
Mata Hotaru mulai mengerjap, perlahan ia membuka matanya samar. Mata biru seindah lautan itu, kini telah terbuka.
Hotaru dirawat di salah satu kamar Kastil yang di jadikan ruangan perawatan, di satu sudut kastilnya yang luas. Ia tampak lemah, dengan infus di tangannya, serta berbagai alat kontrol pacu jantung yang berbunyi pelan.
Hotaru melihat sosok sekretarisnya, yang sedari tadi berdiri dengan tangan terkatup di dadanya. Tsuyu, gadis berambut pirang panjang tidak hentinya menatap Hotaru dengan Khawatir.
"Kau sudah sadar Hotaru, apa kau baik-baik saja? " mulut Tsuyu bergetar hebat, bahkan kata yang diucapkan tidak terdengar jelas. Rasa Khawatir melahap seluruh energi ditubuhbya
Hotaru tidak menjawab pertanyaan gadis di sampingnya, ia malah mengkhawatirkan pertemuan tadi "Bagaimana pertemuan tadi?"
" Aku mendengar, Tetua menyetujui Tim Medis Sora untuk menangani operasimu" ucap Tusyu sambil mencoba menata kembali pikirannya. Meskipun ia sesikit kecewa dengan tanggapan Hotaru
"Syukurlah! Mungkin dengan penyakitku ini, aku setidaknya bisa membawa perdamaian tanpa syarat " Ucap Hotaru sambil tersenyum pelan. Kini ia menatap keluar balkon yang memperlihatkan pemandangan laut biru yang cantik. Tsuyu yang medegar ucapan Hotaru hendak membalas ucapan bodoh pria itu, namun urung ia lakukan. Ia tahu, meski seberapa khawatir pun ia, Hotaru tidak akan pernah menganggapnya lebih
"Apa kau begitu mempercayai Nn. Mirai?"
Hoyaru hanya tersenyum simpul. Entah kenapa nama Mirai membuatnya begitu penasaran me genai sosok pemilik nama itu
"Aku bisa melihat keteguhan dalam Matanya, aku melihat gambaran dirinya yang kesepian terpancar, sama sepertiku" Tsuyu terdiam sejenak. Ia pun mengutarakan rasa khawatir mengenai keputusan yang Hotaru ambil
"Tapi jika hal itu sampai gagal, tidak hanya Nn. Mirai yang akan dieksekusi pihak Hoshi, tapi perang akan pecah. Tentu aku tidak mau itu terjadi, terlebih menyakut keselamatanmu, Hotaru"
"Terkadang, dalam satu sisi, kau harus mempercayai orang lain lebih dari dirimu sendiri. Aku tidak akan mati semudah itu, aku masih berutang kata maaf pada seseorang, yang lebih aku percayai daripada diriku sendiri
Kau tidak perlu khawatir, Tsuyu" ucap Hotaru
......................
Di lorong Kastil menuju kamar Hotaru, Mirai dan Shiyuu berjalan beriringan. Sambil membahas beberapa hal yang menyangkut operasi yang akan dilalui Hotaru
"Mirai, aku harus bertemu dengan tim medis Hoshi, terkait dengan persiapan operasi Tuan Hotaru. Kau sendiri saja yang menemuinya" ucap Shiyuu
"Baiklah Kapten Shiyuu,aku percayakan semua padamu"
Mirai pun berjalan menuju ruang perawatan Hotaru. Kastil Hoshi sangat luas, hingga membutuhkan waktu untuk berjalan untuk pergi ke sisi lain kastil. Dari kejauhan, Mirai melihat sesosok gadis berambut pirang keluar dari ruangan Hotaru, dia adalah Tsuyu
Tsuyu tampak menunduk, menunjukkan sikap sopannya bertemu dengan Mirai, begitupun dengan Mirai
"Apa Hotaru sudah sadar, Nn. Tsuyu? " Tanya Mirai
"Sudah, Nn. Mirai. Kau bisa menemuinya. "
__ADS_1
Mirai tersenyum pelam, ia pun beranjak memasuki kamar Hotaru "Baiklah, aku akan masuk memeriksa keadaanya"
Mirai berjalan menuju pintu, ketika hendak mebuka pintu itu Tsuyu memanggilnya
"Nn. Mirai.... Aku mohon bantuannya, selamatkan temanku Hotaru! " ucap nya sambil membungkuk. Mirai yang melihat Tsuyu begitu mengkawatirkan Hotaru berusaha meyakinkannya
" Tentu. Sebagai dokternya..... Aku akan mengeluarkan sepenuh tenagaku untuk menyembuhkannya. Percayalah kepadaku Nn. Tsuyu! "
Tsuyu pun memancarkan senyumnya kembali, dengan mata yang masih berkaca-kaya ia menganggukan kepalanya
"Tentu, aku percayakan Hotaru padamu Nn. Mirai! "
......................
