Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Kejutan


__ADS_3

Angin berhembus pelan. Lautan yang biru dengan pemandangan pantai yang cantik menemani dua insan manusia yang tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Hotaru yang duduk di kursi rodanya menatap wanita yang berdiri di sampingnya.


Rambut hitam panjang Mirai tertiup angin, semenyara Mirai hanya menatap lurus lautan cantik di depannya


"Apakah permintaanku terlalu berlebihan Mirai?" Hotaru bertanya kepada gadis di sampingnya itu. Sorot matanya menunjukkan penyesalan yang kuat. Ia berharap Mirai dapat memberikan jawaban, meski Hotaru sadar apapun yang diucapkan Mirai tidak dapat merubah masa lalunya


"Tidak. Bagiku itu tidak berlebihan Hotaru" ucap Mirai sambil menatap Hotaru


"Terkadang, dunialah yang merenggut apa yang seharusnya kita miliki. Namun, dunia juga memberi apa yang kita tidak inginkan


Bagimu, kau hanya ingin mendapatkan pengakuan dari ayahmu. Tapi bagi kakakmu, ia ingin melindungimu dengan segala yang ia miliki" ucap Mirai pelan. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan angin lembut menerpa paras cantiknya. Senyum terlukis di wajah pucat Hotaru.


" Entah dimana Hikari sekarang berada, aku harap ia menemukan apa yang menjadi keinginannya" ucap Hotaru sambil menatap langit


"Tentu, aku yakin dia melakukannya dengan baik, ia begitu mempercayai adiknya, bukan"


Ucap Mirai sambil tersenyum ke arah Hotaru


"Hm........ Aku akan terus melindungi Hoshi, untuk itu kau harus membantuku Mirai! " dari jawaban Mirai, Hotaru kembali mendapat dorongan keberanian untuk sembuh. Ia memiliki alasan untuk Hidup. Rakyat Hoshi sekaligus hutang permintaan maaf pada Hikari


"Tentu, kau bisa mempercayaiku, Hotaru"


Hotaru mengulurkan tangannya ke Mirai, dengan senyuman Mirai membalas uluran tangan Hotaru


......................


Jauh di tepi pantai, Aora yang sedari tadi melihat Hotaru dan Mirai mulai meninggalkan mereka. Raut muka Aora nampak sangat kecewa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya dan berjalan kembali menuju Kastil Hoshi


Di dalam Kastil, ia bertemu dengan Shiyuu. Seniornya itu masih sibuk berdiskusi dengan tim medis Hoshi. Melihat Aora tertunduk lemas, Shiyuu pun menghampiri juniornya itu


"Hey Aora, apa kau sudah bertemu Mirai? Dari tadi kau sibuk mencarinya kan? " Ucap Shiyuu, yang melihat Aora berjalan di depannya. Meliwatinya begitu saja, Aora bahkan tidak menyapanya sama sekali. Aora yang mulai tersadar akan keberadaan Shiyuu, mulai menoleh malas. Sorot matanya menampakkan kekecewaan


" Aku sudah bertemu dengannya" ucap Aora dengan nada lemah.


Melihat Ada yang salah dengan sikap Aora. Shiyuu menarik lengan Aora, ia membawa Aora ke sebuah taman di Kastil Hoshi. Aora hanya mengikuti Shiyuu dengan malas


"Ada apa denganmu? Apa kau sakit? " ucap Shiyuu dengan sorot mata khawatir. Untyk pertama kalianya ia melihat Aora begitu berantakan. Memang benar ia pria yang pemalas, namun apa yang dilihat Shiyuu kali ini sungguh berbeda


" Tidak, senior! Aku baik-baik saja" Aora menggeleng pelan. Selema di depan Shiyuu, entah berapa kalia pria berambut abu-abu itu menghela nafas panjang


Shiyuu menyipitkan matanya, berusaha mengorek informasi melalui tingkah polah Aora. Hanya satu yang mampu membuat seorang kapten elite menghela nafas pannjang. Bukan kalah bertarung ataupun starteginya gagal, tapi-


"Apa kau bertemu Mirai? "


" Sudah. Aku tadi bertemu dengannya, tapi dia sedang bersama Hotaru" ucap Aora sambil membuang mukanya. Shiyuu yersenyum simpul. Sadar apa yang terjadi dengan juniornya, Shiyuu mulai menggoda Aora


"Apa kau menyukai Mirai, heh? Kau cemburu melihatnya dengan tuan Hotaru? " ucap Shiyuu sambil menyipitkan matanya. Aora sontak terperanjat. Seketika itu, wajahnya yang setengah tertutup masker tiba-tiba merona, malu.


