
Terik matahari begitu menyengat. Dengan terhuyung-huyung Mirai berusaha mengikuti kemana perginya dua orang prajurit di depannya. Luka di tangannya terus mengeluarkan darah. Rasa sakit dan perih tidak sebanding dengan penghinaan yang ia rasakan. Diikat dan ditarik menggunakan tali, diseret tanpa alas kaki oleh beberapa orang berseragam militer
Wajah Mirai tampak pucat pasi, keringat mengucur di wajah cantiknya. Tubuhnya tidak kuat lagi berjalan di tanah tandus nan gersang, semua itu akibat luka parah di lengannya serta kurangnya nutrisi akibat kelaparan berhari-hari
"Kemana kita akan membawa gadis ini kapten? " ucap salah satu orang yang menyeret Mirai. Mereka semua kompak berjalan mengelilingi Mirai. Tanpa simpati atau belas kasihan. Misi mengharuskan mereka berprilaku layaknya monster berdarah dingin
" Kita akan membawanya ke pos selanjutnya. Di sana banyak prajurit yang terluka, mereka memerlukan darah gadis ini! "
Terdapat 10 orang yang mengawal Mirai, ia sadar perlakuan tidak manusiawi ini sering ia terima, tapi ini sudah terlalu kelewatan.
Bagaimana tidak, Mirai tengah di seret dengan tangan terikat. Tubuhnya yang terluka akibat darah yang di ambil paksa, belum lagi kondisi fisik Mirai yang lemah, akibat dipaksa mengobati prajurit tanpa henti
Mirai terus berjalan, amarah saja mungkin tidak cukup menggambarkan kondisinya ini. Mengutuk dirinya sendiri sudah sering Mirai lakukan. Apakah salah jika ia memiliki darah spesial ini, bagaimana dunia begitu kejam memperlakukannya seperti ini?
Dengan kepala yang masih menunduk, Mirai bergumam dengan suara ririh ia ungkapkan kekesalannya dan meluapkan amarah yang selama ini ia pendam
"Apakah teknik medisku tidak cukup? Bahkan kalian ingin mngisap darahku juga?! " Suara Mirai menghentikan langkah para prajurit Cops Merah
" Kami memang mau memanfaatkan darahmu itu! Kau tidak perlu banyak bicara, cepat jalan! "
Pria itu menarik tali yang mengikat pergelangan tangan Mirai. Aura gelap muncul dari tubuh Mirai, aura hitam pekat dengan kekuatan kegelapan yang meyeramkan yang membuat prajurit di sekitarnya sedikit bergidik
" A- Apa yang dia lakukan?"
Wajah Mirai terangkat, pandangannya terilhat kosong dengan mata ungu yang menyeramkan.
Segel Gyoku di tanga Mirai mulai mengeluarkan cahaya biru. Simbol salju tampak jelas terlihat. Segel Gyoku miliknya mengeluarkan sihir berelemen es, membuat tali yang mengunci pergelangan tangannya membeku oleh elemen es yang keluar dari segel ditangannya
Kretak....
Bahkan segel kutukan di tubuhnya pecah, akibat ledakan kekuatan Mirai yang besar. Prajurit yang sadar akan kekuatan mengerikan Mirai, merasakan hawa berubah menjadi dingin, bahkan di hari terik seperti ini. Karena takut mereka pun mencoba menjauh dari gadis itu
Mirai menghempas tangannya, lalu menjerat dua orang prajurit dengan membekukan tubuh mereka hingga kepala. Mirai mecengkram kuat kepala dua orang prajurit di sampingnya
"Matilah!" gumam Mirai datar
Tssssssss......
Mirai menghisap jiwa kedua orang itu, kini hanya menyisakan tubuh mengering bak mumi dari kedua penjaga itu.
Prajurit yang lain terkejut melihat apa yang di lakukan Mirai, dengan tangan yang masih bergetar, mereka mengeluarkan pedang dan bersiap menyerang Mirai
Arhhhhhhhhh......
Mirai berteriak histeris. Ia memegang kepalanya dan tampak menahan sakit. Aura hitam pekat terus menyelimuti tubuhnya
Tubuhku.....
Tubuhku terasa terbakar.......
Apa yang terjadi sebenarnya?
