
Lengkingan suara elang memecah birunya langit. Seekor elang berwarna hitam, tengah terbang rendah diatas pulau cantik di tengah biru lautan yang luas. Yuri, melirik ke arah elang yang terbang tepat diatasnya. Dengan pelan, ia melangkah maju menuju tepian jurang dengan deburan ombak tenang di bawahnya. Ia segera mengulurkan tangannya, elang hitam itu langsung meluncur ke arah Yuri. Mendaratkan cakar tajamnya di pergelangan gadis berambut merah itu
"Pesan dari Itasuke? " gumam Yuri. Ia segera mengeluarkan sebuah surat dari dalam tabung yang diikat di kaki elang itu. " Terima kasih, Taka. Kembalilah pada Tuanmu! " seolah mengerti, elang itu pun terbang pergi.
Alis Yuri mengkerut, tidak biasanya Itasuke mengirimkan pesan padanya. Sesuatu di luar sana pasti terjadi. Dengan cepat, Yuri membuka surat ditangannya dan membaca dengan cermat setiap kata yang tertuang.
"I-ini?" ucap Yuri tidak percaya.
......................
Suara langkah kaki Yuri menggema di seluruh lorong kastil Hemi. Dengan cepat ia menuju salah satu ruang di ujung lorong. Yuri membuka kasar pintu besar didepannya.
"Yora! "
Pria berambut hitam kelam terlihat diam mematung menatap hamparan laut biru didepannya. Luka ditubuhnya masih dililit perban, dengan tatapan tenang khasnya, Yora melirik ke asal suara yang memanggil namanya.
" Ada apa? "
Yuri segera menghampiriri Yora, ia meletakkan surat yang dikirim Itasuke di atas meja.
" Baru-baru ini kejadian aneh terus saja terjadi di Negeri Sora. Puluhan desa hancur, sementara ratusan penduduk desa itu tewas dengan cara yang aneh!
Seseorang pengguna sihir kuat pasti melakukan pembunuhan masal itu. Dari caranya membunuh, aku yakin dia bukanlah orang sembarangan! " tegas Yuri.
Yora segera membaca surat didepannya, ada sedikit kejanggalan tentang laporan yang ia baca.
" Ini? " Yora membaca setiap kata di surat itu. Dengan jalas di tulis bagaimana kondisi korban dan keadaan desa yang hancur. Hanya saja, Yora sedikit heran. Cara mereka tewas serta ciri-ciri mayat yang ditemukan, sama seperti teknik sihir penghisap jiwa milik Mirai.
"Apa kau tahu sesuatu? Teknik sihir pembunuh seperti itu sangat jarang ditemukan. Aku yakin, sesuatu yang berbahaya tengah terjadi diluar sana! Firasatku sangat tidak enak mengenai kejadian ini! "
__ADS_1
"Ini adalah Teknik sihir penghisap jiwa Milik Mirai. Sesuai ciri-ciri yang ditulis dalam surat ini. Orang yang di hisap jiwanya, akan tewas mengering hingga seluruh cairan di tubuh korban habis. Setahuku, hanya Mirai yang mamapu melakukan Teknik sihir ini. Tapi ada sesuatu yang janggal. "
Yora terdiam sejenak. Menurut apa yang ia ketahui, hanya Mirai yang mampu menguasai teknik langka ini. Hal itu terjadi karena Mirai merupakan salah satu reinkarnasi Tiga Pilar Penjaga Langit. Kemampuan menghisap jiwa merupakan kutukan yang diturunkan Nue langsung. Lalu apa ada orang di dunia ini yang mampu menguasai Teknik sihir itu selain Mirai?
"Mirai hanya mampu menghisap satu jiwa dalam sehari. Kegelapan orang-orang yang ia hisap jiwanya, kadang membuat tubuh Mirai melemah. Teknik sihir hebat seperti itu, juga memiliki konsekuensi dalam penggunaanya.
Tapi dilihat dari laporan yang tertulis disini, pelaku mampu menelan jiwa seluruh penduduk desa hanya dalam semalam. Hal itu sungguh mustahil untuk dilakukan, bahkan untuk Mirai sekalipun! " ucap Yora
Yuri tampak berpikir sejenak, tanpa sengaja ia melirik peta koordinat dimana letak laboratorium milik Cops Merah Tanuki berada. Sebuah ide terlintas di benaknya.
" Tunggu! Coba lihat ini! " Yuri menunjuk peta kecil di atas meja. Ia segera melingkari beberapa daerah yang terletak tidak jauh dari pusat laboratorium Cops Merah. Yora memperhatikan titik-titik yang Yuri tandai, ia sepertinya mulai paham apa maksud Yuri
" Semua kejadian aneh itu, terletak tidak jauh dari laboratorium Cops Merah?! " gumam Yora, Yuri mengangguk pelan.
" Lihatlah! Jarak desa yang paling dekat dari markas Cops Merah hanya berkisar 2 km. Itu adalah desa yang berisi penduduk pengungsi dari negara kecil di sekiataran Sora. Anehnya desa itu lah yang menjadi target utama yang penyerangan! " jelas Yuri.
