
25 tahun sudah berlalu, sejak insiden pengukuhan segel Nue yang akhirnya membunuh sang pilar Salju, Yukio. Orang-orang sudah mulai melupakan kejadian itu, mereka bahkan tidak tahu, seseorang anak berkekuatan spesial lahir pada hari itu. Bagi rakyat Sora mereka hanya kehilangan salah satu orang berpengaruh, tapi bagi Zen inilah titik awal, dimana ia mulai kehilangan sahabat terdekatnya. Mito, Yoshiro, Aoryu, Kizuna dan bahkan Tanuki.
" Kau benar, Tanuki. Kita pernah hidup dalam masa-masa sulit seperti itu... " ucap Zen pelan. Namun sedetik kemudian, tatapan tajam ia arahkan ke Tanuki.
" Tapi kemalangan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatanmu kali ini! "
Srengg!
Zen menghunuskan pedangnya, dengan langkah mantap, ia mulai berlari menuju ke arah Tanuki. Zen sejatinya tidak mau bertarung melawan satu-satunya sahabat yang masih tersisa, tapi sikap Tanuki sudah diluar batas kesabaran Zen
Tanuki hanya memamerkan seringai liciknya, ia seolah menyambut serangan Zen dengan tangan terbuka.
"Kita lihat, seberapa kuat kau sekarang Zen! " teriak Tanuki puas.
Tiba-tiba, angin kencang berhembus, angin yang datang entah dari mana itu membuat pandangan Tanuki sedikit kabur. Tanuki menyipitkan matanya, Zen yang berlari ke arahnya tiba-tiba lenyap dari pandangannya
" Ia memanfaatkan elemen ainginnya untuk bersembunyi dariku. Kita lihat saja, dari mana kau muncul, Zen! " Tanuki mulai bersiaga, angin yang memenuhi ruangan itu adalah media sihir Zen untuk menyembunyikan dirinya.
Sresh!
Tang!
Dua pedang saling beradu, gesekan dua kekuatan yang seimbang itu bahkan menciptakan bunga api dan suara dencingan yang memekik telinga. Zen menyerang dari titik belakang Tanuki, tapi pria dengan perban melilit setengah wajahnya itu tentu tidak bisa diremehkan begitu saja. Tanuki membalas serangan Zen, dengan pedang berlapis elemen api miliknya. Zen tidak mau menyerah begitu saja, ia mencoba menekan pertahanan Tanuki, sambil mengaktifkan Gyoku di tangannya.
"Kau hanya anak pengecut, yang kebetulan bertemu denganku dan juga Kizuna. Tanpa kami, kau mungkin tidak pernah merasakan apa yang kau miliki saat ini! " gertak Tanuki.
Zen kembali memfokusan kekuatan di bilah pedangnya. Elemen angin yang melapisi gagang katakana miliknya berputar cepat, semakin menipis hingga membuat pertahanan Tanuki sedikit demi sedikit tertembus.
__ADS_1
" Aku memang pengecut dalam semua hal. Tapi jika mengenai apa yang berharga untukku. Bahkan dengan nyawaku, aku siap mempertaruhkannya! "
Kekuatan sihir berelemen angin memenuhi tubuh Zen, kakuatan yang mampu mencabik lawan yang bersentuhan dengan manipulasi sihir angin berbentuk jarum kecil tipis nan tajam. Pertahanan Tanuki mulai melemah, hanya dengan hentakan pedang Zen, dua kekuatan yang berlawanan itu saling bereaksi hingga menimbulkan sebuah ledakan besar.
Brassss!
Tubuh Tanuki terpental jauh oleh serangan penuh dari Zen. Akibat ledakan kekuatan antara api dan angin, setegah badan Kuil bahkan hancur lebur. Tubuh Tanuki terlempar turun, jatuh membentur tanah, hingga membuat sebuah kawah kecil.
Zen menatap Tubuh Tanuki dari atas sana. Ketinggian antara Kuil dan dataran dibawahnya mencapai 500 meter lebih, hal itu membuat tubuh Tanuki bagai semut jika dilihat dari ketinggian seperti itu. Tubuh Zen tiba-tiba lenyap begitu saja, hanya dalam hitungan detik ia sudah berdiri tepat di depan Tanuki.
Ujung pedang Zen terhunus tepat di jantung Tanuki. Zen melirik sekilas mata kanan Tanuki yang tertutup perban, tidak pernah sedikitpun ia lupa apa yang dikorbankan Tanuki untuk menolongnya dulu.
Tapi, semua telah berubah. Hutang budi memang harus dibayar. Tapi untuk kasus Tanuki, Zen bahkan tidak mau mentorelir perbuatan jahat sahabatnya yang telah membahayakan dunia sihir. Zen sadar ia sendirilah yang harus membunuh Tanuki dengan tangannya sendiri.
"Kenapa? Kau tidak bisa menebas tubuhku dengan pedangmu? Kau memang pengecut, Zen! Hahahaha! " meski tubuhnya dipenuhi luka, Tanuki masih bisa mengolok-ngolok Zen saambil tertawa lantang.
