Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Permainan dalam Permainan


__ADS_3

"Kemarilah Putriku, Ayah ingin memelukmu"


Suara sang ayah mengalun lembut memanggil Mirai. Membuat gadis itu semakin terbius, dan terjerat dalam permainan Tanuki. Mirai seakan percaya bahwa sosok didepannya benar-benar Ayahnya


Dengan air mata yang terus membanjiri manik lafender miliknya. Mirai melangkahkan kakinya untuk terus mendekat ke sosok sang ayah. Merentakan tangannya, bersiap memeluk sosok yang sangat ia rindukan itu


"A-ayah....aku sangat merindukanmu" ucap Mirai dengan bibir begetar, mendekati Tanuki tanpa ada keraguan dalam sorot matanya. Mirai seakan tidak peduli dengan jebakan Tanuki yang berada tepat dihadapannya itu


"Tentu, mendekatlah putriku, Ayah sangat merindukanmu"


Tanpa Mirai sadari, Tanuki berusaha mengulur waktu untuk mengumpulkan energinya kembali. Sinar Gyokunya kembali mengerluarkan cahaya merah menunjukkan bahwa kekuatan Tanuki sudah sepenuhnya pulih kembali.


Ia melelehkan es yang menjerat tubuhnya dengan elemen api miliknya. Kini tubuh Tanuki sudah bebas bergerak, bahkan ia bisa dengan mudah menggunakan sihir Gyokunya


Senyuman licik menghiasi wajah Tanuki, dengan wujud Kizuna ia dengan mudah membuat Mirai lengah dan keluar dari jeratan gadis itu


Mirai semakin mendekat, terhipnotis dengan sosok 'ayah' didepannya. Jarak antara Mirai dan Tanuki sudah semakin pendek, cukup menguntungkan Tanuki hingga pria itu mungkin akan melakukan sesuatu yang buruk ke Mirai tanpa ia sadari.


"Mendekatlah Putriku~"


Sadar lawannya lengah, Tanuki segera mengendalikan tongkat kayu dengan sihir khususnya. Hanya dengan hentakan jari, ia dapat memanipulasi benda mati itu, untuk bergerak sesuai keinginanya tanpa menyentuhnya sama sekali


Tongkat kayu yang selama ini ia bawa merupakan senjata tersembunyi milik Tanuki. Tongkat itu pun berubah menjadi sebilah pedang tajam dengan bantuan sihir Tanuki. Bersiap menebas tubuh gadis didepannya


"Aku tidak berniat membunuhmu, aku hanya menginginkan sedikit darahmu" gumam Tanuki pelan


Brasssss....


Tanuki menebas tubuh Mirai. Terus menekan pedangnya menggunakan sihir pengendali. Dengan hentakan tangannya pedang tajam itu menusuk perut Mirai serta menembus tubuh mungilnya


"Arkh!" mata Mirai membulat, sambil memegang pedang yang terus menekan tubuhnya


"Ini belum seberapa" Tanuki kembali menjentikkan jarinya


Untuk melemahkan efek regenerasi Mirai, Tanuki sengaja menambahkan sihirnya, kilapan cahaya merah pun memenuhi bilah pedang yang menusuk tubuh Mirai


"Seharusnya, bocah sepertimu tidak main-main denganku. Kau mungkin memiliki kekuatan dasyat, tapi untuk mengalahkanku, kau masih terlalu lemah.


Dasar gadis Bodoh!!!


Hahahahahaha!!! "

__ADS_1


Mirai hanya bisa memandangi perutnya yang tertembus pedang Tanuki, ia bahkan bisa mendengar pria di depannya tertawa puas melihatnya dalam kondisi sekarat.


Namun ekpresi Mirai mulai berubah. Ia tidak lagi memasang wajah pesakitan. Tangisan Mirai justru berganti menjadi menjadi seringai penuh arti


" Hanya sebatas ini, kemampuanmu? " Mirai memandang Tanuki, dengan seringai dingin menghiasi wajah cantiknya. Sontak membuat senyuman Tanuki hilang begitu saja


" Apa-apan ini? Ia bahkan tidak bereaksi dengan tususkan pedangku"


Tanuki kembali mengkosentrasikan sihir di pedangnya. Karena kekuatannya semakin terkuras, ia terpaksa kembali ke wujud aslinya.


"Sial, tusukan pedang milikku bahkan tidak bisa membuat darahnya keluar. Apa sebenarnya yang terjadi? "


Pedang semakin menembus perut Mirai, namun anehnya tidak ada darah keluar sama sekali.


" Sial kau memang merepotkan! Kau Benar-benar mirip dengan ayahmu yang pecundang itu!!!! Hahahahaha"


Tanuki menatap Mirai tajam, sambil tertawa jengah ia berusaha mengalahkan Mirai dengan sekuat tenaganya.


Tawa Tanuki justru membuat Mirai semakin jengkel, cukup sudah ia meladeni pria brengsek itu.


