
~18 tahun yang lalu~
Mirai yang berusia 6 tahun, tengah asyik mengejar kupu-kupu di sebuah bukit yang berisi banyak bunga. Dengan semangat, ia bersembunyi di samping taman bunga dan hendak menangkap seekor kupu-kupu yang hinggap di kelopak bunga itu
"Kali ini aku akan menangkapmu, kupu-kupu cantik! " Rambut Hitam pendeknya tertiup angin lembut. Sosok gadis kecil yang cantik. Namun sayang, Mirai harus berpakaian layaknya seorang anak laki-laki. Senyum lucunya mengembang di pipi tembem yang mulai memerah itu
Belum sempat tangannya menangkap kupu-kupu yang hinggap di bunga. Sang ayah berteriak memanggilnya, membuat hewan itu terbang menjauhi Mirai
"Mirai! Ayo kita pulang, nak! " panggil sang Ayah sambil melambaikan tangan. Wajah Mirai kecil mengkerut kesal.
"Heh! Padahal sedikit lagi kena!" dengus Mirai. "Baik Ayah! " ia pun berlari kecil menuju ke arah sang Ayah
"Aish! Ayah.... Padahal sedikit lagi aku bisa menangkap kupu-kupu itu! " ucap Mirai protes ke ayahnya, pipi tembemnya mengembung, tanda ia kecewa. Kizuna tersenyum lembut. Entah kenapa, putri kecilnya terilat begitu imut ketika marah
"Kenapa kau suka sekali dengan kupu-kupu heh? Kau harus membiarkan mereka bebas, dengan begitu kau dapat menikmati kecantikannya lebih lama lagi, kan? " ucap sang Ayah sambil mencubit Pipi Mirai
Mirai mengangkat tangannya. Seperti biasa, sang ayah dengan senang hati menggendong putri kecilnya itu. Mereka berjalan turun menuju desa di bawah bukit, sesekali Kizuna bercanda dengan Mirai. Tawa ceria menemani perjalanan anak dan ayah itu. Kizuna tampak melirik ke arah Mirai yang kini tengah berada di gendongannya
"Eh? Tampaknya, rambutmu sudah mulai panjang Mirai. Sampai di rumah, biar ayah potong rambutmu, okey? " ucap Sang ayah sambil terus menggendong putrinya. Mirai kembali berdengus kesal. Semua anak peremouan yang ia kenal memanjangkan rambutnya. Begitupun dengan pakaian cantik yang mereka kenakan
"Kenapa Ayah terus memotong pendek rambutku? Aku juga ingin tampil cantik layaknya gadis lain! Dan kenapa aku harus mengenakan pakaian laki-laki? " ucap Mirai mendengus. Ia memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Menurutnya pakaian itu jauh dari kata cantik. Mendegar permintaan putrinya, Kizuna terdiam sejenak. Ayah mana yang tidak mau membahagiakan putrinya. Melihat Mirai mengenakan pakaian cantik merupakan keinginan Kizuna juga. Namun, kondisi mereka jauh dari kata 'normal'
" Nanti. Kalau kau sudah besar, kau bebas memanjangkan rambutmu, atau mengenakan gaun paling cantik di dunia. Ayah akan mewujudkannya untukmu Mirai.
Tapi. Sebelum itu kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Sampai saat itu tiba, kau harus berpura-pura menjadi anak laki-laki ya Mirai" ucap Kizuna lembut ia berusaha menberikan pengertian kepada putrinya. Mirai terdiam sejenak. Alasan sang ayah, bukan kali ini saja ia ucapkan. Mirai bukanlah gadis bodoh, tentu merasakan sesuatu yang berbahaya mengincar hidupnya
"Apa ada orang jahat yang sedang mengejar kita? Kita bahkan terus berpindah tempat, itu sebabnya aku tidak punya teman Ayah. "
"Kau kan memiliki ayahmu ini, Mirai. " ucap sang Ayah. Kizuna hanya bisa menunduk sedih, tantu dalam hatinya ia ingin menuruti segala keinginan putrinya itu. Sadar Mirai mengungkit hal yang bisa membuat ayahnya bersedih, ia pun membalas sang ayah
"Tentu saja, ayah adalah ayahku, temanku, juga ibuku. Ayah adalah segalanya bagi Mirai, bahkan jika besar nanti, aku akan menikahi seseorang yang mirip Ayah! " ucap Mirai sambil berusaha menghibur Kizuna
"Benar, jika kau sudah besar. Carilah laki-laki yang mirip ayah. Dia akan menjagamu apapun yang terjadi. Tapi, memikirkan putri ayah akan menikah, itu membuatku sedih, hiks"
"Tenang Ayah, aku akan membawamu ikut serta" ucap Mirai mantap. Kizuna menaikan alisnya, jawaban Mirai begitu menggemaskan
"Bagaimana jika kau memiliki mertua yang galak? " canda sang Ayah
" Emmmm........ Kalau begitu, aku akan menjadi dokter hebat. Menghasilkan banyak uang, membeli rumah dan menculik suamiku dari ibunya, kita akan hidup bersama, hehehe" Kizuna hanya bisa mengerutkan alis heran. Putrinya itu benar-benar mewarisi sifatnya.
