Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Dua Wanita Tangguh Tengu


__ADS_3

"Zou..... Aku mohon.... Kasih tahu aku.... Hm.....? "


Rengek seorang gadis berambut merah,dengan kaca mata membingkai mata cantiknya, sedari tadi ia menatap pria di depannya yang tengah sibuk meruncingkan jarum-jarum tajam dengan sebuah cairan Hitam


"Diam... Gadis tomat, aku sedang memegang racun sekarang.... Jangan sampai aku membunuhmu.... " ucap Pria yang juga memiliki warna rambut senada, rasa jengkel tergambar jelas di wajahnya


Merasa pertanyaanya tidak di jawab. Yuki kini beralih dengan pria tegap berambut hitam yang duduk di sampingnya. Mata seindah Rubynya kini bertemu dengan mata hijau seram, Nee


Yuri segera mengalihkan pandangannya, dari pria kalem di sampingnya. Meski Nee tidak mengucapkan sepatah kata pun, Yuri lebih memilih menganggu Zou dari pada harus berurusan dengan Nee


"Ayolah Zou, kasih tahu aku siapa Yuki itu...... " ucap Yuri sambil menggoncang tubuh Zou keras, membuatnya dihadiahi tatapan kesal Zou


" Diamlah..... Kau berisik!!!!! Bahkan ularmu, Oro-ryu lebih tenang dan tidak cerewet sepertimu.... Kepala Tomat"


Bentak Zou kesal, sambil menunjuk ular putih yang tertidur tidak jauh dari sana


"Ish.......aku hanya ingin mendengar sedikit ceritanya saja.... Dasar kau Toamat....."


Brakkkk....


Dengan keras Yuri memukul kepala Zou, membuat si pemilik kepala terbentur keras di meja di depannya


"Kk.... Kau.... Beraninya" Zou bangkit dari duduknya, bersiap membalas perbuatan Yuri


"Ck..... Hentikan, kalian bebar-benar berisik! " Bahkan sekarang Nee yang turun tangan melerai kedua kepala Tomat itu


" Yuri.... Kalau kau penasaran, kau bisa tanyakan langsung ke orangnya" ucap Nee, sambil menunjuk Siluet berjubah yang muncul dari lorong gelap di markas Tengu


Sosok Gadis berambut hitam panjang, muncul di ruang tengah Kastil Tengu. Mata ungu pucat miliknya masih sama, tidak ada ekpresi apapun yang terlihat dari mata cantik Mirai. Ia hanya berdiri, sambil menatap ke tiga orang yang tengah duduk di ruang Tengah Kastil


"Di mana Leader? "ucap Mirai datar


" Dia ada di Ruangannya, Yuki" ucap Nee


Sedangkan Yuri, hanya terdiam memandang gadis di depannya itu, untuk pertama kalinya ia menemui anggota prempuan Tengu satu-satunya itu. Seseorang yang selama ini membuatnya begitu penasara, hingga rela mengganggu Zou


"Y...u...k..i?" gumam Yuri.


Mata Ruby Yuri kini bertemu dengan mata pucat lafender Mirai. Tanpa menghiraukan Yuki, Mirai pun mengabaikan ketiga orang itu, dan berjalan menyusuri tangga, hendak menuju ke kamar Xio


"Ck.... Satu lagi, gadis menyebalkan datang kesini.... "Ucap Zou tambah jengkel


......................


Di Kamar luas Milik Xio, pria berambut hitam, dengan mata kelam tegas. Diam menatap altar leluhur di depannya. Tidak ada foto mendiang sama sekali, Xio hanya menaruh sebuah Tag leluhur, dengan bunga anyelir cantik sebagai ukiran.


Xio pun menaruh dupa di depan altar, dengan berbagai persembahan di depannya. Ia membungkuk beberapa kali, sebagai sebuah menghormatan kepada mendiang.


Kini wajah tampan sang leader Xio, hanya memandang sendu ke altar di depannya itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun


Tok... Tok... Tok.....


Seseorang mengetuk pintu dari luar, menyeruak keheningan kamar sang Leader Tengu


"Masuklah..... " ucap Xio


Mirai pun masuk ke kamar itu, ia hanya melihat punggung sang Leader yang masih berdiri menatap altar di depannya


" Kenapa kau datang ke sini, Mirai? "


" Bukankah ini harinya....... " ucap Mirai sambil berjalan menuju altar leluhur di depan Xio


Seikat bunga Anyelir berwarna Pink, ia letakkan di depan altar leluhur, pandangan Mirai kini tertuju ke arah Tag leluhur bertuliskan nama seorang wanita di depannya


" Setiap tahunnya, kau memperingati kematian seseorang, namun belum pernah kau meletakkan tag leluhur atas namanya


Sekarang, Aku tahu siapa yang kau peringati setiap tahunnya......


Apa dia.....


