Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Masa Lalu Hotaru : Hanya Satu..... Tolong Akui Aku Ayah


__ADS_3

"Aku akan mengutusmu, untuk membersihkan 'sampah' perang Sora! "



Ucap Hozuki mantap. Hotaru kini berlutut, menerima perintah langsung dari sang Ayah. Ia memerintahkan Hotaru untuk membunuh seluruh tahanan perang dari Negeri Sora


Hotaru ingin sekali menolak perintah ayahnya, namun di satu sisi untuk pertama kalinya sang ayah memberinya sebuah misi Khusus. Hotaru memejamkan matanya sejanak, ia tampak berpikir ingin memilih jalan yang mana. Keputusannya akhirnya bulat, Hotaru menyetujui permintaan sang ayah


"Baik ayah! "


"Malam itu, untuk pertamakalinya aku menjalankan misi langsung dari ayahku sendiri


Tentu, aku harus melaksanakan misi itu sesempurna mungkin, agar ayahku mau mengakuiku


Aku putuskan membuang jauh rasa bersalahku, dan membantai habis seluruh tahanan perang negeri Hoshi tanpa kecuali dengan tanganku sendiri"


Kilatan cahaya petir tampak terang menyambar, menyeruak kegelapan di dalam sebuah penjara bawah tanah Negeri Hoshi


"Kami! Tidak akan pernah memaafkan pihak Hoshi untuk peng- "


Trasssss.........


Belum selesai pria itu berbicara, Hotaru dengan cepat menebas leher pria berseragam militer Sora itu. Mayat Prajurit Sora yang di sandra pihak Hoshi tampak berjatuhan di sepanjang sisi penjara. Memenuhi ruang pengap minim cahaya dengan teriakan terakhir sebelum para tahanan meregang nyawa


Masa pemerintahan Hozuki, adalah masa pemerintahan paling kelam, dengan perang yang terjadi hampir di sepanjang pemerintahannya. Dia adalah pemimpin Hoshi yang dikenal sebagai sosok 'monster dingin dari lautan' yang tidak kenal ampun dan berhati besi


Di Kastil megah Negeri Hoshi, Hotaru datang dengan keadaan basah akibat badai di luar sana. Dengan darah yang menempel di wajah dan di sekujur tubuhnya, Hotaru masuk ke dalam Kastil megah itu. Ia berjalan menuju ruangan sang ayah, dengan jejak darah yang menempel di sepanjang langkahnya.


Di depannya ia melihat sang kakak Hikari, yang membeku memandang Hotaru. Ia tidak percaya adiknya sendiri berubah menkadi iblis dengan darah segar menetes dari bilah pedangnya


"Misi apa yang di berikan ayah untukmu? "ucapnya dengan suara bergetar.


Hotaru menatap Hikari dengan tatapan dinginnya, ia hanya melewati tubuh sang kakak yang masih tertegun tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Di dalam kantor Ayahnya, Hotaru memberi hormat ala militer, berlutut dengan satu kakinya


" Misi sudah aku selesaikan dengan baik, ayah! " ucap Hotaru yakin. Ia berharap sesikit saja apresiasi atas kerja kerasnya hari ini dari sang ayah. Namun harapannya hanya angan-angan belaka. Hozuki, bahkan tidak melirik Hotaru sedikitpun


"Bagus, kau boleh pergi! " ucap sang ayah tanpa memandang Hotaru, Ayahnya hanya sibuk membalik dokumen di depannya


"Hanya kata 'bagus' yang aku dengar dari ayahku, tapi itu lebih dari cukup untukku. Bisa dikatakan ayahku mulai mengakui kemampuanku.

