
Di tengah hutan rimbun, terdapat sumber air membentuk sebuah telaga kecil. Kilauan air memantulkan cahaya matahari, air yang segar dan jernih. Sangat pas untuk melepas dahaga dalam sebuah perjalanan yang panjang
Seorang wanita dengan rambut merah panjangnya, memenuhi bilah bambu kecil dengan air dari telaga itu. Tubuhnya yang ramping, dengan jubah hitam kebesaran dengan telaten mengisi botol air sedikit demi sedikit
"Sudah cukup......... "
Ia pun berjalan menuju tempat di mana Xio dan Oro-ryu berada. Dengan langkah kecil, serta jubah hitam besar yang hampir menyentuh tanah. Dari jauh, Ia melihat laki-laki pemilik jubah hitam itu, tengah tertidur di bawah pohon. Persis ketika ia pertama kali melihat pria itu
Yuri perlahan mendekati Xio, ia berusaha mengecilkan langkahnya agar Xio tidak terbangun dari tidur lelapnya. Semburat merah terlihat jelas di wajah cantiknya
Yuri pun berjongkok pelan di hadapan Xio, menatap pria yang tidak lagi menunjukkan mata hitam kelamnya karena tertidur lelap.
"Kalau tertidur, dia terlihat polos sekali. " gumam Yuri sambil terkikik kecil
Tiba-tiba Xio membuka matanya, membuat wanita di depannya terkejut dan akhirnya terjungkal ke belakang.
Xio hanya menatap Yuri dengan tatapan dingin khasnya. Ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, justru sikap itulah yang membuat Yuri semakin salah tingkah
"A- Aku...... Aku hanya mau memberimu air! " ucap Yuri sambil memberikan air yang ia bawanya. Yuri merutuki sikapnya, kenapa bisa ia sampai kethuan memperhatikan Xio saat tertidur lelap.
"Hn.... " Xio pun mengambil Air yang di tawarkan Yuri. Situasi antara mereka sedikit sunyi, membuat keadaan semakin canggung.
" O-Oh ya! I.... Ini... Jubah milikmu, aku kembalikan! Terima kasih sudah meminjamkannya kemarin. "
Yuri mengembalikan jubah Hitam Xio, ia merasa tidak enak merepotkan pria yang bahkan baru di kenalnya itu.
Yuri pun melepas jubah itu. Menampakkan tubuhnya yang hanya mengenakan kimono tipis agak transparan. Seharusnya ada lapisan luar Kimononya yang lebih tebal, berhubung ia lepas saat bertemu ibunya, kini ia hanya mengenakan lapisan tipis Kimono yang terbuat dari sutra.
"Tidak perlu. " ucap Xio datar sambil me garahkan pandangannya ke arah lain.
" I.... Iya? " Yuri memastika apa yang ia dengar barusan
" Kau pakai saja. "
"B- Baiklah. " jawab Yuri dengan alis terangkat.
Yuri pun memakai kembali jubah itu, wajahnya sedikit memerah, ia berpikir Xio ingin memberi perhatiannya kepada Yuri.
" Ternyata kau pria yang- " belum selesai Yuri berbicara, Xio segera memotong ucapanya.
" Akan sangat berbahaya, jika musuh mengetahui letak batu 3 Pilar. Kau harus tetap waspada. Kita berada di area tebuka yang rawan! " ucap Xio sambil berdiri dari duduknya. Yuri hanya bisa memasang wajah masam.
"Heh! Au kira kau mengkawatirkanku! " Lama mereka terdiam satu sama lain. Baik Yuri dan Xio terlihat tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga suara berat Xio kembali memecah keheningan
"Bagaimana situasimu saat ini? " ucap Xio yang berdiri tepat di hadapan Yuri. Gadis berambut merah itu tidak ingin salah paham lagi. Ia hanya memandang Xio dengan alis yang mengkerut heran
" Apa-apan pertanyaanya itu? "batin Yuri
Yuri hanya bisa memasng wajah cemberut. Sambil membenahi letak kaca matanya, ia pun menjawab pertanyaan Xio
" Keadaanku sangat sehat, aku bahkan meningkatkan kewaspadaanku. Agar batu di tubuhku ini tidak di incar orang lain. Apa kau puas? " ucap Yuri kesal
" Tidak..... Bukan itu maksudku...... Setelah kau menemui ibumu. Apa kau baik-baik saja? " Xio pun menatap Yuri yang masih duduk di depannya. Pertanyaan Xio kali ini sangat jauh dari kebiasaanya.