Mirai memasuki kamar tidur yang luas, kamar yang di sulap menjadi kamar perawatan. Namun, tidak meninggalkan kesan mewah dengan fasilitas lengkap untuk orang No. 1 di negeri Hoshi. Hotaru yang sedari tadi duduk di atas kursi roda, tengah melihat pemandangan laut biru di depannya. Mirai berjalan ke arah Hotaru, sambil memeriksa beberapa rekam medis di tangannya
"Bagaimana kondisimu Hotaru, apa kau masih merasakan sakit di dadamu? "ucap Mirai memecah lamunan Hotaru
Hotaru menoleh ke arah suara, ia tersenyum kepada Mirai
" Aku baik-baik saja " Kini fokusnya kembali ke arah samudra luas yang membentang didepannya "Bukankah laut sangat biru Mirai?"
"Memang kenapa? Laut memang terlihat biru sepanjang waktu" Hotaru yersenyum pelan, sambil menatap lurus oemandangan didepannya dengan sorot mata kosong
"Entah kenapa, aku sangat iri melihat laut Mirai. Ia akan mengamuk ketika badai dan tenang ketika cuaca cerah. Tidak ada hal yang laut sembunyikan"
Mirai terkekeh, dengan nada sarkas ia membalas Hotaru
"Jika menjadi dirimu, akankah aku masih iri dengan dunia? Aku bahkan akan menari sepanjang hari. Bahkan apa yang di sebut 'rumah' mu ini contohnya" Mirai menatap ruangan megah sekelilingnya. Rumah? Yang benar saja! Kasti semegah ini tidak bisa disebut rumah
"Benar juga, aku bahkan merelakan kakaku untuk semua yang aku miliki sekarang. " ucap Hotaru sambil terus memandangi laut di depannya. Wajah Mirai berubah bingung, apa maksud dari perkataan Hotaru?
"Apa maksudmu, bukankah dia kakak yang kau benci, terlebih dia membuatmu seperti ini? "
Namun Hotaru tidak menanggapi pertanyaan yang Mirai ajukan, ia menghela nafas panjang sambil membalikkan kursi rodanya
" Hah! Cuaca di luar tampak cerah, aku bahkan sudah bosan dengan suasana di kamar ini" ucap Hotaru
"Mirai. Apa kau mau mengajakku jalan-jalan? Aku minta tolong padamu.....
Jika dokterku yang mengajakku, orang-orang tidak akan berkomentar" pinta Hotaru dengan sorot mata sayu. Mirai tidak bisa mebolak, ia pun bersedia mengantarkan Hotaru jalan-jalan
__ADS_1
"Hah! Seorang Tuan Muda memang selalu merepotkan, baiklah....... " ucap Mirai
......................