"Kau seperti psiko saja Mirai, hahahahha! "
Mirai dan Ayahnya terus bercanda bersama, hingga mereka berpapasan dengan salah satu penduduk desa. Seorang wanita cantik, ia adalah anak dari kepala desa tempat Mirai dan ayahnya tinggal
"Kau dari mana saja, Kizuna-san? " ucap wanita ramah. Dari tatapannya ia terlihat begitu mengagumi ayah Mirai
" Em.... Ano.....Kepala desa meminta tolong untuk memburu babi hutan di bukit sana, babi itu telah menyebabkan beberapa kerusakan di ladang warga... " ucap Ayah Mirai
" Kau memang hebat, Kizuna-san, apakah kau berhasil membunuh babi itu? " Mirai mendengus pelan. Ia tahu wanita itu sengaja mengajak ayahnya bicara untuk lebih dekat dengannya
" Sebenarnya aku tidak membunuhnya. Aku hanya mengarahkannya agar lari ke tengah hutan. Tapi tenang saja, dia tidak akan kembali lagi! "
"Kau memang pria baik. Tunggu. Apa itu Mirai? dilihat dari manapun, kau itu bocah laki-laki, tapi kau cantik, apa karena ayahmu yang tampan? "
__ADS_1
Mirai hanya memandang wanita di depannya dengan tatapan tajam, bagaimana bisa dia bersikap sok akrab dengan Ayahnya
Ayah Mirai bernama Kizuna. Meski sudah memiliki seorang putri, namun usianya kini menginjak 26 tahun, selain tampan ia juga populer di kalangan wanita di desa. Kemampuannya sebagai orang militer sudah terkenal ke segala penjuru. Begitu pula dengan sikap sopan dan ramahnya
"Ah.... Begitu, aku anggap itu sebagai pujian, kalu begitu..... Permisi"
Ayah Mirai buru-buru pergi meninggalkan wanita itu, membuat Mirai senang dengan cara menghindar sang Ayah
......................
Kret..... Kret..... Kret......
Suara gesekan gunting terdengar nyaring. Ayah Mirai dengan teliti mencukur rambut Mirai, sedangkan Mirai hanya duduk manis dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya
"Ayah..... Apa ibu cantik? " pertanyaan itu selalu Mirai ajukan. Ia sangat penasaran mengenai sosok ibunya. Seperti apa rupanya, dan bagaimana sikapnya. Itulah yang selalu membuat Mirai penasaran
" Tentu saja. Dia adalah wanita tercantik yang pernah ayah temui, ia juga memiliki mata cantik sepertimu, Mirai " Kizuna masih sibuk mencukur rambut Mirai. Namun didalam fokusnya, hanya paras cantik wajah istrinya yang terlihat
"Em..... Apakah rambutnya hitam sepertiku? "
" Rambutmu itu, mirip denganku Mirai. Kau menuruni penampilan ibumu yang cantik, sayangnya kau menuruni sifatku yang receh"
"Benarkah? "
" Tentu saja, oh ya..... Aku akan mencarika guru di sebuah rumah sakit di desa ini. Kai sangat berbakat dalam teknik medis, itu sebabnya kau memerlukan seorang guru. Kau bisa mengembangkan ilmu kenkoumu itu dan menjadi dokter handal seperti mimpimu, tapi ini adalah sebuah rahasia, okey? " Mirai tersenyum girang. Sambil mengoyangkan kakinya, ia mengangguk senang
" Heh..... Ayah.... Kenapa semua menjadi rahasia sih...... "
Mirai pun selesai menata rambutnya, kini ia akan berangkat ke rumah sakit seperti yang dikatakan sang ayah
"Ayah..... Apa di tempat ini para dokter menyelamatkan nyawa seseorang? " Mirai begitu antusiaa dengan alat-alat medis disekelilingnya. Sambil memegang tangan sang ayah erat. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit
" Hm. Di sini adalah tempat menyembuhkan luka seseorang, sehingga mereka dapat berkumpul kembali dengan orang yang mereka cintai"
"Kalau begitu, aku mau jadi dokter dan menjadi Tim medis hebat yang menyelamatkan banyak orang, ayah! "
"Tentu saja......... Mirai! "
Situasi aneh tamoak memenuhi loby rumah sakit. Kondisi rumah sakit itu tampak riuh, orang-orang berlari dengan panik. Sadar akan hal itu, Ayah Mirai bertanya kepada seseorang
"Kenapa kondisi di sini sangat riuh? "
" Perang antara Hoshi dan Sora telah pecah. Kemungkinan tempat ini akan menjadi medan perang, kau harus segera mengungsi dari sini, Tuan! "
Keadaan semaki kacau. Sadar akan ada bahaya, Ayah Mirai menggendong putrinya dan keluar dari sini.
Cussss....... Booooommmmmmm.........
