Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Jangan Remehkan Mirai


__ADS_3

"Tunggu.... Apa itu?" tunjuk Hotaru


Mereka melihat ada tanda aneh di lengan mayat itu. Tanda itu nampak seperti sebuah tatto namun sulit membedakan karena kulit mayat yang mengkeriput


Bukankah tatto itu, tatto khusus anggota cops awan merah? Batin Aora


"Bukankah ini, tatto yang mirip di lenganmu Aora? " tanya Mirai


" Tatto Ini tanda bahwa kau adalah anggota cops rahsia Desa Sora. Namun memiliki pola yang berbeda antara Cops Merah dan Putih" ucap Aora


"Cops Putih menggunakan hewan sebagai simbol. Sama sepertiku, aku memiliki topeng rubah sebagai identitas, jadi dilenganku memiliki tatto kepala rubah berwarna merah"


Ucap Aora sambil meunjukkan tatto di lengan kirinya dengan pola bayangan seekor rubah berwarna merah. Hotaru memperhatikan Tatto di tubuh mayat itu


"Itu tidak seperti bentuk hewan.... " ucap Hotaru


" Itu bentuk topeng ' dewa kematian' berbeda dengan Cops Putih. Cops merah hanya mengenkan topeng 'malaikat maut' untuk semua anggota pasukannya, serta simbol yang sama di setiap lengan anggotanya" pungkas Aora


"Jadi, mungkin ini perbuatan Tn. Tanuki? " Mirai mulai mencurigai Pemimpin Cops Merah itu


" Kita belum bisa menarik kesimpulan itu, tidak ada motif jelas. Jika ini perbuatan Ketua Militer Sora. Untuk apa ia ingin merusak kedamaian yang sudah terjalin? " ucap Aora meyakinkan. Ada sesikit keraguan dari sorot matanya. Tidak menutup kemungkinan Cops Awan Merah terlibat


"Belum tentu tubuh ini termasuk pelaku peledakan, bisa saja ia hanya di culik atau sengaja dimanfaatkan" ucap Hotaru


Aora hanya terdiam, ia tahu ada yang janggal dari mayat itu. Sesautu yang tidak mungkin terjadi pada seseorang anggota Cops paling elite di Sora yaitu dimanfaatkan oleh musuh


Bagi Aora sangat tidak mungkin, seorang pasukan elite mudah dimanfaatkan seperti ini. Cops Awan Merah adalah pasukan yang menjungjung tinggi kerahasiaan dan kehormatan mereka. Bahkan jika diperlukan mereka rela bunuh diri jika sampai tertangkap musuh


" Sebaiknya kita susul tim Rou, kita harus mencari tahu tentang informasi orang ini. Sebagai kepala departemen Intel dan Sensor, tentu ia tahu sesuatu" ucap Aora


......................


Boooom........


Tim Rou tengah menghadapi tiga orang misterius, orang itu menembakkan bola Api sihir ke arah Hanna, Rou dan Juzo secara tiba-tiba


"Awas! " teriak Rou memperingati teman temannya atas serangan kejutan itu


Mereka mencoba menghindari serangan musuh. Namun serangan tiba-tiba itu tentu tidak dapat di hindari Hanna dengan baik, bagaimanapun ia tidak terlalu berpengalaman dalam hal bertarung. Rou yang mencoba menyelamatkan Hanna, akhirnya terkena serangan bola api itu


" Rou? Kau tidak apa? " ucap Hanna khawatir, ia melihat punggung Rou terkena serangan saat menyelamatkannya. Tubuh mereka terpental jauh, tapi Rou tetap saja berusaha melindungi Hanna


" Hanna menjauhlah dari sini, aku dan Juzo akan menyelamatkan sandra itu! " Rou membawa Hanna menjauh. Pandangan Rou tertuju pada rumah tua dibelakang musuh. Ia bisa merasakan seseorang terjebak didalam sana.


Tiga pria Misterius itu melancarkan serangan, mereka tidak ingin Rou dan yang lain masuk ke markas mereka. Ketiga orang itu mulai melepas bola api besar di arahkan menuju Rou dan Juzo


Trusssss..... Dorrrrrrr


Serangan bertubi-tubi dilancarkan oleh musuh, mereka membuat manufer penyerangan dan bekerja sama hingga membuat Juzo kewalahan menghadapinya.

