Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Identitas Sebenarnya


__ADS_3

Jendral Kitsune mengulurkan kedua tangannya yang mengepal. Di dalam genggamanya terdapat dua pilihan. Hidup atau mati.


Nee memandang tajam sosok licik didepannya. Ia bahkan tidak yakin, apa Kitsune benar-benar serius menulis tulisan yang berlawanan arti (Hidup atau mati). Bagaimana jika sebaliknya? Jika siluman rubah itu ternyata menulis kata 'mati' di kedua chip itu, sudah bisa dipastikan Nee akan segera dibunuh


"Kau hanya perlu memilih salah satu chip di tanganku. Tunjukan kepada semua orang apa pilihanmu! " tawar jendral Kitsune. Dua orang prajurit maju selangkah dan menghunuskan pedang dileher Zou dan Nee


" Kau benar-benar licik, Kitsune! " geram Zou


Mirai yang melihat nyawa rekannya dipertaruhkan hanya bisa mengepalkan tangannya keras. Ia begitu marah. Jeratan di kakinya masih kuat menahan pergerakannya. Namun, ditengah amarah Mirai. Sebuah sinar biru terang tiba-tiba bersinar dari gyokunya


"Tunggu apa lagi! Cepat kalian pilih! " ucap Jendral Kitsune lantang.


Nee mulai mengulutkan tangannya pelan. Ia sempat ragu, harus memilih sisi kanan atau kiri. Nyawa mereka berdua tergantung pada pilihannya.


" Aku pilih, chip yang berada di tangan kananmu! " ucap Nee yakin.


Ia langsung merogoh genggaman tangan Kitsune. Tanpa diduga, Nee langsung menelan bulat-bulat Chip yang ia pilih. Semua orang tercengang dengan tindakan yang Nee lakukan


" Apa yang kau lakukan! " ucap Jendral Kitsune geram. Zou yang memperhatikan Nee hanya tersenyum tipis. Ia sudah menduga Nee akan melakukan hal itu. Bisa dikatakan, itu adalah satu-satunya jalan untuk bermain adil.


Kita tidak tahu tulisan apa saja yang tertera di kedua chip yang diberikan Jendral Kitsune. Membuat salah satu Chip tidak terlihat, adalah jalan terbaik untuk membuktikan Kitsune tidak bermain curang


" Aku sudah memilih pilihanku! Tidak ada seorang pun yang tahu aku memilih hidup atau mati! Sekarang kau tinggal tunjukkan Chip yang ada di tanganmu! Jika Chip ditangamu bertuliskan 'mati', maka secara otomatis aku memilih chip yang bertulis 'Hidup'! " ucap Nee yakin


Tangan Jendral Kitsune mengepal kuat. Ia pun mengangkat tangan yang berisi Chip yang tersisa. Dengan perlahan, ia membuka genggamannya. Semua perhatian tertuju pada Jendral Kitsune


Satu hurup kanji bertuliskan 'hidup' terlihat jelas di dalam Chip miliknya. Senyuman licik terukir dibalik topengnya. Sejak awal, Jendral Kitsune sudah menebak tindakan Zou dan Nee. Ia tahu, dua manusia didepannya bukanlah manuisa bodoh yang sering ia temui.


Di banding menulis 'mati' dikedua Chipnya. Kitsune kebih memilih mempermainkan Nee dan Zou dengan menulis hurup 'Hidup' di kedua Chipnya. Dengan siasat liciknya, ia memenangkan taruhan


"Chip ditanganku tertulis kata 'hidup', itu artinya Chip yang kau telan sudah pasti bertulis 'mati'!"


Sranggg....


Kitsune kembali menguhuskan pedang ke leher Nee. Namun, belum sempat ia menebas leher mangsanya, ia merasakan sesuatu yang dingin mendarat dibahunya. Kitsune melirik sekilas kebelakang, sebuah pedang es runcing menghunus lehernya


"B- bagaimana mungkin, manusia bisa mengunakan sihir secara penuh di dunia Yokai? " Kitsune terkejut dengan hawa sihir kuat yang dikeluarkan Mirai.


Bahkan ia sempat merasakan suhu disekelilingnya turun drastis. Hal yang tidak mungkin terjadi. Dunia Yokai adalah dunia khusus, manusia tidak akan leluasa menggunakan sihir di dunia itu.


"Sebelum kau membunuh rekan-rekanku! Akan aku pastikan memenggal kepalamu lebih dulu! " Mirai menatap tajam sosok jendral didepannya. Sinar sihir biru melapisi tubuhnya. Dengan kekuatannya, ia bahkan bisa menurunkan salju di langit yang cerah. Buliran kecil salju mulai jatuh, memenuhi malam yang cantik dengan bintang- bintang menghiasi


Semua Yokai terperanjat, secara serentak mereka mengulurkan tangannya untuk menyambut buliran salju yang jatuh " Lihatlah! Salju turun di langit yang berbintang! " ucap seorang Yokai sambil menunjuk langit malam.