" B- bagaimana K-kau bisa tau senior? " ucap Aora mulai gugup


" Hah! Kau memang hebat dalam taktik dan jenius dalam hal bertarung. Tapi kau sangat naif Aora. Dengan sikapmu tadi, bagaimana mungkin aku tidak tau? "

__ADS_1


Aora mulai menunduk lesu, sambil memainkan kerikil kecil dengan kakinya. Pandangannya seakan kosong. Seakan berusaha menutupi perasaanya kepada Shiyuu


"Aku memang suka dengan Mirai tapi aku tidak cemburu, bagaimana aku cemburu jika dia hanya merawat pasiennya saja? " Shiyuu menghela nafasnya pelan


" Kau jangan membohongiku, lihatlah kau sekarang ini! " ucap Shiyuu sambil menggelengkan kepala


"Tapi senpai, menurutmu apa Mirai tertarik denganku? Kalian kan sama-sama wanita, bagaimana menurutmu aku ini? " ucap Aora. Shiyuu memegang dagunya seolah sedang berpikir. Ia lirik Aora dari ujung kaki hingga kepala. Dia memang seorang pemimpin muda yang disegani. Kemampuannya pun tidak bisa diragukan. Tapi sorot mata ngantuk serta sikap cuek Aoralah yang menjadi masalah


" Yang aku lihat, kau hanya pria pemalas dengan masker bodoh di wajahmu itu. Sudah aku bilang, jika kau ada waktu, jangan hanya sibuk dengan pekerjaanmu saja. Cobalah berkencan dengan seorang gadis. Kau itu kurang pengalaman untuk memperlakukan seorang gadis dengan baik! "


" Benarkah? " Aora mulai kehilangan semangatnya lagi


" Tapi jika itu senpai, kau lebih memilih seorang dengan jabatan tinggi seperti Pemimpin Hoshi, atau pria biasa yang bekerja sebagai pegawai biasa? "


Aora melanjutkan pertanyaanya, berharap senpai-nya sedikit berpihak padanya, ia menatap Shiyuu dengan puppy eyes


" Maksudmu Hotaru?..... Yah! .... Dari sudut pandang wanita. Tentu aku memilih Hotaru..... Dia dalah petinggi muda dan juga tampan, jika ia menyukaiku, tentu itu bagai dongeng buatku" canda Shiyuu. Seketika itu mendal Aora terlempar jauh ke jurang yang bernama 'Insecure'


"Sudah aku duga, kau jujur sekali senpai. Setidaknya kau bisa berbohong dan menyemangatiku" ucap Aora sambil menunduk lesu. Melihat tingkah Aora yang baru pertama kali mengenal Cinta, membuat senyum tulus terukir di wajah Shiyuu


"Tapi Aora, ketulusan mengalahkan segalanya. Jika kau tulus menyukai Mirai dan ingin melindunginya, kau hanya tinggal ungkapkan perasaanmu yang sebenarnya" ucap Shiyuu sambil menepuk pundak Aora. Shiyuu kembali teringat kisah cintanya dan ingin membegikan cerita itu untuk menyemangati Aora


"Kau tahu, itu yang di lakukan suamiku padaku..... Hahahaha...... Dia bahkan melamarku di UGD, setelah tau seorang Mentri muda Sora mendekatiku...... Intinya, kau harus mengungkapkan seluruh isi hatimu, mengerti? " ucap Shiyuu sambil terkekeh


Mata Aora berbinar, setelah mendapat wangsit dari Shiyuu, dia mulai percaya diri lagi


" Baiklah senpai, terimakasih! "


......................


Malam pun tiba di Negeri Hoshi. Setelah selesai mengecek kondisi Hotaru, Mirai menuju kamarnya untuk istirahat. Ketika ia hendak membuka pintu kamarnya itu, sepucuk surat terselip di gagang pintu kamarnya. Sebiah pesan singkat yang ditulis Aora untuknya


Mirai, jika kau membaca ini, temui aku di balkon atas kastil, ada sesuatu yang aku ingin katakan untukmu


Aora


Mirai pun pergi menuju tempat yang Aora katakan, sambil bertanya pada dirinya apa yang hendak Aora katakan padanya. Di sebuah balkon di puncak tertinggi kastil, terlihat siluet pria tinggi yang tengah melihat pemandangan malam. Rambut keperakannya terhempas angin lembut. Tubuh tinggibtegapnya seakan memeluk potret cantik di hadapannya. Aora hanya diam berdiri membelakangi Mirai sambil menatap bulan purnama yang baru terbit, dengan laut yang berkilau sebagai latarnya


"Ada apa Aora, apa yang kamu ingin katakan?" Mirai mendekati Aora yang masih diam mematung.


Aora berbalik, kini keduanya saling bertukar pandang dalam diam. Dengan sorot mata yang tegas namun tersirat ketulusan itu, Aora menatap dalam gadis yang kini di depannya


Untuk sejenak Mirai terpaku melihat tatapan Aora kepadanya, tatapan yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan lagi


"Ada sesuatu yang hendak aku katakan kepadamu Mirai! " ucap Suara berat Aora


Suara yang lembut tapi dalam, sontak membuat jantung Mirai kian berpacu. Ribuan kupu-kupu terasa terbang di dalam perutnya, bahkan ia tidak tau apakah wajahnya kini memerah atau tidak


Suasana apa ini? Kenapa Aora menatapku seperti itu?