Ibu Leader? " ucap Mirai pelan.


Mirai pun menunduk sejenak sambil memejamkan matanya. Setelah selesai berdoa, ia memandang wajah Leader di sampingnya, menantikan jawaban atas pertanyaannya


" Hn.... " jawab Xio singkat

__ADS_1


Mirai pun menatap altar di depannya, ia tidak lagi melanjutkan pertanyaanya. Ia sadar, jika sang Leader belum mau menceritakan apa pun tentang sososk yang ia kenang di depannya


Xio menatap bunga di depannya, ia sangat penasaran, dari berbagai barang persembahan atau jenis bunga pemakaman, kenapa Mirai membawa seikat Anyelir, padahal ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang Xio peringati kematiannya


"Kenapa kau membawa Anyelir, bukan krisan putih? " ucap Xio


" Anyelir melambangkan kerinduan seseorang, lebih tepanya ia malambangkan kasih sayang seorang Ibu


Aku hanya menebak, Kau mungkin mengenang kematian ibumu


Ternyata, tebakanku benar" ucap Mirai


"Terima kasih, Mirai" hanya itu kata yang terucap dari mulut Xio


"Tentu....... Yora..... "


Xio pun berjalan menuju sofa di belakangnya, sedangkan Mirai hanya mengikuti kemana Xio pergi


" Apa gadis yang kulihat tadi, dia membawa batu Pilar ke-2?" tanya Mirai


"Hn..... Aku mungkin perlu bantuanmu untuk mengeluarkan batu itu" ucap Xio


"Apa maksudmu, Leader? "


" Batu itu, tertanam di tubuh Yuri. Untuk itu kami memerlukan kemampuanmu untuk mengeluarkannya"


"Hm.... Baiklah, nanti akan aku coba priksa. Dan juga............. " suara Mirai terhendat


" Ada apa? "


" Sebenarnya, saat aku melakukan penyusupan ke kantor Ketua Sora, aku menemukan sebuah Foto


Aku sudah menyelidiki seluruh tempat di Sora, tapi tidak ada petunjuk apa pun...


Untuk itu..... Aku ingin bertanya kepadamu, Leader.... " ucap Mirai


Ia pun mengeluarkan Foto yang ia temui waktu menyusup ke gudang dokumen Sora


" Apa kau mengetahui sesuatu tentang Foto ini? Entah kenapa, di dalam Foto ini ada ayahku......Apakah ayahku dulu seorang prajurit Sora? " ucap Mirai sambil menunjukkan Foto itu


" Di Foto ini, Ada Ayahku, Ketua Zen dan Tuan Tanuki dari negeri Sora.


Selain itu, aku tidak mengenal sisanya, bukankah kau dulu berasal dari Sora Leader?


Aku sangat penasaran dengan orang-orang itu, terutama dengan wanita berambut pirang yang berdiri di sebelah Ayahku.... " ucap Mirai sambil menunjuk ke Foto seorang wanita


Xio berdiam sejenak, bagi Mirai selain ingatan dengan Ayahnya, ia sama sekali tidak tahu dari mana asalnya atau siapa sebenarnya dirinya itu


" Aku juga belum Tahu, Mirai" ucap Xio


Mata Mirai sedikit menunjukkan kekecewaan, ia sangat berharap Xio tahu sesuatu


"Begitu? " ucap Mirai pelan


" Tapi.... Aku akan berusah mencari tahu..... Aku akan membantumu" ucap Xio meyakinkan


Mirai sedikit lega akan ucapan Xio, setidaknya ada yang akan membantunya mencari kebenaran tentang sang Ayah


"Oh... Ya Mirai aku memiliki sesuatu untukmu.... " ucap Xio


Xio pun hendak memberikan sebuah hadiah ke Mirai. Ia hendak mengambil jepitan Bunga Plum yang ia beli kemarin. Jepitan berwarna ungu yang cocok di kenakan oleh gadis di depannya


Namun, tanpa di sadari Xio Mirai sudah lebih dulu mengenakan jepitan kupu-kupu di kepalanya, Xio rasa mungkin ia terlambat memberikan hadiah itu pada Mirai


"Apa Leader? "


Srekkkk.....


