Diam kau! Seorang manusia rendah sepertimu, tidak pantas mengatakan hal itu padaku! " sang jendral mengeratkan pedang dileher Zou. Membuat sedikit irisan di leher Zou hingga meneteskan darah segar
Zou tersenyum tipis, ia pun mengarahkan iris hazelnya menembus kedalam topeng sang rubah. Ia sadar, pemilik mata aquamarine didepannya sedikit terguncang dengan ucapannya. Pandangan Zou sedikit melunak.
"Apa dengan membunuh seorang manusia. Kau merasakan keadilan atas apa yang pernah mereka lakukan padamu? Mereka mungkin merenggut sesuatu darimu. Hal itu membuatmu memupuk dendam di dalam hatimu, hingga kebencian dalam dirimu menguasai jiwamu!
"Jika keadilan itu ada. Maka membunuh manusia yang berani datang kehadapanku adalah keadilan untukku! Hal itu juga termasuk memenggal kepalamu! " ucap Jendral Kitsune dengan suara bergetar menahan amarah
" Lalu, jika kau membunuh setiap manusia yang kau lihat. Itu berarti kau memilih jalan yang sama persis dengan orang yang merenggut ekor cantikmu! Kau akan berubah sama seperti manusia-manusia jahat yang kau benci. Merenggut sesuatu secara paksa demi tujuan pribadimu (dendam)! "
"Tutup mulutmu. Kalian pikir kau berbeda dari mereka? Aku adalah korban kekejaman kalian dan aku menuntut keadilan dengan mengambil nyawa kalian sebagai bayaran atas penderitaanku selama ini! "
__ADS_1
" Kau mengatakan dirimu sebagai korban. Tapi cerminan dirimu (membunuh) tidak menunjukkan bahwa kau seorang korban. Kau tahu, jika kau membalas orang yang menyakitimu dengan cara yang sama atau lebih kejam dari orang itu (balas dendam) . Kau tidak lagi menjadi korban! Melainkan iblis yang lebih hina dari pelaku yang kau benci! " ucap Zou sambil menatap Kitsune yang berdiri tepat dihadapannya.
Mendegar ucapan Zou, Kitsune yang masih menutup wajahnya dengan topeng emas tertawa lantang. Ia pun menurunkan pedang yang siap menebas leher Zou kapanpun
" Haha! ... Haha! ... Haha! Kau pikir omong kosongmu itu bisa menyelamatkanmu dari kematian?! Baiklah! Akan kau beri kau kesempatan! "
Kitsune memandang deretan penonton di belakangnya. Ia sadar, rekan Zou tengah melihat dari balik kerumunan para Yokai. Bersembunyi sekaligus berbaur dengan para masyarakat banyak. Mirai dan Nee mungkin bisa menipu para prajurit, tapi mereka tidak bisa menipu penciuman tajam sang Jendral
"Teman-temanmu! Ada di dalam kerumunan orang-orang ini! Mungkin mereka menatapmu iba tanpa berani menolongmu!
Akan aku beri kau kesempatan! Jika mereka menganggapmu rekan, tentu mereka tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, bukan?!
Cepat tunjukan wujudmu! Sebelum aku memenggal pria berambut merah ini! " teriak sang Jendral lantang. Semua penonton disana keheranan berusaha menerka siapa yang Kitsune maksud
Benar apa yang dikatakan Kitsune. Nee dan Mirai tengah memperhatikan mereka dari balik kerumunan. Sadar akan panggilan Kitsune, Nee hendak maju kedepan untuk menyelamatkan Zou
"Nee! Apa yang kau lakukan?! Jika kau mengikuti saran rubah itu dengan gegabah. Kita semua akan mati! " ucap Mirai sambil memegang lengan Nee. Mirai ingin menyelamatkan Zou, tapi ia juga sadar semua ini mungkin jebakan Kitsune.
" Itu benar. Tapi aku tidak bisa membiarkan rekanku mati dihadapan mataku. Aku harus berbuat sesuatu, meski itu hanya usaha yang sia-sia aku akan tetap mencobanya! " ucap Nee yakin sambil melepas tangan Mirai. Ia mulai berjalan maju, namun langkahnya terhenti ketika Mirai hendak mengikutinya pergi
" Mirai, itu hanya berlaku untukku. Aku dan Zou mungkin akan mati disini. Tapi tidak untukmu...
Kau harus membawa batu Pilar pulang apapun yang terjadi. Tujuan Tengu, adalah tujuan mutlak untuk kita. Jadi, selamatkan dirimu dan pastikan kau kembali ke hadapan Xio hidup-hidup! "
" Tapi Nee-"
Mirai tentu tidak ingin meninggalkan rekannya begitu saja. Jika bisa memilih, hidup Zou dan Nee lebih berharga dari misi ini. Mirai terlihat tenggelam dalam pikirannya
"Pengorbanan yang aku dan Zou lakukan berasal dari dalam diri kami. Jika kau meragukan pengorbanan kami, itu artinya kau tidak percaya dengan bayaran nyawa yang kami pertaruhkan untukmu! Itu juga berarti penghinaan untuk keputusan yang kami buat! "
Mirai mengepal tangannya kuat. Tidak akan ia biarkan orang-orang berkorban untuknya lagi. Ia hendak mengejar Nee, namun serbuk besi Nee tiba-tiba menjerat tubuhnya. Mirai tidak bisa bergerak.
Nee berjalan semakin menjauh. Ia menggunakan sihir minimalnya untuk menghentikan Mirai mengejarnya
"Dibanding dengan kami. Nyawamu lebih berarti untuk dunia. Jadi, kau harus tetap Hidup. Mirai!" ucap Nee
......................
Kitsune tersenyum di balik topengnya. Ia merasakan seseorang dengan bau yang sangat ia benci mendekat.
"Tunjukkan Wujudmu! " teriaknya lantang sambil tersenyum sinis.
Nee maju ke hadapan orang-orang, lantas memuntahkan pil khusus untuk membuka jati dirinya. Semua Yokai tersentak, melihat manusia lain ternyata ada diantara mereka.
" Nee! Apa yang kau lakukan?! " teriak Zou, ia begitu terkejut melihat Nee menyerahkan diri begitu saja. Kitsune memerintahkan prajurit untuk melumpuhkan Nee. Tanpa perlawanan, pria berbadan tegap itu menyerahkan dirinya untuk diseret kehadapan Jendral Kitsune
Nee pun berlutut di samping Zou. Ia menatap rekan cerewetnya yang sudah dipenuhi luka.
"Kau bertanya kenapa aku datang kesini? Dasar bodoh! Bagaimana aku bisa meninggalkan rekan cerewetku begitu saja?! Aku sudah terbiasa mendengar ocehanmu itu! Jadi aku harap aku bisa mendegarnya sedikit lebih lama lagi! Rekanku! " gumam Nee pelan
" Nee kau-" Zou bahkan tidak bisa berkata-kata lagi
Jendral Kitsune mendekati Nee dan Zou. Perlahan ia mengulurkan kedua tangannya. Seolah menyuruh Nee memilih satu diantara sesuatu yang ada didalam genggaman sang Jendral
__ADS_1
"Pilihlah! Jika keadilan yang kau percayai ada. Kalian bisa selamat dari sini!
Di dalam genggamanku terdapat dua chip bertuliskan 'Hidup' dan 'Mati'. Kalian tinggal memilih nasib kalian! Bukankah itu baru disebut keadilan?! " ucap sang rubah penuh makna