Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Arc Sora : Akhir sebuah Kasus


__ADS_3

Masih Flashback


Siluet pria dengan rambut biru pucat, duduk di sebuah bangku taman di dekat sebuah Mansion megah Sora. Mata biru seindah lautannya hanya menatap kosong suasana sepi di depannya. Hotaru hanya bisa menghela nafas sesekali mengutuk Aora yang meinggalkannya begitu saja


"Hah..... Seharusnya aku tidak berusaha membantu Aora..... Bisa-bisanya dia meninggalkanku sendiri di sini, jalan kepe ginapan pun aku tidak tahu..... " ucap Hotaru sambil menghela nafas


" Hotaru! " ucap seseorang entah dari mana, suaranya lembut seperti prempuan.


Namun Hotaru tidak bisa menemukan keberadaan sososk yang memanggilnya, tubuh Hotaru seketika itu merinding


" Apa itu? Siapa yang memanggilku? " gumam Hotaru sambil terus melihat sekelilingnya, wajahnya tampak pucat pasi


Tidak ada apapun di sana, pemandangan malam di sebuah taman kecil Mansion Sora, hanya jalan sepi dan sebuah lampu penerangan yang ada di situ, tidak ada tanda-tanda manusia


" Hotaru! " panggil suara itu lagi, Hotaru pun sontak berdiri, sambil terus melihat sekitarnya


" Apa yang kau lakukan di sini? " suara itu semakin mendekat, seseorang tampak memegang bahu hotaru dari belakang


" Siapa itu? " Hotaru langsung berbalik, sambil mengayunkan tangannya dengan cepat


Takk........


Mirai menangkis serangan Hotaru, jangan remehkan serangan Pria sekelas Hotaru, tentunya jika itu mengenai orang biasa itu akan berakibat Fatal


" Apa yang kau lakukan? " ucap Mereka kopak. Hotaru dengan wajah pucat takutnya, sedangkan Mirai dengan wajah kesalnya


" Kau mencoba membunuhku heh? " ucap Mirai kesal sambil terus menahan tangan Hotaru


Sadar melihat ekpresi horor wanita di depannya, Hotaru pun menurunkan tangannya


" Salah siapa mengejutkanku? Kenapa juga kau muncul tiba-tiba di belakangku? ..... Kau membuatku Takut Mirai" ucap Hotaru, jantungya yang susah payah di selamatkan Mirai nyaris saja berhenti berdetak


Mata Mirai menyipit, ia tidak menyangka laki laki segagah Hotaru menakuti hal-hal yang berbau mistis


"Ternyata kau penakut Hotaru. Lalu sedang apa kau di dekat Mansion Utusan Tsuki? Bukankah Mansion Hoshi berada jauh dari sini? " ucap Mirai


" Aku tidak takut dengan apapun" ucap Hotaru bohong,


" Rencananya aku dan Aora hendak bertemu dengan Tuan Hisui secara pribadi.


Namun, seseorang bertopeng kucing (Ten) memberitahukan bahwa ia menemukan tempat dimana pelaku peledakan berada" ucap Hotaru dengan pandangan kesalnya


"Jadi dia meninggalkanmu di tempat asing sendiri? " ucap Mirai sambil terkikik, baginya tampang bingung Hotaru lebih menarik


" Hentikan Mirai, Aku sudah memiliki niat baik membantu mendiskusikan masalah ini sebelum pertemuan nanti pagi dengan Hisui, tapi Aora justru pergi begitu saja"


Mirai pun menarik lengan Hotaru keras, menyeretnya ke suatu tempat "Kalau begitu, ikutlah denganku!"


......................


Ting.... Tong..... Ting... Tong...


Mirai memencet bel slah satu kamar VIP di Mansion Sora, seorang wanita berambut coklat panjang pun membukakan pintunya


"Siapa? " ucap Kazumi sambil membukakan pintu


Mirai pun menyapa Nyonya Tsuki itu dengan sopan, sambil menundukan kepalanya


" Maafkan kami mengganggu waktu istirahat anda, Perkenalkan Saya Mirai dari Sora. Bolehlah saya menemui Tuan Hisui, Nyonya? " ucap Mirai sopan, meski wanita di depannya tampak seusia dengannya


" Tentu..... Tuan Hisui berada di dalam, tapi siapa pria di sampingmu? " ucap Kazumi sambil menatap Hotaru yang dianggapnya aneh


" Ah.... Maafkan aku, Perkenalkan namaku Hotaru, Pemimpin Negeri Hoshi" ucap Hotaru dengan senyum ramah


Kini Hotaru berada di dalam kamar Mansion yang begitu luas, di depan mereka Sang Penguasa Tsuki Hisui. Tidak ada sepatah kata yang keluar, baik dari Mirai, Hotaru ataupun Hisui,mereka hanya saling memandang dalam diam

__ADS_1


"Kalau begitu, silahkan nikmati waktu dikusi kalian" ucap Kazumi sambil meletakan cangkir teh, memecah keheningan dari tiga orang yang duduk berhadapan di depannya. Ia pun segera meninggalkan tempat itu


