
Perburuan Hikari dimulai. Ia dan enam orang prajurit menyusup ke wilayah Tsuki untuk menculik anak penguasa Tsuki. Hikari tidak tahu siapa atau bagaimana wajah dari targetnya, ia hanya mengandalkan sedikit informasi yang diberikan unit mata-mata yang mengawasi pergerakan pasukan Tsuki.
Malam yang kelam, hanya sedikit cahaya bulan yang mampu menerobos rimbunan Hutan. Hikari dan beberapa anak buah yang bersembunyi di dalam semak, menantikan unit patroli Tsuki yang berisi dua orang target misinya melintas.
Sambil menyembunyikan tubuhnya dengan baik, Hikari menantikan setiap pergerakan musuh. Hingga target yang selama ini ia cari akhirnya muncul. Ada 12 orang di unit patroli Tsuki, dan diantara mereka terlihat ada dua anak bercadar hitam yang menonjol. Dilihat dari tingkah polah prajurit yang begitu menghormati anak-anak itu, Hikari yakin merekalah target yang selama ini ia incar
Hikari melirik anak buah dibelakangnya, dengan beberapa gerakan tangan ia memberi perintah agar anak buahnya menyebar dan mengambil posisi yang sudah direncanakan. Pasukan Tsuki terkepung, meski jumlah pasukan Hoshi lebih sedikit, mereka tetap prajurit elite Hoshi.
Target sudah dikepung. Hikari pun mengaktifkan gyoku di tangannya, sebuah sihir biru tercipta. Gumpalan debu besi berkekuatan peledak terbentuk, dengan kehendaknya Hikari mengirimkan debu besi itu ke arah target didepannya
Salah seorang anak bercadar menyadari ada yang aneh dengan lingkungan sekitarnya. Mata Emerladnya menemukan debu aneh menghiasi udara disekitarnya. Entah kenapa ia mencium bau mesiu di udara. Ia pun menghampiri adiknya yang tengah beristirahat dengan para prajurit Tsuki yang lain
"Ada apa kak? "
" Hisui, apa kau mencium sesuatu yang aneh? " ucap Harui ke adiknya. Hisui baru menyadari ke anehan itu, ia pun mengangguk setuju ke arah sang kakak.
" Semuanya menghindar! " teriak Harui memperingatkan yang lain. Tapi sayang, dari kejauhan Hikari sudah mengaktifkan sihirnya dan meledakkan debu besi dengan sihirnya. Rambatan sihir Hikari memicu debu besi yang sudah tercampur mesiu dan menciptakan sebuah ledakan besar
Boooooommmm!
Ledakan dasyat tidak bisa di hindari. Hampir seluruh daratan rusak akibat jebakan yang di buat Hikari. Kepulan debu menghiasi tempat itu. Hisui berhasil menghalau ledakan dengan elemen tanah miliknya, ia menciptakam tembok tanah pelindung dari Gyokunya. Tapi sayang, dari pelindung yang ia ciptakan hanya ia dan sang kakak yang berhasil selamat
Harui sempat terbatuk dengan debu yang tercipta, ia pun menatap sang adik yang tengah melindunginya. Mata Harui membulat sempurna tatkala melihat tangan kiri Hisui teluka oleh serpihan batu tajam serta mengeluarkan banyak darah. Adiknya rela mengorbankan tangannya untuk melimdunginya dari seprihan batu tajam
"Hisui! Tanganmu-" Harui Cepat-cepat memeriksa kondisi adiknya. Luka bakar yang cukup parah serta batu tajam menusuk tangan sang adik, Harui segera mengalirkan Kenkou penyembuh untuk meringankan luka di tangan Hisui
Debu bercampur asap sisa ledakan masih mengulung memenuhi tempat itu. Samar, Harui melihat siluet bayangan muncul dari dalam kepulan debu. Ia segera mengeluarkan sapu tangan dengan sulaman sakura dari dalam sakunya. Ia melilit lengan Hisui untuk menghentikan darah yang keluar sambil berbisik pelan
"Hisui! Cepat kau pergi dari sini. Aku rasa orang yang menyerang kita adalah pihak Hoshi yang menyusup. Kau harus segera melaporkannya ke markas besar dan meminta bala bantuan! ".