__ADS_1


"Kenapa kalian memusnahkann desa Fuu? " tanya Rou di sela perlawananya, dengan cekatan ia menangkis serangan demi serangan menggunakan elemen Air miliknya


" Kenapa? Boleh aku katakan karena iseng? " jawab salah satu orang yang menyerang dengan teknik Api, pria berbadan besar serta senyum jahat. Jika itu karena iseng semata, pria itu memang kurang pekerjaan


" Siapa kau? Dari mana Asalmu? " tanya Juzo


Pria dengan rambut panjang diikat itu teelihat sangat senang mempermainkan Rou dan Juzo di depannya.


" Dilihat dari penampilannya, bukankah kau Shira dari Sora? Sejak kau keluar dari cops Awan Merah, kau menjadi buronan begitu pula dengan dua rekanmu" ucap Rou teringat dengan laki-laki di depannya. Pria itu adalh Shira, seorang buronan Sora yang sudah lama diincar Departemen Intel karena beberapa kejahatan


"Seperti biasa, ketua Intel kita sangat tanggap. Ia bahkan ingat dengan kita, bukankah begitu teman-teman? "ucapnya sambil menoleh ke dua rekannya


" Mantan ketua tim Cops yang dikenal tanpa emosi, aku ragu kau melakukannya sebatas iseng? Ini adalah wilayah kekuasaan Sora? Dan kau seorang buronan? Bukankah hal itu sangat ceroboh " ucap Rou


Rou, kepala devisi Intel dan Sensor Desa Sora. Dengan kecerdasannya, ia mengetahui kondisi mental manusia, dan bisa menebak pola pikirnya. Bisa dikatakan keahliannya seperti seorang Profiler.



Senyum di wajah Shira menghilang, kini eajah sangar itu hanya menampakkan keseriusan.


"Hal ini semata untuk merusak persetujuan damai antara Sora dan Hoshi. Saat perang pecah 15 tahun yang lalu, banyak rekan Militerku mati di tangan Hoshi.


Tentu saja, aku tidak menerima kerjasama perdamaian dan melupakan bagaimana rekanku tewas bersama dendam mereka.


Setidaknya Hoshi harus meminta maaf bahkan dengan darah mereka, tidak akan aku biarkan, rekan-rekanku mereka mati sia sia! Sora harus melawan Hoshi apapun yang terjadi! " ucap Shira dengan tatapan tajam. Ia mengutarana niatnya untuk memecah perang antara Sora dan Hoshi


"Jadi, kau mau mengobarkan perang? Dan ingin membuat orang-orang kembali mati dalam kekacauan yang mengerikan? " ucap Rou tidak percaya


Mirai, Hotaru, Aora mendarat. Mereka segera menuju ke arah kekacauan yang di sebabkan Shira untuk membantu Rou


" Kau tidak apa Rou? Lukamu cukup Parah! " ucap Aora khawatir


Rou hanya menggeleng, menandakan bahwa ia bisa menahannya. Aora mengerti, kini pandangannya tertuju ke arah tiga orang musuh di depannya


"Hanna dan Mirai, sebaiknya kalian obati luka Rou dan Juzo. Kami akan menangkap bajingan ini" perintah Aora


"Apa maksudmu? Kau ingin aku tidak ikut bertarung? "


Mirai hanya tersenyum kecut, ia menatap tajam musuh di depannya, ia juga tidak terima bahwa Aora meragukan kemampuan bertarungya


"Biarkan aku ikut menangkap bajingan itu, Kau jangan meremehkanku hanya karena aku tim medis ataupun karena aku seorang wanita, Aora" ucap Mirai mantap tanpa mengalihkan perhatiannya dari Shira


"Kau yakin Mirai. Shira adalah sosok yang tangguh! Kau bisa saja terluka " ucap Aora


" Lihat saja nanti! " ucap Mirai mantap, sementara Hanna dan Rou juga mulai bergerak


"Kami masih bisa bergerak, kami akan menyelamatkan sandra di dalam. Mereka nampaknya akan menanamkan segel ke tubuh orang desa itu " ucap Rou mulai bangkit, kini ia harus memprioritaskan keselamatan warga sipil lebih dulu


" Baiklah kalau begitu, Aku serahkan orang-orang itu pada kalian. Sebaliknya aku akan membantu Aora dan Mirai di sini" ucap Hotaru di depan Juzo

__ADS_1


"Tapi tuan, kondisimu tidak mengijinkan kau ikut dalam pertarungan" ucap Juzo khawatir dengan kondisi tuannya


"Kondisiku tidak ada hubungannya dengan situasi ini, akan sangat memalukan jika orang Negara Lain menganggap bahwa pemimpin Negeri Hoshi kabur dari tugas" ucap Hotaru sambil tersenyum


"Lakukan apa yang ku katakan Juzo, ini perintah! " Ucap Hotaru sambil menepuk bahu pengawalnya itu


"Baik Tuan" ucap Juzo


Tap...... Tap.... Tap....