" Dari Desa pengungsi, pelaku terus bergerak ke utara setelah menyerang desa pertama. Pembantaian berlanjut ke Desa angin, desa batu, desa petir. Semua desa itu adalah desa tetangga. Anehnya, desa-desa selain yang terletak di arah utara. Tidak pernah dilaporkan diserang sama sekali! "
" Yora, apa kau merasakan sesuatu yang aneh dari pola serangan ini? " ucap Yuri sambil menatap Yora
" Hn... Penyerang seolah menuju ke suatu tempat di utara. Namun, sebelum sampai ketujuannya, ia membantai habis penduduk desa yang dilewatinya. Entah ia menyerang warga hanya untuk bersenang-senang atau mungkin ia sengaja membantai desa untuk mendapatkan sesuatu dari kematian orang-orang. Tapi yang jadi pertanyaan, kemana tujuan penyerang itu sebenarnya? "
Yora segera bergegas mengambil jubah hitamnya. Ia tidak bisa berdiam diri begitu saja, sementara sosok yang ia bahkan tidak tahu siapa tengah melakukan hal gila di luar sana.
" Ini tidak bisa aku biarkan! "
" Hei! Yora, kau mau kemana? Kau baru saja sadar dan tubuhmu masih terluka parah! "
Yuri mengikuti kemana pria yang setengah tubuh bagian atasnya masih terlilit perban. Luka di dada Yora bahkan belum kering atau sembuh sepenuhnya. Sadar Yora tidak mengindahkan ucapannya, Yuri segera merebut jubah untuk menghentikannya pergi
__ADS_1
" Yora! Dengar apa kata doktermu! Kondisimu masih belum sepenuhnya pulih! Jika kau pergi ke sana, kau hanya akan menyerahkan nyawamu! " Yuri ingin menghalangi Yora untuk pergi sebisanya. Namun pria bermata sekelam malam itu, hanya menatapnya dingin tanpa mau mengerti kekhawatiran Yuri sedikit pun
" Hentikan. Aku mengetahui kondisiku lebih baik dari siapapun. Aku harap, kau segera menyingkir dari hadapanku, Yuri! "
Yora merampas jubah miliknya, lantas berjalan menuju ke arah meja dan memasukan peta serta surat ke dalam kantong peralatannya.
" Kau tunggulah dikastil ini. Mungkin saja, Mirai akan segara datang dari misi pencarian batu pilar. Jangan katakan mengenai kejadian ini padanya. Jika sampai kejadian ini diketahui olehnya, aku bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukan gadis ceroboh itu!"
Yur hanya bisa berdecih. Yora selalu saja mengkhawatirkan orang lain ketimbang dirinya.
"Cih! Sikapmu masih tidak berubah. Kau selalu menghawatirkan Mirai, tapi tidak pernah sedikitpun kau menghargai rasa khawatirku untukmu.
Baiklah! Lakukan apa maumu! Aku hanya membuang-buang waktu dan energiku untuk mengkhawatirkan pria egois sepertimu!
Percuma saja aku mati-matian menyelamatkan nyawamu! "
Dengan emosi yang memenuhi dirinya, Yuri segera berlari pergi dari ruangan itu. Yora sedikit membeku. Meski Yuri selalu mengatakan dan meluapkan emosi didepan dirinya, entah kenapa kali ini ia seolah menyesal. Yora segera menepis pikirannya. Baginya ia sudah tidak memiliki waktu untuk memikirkan perasaan orang lain atau perasaanya sendiri. Menyusup dan menyelidiki laboratorium rahasia milik Cops Merah merupakan prioritas utamanya saa ini!
"Oi! Yora. Kau tidak seharusnya membuat kesal gadis berambut merah itu! Kau lupa apa yang harus dialaminya untuk menyelamatkan nyawa kita dan merawat kita hingga sadar seperti ini?! Baka (bodoh)! "
Seorang pria berambut abu-abu sedari tadi berdiri menyandar di pintu masuk. Sama seperti Yora, hampir semua tubuh bagian atasnya terlilit perban. Aora hanya memandang Yora dengan tampang malasnya. Tidak ada masker yang menutupi setengah wajahnya, senyum penuh arti bahkan terlihat jelas di bibirnya.
"Sejak kapan kau disini? " Yora bahkan tidak melirik ke arah Aora. Ia masih sibuk memasukan peralatan ke dalam kantong miliknya
" Sejak nona berambut merah itu memaki ke arahmu! "
" Jangan hiraukan dia. Yuri memang selalu bersikap tidak perlu seperti itu! " ucap Yora datar
" Kau harus menghargai rasa khawatirnya sebelum gadis itu berubah bersikap tidak peduli dan meninggalkanmu! " ucap Aora sambil terkekeh
__ADS_1
" Hentikan omong kosongmu! Dan pergilah dari ruanganku! "
Aora kembali dengan tatapan seriusnya. " Yora. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu! Mungkin ini berhubungan mengenai kejadian misterius yang tengah kalian selidiki! "