Harui tergesa-gesa mengikat sapu tangan di lengan adiknya. Ia dapat merasakan seseorang berkekuatan besar tengah menuju ke arahnya. Siapapun itu mereka pasti mengincar ia dan adiknya. Untuk itu ia harus menyelamatkan Hisui lebih dulu dengan menyuruhnya segera pergi dari sini.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak bisa melawan musuh seorang diri kak! "
" Jika kita berdua tetap disini, kita semua akan mati! Hisui kau percaya padaku kan?! Salah satu dari kita harus pergi. Kau harus segera melapor ke markas pusat. Biar aku yang mengulur waktu disini! "
Hisui masih ragu meninggalkan kakak perempuannya sendirian menghadapi pasukan musuh. Namun, luka di tubuhnya tidak memungkinkan untuk bertarung. Bisa-bisa ia akan menjadi beban sang kakak jika terus memaksa untuk tinggal. Hisui melihat sekelilingnya, letak markas besar Tsuki tidak jauh dari sini. Ia hanya perlu melewati bukit di belakangnya. Tapi apakah ia masih sempat membantu sang kakak?
"Hisui! Tidak ada waktu lagi! Cepat pergi dari sini! " teriak Harui membuyarkan lamunan Hisui. Meski ragu, Hisui akhirnya mulai beranjak pergi.
" Baiklah kak! Bertahanlah sesikit lagi! Aku akan datang dengan bala bantuan! " ucap Hisui. Ia pun mulai menghilang di tengah kegelapan. Harui memperhatikan adiknya yang kian menjauh, ia rasa Hisui sudah aman sekarang.
Harui pun menggapai pedangnya dan bersiap menyambut musuh yang sejak tadi bermain-main dengannya.
" Keluarlah dari persembunyian kalian! " gumamnya pelan. Ia melirik sekelilingnya, debu akibat ledakan sudah mulai terhempas pergi.
__ADS_1
Sinar bulan kini bersinar terang, menampakan seluruh area hutan yang hancur karena efek ledakan yang dasyat. Anehnya, Harui tidak menemukan sosok yang ia lihat tadi. Ia pun mengedarkan pandangannya ke segala alarah.
"Kiri? Kanan? Atas? " ia tidak menemukan keberadaan musuh. Harui bahkan tidak lagi merasakan aura sihir yang sempat dikeluarkan musuh. Diaman dia bersembunyi? Mata Harui membulat. Satu titik yang belum sempat ia periksa
" Bawah! "
Brassss....
Sebuah tombak besi menghunus tepat di bawahnya. Untung saja, Harui cepat menyadari dan bisa melompat menghindar. Namun, ia kembali merasakan sesorang bersiap menyerangnya dari belakang
Trangggg.....
Dua buah pedang beradu. Harui berusaha menahan serangan pedang yang hampir menghujam tubuhnya. Mata Emerladnya kini menatap mata sebiru lautan dari pria bercadar didepannya. Mereka sama-sama menutup wajah masing-masing. Hampir mustahil mengetahui siapa lawan yang menyerangnya itu. Tapi yang pasti, anak laki-laki itu berasal dari Hoshi dilihat dari syal berlambang bintang di lengannya
Brassss....
Harui terpental kebelakang. Hikari tidak mau membuang ke sempatan ini, ia pun melaju untuk menancarkan serangannya ke arah Harui. Dua buah pedang kembali beradu, dua orang ahli pedang tengah bertarung di bawah sinar keemasan rembulan.