"Jadi.... Apa alasan kalian datang kesini? " ucap Hisui sambil menatap Mirai


Mirai yang sedari tadi menatap lawan bicaranya dengan wajah datar, kini menampakkan senyum tipis di wajahnya


" Tentu..... Aku akan langsung ke intinya. Aku di sini mewakili Desa Sora, sebagai tim medis yang turut andil dalam penyelidikan Kasus ledakan Sora. Aku ingin bertanya sesuatu padamu, Tuan Hisui. Apa yang kau lakukan di dekat Asrama Sora saat malam ledakan terjadi? "


Mirai melempari pertanyaan kepada Hisui tanpa ragu, meski beberapa kali Hotaru menyikut lengan gadis yang duduk di sampingnya karena pertanyaan Mirai terlalu kasar


" Apa yang kau lakukan Mirai, kita di sini kita ingin berdiskusi masalah dua negara, bukan mengobarkan peperangan lewat cara bicaramu" bisik Hotaru pelan


Mirai tidak menanggapi bisikan 'malaikat' di sampingnya. Mata lafendernya hanya fokus menatap mata jade di depannya


"Sudah aku katakan berkali-kali, aku berada di sana untuk memetik bunga untuk istriku" ucap Hisui dengan tenang, ia tampak tidak terpancing dengan pertanyaan Mirai


Entah beberapa kali Hisui mengatakan alasannya, bagi sebagian orang alasan itu tampak sangat konyol, apalagi untuk seorang penguasa Negeri Besar layaknya Tsuki


Pandangan Mirai kini tertuju pada ruangan di sekitarnya, meski terkesan luas ada beberapa titik di mana ruangan itu di hiasi vas bunga Mawar Segar


Mirai juga teringat, wanita tadi yang tidak lain istri Hisui, menuangkan Ocha dengan luka lecet di beberapa titik di tangannya


"Istrimu, Nyonya Kazuna tampak menghias ruangan ini dengan cantik. Tapi.... Ketika kau pertama kali datang ke desa Sora, bukankah seorang wanita mendatangimu? Ia terlihat cukup senang bertemu denganmu.


Dan juga Dialah wanita yang meninggal tepat di depannmu, boleh aku tahu apa yang kau bahas dengannya? " tanya Mirai seakan mengintrograsi Hisui


Bibir Hisui tampak terangkat, memamerkan seringai kecil di wajahnya



" Apa aku harus memberitahukan masalah private seperti ini pada orang Asing? Jika Sora hendak menuduhku sebagai pelaku insiden ini, silahkan saja. Tapi Tsuki tidak akan tinggal diam" ucap Hisui dengan tatapan tajam


Sadar suasana kian memanas, Hotaru mencoba menghentikannya


"Bukan begitu maksud Mirai Tuan Hisui, kami hanya mau mendengar pendapat dari sisi pihakmu, kami tidak ada maksud untuk menuduhmu" ucap Hotaru mencoba memberi penjelasan


"Jika itu maumu, kau bisa saja melaporkan ke negaramu bahwa kau telah difitnah Sora, jika begitu kekacauan pasti sudah terjadi di perbatasan Tsuki-Sora, pasukanmu akan memaksa masuk karean pemimpin mereka telah diperlakukan buruk di Negeri Orang


Namun, nyatanya tidak ada apapun, yang artinya kau sengaja diam dan memperhatikan jalannya kasus ini, bukankah begitu? " ucap Mirai sambil sedikit tersenyum sinis


Mendengar ucapan berani Mirai, Hisui yang selalu memasang wajah kalem dan tenang tidak bisa menahan tawanya


" Hahah.... Kau memang gadis yang tidak kenal takut. Jika mau Tsuki bisa menyerang Sora kapanpun seperti katamu


Tapi atas dasar apa kau menganggapku hanya menunggu sambil memperhatikan? " ucap Hisui


Hotaru yang mendengarkan percakapan itu tampak tertarik, ia menunggu jawaban dari gadis di sampingnya


" Sederhana saja...... Kau tertarik melihat pemimpin kami Tuan Aora, akan membuat keputusan seperti apa


Kau sengaja memperumit kasus ini, agar Sora terpojok dengan dua pilihan sekaligus


Memperjuangkan keadilan anak-anak Asrama Sora yang menjadi korban, meski seorang penguasa di tetapkan sebagai tersangka, dan tentu membut Tsuki dan Sora berada dalam hubungan yang buruk


Atau Sora akan menutup mata akan situasi ini, dan menganggap kejadian itu sama sekali tidak terjadi, demi mempertahankan diplomasi antara Negara seperti kuat Sora dan Tsuki


Bukankah begitu? " ucap Mirai dengan sorot mata tanpa keraguan


Hotaru tampak terkesan dengan kemampuan analisis Mirai, meskipun dia hanya seorang tim medis yang jauh dari ranah politik, tetapi pengamatannya setara dengan seorang pemimpin seperti dirinya


Hisui mulai tertarik dengan gadis di depannya, ia dapat merasakan tidak ada keraguan di diri Mirai.