__ADS_1


Setelah hari itu, aku mulai di berikan kepercayaan menangani Misi-misi penting yang tidak bisa diselesaikan Hikari"


Hotaru kini tumbuh menjadi mesin pembunuh yang berhati dingin layaknya sang ayah. Bahkan, ia tak segan membunuh hanya untuk pengakuan sang ayah


2 tahun berlalu sejak misi penghabisan itu, kini Hotaru menjabat sebagai kepala keamanan Hoshi di usianya yang ke-12. Pada suatu waktu, Hotaru berhadapan dengan seorang wanita beserta anak balitanya yang tertangkap prajurit tengah mencuri beras dipasar. Merekapun menyeret wanita itu kehadapan Hotaru menunggu keputusan kepala keamanan mengenai nasib ibu dan anak itu selanjutnya


"Apa yang seharusnya kami lakukan untuk ibu dan anak ini, Tuan muda Hotaru? "


Di depan Hotaru terdapat seorang perempuan dengan seorang putranya. Dia di bawa oleh polisi Militer akibat tertangkap mencuri.


Wanita ringkih dengan tangan terikat, serta putra kecilnya yang terus gemetar ketakutan ketika dikelilingi prajurit bersenjata lengkap. Air mata mengalir di wajah kecilnya. Dalam diam anak itu menangis sambil menatap Hotaru takut


" Mohon maafkan aku, Tuan muda. Aku hanya mencoba untuk mendapatkan makanan untuk anakku. Peperangan membuat aku tidak memiliki apapun, karena harus membayar pajak ke Negara, aku mohon Tuan" Ucap wanita itu sambil terus memohon pengampunan. Hotaru hanya bergeming melihat wanita lemah dihadapannya


"Bukan berarti kau bebas mencuri, dan merusak ketertiban desa" ucap Hotaru datar


Dalam diri Hotaru, ia kasian melihat ibu dan anak di depannya, matanya tampak bergetar. Namun, ia tidak ingin mengurangi kinerjanya akibat rasa kasihan. Ia tidak mau membuat ayahnya kecewa sedikitpun


"Jebloskan mereka ke penjara! " ucap Hotaru sambil membuang muka. Prajurit hendak membawa wanita itu beserta putranya masuk ke dalam penjara bawah tanah.


" Hotaru! "


Seseorang yang tampak mirip dengan Hotaru, tiba-tiba datang. Ia terlihat mengenakan seragam Militer Hoshi, dengan syal biru tanda 'kapten' di lengannya



"Jangan ikut campur urusanku kak Hikari! "


Hikari tidak memperdulikan ucapan adiknya itu, ia menatap bawahan Hotaru dan mengisyaratkan agar mereka mematuhi printahnya


"Cepat kalian bebaskan mereka, biarkan aku bicara dengan kaptenmu! "


"Baik Tuan Hikari! " mereka semua pergi meninggalkan kakak adik itu. Hikari menghampiri Hotaru ia begitu prihatin dengan sikap Hotaru yang berubah drastis. Ia juga menyayangkan sikap Hotaru yang dingin oada rakyat lemah


"Kanapa kau sangat terobsesi dengan pekerjaanmu, Hotaru?"


"Bukan urusanmu, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" ucap Hotaru sambil beranjak pergi. Ia meninggalkan kakaknya sendirian. Namun di tengah perjalanan, Hotaru berbalik.


"Jangan kau berani campuri urusanku, baik itu pekerjaanku atau hidupku. Kau bahkan tidak tau betapa keras usahaku untuk diakui oleh Ayah! " ucap Hotaru dingin


"Hubunganku dengan kakaku, kian hari kian merenggang akibat rasa iriku. Meski Hikari berusaha memberikan perhatiannya di sela waktunya yang sibuk

__ADS_1


Pernah, dia hampir celaka akibat terlalu sering menggunakan elemen besi dan memaksakan tubuhnya, hingga jatuh sakit. Untuknya, dia bahkan tidak memiliki waktu untuk merawat diri, dia disibukkan untuk mengurus negara bahkan diusianya itu.