Hikari menyadari sesuatu di tengah pertarungan itu. Kenapa gerakan lawan ketika mengayunkan pedang tanpak begitu familiar unyuknya? Hikari mengaktifkan gyokunya, ia mencoba menjerat kaki lawan dengan elemen debu besi shir miliknya
Siapa dia sebenarnya? - batin Hikari
Di tengah pertarungan sengit mereka, lawan akhirnya masuk ke dalam jebakannya. Hikari pun berhasil menjerat kaki Harui
Ia pun mengarahkan pedang miliknya ke wajah Harui, bermaksud menggores tali cadar yang menutupi setengah wajah lawan.
Brasssss......
Harui tidak mau menyerah begitu saja. Ia diam-diam mengaktifkan sihir di gyokunya dan memusatkan energi di tubuhnya. Dengan mudah ia menghancurkan belenggu besi yang menjerat kakinya.
Dalam diri Harui, ia juga penasaran mengenai siapa sosok di depannya. Ia pun mengarahkan pedangnya tepat ke wajah Hikari
Dua pedang mengarah ke wajah satu sama lain dan memotong tali cadar yang menutupi wajah mereka. Mata mereka membulat sempurna ketika mengetahui siapa lawan yang mereka hadapi selama ini
"Harui? " / " Hikari? "
Takdir seolah memepermainkan mereka. Dari sekian banyak kesempatan bertemu? Kenapa mereka harus bertemu sebagai musuh satu sama lain? Hikari dan Harui kompak melompat kebelakang. Membiarkan jarak memisahkan mereka
"Aku pernah menduga kau berasal dari Hoshi sebelumnya. Tapi aku tidak menyangka, kau adalah anak dari penguasa Hoshi, Hikari! " ucap Harui sambil melihat syal khusus dilengan Hikari.
Syal berlambang bintang emas yang hanya boleh dipakai keturunan penguasa Negeri bintang itu. Saat pertemuan mereka, Harui sudah menduga bocah laki-laki yang ia temui dari Hoshi. Tapi ia menyingkirkan fakta bahwa Hikari adalah musuh dan tulus ingin berteman dengannya. Karena Harui menganggap Hikari mungkin prajurit yang tidak tahu apa-apa. Selepas setatus mereka sebagai bagian Negara yang bermusuhan, bukankah tidak menutup kemungkinan untuk dua orang dari Negara itu berteman? Tapi fakta bahwa ia adalah anak dari Hozuki membuatnya pandangan Harui berubah. Hozuki adalah orang yang membawa penderitaan untuk Negerinya
Tangan Hikari mengerat kuat. Ia juga menyesali takdir antara ia dan Harui. Fakta Harui adalah putri musuh dan juga targetnya dalam misi ini. Tapi disisi lain, gadis yang seharunya dianggap musuh justru sudah mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu. Saat bersama Harui, Hikari menyadari bahwa gadis ceria itu adalah cinta pertamanya dan mungkin saja cinta terakhir yang hatinya terima. Tapi melihat situasi saat ini, haruskah ia membunuh cintanya dengan tangannya sendiri?
Hikari menatap lekat wajah Harui, gadis itu tidak lagi menatapnya dengan hangat seperti terakhir kali. Sedikit kecewa ia rasakan. Pandangan mata Emerlad cantik didepannya sudah berubah. Kali ini gadis itu memandang Hikari dengan sorot kebencian yang kuat.
__ADS_1
"Tuan Hikari! " enam buah prajurit menghampiri Hikari. Salah satu anak buahnya sudah berhasil menangkap adik Harui.