Mirai mendorong kursi roda Hotaru, mereka berjalan-jalan di pesisir pantai. Melintasi sebuah dermaga kayu yang mengarah ke lautan. Pemandangan tempat itu sangat luar biasa, kastil Hoshi nampak sangat megah, bangunan yang kokoh berdiri di ketinggian pulau. Di sebrang laut, terlihat jelas kota Hoshi yang padat, memang tempat itu adalah pulau yang dipisahkan lautan. Namun jaraknya tidak begitu jauh sehingga bisa di hubungkan dengan jembatan megah, yang terlihat di sisi kiri mereka.
Mirai dan Hotaru sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Namun Hotaru memutuskan untuk memulai percakapan dengan Mirai
"Bukankah sangat lucu. Negara Hoshi yang merupakan salah satu Negara Besar, memiliki pemimpin yang lemah sepertiku. Bahkan kini aku dalam keadaan sekarat. Pemimpin yang seharunya melindungi Negaranya, bahkan tidak mampu melindungi tubuhnya sendiri" ucap Hotaru ririh
Mirai menghentikan langkahnya, kini mereka berada di ujung dermaga kayu. Angin pantai berhembus lembut, membuat rambut panjang Mirai menari dihempas Angin. Pandangannya kini tertuju ke laut lepas di depannya
"Sudah aku bilang, aku akan menyelamatkanmu. Dan juga Kau sama sekali tidak lemah Hotaru! " Ia menatap laki-laki yang duduk di depannya
"Kau tidak lemah, justru cintamu kepada rakyatmu. Membuat rakyatmu merasa mereka dapat mengandalkanmu. Pemimpin mungkin harus memiliki kekuata untuk menghalau musuh yang datang. Tapi di balik itu semua, pemimpi ada untuk melindungi rakyat yang ia cintai.
Rakyat yang berlindung di belakangmu, kau memastika mereka hidup damai tanpa mengenal yang namanya peperangan.
Semua itu kau lakukan, bahkan dalam kondisimu itu. Kau masih menjalankan misi desa Fuu, semata-mata untuk menjaga perdamaian itu tetap ada"
Mendengar ucapan Mirai, Hotaru merasakan sebuah dukungan kembali memenuhi dirinya. Sambil menatap gadis yang berdiri disampingnya, Hotaru tersenyum pelan
"Terkadang kau mengingatkanku pada sosok kakaku Mirai. Ia memang terlihat dingin, tapi jauh di dalam dirinya. Ia adalah kakak yang sangat menyayangi adiknya dan justru rela mengorbankan apa saja untukku, dia adalah sosok yang selalu menyemangatiku"
Mirai hanya terdiam, dia memilih mendengarkan Hotaru, namun ada satu hal yang mengganjal hatinya. Mengenai kisah dibalik Tuan muda Hoshi bersaudara itu.
"Bukankah, orang-orang memandang kakakmu dari sisi yang berbeda? " Hotaru mengerti kenapa Mirai sangat penasaran, Ia putuskan untuk menceritakan kisahnya pada gadis yang berdiri di sampingnya itu.
" Jika tidak keberatan, maukah kau mendengarkan kisahku Mirai? " Ucap Hotaru sambil tersenyum
" Tentu. Dibanding disuruh memberikan saran, aku lebih suka menjadi pendengar yang baik" ucap Mirai lembut. Hotaru mulai mengedarkan pandangannya. Menatap laut lepas, dan mulai menceritakan kisah hidupnya ke Mirau
"Kisah ini, bahkan Rakyat Hoshi tidak ada yang mengetahuinya. Tapi, entah kenapa aku bahkan ingin menceritakannya padamu! "
Mirai terdiam sejenak. Ia sadar Hotaru juga memiliki bekas luka di hatinya. Bekas yang tidak akan pernah menutup atau sembuh dengan sendirinya
Bahkan.... untuk orang yang memiliki segalanya seperti Hotaru...... Ada kisah masa lalu yang membuat lubang dan luka yang membekas di hatinya..........
Luka fisik memang mudah untuk di sembuhkan, tapi tidak untuk luka hati.
Kadang bekas luka hatimu, ingin kau sembunyikan jauh didalam jiwamu.....
__ADS_1