
Pagi hari yang cerah di Desa Sora, keadaan begitu tenang dan damai, seakan kejadian naas yang terjadi kemari hanyalah sebuah mimpi buruk
Rou, laki-laki berkacamata dengan seragam Sora lengkap dengan syal berwarna ungu bertuliskan 'Devisi Intel dan Sensor' tersemat di lengan kanannya.
Ia mendatangi bekas Asrama Sora, yang hanya tinggal puing bangunan akibat ledakan besar kemarin malam. Rou pun memasuki gedung Asrama, dengan berbekal ransel besar dipunggungnya
Keadaan gedung yang cukup besar itu sangat mengerikan, beberapa bagian tembok runtuh akibat ledakan, sedangkan semua barang serta perabotan hangus menjadi abu
Rou berjalan menuju lantai dua, tempat dimana dapur umum Asrama berada. Tempat itu di curigai menjadi tempat asal ledakan terjadi. Namun belum sempat ia menaiki tangga pertama menuju lantai dua, suara aneh terdengar
Kretak.....
Suara aneh itu berasal dari arah dapur, mendengar hal itu Rou segera berlari untuk memastikan suara apa itu
"Siapa itu? " ucap Rou dalam sikap siaga, ia tahu anak buahnya tidak mungkin melakukan penyelidikan tanpa perintahnya
Samar, ia melihat seorang wanita berambut hitam panjang. Mendengar Rou datang, wanita itu menoleh ke arahnya
" Mirai? Sedang apa kau di sini? " tanya Rou sambil mengangkat alisnya
Wanita berambut panjang itu adalah Mirai, ia pun menghampiri Rou, Mirai sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan pria di depannya, ia hanya memandang Rou datar
Rou hanya tekekeh melihat wajah Mirai sekarang, wajah Mirai yang penuh dengan noda hitam akibat arang di setipa bagiannya
" Heh.... Ada pa dengan wajahmu, Mirai? " ucap Rou sambil memberikan sebuah sapu tangan ke Mirai
" Kau yakin kau adalah Ketua Devisi Intel? Kenapa kau tidak menugaskan seseorang menjaga TKP? Hah! " ucap Mirai marah
" Aku sudah memasang sensor khusus, jadi tidak sembarang orang bisa masuk..... Ya... Kecuali kau" ucap Rou sambil menatap Mirai Aneh
"Ck.... Kau memang ceroboh..... Lalu apa kau akan mulai menyelidiki tempat ini? "
" Hm.... Sebelum melakukan penyelidikan ke tubuh korban, aku harus mempelajari TKP lebih dulu" ucap Rou sambil memakai sarung tangan karet, tak lupa ia pun memberi Mirai sepasang
"Jadi..... Apa yang kau temukan? " ucap Rou sambil melihat sekeliling Dapur yang hangus terbakar
" Pihak Sora masih menganggap pihak Tsuki terlibat, terlebih dengan sikap Hisui yang bungkam. Jika ia membuka mulutnya, mungkin ia dapat memberi sedikit keterangan, setidaknya sebagai satu-satunya saksi, bukan begitu? " ucap Mirai sambil terus meneliti ruangan itu
" Benar, situasi mejadi rumit, apa lagi ini menyangkut perdamaian antar Negeri Tetangga. Untuk itu, pertemuan dipaksa diundur, tapi tidak lebih dari 2 hari
Tuan Hotaru pun menyanggupi merahasiakan kejadian ini, namun untuk pihak Negeri Tsuki, aku masih ragu" ucap Rou
"Untuk itu lah, kita berada di sini pagi-pagi buta kan? " ucap Mirai
Mirai memeriksa bagian belakang kompor di dapur itu, gas merupakan hal yang patut di curigai jika ada insiden ledakan secara tiba-tiba
" Menurutnu Mirai, apa mungkin ini dilakukan dengan kekuatan sihir? Maksudku seseorang menggunakan sihirnya untuk meledakan tempat ini" ucap Rou
"Entahlah....... Tapi.... Kau lupa hal yang paling penting" Mirai menghentikan kegiatannya, ia menatap Rou yang juga sibuk memeriksa keadaan
"Pelaku.... Sama sekali tidak memiliki Motif. Jika benar ini ulah orang Militer seperti Hisui, apa motifnya?
