Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Utusan Sora


__ADS_3

Hari ke dua di Negeri Hoshi. Mirai, Shiyuu serta Aora berjalan memasuki sebuah kastil Megah yang disebut 'rumah' oleh Hotaru


Penampilan mereka tampak memukau, dengan seragam resmi Negeri Sora. Mirai dan Shiyuu tampak anggun mengenakan seragam berbentuk kimono sederhana sebatas lutut. Bernuansa Putih dengan sedikit aksesoris berwarna hitam, Sedangkan Aora tampak gagah dengan seragam khas Militer desa Sora.



Mereka memasuki sebuah kastil megah, yang di kelilingi laut dengan jembatan sebagai penghubung dengan pulau utama. Sebuah pulau di dekat Kota dijadikan kawasan Kastil pemimpin Hoshi. Kastil megah dengan nuansa biru muda yang cantik, senada dengan warna laut di sekitarnya.


Mereka mulai memasuki Aula kastil yang begitu luas itu. Tsuyu sebagai utusan Hotaru mengantar Mirai dkk, menuju tempat pertemuan.


Sebelum memasuki Aula pertemuan, Mirai di buat terpukau dengan lukisan pemimpin Desa Hoshi. Hotaru tampak memukau dan sangat berwibawa di dalam Potret itu.



Di sampingnya ia melihat potret keluarga Hotaru yang terdiri dari Ayah Hotaru, yaitu pemimpin terdahulu, Hotaru yang masih sangat kecil dan satu lagi, sosok anak yang mirip Hotaru, tapi lebih besar darinya


"Hotaru tampaknya memiliki seorang kakak"


Celetuk Mirai, Tsuyu yang saat itu berjalan di depan Mirai pun menjawab


"Benar sekali, dia adalah Tuan Hikari putra sulung pemimpin terdahulu kami. Ia merupakan kakak dari Tuan Hotaru"


"Oh begitu" Mirai melanjutkan langkahnya, ia tidak melanjutkan pertanyaan seputar kakak Hotaru.


Mereka pun memasuki Aula Pertemuan di kastil itu, penjagaan ketat prajurit Militer Hoshi menyambut kedatangan mereka di luar ruangan.


Di dalam Ruangan terdapat 6 orang pria yang cukup tua duduk berhadapan, dengan meja panjang memisahkan mereka. Sedangkan di depan Mirai, di sebuah kursi dengan singgasana duduk Hotaru sebagai pusat.


Suara pintu Aula mulai di tutup, menyisakan Team Sora dengan Tetua desa Hoshi saja. Ruangan dengan lambang Bintang itu kini benar-benar nampak tenang dan sunyi


Aora sebagai ketua negoisasi perdamaian mulai mengucapkan salam ke Tetua Negeri Hoshi dengan tenang. Suasana benar-benar menegangkan.


Mirai ingat apa pesan Aora, dalam pertemuan mungkin pihak Hoshi akan menggiring mereka ke situasi yang mencurigakan, sehingga jika mereka bertindak gegabah pihak Hoshi akan mengartikan tidakan Tim Sora sebagai ketidak seriusan dan bahkan mengagap sebagai ancaman.

__ADS_1


Situasi itu persis seperti sekarang, melihat banyaknya prajurit yang berjaga di pintu depan dan dengan tiba-tiba akses keluar di tutup rapat, itu sangatlah mencurigakan


Mirai melihat Aora yang tenang, dan juga Kaptennya Shiyuu memasang tampang yang sama. Mirai pun mencoba mengikuti alur disekitarnya


"Kami dari Negeri Sora, membawa pesan perdamaian sebagai utusan. Senang bisa bertemu dengan Pemimpin dan Tetua Negeri Hoshi" ucap Aora dengan membungkuk 90°


Mirai dan Shiyuu juga ikut membungkuk, sebagai rasa hormat dan sopan santun.


"Kami sudah mendengar apa yang terjadi dengan Desa di perbatasan kalian. Tapi, kami sangat kecewa bahwa kalian menganggap pihak kami terlibat. Sehingga Pemimpin kami, secara langsung ikut dalam misi untuk menyelidikinya" ucap Salah satu Tetua


"Kami dari Pihak Sora, dengan sangat sadar mengakui kekeliruan kami. Kami mohon Pihak Hoshi mau memaafkan Negeri Sora, sekaligus meluruskan kesalah pahaman yang terjadi, demi terjaganya kedamaian antara kedua belah pihak" Para Tetua dalung berdehem, bertukar pandang satu sama lain sebelum menjawab Aora


"Pihak kami sudah sangat kecewa kepada Negeri Sora. Namun, karena bujukan Pemimpin kami, Tuan Hotaru. Kami akan melanjutkan perdamaian ini, tapi dengan satu Syarat....... "


Seperti kesepakatan mereka, Aora mengindahkan syarat yang diberikan Hoshi pada Sora


" Tentu, Ketua Zen selaku pemimpin Desa Sora menghormati apapun keputusan Negeri Hoshi"


"Kami dengar, kalian memiliki Tim Medis handal yang bahkan bisa menyelamatkan seorang anak yang sekarat akibat ledakan bom Serangga parasit di Desa Fuu" ucap Para Tetua. Kini giliran Hotaru yang berbicara


"Tentu dan kami turut prihatin dengan kondisi anda. Untuk itu kami membawa tim medis terbaik Negeri kami, untuk membantu memeriksa keadaan Tuan Hotaru" ucap Aora, ia pun menujuk ke arah Mirai dan Shiyuu


"Dia adalah Mirai dan Shiyuu" ucap Aora, Mirai dan Shiyuu pun menyapa dengan merundukkan kepala


"Syarat dari Hoshi. Kalian harus mampu mengobati penyakit yang di derita Tuan Hotaru, kami menaruh kepercayaan kepada kalian.