" Hisui! " teriak Harui ketika menyadari Hisui berhasil tertangkap musuh. Ia pun menatap Hikari marah. Melihat adiknya yang terluka parah tengah diikat serta diseret oleh anak buah Hikari membuat Harui mencengkram pedangnya geram
" Lepaskan adikku! " ucap Harui dengan suara bergetar. Air mata menetes membanjiri pipinya, tapi tatapan tajam jutru ia layangkan ke arah Hikari
" Apa kita langsung melumpuhkannya saja, Tuan? Gadis itu adalah anak pertama pemimpin Tsuki, sementara anak bungsunya sudah berada dalam genggaman kita. Kita harus segera menyelesaikan tugas ini sebelum bala bantuan Tsuki datang! " ucap salah satu prajurit ke hadapan Hikari
Hikari tampak ragu, ia melirik adik Harui sekilas. Ia kembali teringat ucapan Harui yang mengatakan bahwa adiknyalah satu-satunya alasan bertahan dimedan perang
Di tengah keraguan Hikari, Harui kahirnya berjalan mendekatinya. Di hadapan prajurit Hoshi serta di hadapan Hikari, Harui akhirnya berlutut dan memohon untuk membesakan sang adik
"Aku mohon. Bebaskan adikku, dan terima aku sebagai gantinya! " mata seindah batu permata menatap Hikari lekat. Harui benar-benar memohon atas bayaran nyawanya sendiri
Tanpa menunggu persetujuan Hikari, para prajurit Hoshi akhirnya menangkap Harui yang sudah menyerah begitu saja. Tangan Hikari mengepal kuat. Dalam situasi ini, apa yang harus ia lakukan?
" Kalian, cepat bebaskan anak laki-laki itu! " ucap Hikari pelan
" Tapi kapten! Misi mengharuskan membawa mereka berdua! "
" Kalian tidak dengar, gadis ini meyerahkan dirinya untuk ditukar dengan tubuh adiknya? Aku tahu saat ini kita menjalankan misi yang jauh dari kata terhormat! Tapi, membawa mereka berdua sama saja menjatuhkan martabat Hoshi! " tegas Hikari. Semua prajurit terdiam sejenak.
Sadar tidak ada yang mematuhi perintahnya, Hikari akhirnya mengambil tubuh Hisui dengan tangannya sediri. Ia membawa tubuh lemah Hisui dan membebaskanya dari ikatan tali yang menjerat tubuhnya
" Pergilah! " ucap Hikari ke Hisui. Bocah berambut merah itu hanya menatap tajam ke arahnya. Hikari sadar, Hisui tidak akan beranjak sedikitpun sampai kakanya selamat
" Aku akan membebaskan kakakmu, tapi itu memerlukan sedikit waktu. Kau boleh tidak percaya denganku, tapi kai harus percaya pada kakakmu. Percayalah, ia akan selamat dan baik-baik saja! " bisik Hikari pelan.
Harui melihat ketulusan dari sorot mata Hikari, ia pun melirik ke arah sang kakak. Harui hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lemah. Ia pun menggerakan mulutnya pelan, menyuruh Hikari untuk segera pergi dari sini. Mereka akhirnya membiarkan Hisui pergi dari sana
......................
Hikari akhirnya hanya membawa Harui sebagai sandra. Mereka menuju wilayah Hoshi dan menuju markas Pusat Hoshi. Di dalam perjalanan mereka, Hikari sibuk memikirkan bagaimana cara untuk membebaskan Harui. Hikari sedikit dilema, jika ia membebaskan Harui begitu saja, sudah pasti kerugian besar akan diterima Negerinya.
"Kalian hanya berhasil menangkap satu orang saja? " suara itu menghentikan langkah rombogan Hikari. Tanpa Hikari sadari, pria yang ia takutkan kemunculannya justru hadir di hadapannya saat ini
" Kapten Fuma, apa yang kau lakukan ditempat ini? " Hikari melihat puluhan orang prajurit memghampirinya beserta Fuma.
Untuk apa pria itu jauh-jauh datang kesini? Fuma hanya menatap Hikari dengan penuh arti. Seringai tipis menghiasi wajah sangarnya.
" Aku datang menyusulmu, tentu untuk mengantarkan seseorang bertemu denganmu. Tuan muda! "
Fuma melangkah ke samping, seolah menyambut seseorang yang keluar dari dalam barisan prajurit dibelakangnya. Mata Hikari membulat ketika melihat sosok yang paling ia takuti muncul
" A-ayah? Sedang apa kau disini? "
__ADS_1