Jika dia menaruh dendam dengan Negeri Sora bukankah itu aneh? Mengingat Negeri Tsuki dikenal dengan sikap Netralnya?" ucap Mirai
__ADS_1
"Kau memang pintar Mirai, pendapatku juga sama.....
Jika aku menempatkan posisi menjadi pelaku, aku akan meledakkan minimal Kantor Sora atau tidak mengacaukan pertemuan yang akan di laksanakan.
Tapi.... Kenapa pelaku malah mengincar Asrama Anak?"
Mirai menemukan sesuatu yang aneh, di menemukan selang Gas dan menariknya, beberapa kali ia memeriksa bagian selang itu
"Rou... Lihatlah..... Bukankah selang gas ini sengaja di buat bocor? Lihatlah sayatan halus ini? " ucap Mirai sambil memperlihatkan selang hangus ke Rou
Sebuah selang dengan sengaja di sayat, sehingga kebocoran gas terjadi
" Benar...... Jika ini penyebabnya.... Bukankah teknik seperti ini sangat mudah di tebak? " ucap Rou sambil menatap Mirai
" Caranya tidak lah penting. Mungkin tujuan dari ledakan inilah yang paling penting" ucap Mirai
"Apa maksudmu? "
" Pelaku ingin menggiring opini publik. Kasarnya pelaku ingin mengadu domba Tsuki dan Sora.......
Bukankah taktik ini juga yang digunakan untuk memecah belah Sora dan Hoshi waktu itu? " ucap Mirai
" Kita harus mengeceknya lagi" ucap Rou
Rou pun keluar dari situ, ia menuju ruang tempat anak-anak terjebak. Mirai pun hanya mengikuti kemana Rou pergi
Di lantai 4 gedung itu, adalah tempat dimana korban ditemukan terjebak di ruangan. Bagian atas gedung merupakan bagian paling sedikit kerusakannya
"Anehnya..... Jika itu adalah ledakan gas, itu mungkin hanya membakar lantai 2 dan 1. Tapi lihatlah kondisi gedung ini, semuanya rata terbakar dan lebih aneh lagi seluruh akses keluar di kunci dari dalam" ucap Rou
"Apa yang kau lakukan? " tanya Mirai
" Aku akan memeriksa, apa benar tempat ini meledak akibat gas, atau bisa saja ini perbuatan pengguna sihir
Jika pelakunya adalah orang Militer, aku bisa membaca jejak kekuatannya dengan kemampuanku" jelas Rou
Ia pun menggunakan kekuatannya dengan mengaktifkan Gyoku miliknya. Kemudian meletakkan kedua tangannya di kotak bersegel, dan mulai memejamkan matanya
Rou adalah spesialisasi prajurit Intel yang artinya ia dapat memanipulasi kekuatan sihir, dalam menemukan jejak bukti sebuah kejahatan. Seperti jejak kekuatan sihir, membaca ingatan seseorang, atau melihat apa yang terjadi dengan hanya menyentuh kulit atau tangan seseorang
Namun kekuatan Rou juga memiliki kekuarangan, salah satunya ia tidak dapat melacak benda atau apapun yang tidak bernyawa. Untuk itu, ia hanya membaca sisa kekuatan sihir yang mungkin ada di sekitar sana
Rou mulai membuka matanya, akibat menggunakan kekuatannya dalam jumlah besar Rou sampai ngos-ngosan
"Apa yang kau temukan? " ucap Mirai
" Hah.... Hah... Ada..... Aku menemukan jejak sihir di dekitar sini. Tapi tidak begitu jelas" ucapnya
"Apa itu Kekuatan sihir Hisui? " ucap Mirai penasaran
*Jejak kekuatan Sihir yang dimaksud Rou adalah kemampuan khusus yang dapat mengidentifikasi warna sihir setipa individu
Meski tidak bisa menjadi patokan, karena mungkin ada kemiripan dengan orang lain, tapi dapat membantu sebuah penyelidikan
__ADS_1
Warna sihir berbeda di setiap elemen dasar si pemilik, biru (air), putih (angin), merah (api), coklat (tanah) serta kuning (petir) dan hanya dapat di bedakan seseorang berkemampuan khusus seperti Rou, dan jika ia memiliki 2 elemen maka warna dasar akan tercampur*
......................