" Berani sekali! Sampah sepertimu menggunakan wajah ayahku untuk menjebakku!


Hentikan tawamu, Pak Tua! Kau tidak tau? Nafasmu begitu bau!


Maaf, tapi-


Aku jauh lebih pintar, darimu! "


Ucapan Mirai seketika menghentikan tawa Tanuki. Alis Tanuki hanya bisa mengkerut, heran dengan pandangan yang sulit untuk diartikan


Brasssssss.....


Tubuh Mirai berubah menjadi gumpalan salju yang menyerupai wujudnya. Clon Salju Mirai pun meleleh begitu saja dan hanya menyisakan pedang Tanuki yang jatuh ke lantai


"Game Over! Kaulah pecudang disini, pak tua!


Akh... haruskah aku memuji diriku sendiri? bakat aktingku bahkan jauh lebih baik sekarang" ucap suara Mirai entah dari mana


"Sial" pandangan Tanuki menyapu seluruh ruangan, mencoba mencari keberadaan gadis yang telah membodohinya


Mirai asli pun keluar dari persembunyiannya. Tangannya dipenuhi cahaya biru dari Gyoku saljunya, bersiap untuk memberi pelajaran ke Tanuki.

__ADS_1


Ia sudah tahu selama ini Tanuki mempermainkan perasaanya dengan meniru wajah ayahnya. Itu sama sekali tidak mempan untuk Mirai, gadis yang dikenal luas berhati dingin. Terlebih ketika Tanuki begitu payah memerankan sosok sang Ayah


"Kau benar-benar aktor yang payah! "


Mirai keluar dari balik balok es miliknya, ia bahkan tidak terluka sedikitpun. Ya g ia lakukan hanya bersembunyi dan mengamati permainan Tanuki. Dengan senyum penuh kemenangan Morai keluar dari persembunyiannya. Seakan mengejek kebodohan Tanuki yang termakan permainanya sendiri


"Bagaimana rasanya? Terjebak dalam permainanmu sendiri? "


"Clon Salju? Tapi sejak kapan? "


Wajah Tanuki kembali memucat, ia hanya menatap gundukan salju di depannya dengan wajah terkejut. Tubuhnya yang sudah kian lemah akibat usia, serta lawan tangguh yang bahkan tidak bisa ia lukai sedikitpun


" Kau bisa saja meniru wujud Ayahku ataupun suaranya dengan sempurna. Aku akui, aku sempat terjebak karena itu"


Mirai menghampiri Tanuki, menjerat pria kurang ajar itu dengan elemen sihir yang lebih kuat. Mirai tidak hanya membekukan tubuh Tanuki, tapi juga menyerap sari-sari kehidupan pria itu sedikit demi sedikit melalui sihir penyerap jiwa miliknya


"Tapi, kau tidak bisa meniru perasaan seorang ayah, ketika memanggil putrinya


Nada bicaramu, tidak sekalipun menggambarkan kasih orang tua. Sejak saat itu, aku sadar aku sudah terjebak dalam permainanmu


Dan satu lagi, Ayahku tidak pernah memanggilku dengan sebutan 'Pitriku' sebanyak itu.


Kau lupa, masa kecilku harus aku lalui dengan menyamar sebagai bocah laki-laki? “


Mirai ingat, sang Ayah lebih memilih memanggil Mirai dengan namanya. Bagi ayahnya nama Mirai bagaikan sebuah doa. Ia ingin agar putrinya kelak memiliki masa depan yang cerah layaknya arti namanya.


Untuk itu, Kizuna sangat senang menyebut nama anaknya dengan lantang


"Mirai..... Mirai....ia (Kizuna) akan memanggiku dengan lembut....


Mirai.... Mirai.... " Mirai bergumam menyebut namanya sendiri. Bersenandung pelan dengan menggunakan namanya. Mirai pun tersenyum dingin sambil menatap Tanuki dengam wajah datar khasnya


Ia pun mendekati Tanuki, lantas meletakkan tangannya di kepala pria itu. Bersiap menghisap jiwanya dengan kemampuan miliknya


"Selain itu, Alasan ia tidak pernah memanggilku dengan kata 'putriku', semata-mata hanya untuk melindungiku dari orang-orang serakah sepertimu


Orang-orang sepertimu! Menjadi sebab aku kehilangan jati diriku sejak kecil"


Cahaya biru keluar dari Gyokunya, perlahan cahaya itu menarik jiwa Tanuk. Menyerapnya secara perlahan lewat simbol salju di tangannya


Tanuki hanya bisa membulatkan matanya, tubuhnya yang bahkan dilapisi es tebal, entah kenapa merasakan panas yang teramat menyiksa.

__ADS_1


Darahnya Tanuki seakanmenguap, perlahan mengering sejalam dengan energi yang diserap Mirai. Kekuantan sihirnya bahkan tidak bisa membantunya lari dati jerat neraka yang Mirai Buat.


Akankah ini akhir hidup Tanuki?


__ADS_2