Merasa ada yang aneh, sang Kapten memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Mirai bersamaan. Mereka akhirnya mengepung Mirai yang masih menggeliat menahan sakit
__ADS_1
"Serang! "
Tesssssss............ Booghhhhh.....
Tiba-tiba tanah menghempaskan prajurit-prajurit itu, hingga membuat mereka tumbang dalam sekali serangan. Merrka tewas seketika akibat bebatuan yang menusuk tubuh mereka.
Dari kejauhan, munculah sosok misterius mendekati Mirai yang tengah bersimpuh memegang kepalanya. Pria itu pun membuka segel bulan di telapak tangannya, dan mulai menempelkannya ke dahi Mirai
Cahaya biru keluar dari gyoku bulan milik pria itu. Perlahan mulai menyerap semua energi hitam yang mengelilingi tubuh Mirai
Mirai pun kembali tenang. Ia melihat sosok pria yang menyelamatkannya dari rasa sakit yang menimpanya. Seorang pria berparas tampan, sorot mata kelamnya begitu tenang menatapnya lekat tanpa mengucapkan sepatah katapun
"S- Siapa kau? " Mirai kembali mendapat kesadarannya. Ia juga penasaran, siapa orang yang menolongnya itu. Pria itu hanya menampakkan wajah datar tanpa ekspresi, mata kelamnya kini menatap lurus kedalam manik lavender Mirai
" Kau bisa memanggilku, Xio" jawabnya dengan suara berat khasnya. Mirai tidak bisa mempercayai orang itu dengan mudah.
"Kenapa kau menyelamatkanku? Apa kau juga mau mengambil darahku? " Ucap Mirai dengan tatapan yang tidak kalah dingin, baginya ia tidak bisa lagi mempercayai orang-orang
Hidupnya 10 tahun terakhir, membuat dirinya kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Baginya tidak ada yang bisa ia percayai selain dirinya sendiri. Xio tidak menjawab pertanyaan Mirai, mulutnya tetap tertutup rapat. Ia hanya mengulurkan tangannya ke arah Mirai. Namun Mirai segera menangkisnya keras
"Cih! Orang sepertimu hanya berpura-pura menolongku, setelah mendapat kepercayaanku, kau munkin akan menusukku dari berakang"
Mirai memalingkan padangannya, tanpa di sadari pria di depannya, Mirai mengambil sebuah pisau medis dari dalam sakunya
"Ikutlah denganku..... " Xio masih mengulurkan tangannya ke arah Mirai.
Tessssss...... Tap..........
Mirai menatap mata kelam orang yang ditusuknya. Tangan yang masih memegang pisau si dada Xio tampak bergetar, lengkap dengan darah Xio yang mulai membasahi tangannya
"Kenapa kau tidak mengindari seranganku? Orang sepertimi pasti dengan mudah dapat menghindarinya. Tapi kenapa-" ucap Mirai dengan suara bergetar
Tangan Xio mulai terangkat, ia menggenggam tangan Mirai pelan. Tatapan Xio tidak lepas dari wajah catik di depannya
"Sekarang apa kau percaya kepadaku? " ucap Xio pelan. Suara yang begitu menenagkan hingga mampu membuat Mirai nelonggarkan tekanan pisau di dada pria itu
" Kau bisa mempercayaiku sekarang, Mirai" imbuhnya. Mendengar pria itu menyebut namanya, tubuh Mirai seakan membeku
"B- Bagaimana kau tahu namaku? "
" Anggap saja takdir yang membawaku kepadamu. Aku berjanji untuk terus melindungimu
Sekarang...... Ikutlah bersamaku....... "
Berbeda dari tatapan Xio sebelumnya, matanya kini menatap Mirai lembut. Sedikit demi sedikit, Mirai mencoba mempercayai pria didepannya. Jika pria iti memang hendak mencelakainya, ia tentu akan langsung menebas Mirai dan mengambil darahnya. Tapi, pria yang bernama Xio itu berbeda. Mirai pun mencabut pisaunya, dengan cepat ia menekan luka di dada Xio
Meski tenaganya kini mulai melemah, ia mengeluarkan sisa kekuatannya untuk menyembuhkan luka Xio
" Aku akan menyembuhkan luka yang aku buat. Dilihat dari tatapanmu, kau tampak tulus menyelamatkanku! Maafkan atas perbuatanku padamu! "
Mirai pun mengangkat wajahnya, untuk pertama kalinya, ia mencoba mempercayai orang yang berada di depannya. Ia memfokuskan seluruh tenaganya untuk menyembuhkan luka di tubuh Xio
"Satu kali saja, aku akan mencoba mempercayaimu!" ucaoan Mirai terhenti sejenak. Ia menatap lurus manik kelam didepannya " Baiklah! ......... Aku akan ikut denganmu" ucapnya yakin
__ADS_1
"Kau akan masuk, di organisasi Tengu. Mulai sekarang kau bisa memanggilku Leader
Aku akan memastikan, tidak ada lagi orang yang memanfaatkan darahmu itu. Dan juga membuatmu melupakan kenangan pahit masa lalumu......