Eish! Mirai sadarlah! Kau jangan terbawa suasana!


Melihat Mirai diam termenung, Aora mencoba memulai percakapan diantara mereka. Aora tidak pandai berbasa-basi, ataupun memulai obrolan ringan untuk membangun suasana pas diantara mereka. Salahnya hidup hanya untuk keamanan desa, tanpa pernah menyecap rasanya berkencan atau dekat dengan seorang gadis. Aora langsung ke inti pemibicaraan

__ADS_1


"Em. Aku mau mengatakan, bahwa....... Apa yang aku katakan di kamarku waktu itu....... Benar-benar serius, Mirai " ucap Aora pelan.


Sambil memejamkan matanya, Aora mengungkapkan perasaannya. Masih tidak ada respon dari Mirai. Dengan detak jantung yang tidak karuan, Aora kembali melanjutkan ucapannya


"Aku....... Aku...... Menyukaimu Mirai! " ucap Aora sambil menunduk dan tetap memejamkan matanya


"A- aku memang tidak memiliki apa-apa, kau juga boleh menolakku. Kau juga boleh belum menjawabnya sekarang.... Tapi....... Aku benar-benar tulus menyukaimu dan ingin melindungimu!" Aora mengutarakan perasaanya dengan lantang


Aora masih memejamkan matanya, Aora tidak berani menatap kedalam mata Mirai. Ia kini dalam kondisi siap menerima apapun jawaban yang di berikan Mirai. Meski itu sebuah penolakan sekalipun


"Dasar Bodoh kau Aora! " hanya itu jawaban yang meluncur dari mulut Mirai


Mendengar suara Mirai, Aora tampak sedikit kecewa, ia coba membuka matanya. Meski berat ia sudah bersiap menerima penolakan dari Mirai


" Tentu saja Kau- "


Namun belum sempat ia mengangkat kepalanya. Sebuah tangan kecil dengan sigap memegang wajah Aora, membuat Aora terpaksa merundukkan kepalanya


Perlahan tangan Mirai menarik pelan masker yang menutupi wajah Aora, kini tidak ada yang menghalangi wajah tampan Aora. Mirai tersenyum lembut kearahnya. Aora sadar, wajah yang kini berjarak tipis dihadapannya adalah wajah yanh paling cantik yang pernah ia lihat. Hal itu membuat Aora tertegun sejenak.


"Kau memang bodoh" bisik Mirai pelan


Aora hanya memandang bingung gadis di hadapannya. Mata merah kecoklatannya hanya bisa melihat wajah Mirai yang kini semakin medekat.


Mirai mulai memejamkan matanya, satu tangannya yang kini di wajah Aora, sedangkan tangan yang lain mencengkram kerah rompi Aora dan menariknya. Menuntun wajah Aora lebih mendekati wajah Mirai


Cup.............


Dengan perbedaan tinggi mereka, Mirai mencium Aora dengan sangat berjinjit. Mirai pun mel umat lembut bibir Aora. Menikmati setiap inci bibir tipis pria yang berada dalam kendalinya


Aora yang belum mengerti situasi ini pun hanya bisa mematung. Kini mata merah kecoklatannya membulat sempurna


Tangan kecil Mirai mengusap wajah lembut Aora yang tidak tertutup masker. Rona merah kini tampak di kedua pipi mereka.


Mirai pun melepas ciuman singkat tapi dalam mereka, tapi lucunya Aora masih setia mematung dengan pandangan kosong khasnya


"Seharusnya, ini yang dilakukan laki-laki untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Bukan hanya merendahkan dirinya saja, dan bersikap pesimis Aora! "


Mirai mengusap bibirnya pelan. Aora yang lola dan masih memproses apa yang barusan terjadi cuma bisa memasang tampang bingung


"Ya? " ucapnya dengan tampang bingung


Hal itu membuat Mirai terkekeh, sekarang ia melihat wajah asli Aora, dan mulai tidak tahan karena gemas melihatnya


Mirai pun berbalik, meninggalkan Aora yang masih dalam kondisi loading sambil melambaikan tangannya


" Setidaknya..... Benar kata Nn. Shiyuu. Kau sangat tampan Aora!"


Aora hanya mematung, ia tidak percaya bahwa ciuman pertamanya bahkan di pimpin oleh seorang gadis, bukan ia sendiri yang memimpinya


" Apa maksudnya? Siap di sini yang mengungkapkan perasaanya? Kenapa Mirai yang mencium duluan? Bukannya aku? “


Ia mengusap bibirnya pelan dan menarik kembali maskernya untuk menutupi wajah paripurnanya

__ADS_1



__ADS_2