Yuri tertegun, apa Xio sekarang sedang mengkhawatirkannya? Yuri pun segera mengalihkan pandanganya, sengaja menghindaru tatapan dari Xio yang mampu membius hatinya kapanpun
__ADS_1
" Aku? Aku baik-baik saja! " ucap Yuri sambil merunduk. Xio tahu, gadis di depannya tidak sedang baik-baik saja.
"Apa kau membenci ibumu? "
Yuri menarik nafas pelan. Sedikit pertanya pada dirinya sendiri, apa benar ia membenci ibunya saat inu
" Aku tidak membenci ibuku. Tidak..... Lebih tepatnya.... Aku tidak bisa membencinya"
"Kenapa? Bahkan ketika ia memperlakukanmu seperti itu? " pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulut Xio. Bukan kebiasaanya penasaran mengenai apa yanh dirasakan orang lain. Tapi prinsipnya itu tidak berlaku pada Yuri. Saat ini, ia begitu penasaran dengan apa yang dirasakan gadis itu.
" Karena dia ibuku. Dibanding membenci dan mengutuk sikapnya kepadaku....... Aku lebih memilih melepaskan semua perasaanku...... Mencoba menerima keadaanku dan mulai memaafkannya" ucap Yuri pelan.
Ia mengakat kepalanya sedikit, membuarkan paras cantiknya tersapu sinar matahari yang menyusup ke sela-sela dedaunan. Ketika ia mengatakan akan melepas semua, entah kenapa hatinya menjadi ringan
"Menerima? " Xio mengangkat alisnya, ia penasaran kenapa Yuri melakukan itu. Yuri membalas pertanyaan Xio dengan seutas senyuman.
" Jika aku membenci ibuku, aku pasti akan berpikir untuk menyakitinya. Bahkan jika aku berhasil menyakitinya dan membalas perbuatannya.
Jika itu aku lakuakan.... Apa yang akan aku dapat?
Aku hanya akan mendapat rasa sakit yang lebih buruk. Karena dengan tanganku sendiri aku menyakiti orang yang aku cintai dan satu-satunya ibuku di dunia ini. Jadi dari pada memendam rasa benci dihatiku, aku lebih memilih melepaskan semua! "
Xio tertegun, dengan apa yang Yuri ucapkan. Memang jika kau membalas hal yang membuatmu sakit dengan amarah, itu justru lebih lebih menyakitkan buatmu. Sebagai contoh nyata perasaan itu adalah Balas Dendam
"Jadi Karena itu, kau memberikan obat untuk ibumu? " Yuri pun menatap Xio, dengan senyum cerianya
"Hm... Mungkin bagi orang lain, itu kesempatanku membalas ibuku. Namun, jika itu sampai aku lakukan...
Aku tidak hanya menyakiti Ibuku atau diriku sendiri. Aku juga menyakiti adikku, Hito yang telah mempercayaiku
Xio tertegun, dengan begitu banyak luka masa lalu kejam untuk Yuri. Gadis itu bisa melepaskanya begitu saja. Bahkan senyuman yang Yuri tujukan pada Xio, tampak sangat tulus tanpa beban sedikitpun
"Kau sekarang sudah bebas. Kenapa kau memilih mengikutiku? Kau bisa saja menyerahkan Batu 3 Pilar kepada Oro-ryu dan pergi" ucap Xio heran. Sambil tersenyu, Yuri menjawab pertanyaan Xio
"Karena aku ingin mengikuti kemana kau pergi. Aku ingin bersama mu Yora! "
Mata Ruby Yuri kini menembus mata Hitam kelam Xio. Tatapan Yuri seakan masuk jauh kedalam diri Xio.
"Kenapa? " hanya itu kata yang diucapkan Xio
" Aku dapat melihat kedalam matamu, kesedihan yang kau alami selama ini.
Mata yang memancarkan perasaan yang sama dengan apa yang aku pernah rasakan.
Kesedihan dan kesepian.........