" Hampir tidak mungkin! Salju turun didunia ini! Apakah ini yang dimaksud Tora-sama?! Apa mungkin manusia-manusia itu sosok yang sudah lama diramalkan kedatangannya?! "


Semua penduduk Yokai gaduh. Mereka riuh membicarakan sebuah ramalan kuno dan juga sosok yang disebut Tora-sama. Siapa sebenarnya yang mereka maksud? Medengar para penduduk mulai beralih, Kitsune kembali mengingatkan mereka. Bahwa kedatangan Mirai dan yang lain merupakan sebuah ancaman bagi mereka


" Hentikan! Mereka hanya manusia bodoh yang berani memasuki wilayah kita! Kalian tidak boleh lengah hanya karena trik sihir murahan mereka! Akan aku pastikan membunuh mereka dengan tanganku sendiri! "

__ADS_1


Trangggg...


Jendral Yokai menangkis pedang es Mirai. Ia pun melompat menjauh, memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang Mirai dan yang lain.


Zou tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di tengah perhatian tertuju pada Mirai dan sang Jendral, ia mulai memanggil Nee pelan


"Psst! Nee! Cepat bantu aku! "


Nee langsung membebaskan Zou dari ikatan yang mengekangnya dan melepas segel Gyoku di tanganya. Mereka akhiranya bebas bergerak dan dengan cepat menyerang prajurit Yokai yang masih lengah.


Pertempuran tidak dapat dibendung. Zou dan Nee bertarung dengan ratusan prajurit Yokai. Sementara Mirai masih berduel satu vs satu dengan Jendral Yokai. Kemampuan berpedang mereka seimbang. Baik Mirai dan Kitsune sama-sama handal dalam meliak-liukkan pedang ditangan mereka.


Brasss....


Mirai terpental kebelakang. Sambil membenarkan pedangnya, ia menatap Kitsune yang melancarkan serangan tanpa henti kearahnya


"Kami datang kesini untuk suatu tujuan! Kami tidak bermaksud mengganggu kehidupan para Yokai di dunia ini! "


Kitsune kembali berlari ke arah Mirai. " Manusia selalu mengatakan tidak tertarik dengan kehidupan kami. Tapi nyatanya, mereka selalu memburu kami untuk sebuah keabadian! "


Brassss....


Serangan kembali Kitsune lancarkan. Mirai berusaha menahan serangannya. Dua pedang bergesek marah, seakan siap menebas tubuh lawan satu sama lain. Di tengah pertempuran hebat itu, sebuah raungan harimau memecah situasi yang panas. Raungan yang menggema hingga mampu membuat semua orang membeku sejenak


Sebuah awan sihir putih menggulung di langit malam. Angin musim semi seakan menyambut kedatangannya, dengan kelopak bunga bertebangan memenuhi angkasa. Sesosok harimau putih muncul dari gulungan awan putih itu



Mirai hanya bisa menatap takjub makhluk berwujud harimau putih yang kini mulai menapak kakinya di tanah. Tubuhnya seakan membeku, ketika harimau itu menatapnya lurus dengan warna yang berbeda. Surai putihnya berkibar lembut, dengan corak hitam dan putih yang memberi kesan agung dan penuh wibawa.


Harimau itu mulai mendekati Mirai. Gadis berambut hitam panjang itu seakan terperanjat ketika wajah menyeramkan sang Harimau itu seolah tersenyum ke arahnya


"Siapa dia? " ucap Zou pelan, sambil menatap heran makhluk mistis didepannya


" Salju yang turun di dunia Yokai merupakan lambang keberuntungan. Apa kau setuju denganku Jendral?" ucap suara berat nan berwibawa sang Harimau. Ia pun menghampiri Jendral Kitsune yang masih setia berlutut hormat


"Sebuah kehormatan kau berkunjung ke tempat ini. Tora-sama! " Kini pandangan makhluk bernama Tora itu tertuju pada Mirai


" Selamat datang Di Negeri para Yokai, putri" ucap Tora lembut ke arah Mirai.


"Putri? " ucap Mirai sambil mengernyitkan alisnya heran.


" Aku sudah menunggumu lama. Jadi mau kah Putri ikut denganku ke suatu tempat? "


*Tora : Harimau


......................


Mirai melangkah pelan mengikuti kemana Tora membawanya. Dalam pikirannya, ia masih penasaran siapa sebenarnya sosok harimau putih didepannya. Dari aura yang terpancar ditubuhnya, Mirai tahu bahwa ia bukanlah makhluk sembarangan.

__ADS_1


"Kau pasti penasaran siapa sebenarnya diriku, Putri! " uacapan Tora membuat Mirai terhentak kaget. Bagaimana dia bisa tahu apa yang Mirai pikirkan?


" Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Putri? Apa kau mengenal siapa aku? "


" Kau akan tahu setelah kita sampai di tempat tujuan kita, Putri!"