Di rumah sakit Sora, Yuhee dan seorang anak kecil masih belum sadarkan diri. Meski nyawa mereka berhasil di selamatkan, namun hingga saat ini keduanya masih belum siuman
Sregggggg......
Hanna yang sedang merawat kedua pasien kecilnya, mendengar pintu ruang bergeser, seseorang tampak mengunjungi mereka
"Kau datang Aora..... " ucap Hanna pelan
Aora yang terlihat pucat, tamoak jelas ia sama sekali belum tidur, pandangannya kini tertuju kepada dua anak yang tengah berbaring di depannya
" Bagaimana kondisi mereka? " ucap Aora
" Mereka dalam kondisi stabil, namun sampai saat ini mereka belum juga sadar.
Aora.... Apa kau sudah sarapan? Wajahmu tampak sangat lelah, kau pasti tidak tidur semalaman" ucap Hanna khawatir
Aora menghampiri Yunhee, membenarkan selimut gadis yang masih setia terlelap di depannya. Kemudian Aora pun menatap gadis kecil di samping Yuhee
"Bagaimana mungkin aku bisa sarapan atau tidur dengan tenang. Ketika anak-anak seperti mereka terluka karena ketidak becusanku? "
" Ini bukan salahmu.... Semua orang sudah bekerja keras melindungi desa"
Di tengah percakapan Hanna dan Aora, pintu ruangan kembali begeser. Seseorang memasuki ruang tempat Yuhee di rawat
Hanna dan Aora sontak terkejut, orang yang datang adalah Tanuki. Dengan tongkat yang setia di tangannya, pria dengan perban melilit salah satu matanya itu mendekati Aora
"Kau memang tidak becus, bagaimana kejadian ini bisa terjadi, lihatlah anak-anak justru menjadi korban" ucap Tanuki sesekali memandang Yuhee yang masih terbaring
"Zen seharusnya tidak mempercayai bocah sepertimu. Bagaimana mungkin ia menyerahkan urusan negara kepada anak kecil.... Ckckckc"
"Aku akui semua adalah kesalahanku, tapi kau tidak bisa menyalahkan ketua Zen, ia sudah bayak membantu dalam merealisasikan pertemuan yang mustahil ini" ucap Aora tidak terima gurunya diremehkan oleh Tanuki
"Sora seharusnya menjadi negara kuat dengan otoritas tinggi. Tidak sepantasnya mempermalukan reputasi, demi mendongkrak ekonomi semata. Tapi Zen malah menundukan kepala dan memohon ke Hoshi dan Tsuki akar mereka mau bekerja sama.
Jika Sora ingin, tanpa pertemuan alot seperti itu, kita bisa menyerang Tsuki dan Hoshi kapanpun, kita bisa tunjukan kekuatan apa yang kita punya" ucap Tanuki enteng, ia menganggap perang adalah satu-satunya jalan untuk memecahkan maslah
"Jadi kau menyarankan Sora untuk memutus perdamaian dan mengobarkan perang?
Pantas saja tidak ada yang mendukung Visimu" ucap Aora dengan tatapan tajam
"Setidaknya, visiku tidak membuatku tunduk dengan negara lain. Sora adalah negara yang kuat, hanya saja memiliki pemimpin lemah layaknya kau dan Zen
Lihatlah...... Kelemahanmu mencerminkan dirimu, bahkan melindungi nyawa anak seperti mereka, kau tidak bisa " ucap Tanuki, seringai licik tampak jelas di wajanya
Ia pun berbalik, dan keluar dari ruangan itu
" Jika dalam 2 hari kau tidak dapat menemukan pelaku peledakan, akan ku anggap Tsuki lah dalang di balik insiden ini. Jika sidah mengobarkan api, asap tidak bisa di sembunyikan lagi
Bukankah saat ini, pemimpin mereka belum mau membuka mulut dengan apa yang terjadi kemarin. Apa mereka sedang meremehkan kita?
__ADS_1
Jika sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan mengambil alih dan membuat perhitungan dengan Tsuki" ucap Tanuki
Aora yang mendengar ancaman itu, hanya bisa mengepalkan tangannya keras, mencoba menahan amarah dirinya. Bagaimanapun, perang tidak boleh terjadi.