Tapi, jika sesuatu terjadi dengan Tuan kami. Kami akan langsung memutuskan ikatan perdamaian dan memulai perang dengn Pihak Sora! " tegas Tetua Hoshi. Kini Mirai yang maju menjelaskan kepada tetua Hoshi


"Aku Mirai, aku sendiri yang menyelamatkan korban dari ledakan di Desa Fuu! "


"Kau masih kelihatan muda, apa kami bisa mengandalkanmu? " Para Tetua menatap Mirai remeh. Mereka mengira dengan penampilan Mirai dan usianya sangatlah tidak mungkin menguasai sihir penyembuhan


Mirai mulai memasang tampang kesalnya, Aora dan Shiyuu mulai khawatir jika Mirai akan bersikap seenaknya. Dengan Sifat Mirai, yang dingin dan blak-blakan.

__ADS_1


"Tuan, kau seharusnya tidak menilai buku dari sampulnya. Kemampuanku-"


"Mirai, sabarlah! " bisik Shiyuu mengingatkan Mirai agar tidak meledak. Mirai mulai menghela nafas, dia mencoba untuk tidak membalas perkataan tajam orang tua itu.


" Aku sempat memeriksa keadaan Tuan Hotaru secara tidak langsung. Menurut analisaku. Terjadi sebuah penyumbatan di katup jantungnya" ucap Mirai. Salah satu Tetua di sana pun memberi pertanyaan ke Mirai


"Aku adalah kepala medis Negeri Hoshi, jika kau sudah mengetahui apa penyebabnya, apakah metode yang akan kau lakukan?


Kami sendiri sudah melakukan berbagai upaya dalam menyembuhkan pemimpin kami, tapi tidak ada yang pernah berhasil. Bahkan pemilik kenkou terkuat di negeri kami, tidak mampu menyembuhkan penyakit Tuan Hotaru"


"Hal itu karena kalian hanya fokus menggunakan kekuatan sihir kalian. Tapi kalian tidak memahami apa penyebab penyumbatan jantung itu" ucap Mirai datar. Ucapan Mirai membuat Ketua Medis mulai tersinggung


"Jadi kau mengatakan bahwa kami hanya mengandalkan sihir tanpa memeriksa keadaan pasien? " Mirai menatap kepala Medis Hoshi tajam. Tidak ada ketakutan dalam sorot matanya. Mirai mengatakan apa yang ia ketahui jadi apa ia salah?


" Aku tidak pernah mengatakan itu. Tapi yang aku maksud, kalian tidak pernah mencoba metode lain berdasarkan penyebab penyumbatan itu. "


"Metode lain apa maksudmu?"


"Metode dengan menggunakan efek spesial dari racun Bunga Rubah" ucap Mirai mantap. Ia thu betul Kondisi Hotaru, jadi untuk menyembuhkannya Mirai berani mengambil resiko apapun. Shiyuu terkejut dengan apa yang di ucapkan Mirai, ia menoleh ke arah mirai dengan mata melebar


Brak...........


Pria itu menggebrak meja, ia mulai kesal "Kau sebut dirimu Dokter, tapi justru menggunakan racun berbahaya pada tubuh pasienmu? " ucapnya tidak percaya. Baginya Mirai hanyalah gadis muda yang belum dikethui pasti kemampuannya. Menggunakan teknik berisiko kepada pemimpin sebuah Negeri. Tenyu tidak akan diterima begitu saja


" Jika kau menggunakan racun dalam dosis yang tepat, maka itu justru membantumu! " Mirai tetap memegang teguh pendapatnya. Mirai dan Ketua Medis Hoshi terus berdebat, ketegangan terjadi di ruangan tersebut.


Tanpa mereka sadari, Hotaru mulai membeku dengan keringat dingin di wajahnya.Ia memegang dada kirinya yang sakit, sekilas ingatan masa lalunya mulai lewat di kepalanya.


Akibat situasi debat di depannya, ia teringat akan kenangan pahitnya di masa lalu.


"Hentikan! " ucap Hotaru pelan, namun tidak ada yang mendengar. Tangannya mengepal keras, menyentuh dadanya yang sakit. Hotaru pun kehilangan kesadarannya


Tubuh Hotaru pun roboh ke lantai, seketika ruangan itu menjadi sepi. Para tetua mulai menghampiri Hotaru

__ADS_1


" Tuan Hotaru! Sadarlah.............. "


__ADS_2