Hanna, Rou dan Jozu meninggalkan tempat itu, pergi menuju rumah kosong yang tidak jauh dari sana. Tinggallah Aora, Hotaru dan Mirai menghadapi Shira dan Rekannya.


"Heh! Sudah berapa lama ini, senpai? " ucap Aora menyapa Shira


" Wow..... Ini dia si bocah sombong Kapten Cops Awan Putih. Pria dengan julukan Si 'Aka no Rai' (Petir Merah)


Kau tahu, aku sangat membencimu. Bagaimana seorang bocah sombong sepertimu menjadi Kapten yang sejajar dengnku? " ucap Shira. Ia tidak akan pernah menerima sikap Arogan Aora. Posisi yang sangat sulit ia dapatkan, justru diduduki bocah berusia 13 tahun kala itu. Kapten Militer Cops Sora, posisi itu sangat sulit dijangkau seseorang. Perlu keahlian dan kerja keras dimedan perang. Namun Aora memecah kebanggan itu, dimata Shira ia begitu mudah mendapat posisi tertinggi hanya karena relasi dengan Ketua Zen. Hal itu membuat Shira begitu membenci Aora


" Kau bisa melihat kemampuanku sekarang, Senpai. " tangtang Aora sambil mengambil pedangnya


Aora di juluki 'Si Pedang Petir Merah" serangannya yang cepat dan akurat. Aora juga dapat memanipulasi sihir dengan pedang beraliran petir merah, membuatnya terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin Sora Aka no Rai. Jika ia tidak dijadikan murid ketua Zen, tidak pelak ia adalah incaran utama Tanuki untuk menjadikanya sebagai anak buahnya dan menggeser posisi shira yang sudah berusaha ia pertahankan


Hal itu yang membuat Shira membenci Aora, terlebih saat itu Aora adalah bocah 13 tahun yang angkuh menurutnya.


Shira tahu kekuatan Aora dan tujuannya adalah segera melarikan diri dari sini, ia pun mengincar satu-satunya wanita di sana, Mirai.


Shira memberi Kode ke salah satu rekannya, membuatnya menyerang mantan ketua Cops Awan Putih itu


Tas........


Dengan cepat, rekannya itu menyerang Aora dengan pedang yang dapat ditangkis oleh Aora dengan Mudah.


"Lawanmu adalah Itoi ini, Aora senpai! " sambil terus menekankan pedangnya ke arah Aora. Ia adalah Itoi salah satu rekan Shira


Sementara itu, satu orang lagi mulai menyerang Hotaru.


Tesss........


Ia menyerang Hotaru dengan elemen apinya. Namun dapat dihindari Hotaru.


"Aku Hito yangakan membunuhmu, Tuan Hotaru" seorang pria kurus memperkenalkan dirinya, ia menyerang Hotaru dengan Teknik Sihir Bola api yang besar


"Jangan kau remehkan Pemimpin Negeri Hoshi" pungkas Hotaru sambil menghindari serangan Itoi


Di lain pihak, hanya tersisa Mirai dan Shira. Pria itu tampak senyum licik yang tergambar di wajahnya. Baginya Mirai hanyalah mangsa empuk untuk dilawan. Shira mengetahui, bahwa tim medis ataupun wanita memiliki kemampuan tarung yang lemah


"Hey Nona, bisakah kau bertahan dariku? " ucap Sira dengan nada meremehkan


" Akan sangat memalukan jika mantan seorang Kapten kalah melawan seorang wanita" ucap Mirai percaya diri.

__ADS_1


Sebagai anggotan tim Tengu yang tidak bisa diragukan lagi kemampuan bertarungnya, jika Mirai mau ia bisa menghabisi Shira dengan mudah


Senyum di wajah Shira hilang, melihat tatapan Mirai ia tahu bahwa ia tidak boleh asal meremehkan gadis itu.


__ADS_2