Jika kau tidak keberatan, bisakaj aku menyegel ingatanmu? "
Mirai tertegun sejenak. Menyegel ingatan? Akankah ia melupakan rasa sakitnya kini dan apa yang sudah menimpanya selama 10 tahun terakhir. Tawaran Xio membuatnya ingin melupakan semuanya. Ia terdiam sejenak sambil memghelan nafas panjang, ia menyetujui tawaran Xio
" Baiklah....... Kau bisa menyegel ingatanku" ucap Mirai mantap
"Mulai sekarang, kau hanya memiliki masa depanmu di Tengu! Aku harap kau melupakan masa lalu yang menyakitkan untukmu. "
Xio mulai mengaktifkan gyoku bulannya, dengan cahaya biru yang memancar terang, tangannya kini mendekat ke kepala Mirai
"Segel! " Mirai pun jatuh ke dalam pelukan Xio
" Maafkan aku baru datang sekarang..... Mirai"
Xio pun menggendong Mirai di tangannya, dari jauh terlihan Nee dan Zou menunggu kedatanga Xio.
Rasa putus asa yang berakhir menciptakan kebencian dalam diriku, membangkitkan kekuatan mengerikan di dalam jiwaku yang sesungguhnya. Hari itu juga, aku bertemu dengan Xio untuk pertama kalinya...............
...~Flas Back end~...
"Mirai! "
Dari jauh Shiyuu memanggil Mirai, membuat gadis berambut panjang itu tersadar dari lamunannya.
" Nn Shiyuu? " Shiyuu berlari kecil mendekati Mirai yang tengah duduk termenung
" Sedang apa kau sendiri di sini, Mirai? " Mirai hanya tersenyum pelan. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke laut lepas
" Entahlah..... Melihat laut yang begitu cantik, aku jadi teringat masa laluku " Alis Shiyuu mengekerut heran
" Masa lalu? " Shiyuu hanya memiringkan kepalanya tanda ia penasaran. Mirai hanya tersenyum. Ia pun bangkit dari tempat dusuknya
" Tidak ada yang spesial dari masa laluku. Kau tidak perlu memasang wajah penasaran seperti itu senior! " Mirai menghampiri Shiyuu. Merekapun berjalan beriringan menuju kastil Hoshi
"Benarkah? Ohya aku dari tadi mencarimu. Hotaru sudah sadar...... Sebagai dokternya, kau sendiri yang harus memeriksa keadaanya! "
"Benarkah? " Mirai senang mendengar kabar baik itu. Melihat ombak tenang menggapai kakinya, ia teringat dengan Aora
" Oh ya Senior..... Dari tadi aku tidak melihat Aora. Kemana dia? " ucap Mirai setenang mungkin. Tentu ia tidak mau membuat Shiyuu curiga. Tapi hal itu tidak berefek pada wanita dengan insting elang seperti Shiyuu
" Kau merindukannya heh? " ledek Shiyuu
" T- Tentu saja tidak! " Mirai mulai gagap. Shiyu mengeleng pelan melihat tingkah Mirai
"Tiba-tiba saja Ketua Zen mengirimkan pesan agar Aora segera kembali, mungkin ada misi penting. Dia sudah berangkat setelah mendengar operasi Hotaru berjalan sukses! " medengar ucapan Shiyuu, seketika itu raut wajah Mirai berubah muram
"Dasar Bodoh....... Bahkan dia tidak pamitan denganku....... "
Mirai dan Shiyuu berjalan di sepanjang pantai dengan pasir putih, tentu Shiyuu terus meledek Mirai yang marah katena ditinggal pergi Aora begitu saja
__ADS_1