Aku yakin, kehidupanmu tidak lebih baik dari apa yang aku alami, kan? "
Xio pun memalingkan wajahnya, seakan menyembunyikan perasaanya dari Yuri. Gadis itu seakan membaca isi hatinya
" Kau tidak perlu ikut campur urusanku! " Xio pun berjalan meninggalkan Yuri. Oro-ryu yang sedari tadi pura-pura tertidur di atas batu, mendengarkan dalam diam percakapan kedua orang itu. Seulas senyum tipis terlihat.
Yuri pun berdiri dan mengambil Oro-ryu, ia bergegas menyusul langkah Xio.
"Setidaknya, jika kau menginginkan batu ini. Kau harus melindungi kami! Tanpa kekuatan ini, kami hanya akan diburu oleh orang Militer tanpa bisa membela diri kami! "
__ADS_1
"Untuk itulah aku membawa kalian bersamaku! " ucap Xio datar.
Mereka akhirnya tiba di sebuah jembata besar, dengan jurang yang tinggi serta aliran Sungai deras di dasarnya
Jembata itu adalah perbatasan Sora dan Mizu. Yuri hanya mematung melihat jembatan besar didepannya, untuk pertama kalinya ia akan keluar dari negeri Mizu. Xio yang sadar Yuri menghentikan langkahnya turut berbalik
Teg!
Xio merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya. Dengan cepat ia berlari ke arah Yuri
Cussss...... Bammmmmmm.........
Sebuah bom di arahkan ke arah mereka, membuat ledakan besar yang menghancurkan sebagian hutan di sekitar mereka.
Tap!
Xio berhasil menyelamatkan Yuri. Oro-ryu yang berada di tangan Yuri pun penasaran, apa yang sedang terjadi
"Ada apa Tuan? "
......................
Di ruangan Tanuki, Ten sedang berdiri di hadapan sang Ayah. Ia sedang melaporkan beberapa hal di hadapan ketua Cops Merah itu
" Aora untuk beberapa hari ini hanya menangani misi Solo dari ketua Zen. Semenjak misi negeri Hoshi, ia menyelidiki keberadaan Organisasi bernama Tengu.
Namun, tidak ada hal berarti yang ia temukan ataupun yang ia dapatkan sebagai petunjuk! " ucap Ten dengan seragam khas Cops Putih
"Hmmmm..... Begitu. Ia hanya akan menemui mimpi buruknya saja. Tapi... Itu adalah hal yang menguntungkan....... " ucap Tanuki dengan seringai di wajahnya.
Ten hanya bisa memandangi wajah ayahnya, ia penasaran apa sebenarnya tujuan ayahnya itu
" Bagus. Kau melakukan tugasmu dengan baik Ten. Untuk itu, aku membiarkan Yume tinggal denganmu, dia adalah kesepakatan kita. Tapi, Jika kau mulai macam-macam, gadis itu harus menerima akibatnya! "
Tangan Ten mengepal keras, namun ia hanya menerima perintah sang ayah dengan menunduk hormat.
"Baiklah, aku mengerti! "
"Dan juga, kau harus mengawasi gadis dari desa Shii itu! " ucap Tanuki. Mata Ten membulat ketika Tanuki menyebut Mirai. Selama ini ia sengaja memilah informasi yang akan disampaikan ke Tanuki. Bahkan fakta mengenai Mirai seorang mata-mata masih Ten rahasiakan
"Mirai? "
" Betul. Entah kenapa..... Pertama kali aku melihatnya, aku teringat dengan gadis kecil itu, jika benar dia adalah anak itu. Berarti Mito lah yang menghkianatiku! "
Ten terkejut, kenapa sekarang Tanuki menyebut nama Ibunya
" I..... Ibu? "
" Aku harap kau tidak menjadi sepertinya, wanita itu. Kau cukup mengawasi gadis itu, jika kau melihat simbol ini di Gyokunya segera beritahu aku! "
Tanuki membuka sebua kitab, dengan lambang salju persis yang dimiliki Mirai. Ten mengangguk dan mulai menghilang dari tempat itu
Tanuki menutup Kitab itu, Kitab dengan sampul merah dengan tulisan "Kitab 3 Pilar Penjaga Langit"
Kitab yang sama persis dengan Kitab di tangan Xio, hanya saja dengan warna sampul yang berbeda. Merah milik Tanuki, sedangkan Putih Milik Xio
__ADS_1