Sreshhh!
Zen hendak menebas tubuh Zen dengan pedangnya. Namun, sebuah panah misterius meluncur dan menembak bahunya. Serangan tiba-tiba itu berhasil melumpuhkan Zen, panah yang menembus bahu kirinya bukanlah panah biasa, sebuah kepingan besi khusus yang mampu melemahkan kekuatan sihir lawan.
......................
Tanuki mulai bangkit berdiri. Tepat di belakangnya, seorang prajurit berjubah hitam lengkap dengan topeng dewa kematian muncul. Sebuah busur dan beberapa anak panah tersemat di punggunya. Parjurit itu hanya menunduk hormat, sambil membuka topeng yang menutupi wajahnya.
"Anda tidak apa-apa, Tuan? " ucap suara datar seorang wanita. Rambut violet panjangnya terhempas halus. Simbol kontrak di tangannya mengeluarakan cahaya merah, begitupun simbol yang berada di tangan Tanuki. Yume, saat ini benar-benar berada di bawah kontrol Tanuki. Karen pengaruh kontrak, Yume secara otomasti bergerak melindungi Tanuki bahkan jika itu bukan kehendaknya sendiri.
" Kau menyelamatkanku. Tapi cukup sampai disini. Pertarungan ini, hanya untukku dan Zen, mengerti! Kau cukup berjaga, dan jangan biarkan orang lain ikut campur. " ucap Tanuki tegas.
__ADS_1
" Baik Tuan! " ucap Yume pelan, ia lantas menghilang dari sana.
Sementara itu, Zen masih mencoba bangkit berdiri. Ia mulai memebuat simbol khusus, dan mengunci penyebaran pengaruh anak panah yang menembus bahunya. Fakta bahwa ia adalah mantan kapten Cops Awan Putih, tentu saja Zen memiliki teknik tersembunyi khusus untuk menangkal sihir khas Cops Awan Merah.
"Kau memanfaatkan seorang anak, untuk berlindung dari seranganku. Cih! Kau jauh lebih pengecut dariku, Tanuki! " ejek Zen
" Itu tidak akan terjadi lagi!" Luka-luka di tubuh Tanuki mulai menghilang, ia tampaknya mengaplikasikan sihir regenerasi Mirai yang ia rampas melalui darah spesial ke dalam tubuhuhnya.
Ia pun mulai mengaktifkan gyokunya, melapisi pedang miliknya. Hal serupa di lakulan Zen, ia bahkan tidak peduli dengan luka mengaga di bahunya. Zen mulai mengeratkan pedang di tangannya. Kedua sahabat itu mulai berlari menuju arah masing, dua pedang kembali beradu. Baik Zen atau Tanuki, mereka berdua memiliki keahlian pedang tingkat tinggi.
Zen dengan lihai mengayunkan Tangannya, menyerang beberapa titik di tubuh Tanuki. Tanuki dengan lihai menghindar, bergerak luwes mengarahkan pedangnya untuk bisa menebas tubuh Zen.
Usia tidak bisa mempengaruhi kualitas pertarungan dua veteran itu. Ledakan-ledakan energi sihir, hampir menghiasi setiap pergerakan kilat mereka. Sihir Api dan angin seakan bersaut, dan membalas serangan satu sama lain.
Disisi lain, pertarungan dasyat antara Zen dan Tanuki membuat seluruh lembah kehidupan gempar. Beberapa burung bahkan terbang menjauhi lokasi pertarungan.
Jauh di dalam hutan, terlihat kilapan bayangan hitam yang melesat menuju ke suatu tempat. Ten yang sedari malam melacak keberadaan ketua Zen, akhirnya sampai di lokasi sang guru berada. Ia mulai memasuki area Lembah. Ia merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi, Ten akhirnya menghentikan pergerakannya, ia pun menapkan kakinya di sebuah dahan pohon besar dan mulai mengamati keadaan sekitar. Angin bertiup aneh. Bukan hanya itu, Ten juga nerasakan udara berubah panas, bajkan ketika matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk timur. Fokus Ten tertuju pada burung-burung yang terbang menjauh, bahkan suara ledakan sayup-sayup terdengar oleh indranya.
"Sebuah pertarungan pasti terjadi di sekitar sini. " Ten mempercepat pergerakannya menuju asal suara ledakan.
Benar saja, dari kejauhan ia melihat pertarungan antara Tanuki dan Zen. Setengah dataran di depannya sudah hancur akibat pertarungan, ia juga melihat Ketua Zen sudah mulai kewalahan menerima serangan dari ayahnya.
"Ketua Zen! " teriak Ten, ia hendak berlari menuju Zen dan menolongnya. Namun, sebuah panah kembali melesat ke arahnya. Untung saja Ten bisa menghindarinya. Siluet seorang wanita terlihat berjalan menuju ke arah Ten. Mata Ten membulat sempurna ketika mengetahui siapa wanita itu.
"Berhenti disana! Atau aku akan membunuhmu! " ucap Yume dengan tatapan tajam.
" Yume? Bagaimana bisa kau- "
__ADS_1