Namun, ia selalu ada waktu untukku. Sebatas mengajakku makan malam bersama layaknya seorang kakak. Karena rasa iriku, aku selalu mengabaikannya. Hingga hari itu pun tiba..... "


" Tuan muda Hotaru, ayah tuan memanggil anda menuju balkon di puncak tertinggi Kastil Hoshi! " ucap seorang pengawal Hozuki


Hotaru terlihat gembira, meski kini ia sedikit diakui keberadaannya. Tapi, tetap saja ia jarang di panggil oleh ayahnya secara langsung


Hotaru berlari sekuat tenaga, ia menuju balkon kastil di lantai atas. Meski ia memagang jabatan terpandang, Hotaru masih tetap seorang anak kecil berusia 12 tahun yang sangat merindukan perhatian sang Ayah


Hotaru membuka pintu menuju balkon dengan tergesa-gesa, ia melihat sosok sang ayah berdiri membelakanginya sambil melihat pemandangan laut dengan langit mendung di depannya. Tampaknya badai akan segera melanda


"Ayah! Aku datang...... " ucap Hotaru sambil tersenyum ceria, nafasnya sesikit ngos-ngosan karena harus berlari menaiki tangga. Nanun itu tidak seberapa dari perasaan bahagia yang ia rasakan saat ini


Pria itu berbalik, menatap Hotaru dengan ekspresi datar dan dinginnya. Hozuki berjalan mantap menghampiri Hotaru


Hozuki menceritakan cerita aneh ke Hotaru, meksi begitu Hotaru tetap mendengarkan setiap kata sang ayah sambil tersenyum


" Kau tahu? Untuk mencapai posisi ini, Kakekmu bahkan tega mengasingkan 2 saudara laki-lakiku ke sebuah pulau terpencil guna membuat keseimbangan kekuatan dalam keluarga di Clan kita! " Senyum Hotaru memudar, ia masih belum mengerti apa yang di ucapkan Ayahnya


"Apa maksud ayah? aku tidak mengerti! " ucap Hotaru pelan


"Kakekmu, mengasingkan kedua pamanmu dan menyegel gyoku mereka. Agar suatu hari tidak akan ada kudeta akibat perebutan kekuasaan tertinggi di Negeri Hoshi


Pamanmu akhirnya hidup dan meninggal di tempat terpencil itu. Tidak seperti aku yang hidup dengan kemewahan, mereka hidup dalam pengasingan dan penderitaan! "


Memang menjadi tradisi Clan Pemimpin Hoshi, siapapun yang mewarisi teknik manipulasi Besi, dia yang akan meneruskan Kepemimpinan Hoshi. Namun, jika pewaris itu memiliki saudara laki-laki lain, mereka akan di segel kekuatan Gyoku sihir mereka. Mereka akam diasingkan serta hidup sebagai orang biasa di sebuah pulau terpencil tanpa akses masuk ke pusat kota seumur Hidup mereka


Hal itu bertujuan, agar tidak ada perebutan kekuasaan antar saudara yang memicu Kudeta dan perang Saudara, yang membuat pertahanan Negeri Hoshi hancur dari dalam.


"Aku, menukar hidup Kedua Saudaraku untuk menjadi Seorang Pemimpin Negeri Hoshi!


Untuk itu, aku tidak mau membuat Hoshi lemah di mata kedua negara besar lain. Khususnya Sora. Aku berjanji menjadikan Hoshi sebagai negara tangguh yang di hormati.


Namun untuk mewujudkan hal itu, aku tidak mau melihat putraku sendiri bernasib sama dengan saudaraku! " ucap Sang Ayah


Mata Hotaru melebar, ia melihat ayahnya mengaktifkan Gyoku miliknya dan butiran besi mengelilingi tubuhnya sekarang.


Teknik memanipulasi Elemen Besi, adalah teknik penggabungan elemen tanah (besi) dengan elemn angin. Sehingga penggunanya dapat memanipukasi besi menjadi pertahanan atau sebagai media untuk menyerang musuh


Besi dapat dibentuk sesuai keinginan penggunanya, entah itu berbentuk senjata atau berbentuk debu besi yang halus tapi mematikan.

__ADS_1


"Jadi! Dari pada hidupmu menderita, biarkan aku sendiri yang mengakhirinya!"


__ADS_2