Sementara itu, Zou dan Nee berjalan tepat di belakang Mirai. Di banding sosok harimau didepan mereka, Zou lebih penasaran kenapa si Jendral Kitsune yang berniat membunuh mereka dengan berbagai cara juga turut ikut dalam perjalanan mereka.


Zou sedikit mencuri pandang ke arah prajurit wanita bertopeng yang berjalan disampingnya. Wajah masam Zou masih terlihat jelas. Ia kesal tidak bisa mengetahui sosok siluman rubah itu. Wajah yang tertutup topeng membuatnya sulit menerka isi pikiran atau emosi Kitsune itu


"Kemana kita akan pergi? Jangan katakan kalian akan membunuh kami ditengah hutan!" ucap Zou sarkas. Jendral Kitsune hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Zou. Hal itu membuat Zou geram dibuatnya


"Sudah cukup kami berhadapan dengan Kitsune arogan! Dan sekarang kita harus berurusna dengan seekor harimau?! Cih! "


Mendengar ucapan Zou, langkah Jendral Kitsume terhenti. Ia menatap lurus Zou, siapapun akan tahu bahwa suasana hati Kitsune disampingnya sangatlah buruk


" Jangan pernah memanggil pertapa agung dengan sebutan seperti itu! "


" Pertapa agung? Apa maksudmu? " tanya Nee. Mereka bertiga memperhatikan Tora yang berjalan beriringan dengan Mirai tepat didepan mereka. Kitsune memghela nafas pela, ia mulai menceritakan siapa Tora sebenarnya


" Tora-sama adalah Pertapa Agung yang melindungi Negeri para Yokai. Sosok yang mengetahui segala seluk beluk didunia ini. Sebuah ramalan tepat selalu keluar darinya. Ia sudah hidup lebih lama dari Yokai manapun yang ada di dunia ini.


Konon Dewi Salju menciptakan tempat ini untuk melindungi para Yokai dari keserakahan manusia. Tora-sama ditugaskan menjaga keseimbangan atara Dunia Manusia dan Dunia Para Yokai. Selain itu ia juga menjadi penjaga dari batu Pilar-ke 3"


"Batu pilar ke-3?"


Nee tertegun sejenak, ia kembali teringat akan sajak yang berada dalam kitab putih Nue.


'Sebuah kekuatan murni, kekuatan yang mengetahui segala sesuatu didunia. Kekuatan yang dijaga oleh sosok roh sihir putih yang perkasa. Hanya ada Hitam dan Putih. Cahaya dan Kegelapan. Kebenaran akan membawa keadilan. Sementara dendam, akan membawa penyesalan'


Jika dipikir-pikir, teka-teki di kitab itu benar-benar mengarah kepada sosok Tora. Hitam dan putih yang melambangkan keseimbangan terlihat jelas di surainya. Kegelapan serta cahaya terpancar dari sorot mata yang memperlihatkan dua warna yang berbeda. Tora memiliki mata layaknya mata harimau pada umumnya, namum yang membedakan adalah warna irisnya. Sebelah kanan menampakkan warna biru terang, sementara sebelah kiri menampakkan warna merah menyala.


"Roh Sihir putih yang perkasa? Jadi dia sosok yang dimaksud? " gumam Zou pelan


Setelah berjalan melewati Hutan ditengah pegunungan. Mirai akhirnya tiba dikediaman Tora yang terletak diatas bukit Yokai. Sebuah telaga teratai cantik menyambutnya. Ribuan kunang-kunang memenuhi tempat itu, disisi kiri mereka terdapat pemandangan bulan purnama yang tampak cantik dari atas tebing curam.


"Kita sudah sampai, Putri! " ucap Tora. Mirai begitu terpukau dengan tempat itu. Senyum tipis terukir di wajah cantiknya tatkala melihat ribuan kunang-kunang terbang diatasnya


"Sebelum kalian menuju tempat dimana batu Pilar berada. Kalian harus lebih dulu melewati kolam teratai penyucian. Semua ketakutan, amarah, penyesalan serta apapun yang terpendam dalam diri kalian harus dihapuskan. Itu dalah syarat utama untuk mengambil Batu pilar ke-3!"


Tora mempersilahkan Mirai, Zou dan Nee maju selangkah mendekati pinggiran kolam. Air Kolam tampak sangat jernih, saking jernihnya bahkan mampu memantulkan sinar keemasan sang bulan.


"Sekarang kalian bertiga, mendekatlah ke bibir telaga! Kalian tidap perlu ragu, aku disini akan membantu kalian mencapai tujuan yang kalian cari selama ini! "


Meski sedikit ragu. Mirai, Zou serta Nee melangkahkan kakinya menuju bibir Telaga. Pantulan diri mereka terlihat jelas. Namun bukan penampilan yang terlihat sekarang.


Mata Mirai membulat sempurna ketika ia melihat pantulan dirinya didalam air.


" Perhatikan baik-baik dan lihat siapa kalian sebenarnya!

__ADS_1


Hikari dari Hoshi. Hirui dari Tsuki serta Yuki Mirai dari Sora! " ucap Tora lantang


__ADS_2