"Jadi... Apa kau ingin aku menjelaskan apa yang terkadi di pertemuan besok? Kalian bisa membaca pikiranku dan menemukan jawabannya" ucap Hisui, ia tampak puas dengan jawaban Mirai


Mirai menggeleng

__ADS_1


"Tidak.... Tugas Sora lah yang akan mengungkap kebenaran, kau hanya perlu bekerja sama dan menunggu hingga besok.


Sebenarnya kau juga membantu kami, dengan sikap diammu, kami akan menangkap musuh yang bersembunyi di balik jubah Sora, musuh yang sengaja mengadu domba Sora dengan menggunakan anak-anak sebagai alat" ucap Mirai samabil tersenyum


Mirai pun bangkit berdiri, sambil mengulurkan tangannya ke arah Hisui


"Aku di sini bukan memohon atas nama diplomasi politik antara Sora dan Tsuki atau apalah yang aku tidak mengerti.


Tapi aku berdiri disini atas nama anak-anak yang menjadi korban politik, setidaknya jiwa mereka harus mendapat keadilan


Jadi Tuan Hisui....


Aku mohon agar kau, bekerja sama dengan kami, setidaknya hingga sidang besok dan hingga kami mengungkapkan pelaku peledakan


Mohon jagan melaporkan kejadian ini ke Negara Tsuki, dan membuat perang pecah" ucap Mirai dengan tatapan melembut,


Seperti janjinya ia tidak bisa berdiam diri jika ancaman perang kembali terjadi. Mirai sudah cukup mengetahui, bagaimana pahitnya peperangan


Hisui menatap Mirai sebentar, sambil tersenyum ia pun bangkit berdiri dan meraih tangan Mirai


"Baiklah.......


Tapi....


Aku menyutujui ini bukan karena Janji Sora untuk Tsuki, melainkan janjiku membantu anak-anak itu agar mendapat keadilan.


Aku akan memastikan di Pihak Tsuki, kejadian ini tidak menyebar sehingga membuat hubungan Sora dan Tsuki menjadi buruk


Inilah janjiku, sebagai Pemimpin Negeri Tsuki" ucap Hisui dengan senyum tulus


......................


Dak.....


Pintu tertutup, Mirai dan Hotaru pun berjalan keluar meninggalkan kamar VIP Hisui


"Hwa.... Mirai kau bahkan lebih ahli mengurus masalah negara dariku.... Ku akui kau luar biasa" ucap Hotaru sambil berjalan di belakang Mirai


Langkah Mirai terhenti, tubuhnya seakan membeku. Membuat Hotaru memasang wajah bingung. Ada apa dengan Mirai?


Tiba-tiba saja kaki Mirai lemas, membuatnya tidak bisa menopang tubuhnya. Hotaru dengan sigap menangkap tubuh Mirai yang hendak jatuh


"Ada apa Mirai? Apa kau sakit? " ucap Hoyaru Khawatir. Tidak biasanya wanita setangguh Mirai seperti ini


Mirai menggeleng, ia pun mencoba bagkit dan menatap pria yang berdiri di belakangnya


" Untung saja...... " ucap Mirai


" Apa maksudmu? " tanya Hotaru sambil mengangkat alisnya


" Untung saja dia menyetujui tawaranku. Padahal aku hanya asal menebak alasannya....


Ouch...... Aku kira aku akan mambuat Hisui marah dengan pura-pura bersikap tegas tadi. Untung saja ia tidak marah, bukankah aku cukup berani tadi!!!! " ucap Mirai sambil menjambak rambutnya sendiri, ia mengutuk perbuatan cerobohnya di depan pemimpin Tsuki


" Apa? Jadi kau hanya asal menebak saja..... Aku.... Aku kira kau memiliki pemahaman politik tinggi..... " ucap Hotaru tidak percaya, ia bahkan mendukung sikap Mirai tadi


" Sudah aku bilang, aku hanya asal tebak saja, darimana juga aku belajar hal rumit seperti itu.


Lagian tidak mungkin pria lembut yang sangat sayang dengan istrinya, yang rela memetik bunga di tengah malam dan lebih parahnya di negeri orang sendirian


Aku yakin Hisui pria lembut yang tidak akan tega menyakiti anak-anak..... Lagian dia tidak memiliki motif untuk berbuat seperti itu" ucap Mirai sambil meninggalkan Hotaru


Hotaru hanya memasang muka cengo, ia bahkan tidak mengerti Mirai bagaimanapun ia berusaha.


Baginya Mirai gadis yang aneh dengan bakat membuat orang dingin seperti dirinya, Aora ataupun Hisui berada di sikap yang 180° berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Tunggu Mirai !" ucap Hotaru, ia pun berlari menyusul Mirai


Flashback off


__ADS_2