Suara ledakan terdengar menghatam ujung barat desa. Getara hebat efek dari kedakan mengguncang seisi gedung rumah sakit. Semua orang panik menyelamatkan diri. Kizuna membawa Mirai ke tempat yang aman
"Mirai! Tetaplah di sini. Ayah akan membantu efakuasi warga. Kau harus tetap di sini oke? Tunggu Ayah. Ayah akan menjemputmu nanti! "
"Baik Ayah! " Mirai mengangguk mengerti. Ia pun mengijinkan ayahnya pergi untuk membantu orang-orang yang terjebak. Mirai kecil tidak tahu, bahwa itulah saat terakhir ia bersama sang ayah
__ADS_1
Ayah Mirai akhirnya pergi dari sana. Namun sebelum benar-benar menjauh, Mirai memanggil Ayahnya.
" Ayah! Tolong selamatkan orang-orang! Dan juga, aku menyayangimu! " teriak Mirai sambil melambaikan tangannya
"Ayah juga! Tunggulah Mirai, ayah pasti kembali! " Kizuna membalikkan tubuhnya. Sebelum benar-benar menghilang dati tempat itu, ia sempat tersenyum ke arah Mirai
Dentuman-dentuman bom sihir terus menghujani desa kecil itu. Prajurit Militer Sihir baik dari pihak Hoshi atau Sora terus menggencarkan serangan, tanpa peduli dengan warga sipil yang terjebak di dalamnya.
Mirai melihat seorang anak kecil, yang seusianya membawa adiknya yang terluka parah. Ia meminta tolong pada orang-orang, tapi tidak satupun yang mau mendengarnya. Orang-orang tampak panik menyelamatkan dirinya masing-masing
"Tuan! Tolong adik saya..... Tuan! " ucap Anak itu sambil meminta bantuan. Wajahnya oenuh dnegan luka, namun anak itu lebih mengkhawatirkan kondisi adiknya yang tidak kalah parah. Mirai yang melihat hal itu pun mendekati anak laki-laki itu
"Bisa aku lihat luka adikmu? " ucap Mirai sambil menghampiri kedua anak malang itu. Ayahnya mengajarkannya untuk menolong seseorang yang memerlukan bantuannya. Tentu Mirai tidak mau hanya diam melihat
" Apa kau bisa membantuku, apa kau menguasai sihir? "
" Aku memang tidak semahir orang dewasa. Tapi ayahku mengajari teknik dasar pengobatan, kau bisa mempercayaiku! "
Mirai mulai memegang tangan adik sang bocah itu, perlahan cahaya biru keluar dari Gyokunya dan menutup luka hingga sembuh
"Wah..... Kau hebat! ..... Terima kasih.... "
" Tidak perlu berterima kasih padaku" ucap Mirai sambil tersenyum lembut
Brakkkkk........
Suara bising terdengar. Mirai melihat segerombolan pasukan Militer dengan topeng menyeramkan (Dewa kematian) memasuki halaman rumah sakit
" Cari semua orang yang bisa menggunakan sihir Medis! Kita memerlukan mereka untuk membantu prajurit yang terluka di medan perang! " teriak seorang pria dengan syal kapten dilengannya
"Baik tuan, Tanuki" ucap semua anak buah buahnya kompak. Pria bertopeng itu adalah Tanuki, ketua Cops penyergap dari Awan Merah
Pamdangan tajam Tanuki menelisik ke setiap tempat. Ada sesuatu yang membuat Tanuki tertarik, ia melihat seorang anak kecil yang mengobati anak lain dengan teknik Kenkou.
Ia pun mulai mendekati Mirai, ia mengeluarkan pedangnya dan melemparkannya ke arah Mirai
Tessssss..........
Mirai dapat menghindari pedang itu, tapi serangan itu tetap membuat lengannya terluka
"Larilah dengan adikmu! " Mirai menyuruh dua anak yang ditolongnya untuk segera lari dari sana.
"Bagaimana denganmu? "
" Kau lupa, aku adalah orang Militer yang menguasai sihir. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, pergilah! Cepat! "
Anak itu pun meninggalkan Mirai sendiri. Meski raut khawatir terpancar dari sorot wajh mereka. Tanuki mendekati Mirai, memastikan apakah anak itu benar-benar bisa menguasai teknik medis sihir
Mata Tanuki membulat, ia terkejut ketika melihat Luka di tanga Mirai mengeluarkan asap putih, dan perlahan sembuh total
"B- bukankah itu Teknik regenerasi clan Salju? " gumam Tanuki
" S- siapa kau paman? " Mirai mulai berjalan mundur. Mekihat pria mencurigakan itu, ia tahu mereka bukanlah orang baik.
Tanuki pun memanggil anak buahnya, ia melumpuhkan Mirai dan membawanya pergi
__ADS_1
" Bawa Anak itu, dia bisa menjadi sangat berguna nanti! " ucap Tanuki kepada anak buahnya. Mereka akhirnya membawa Mirai pergi dari sana. Tanuki melihat seklilingnya, desa yang menjadi medan peperangan yang kini mulau hancur akibat ledakan dasyat
"Sekarang! Tinggal aku menemukanmu saja Kizuna! "