Di tengah percakapan mereka, sesuatu tampak terbaca oleh Mirai dan Xio


"Tampaknya, seseorang penasaran dengan apa yang kita bahas" ucap Mirai sambil melihat ke arah pintu


Xio hanya diam, ia juga merasakan siapa orang yang menguping pembicaraan mereka


Mirai pun berdiri, dan berjalan ke arah pintu masuk

__ADS_1


"Aku juga ingin memeriksa kondisi batu pilar, kebetulan sekali..... "


Mirai pun membuka Pintu, terlihat sosok Yuri yang tengah menempelkan kupingnya di pintu, terkejut tiba-tiba pintu terbuka begitu saja


Dengan senyu canggung, Yuri hanya bisa gelagapan, karena ketahuan menguping pembicaraan Mirai dan Xio


" A.... Aku, h.... Hanya ingin membawakan teh... Hahaha" ucap Yuri sambil tertawa garing


"Masuklah..... " ucap Mirai sambil membukakan Yuri Pintu


" A... Apa? "


Dengan bingung, Yuri masuk ke kamar Xio ia melihat Xio dengan santai duduk di Sofa di dalam kamarnya. Tanpa memandang Yuri sedikit pun


" Aku.... Akan memeriksa keadaan batu Pilar di tubuhmu, apa kau keberatan? " ucap Mirai


" Leader.... Bisakah kau keluar sebentar..... " ucap Mirai


Tanpa sepatah kata, Xio pun keluar. Membiarka kedua wanita itu di kamar pribadinya.


" Kalau begitu, aku mohon bantuanmu Mirai" ucap Xio lembut


Yuri hanya bisa mematung, baru kali ini ia melihat Xio bicara lembut dan juga tatapan berbeda yang ia tujukan ke gadis yang ia panggi Mirai


"Mirai? " tanya Yuri


" Itu nama asliku" ucap Mirai datar, ia pun duduk di sofa, di ikuti oleh Yuri


"Sekarang, bolehkah aku melihat batu itu? " ucap Mirai


Yuri mengangguk, ia pun membalikkan badannya, lalu melepaskan kemejanya. Kini ia hanya mengenakan kaus tipis yang memperlihatkan punggungya


" I.... Ini? "


Ucap Mirai terkejut, melihat batu yang tertanam di punggung gadis itu, dengan sisik ular mengelilinginya


" Bukankah ini sesuatu yang mengerikan? Bagaimana bisa punggung seorang gadis, memiliki sesuatu yang mengerikan seperti ini" ucap Yuri sambil menunduk, jrlas terdengar kekecewaan dari nada bicaranya


Mirai pun memasang kembali kemeja Yuri, menutupi Batu Yang tertanam di punggungnya. Mirai sebagai sesama perempuan, tampak cukup mengerti perasaan Yuri


"Apa Leader yang membawamu ke sini? " tanya Mirai, Yuri pun berbalik menghadap lawan bicaranya itu


" Hm..... Yora lah yang membantuku dan Oro-ryu..... Ia juga mengajak kami ke kastil ini" ucap Yuri


"Begitu....... "


Mirai pun berjalan ke arah tempat tidur Xio, ia seakan hafal dengan segala letak benda di kamar itu. Mirai memeriksa dengan teliti, cadangan obat sang Leader. Apa ia pernah terluka apa tidak


Yuri yang melihat Mirai tampak menunduk, rasa minder tampak jelas terlihat. Yuri bertanya dalam dirinya, bagaimana mungkin ia memiliki posisi khusus di sisi Xio. Jika ada gadis secantik dan seberkharisma Mirai di samping pria itu


"Kau tahu, hanya kau orang yang aku tahu berani memanggil Leader dengan nama aslinya, tanpa ia minta" ucap Mirai sambil terus mengecek kotak obat Xio


Yuri menggeleng "Beberapa kali dia membentakku karena masalah itu, tapi...... Aku hanya ingin memanggilnya dengan namanya saja......"


"Kau orang yang Ceria..... Pantas saja suasana markas terkesan berbeda.....Kalau boleh tahu, apa kau seumuran Leader? "


" Hn.... Tapi kau bisa memanggilku Yuri saja, bukankah kita seumuran? "


Mirai terkekeh " Apa aku setua itu, jika kau seumuran Leader, berarti kau 4 tahun lebih tua denagku"


"Apa?..... Satu lagi kelemahanku" gumam Yuri


Mirai pun berjalan ke arah Yuki, sambil menatap rekan barunya itu


"Aku akan mencoba mencari metode tepat untuk mengeluarkan batu itu, mungkin memakan waktu lama karena batu itu tertanam sejak kau lahir.....


Kau bisa tinggal di kamarku kalau kau merasa tidak nyaman, kamar itu satu-satunya tempat nyaman di Kastil Ini, dari pada kau harus berhadapan drngan Zou" ucap Mirai sambil berjalan keluar


"Oh ya.... Baru kali ini juga, aku melihat interaksi Xio dengan gadis lain selain aku. Biasanya dia akan menghindar sebisa mungkin.....


Kenapa aku cerewet sekali, hari ini...... " gumam Mirai sambil meninggalkan ruang itu


Yuri tersenyum, ia mengira orang yang bernama Yuki adalah gadis kejam berdarah dingin, sesuai dengan image Tengu


Namun, bukankah sebelumnya sifat Mirai seperti itu? Hanya saja sifat dinginnya sudah lebih mencair dan menapakkan sifat asli Mirai yang hangat dan lebih terbuka

__ADS_1


__ADS_2